
Semakin hari semakin naik berat badannya. Avril tidak tahu bagaimana untuk mengontrol keinginannya untuk makan. Jika sehari dia makan sedikit, air susunya pun hanya keluar sedikit pula. Si kembar jadi rewel dan merasa tidak kenyang. Sedangkan jika ia makan banyak, berat badannya jadi naik.
Saat itu si kembar sudah berusia 1 bulan. Avril mengajak Boo Young yang baru saja pulang dari kantor untuk melakukan Photoshop keluaraga. Tetapi Boo Young menolaknya, dengan alasan masih sibuk urusan kantor.
"Sayang, Afifah dan Abidah sudah berusia 1 bulan. Bagaimana kalau kita melakukan Photoshop keluarga?" Ajak Avril.
"Maaf sayang, sekarang ini aku sedang sibuk. Nanti kalau masalah kantor sudah beres, aku usahakan untuk melakukan Photoshop." Sahut Boo Young sambil melihat ke arah laptop.
Pikiran negatif Avril mulai menjelajahi otaknya. Dia pikir, karena berat badannya naik, makanya Boo Young tidak mau melakukan Photoshop. Padahal memang Boo Young sedang sibuk menyelamatkan perusahaannya.
*****
Malam itu dengan hati yang kecewa, Avril keluar dari kamarnya untuk meminum susu. Di saat yang bersamaan sang mertua pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Sang mertua memandanginya dari atas ke bawah seperti melihat orang lain.
"Kamu minum susu yang low fat biar badanmu tidak membengkak. Lihat dirimu di kaca, aku saja sudah tidak bisa mengenalimu." Jie Hyo memberi saran plus hinaan.
Avril tidak menghiraukan perkataan sang mertua. Dia hanya diam dan segera masuk ke dalam kamarnya. Lalu dia berdiri di depan cermin dan menatap dirinya sendiri. Memang mertuanya mengatakan yang sebenarnya, bahwa wajahnya sudah mulai berubah menjadi chubby.
Dengan perasaan yang terluka, Avril merebahkan badannya di atas ranjang. Sedangkan Boo Young masih sibuk dengan laptopnya. Baru saja ia membalikkan badannya, si kembar sudah merengek minta minum ASI.
Sambil memberi ASI kepada si kembar, Avril memikirkan setiap perkataan yang terlontar dari sang mertua. Setiap hari sang mertua mengomentari dan memprotes apa yang ia lakukan.
Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Karena Boo Young sedang sibuk dengan laptopnya, dia pun tidak menyadari bahwa Avril sedang menangis. Hal itu membuat Avril merasa benar-benar tidak ada orang yang perduli dengannya.
Setelah menyusui, Avril kembali ke ranjangnya dan merebahkan badannya dengan posisi membelakangi Boo Young yang sedang serius memandangi laptopnya. Avril hanya bisa menangis dalam diam hingga ia tertidur.
*****
Pagi yang cerah, tetapi tak secerah suasana hati Avril. Seperti biasanya, sang mertua selalu mengomentari apa yang ia lakukan. Karena pagi itu Avril membantu Ahjumma menyiapkan sarapan pagi.
Ketika mereka semua sedang menyantap sarapan, sang mertua Jie Hyo menyuruh Avril untuk tidak makan banyak dan berkata bahwa dirinya terlalu gemuk.
"Avril, berhentilah makan makanan berlemak. Lihat tubuh mu sekarang menyimpan banyak sekali lemak." Tegur Jie Hyo mengejek.
"Ma! selama sebulan ini aku sudah diam ketika mama mengejekku terus-terusan. Aku sedang menyusui dan aku perlu makan banyak agar air susu ku juga banyak!" Teriak Avril sambil berdiri.
Lalu Avril pergi masuk ke kamarnya sambil menangis. Boo Young yang tidak terima atas teriakan Avril, kemudian ia beranjak dari duduknya dan mengikuti Avril masuk ke dalam kamar.
Calvin hanya terbengong dan menghentikan makannya. Karena selama ini dia tidak tahu apa yang di lakukan neneknya kepada mamanya.
"Kamu selalu mengomentari Avril. Kamu juga tidak pernah membantunya, tapi bisa mu hanya menyalahkannya. Lihat sekarang, kamu sudah membuat Avril marah." Kata Min Sik menegur sang istri.
"Aku hanya mengajarinya, aku berkata seperti itu agar dia bisa menjaga bentuk tubuhnya. Boo Young suka wanita yang memiliki tubuh ideal, jadi Avril harus tau itu." Sahut Jie Hyo membantah.
Calvin kemudian berpamitan kepada nenek kakeknya untuk pergi kuliah. Tadinya ia ingin berpamitan dengan orangtua dan adik kembarnya, tapi karena suasananya yang sedang panas, Calvin pun langsung pergi dan dengan di antar oleh asisten Joon.
Boo Young menghampiri Avril yang sedang duduk di bibir ranjang sambil menangis. Raut wajah Boo Young terlihat marah tidak senang dan juga tidak merasa kasihan kepada Avril yang sedang menangis.
"Tak seharusnya kamu membentak mama! Kamu tidak menghargai mamaku! Lagian mama hanya berbicara seperti itu, kamu menanggapinya terlalu berlebihan Avril." Tegur Boo Young.
"Bukankah memang seorang wanita harus menjaga bentuk tubuhnya!" Bentak Boo Young kepada Avril.
Boo Young dengan amarahnya langsung keluar dari kamar, dia mengambil jas kerjanya tanpa berpamitan kepada orangtuanya dan langsung keluar dari apartemen. Sementara Avril masih duduk mematung dengan berlinang air mata.
Hatinya terasa sakit, dia merasa kalau tidak ada orang lagi yang perduli dengannya. Tiba-tiba sang mertua masuk ke dalam kamarnya dan Avril pun segera mengelap air matanya.
"Apa yang aku katakan kepadamu itu demi kebaikan mu Avril, jadi kamu jangan terlalu sensitif." Kata Jie Hyo memberitahu Avril.
Avril hanya terdiam dengan ekspresi marah. Dia pikir mertuanya akan meminta maaf, tapi nyatanya dia malah membuat suasana hati Avril semakin buruk. Tidak berhenti berbicara untuk mengomentari Avril.
Handphone Avril berdering ada panggilan masuk. Ternyata Calvin menelponnya dan meminta maaf karena tidak berpamitan kepadanya. Calvin pun menyemangati Avril agar tidak bersedih.
"Mama, Calvin tidak mau mama sedih. Mama harus tahu, kalau Calvin selalu mencintaimu. Kalau nenek berkata kasar lagi, bilang ke Calvin dan aku akan memarahinya." Kata Calvin menghibur Avril.
Avril pun tersenyum atas perkataan Calvin. Setidaknya anak laki-laki kesayangannya itu masih perduli dengannya.
"Mama tidak sedih sayang, hanya saja mama sedang bad mood karena mama kurang tidur saja!" Sahut Avril mengelak.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Calvin, Avril lalu memandikan si kembar. Saat itu sang mertua tidak berhenti berbicara menasehati Avril. Entah itu nasehat atau cemoohan, tapi sang mertua menganggap apa yang ia katakan sebagai nasehat, tetapi terdengar seperti cemoohan bagi Avril.
Avril berusaha untuk menahan emosinya dan menganggap perkataan sang mertua sebagai angin lalu. Dia tidak mau terus-terusan merasa tersakiti, karena kebahagiaannya adalah tanggungjawabnya sendiri.
"Lihat telinga Afifah, ini tidak bersih." Protes Jie Hyo.
Seperti biasanya, Jie Hyo selalu memberi komplain setiap apa yang di lakukan Avril. Dari memasak sampai urusan si kembar.
Siapa yang tahan jika setiap hari harus mendengarkan komplain dari sang mertua. Bagi Avril jika itu sebuah nasehat, ia akan mendengarkan dan memperbaiki kesalahannya tapi komplain dari sang mertua terdengar merendahkan dan menyalahkan Avril.
Wajah Avril terlihat marah, dia hanya diam tanpa menghiraukan perkataan sang mertua. Kalau biasanya dia selalu menanggapi perkataan Jie Hyo, tapi hari itu dia benar-benar diam dan tidak menganggap keberadaan sang mertua.
"Kamu marah? kamu tidak suka kalau aku menasihatimu?" Tanya Jie Hyo yang menyadari ekspresi wajah Avril yang sedang marah.
Lagi-lagi Avril tidak menjawab atau menghiraukan perkataan sang mertua. Karena Jie Hyo merasa tidak di anggap keberadaannya oleh Avril, ia pun keluar dari kamar.
Lalu ia mengambil handphonenya dan menelpon sang anak Boo Young. Dia mengadu atas perlakuan Avril terhadapnya.
"Boo, Istrimu marah sama mama. Dia tidak menganggap mama dan tidak mau berbicara sama mama!" Kata Jie Hyo mengadu.
Entah kenapa Jie Hyo berbuat seperti itu kepada Avril, padahal sebelumnya dia sangat menyukai Avril dan menganggap Avril sebagai menantu terbaiknya.
"Maaf ma, sekarang aku sedang sibuk. Nanti kita bicarakan di rumah saja!" Sahut Boo Young.
Boo Young kemudian mengakhiri panggilan itu, karena dia benar-benar sedang sibuk dengan rekan bisnisnya.
Sedangkan Avril baru saja selesai memberi ASI pada si kembar. Karena si kembar sudah tidur, Avril pun menidurkan Afifah dan Abidah di ranjangnya dan Avril ikut tidur di samping si kembar.
Bersambung....