
Tidak semua suami peka terhadap perasaan sang istri, begitupun dengan sang istri. Komunikasi lah hal terpenting dalam membidik rumah tangga. Seperti halnya Boo Young yang tidak peka terhadap Perasaannya Avril karena cemburu dengan Dinna. Sedangkan Avril tidak peka atas perasaan sang suami yang tidak suka di ungkit masa lalunya yang berkelakuan buruk.
Pagi itu Boo Young menyuruh sekertarisnya untuk pindah tempat kerja di ruangannya. Boo Young tidak mau Avril selalu berfikiran negatif terhadapnya. Apalagi sampai menuduhnya berselingkuh dengan Dinna. Di tuduh berselingkuh, padahal ia tidak melakukan seperti yang dituduhkan, hal itu membuat Boo Young merasa kesal.
"Kenapa Sekertaris mu ada di sini?" Tanya Dinna yang baru saja masuk kedalam ruangan.
"Mulai hari ini, tempat kerja sekertaris ku berada di ruangan ini." Jawab Boo Young dengan nada dingin.
Setidaknya keberadaan sang sekertaris membuat orang-orang tidak berpikiran yang macam-macam tentang dirinya dengan Dinna, terutama Avril. Karena Boo Young sudah janji kepada dirinya sendiri untuk tidak menyakiti Avril. Apalagi Boo Young paham betul dengan sikap Dinna yang suka menggodanya walaupun tidak secara terang-terangan, tapi Boo Young sadar kalau Dinna selalu mencoba untuk merayunya.
Wajah Dinna terlihat kesal ketika mengetahui sang sekretaris bekerja satu ruangan dengannya dan Boo Young. Ia khawatir rencana-rencananya untuk mengambil hati Boo Young gagal karena keberadaan sang sekretaris.
"Kenapa? Kamu tidak suka?" Tanya Boo Young yang melihat Dinna cemberut.
"Bukannya tidak suka, tapi ruangan ini terlalu sempit untuk kita bertiga!" Jawab Dinna dengan manja.
"Kalau kamu merasa sempit, aku akan pindah keruangan pribadiku." Ujar Boo Young.
"Tidak perlu, nanti lama-lama juga terbiasa." Sahut Dinna dengan senyum manisnya.
Jika Boo Young pindah ke ruang pribadinya, itu akan mempersulit Dinna untuk menebar pesonanya kepada Boo Young. Dinna pun hanya bisa pasrah atas keputusan Boo Young, mengingat saat ini dia sedang tidak berada di perusahaannya sendiri.
Sebagai pewaris tunggal perusahaan besar milik ayahnya, sebenarnya Dinna tidak perlu capek-capek bekerja, tetapi demi untuk mendapatkan hati Boo Young, Dinna rela melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Memang Boo Young memiliki wajah tampan dan berkarismatik, sehingga membuat Dinna jatuh cinta begitu dalam terhadap Boo Young.
*****
Setelah makan siang, Boo Young segera pergi ke bandara dengan mengendarai mobilnya tanpa sang asisten. Dia sengaja menjemput mertuanya seorang diri untuk memberi kejutan kepada Calvin yang tidak tahu jika Nenek-kakeknya dari Indonesia datang ke Korea. Karena sebelumnya Avril memberitahunya bahwa Calvin tidak tahu akan hal itu.
"Aku pergi ke bandara menjemput Mama Papa, kamu di rumah saja jagain si kembar!" Isi pesan yang ia kirim untuk Avril.
Sekitar satu jam menunggu, akhirnya Boo Young bertemu dengan orangtuanya Avril. Mereka saling menyapa menggunakan bahasa Inggris dan berpelukan. Beruntung, Papanya Avril menguasai bahasa Inggris, jadi tidak ada kendala dalam bahasa di antara mereka. Boo Young pun segera mengajak orangtua Avril untuk pulang ke apartemen.
Jarak tempuh dari bandara ke apartemennya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka, Boo Young berinisiatif untuk bertanyaan-tanya kepada orang tua Avril seputar Indonesia.
Akhirnya, setelah satu jam perjalanan mereka sampai juga di apartemen. Avril menyambut dengan antusias kedatangan kedua orangtuanya. Mereka saling berpelukan dan meluapkan rasa rindu mereka yang sudah lama tidak bertemu.
"Mama, Papa.. Ayo lihat Afifah dan Abidah!" Ajak Avril kepada orangtuanya.
Sebelum mereka masuk ke dalam kamar, Boo Young berpamitan untuk menjemput Calvin. Karena Calvin mengiriminya pesan agar menjemputnya.
"Avril, Aku pergi jemput Calvin ya! Dia kirim pesan kepadaku, nagih untuk makan Pizza." Pamit Boo Young.
"Tapi aku sudah masak banyak loh, nanti kalau dia makan Pizza, nanti dia gak makan masakan ku dunk!" Sahut Avri.
"Nanti aku buat alasan supaya dia gak jadi makan Pizza." Terang Boo Young.
Setelah Boo Young pergi, Avril mulai bercerita kepada kedua orangtuanya tentang pendarahan yang ia alami ketika melahirkan si kembar dan masa-masa kritis pasca melahirkan
"Kenapa kamu tidak memberitahu kami?" Protes sang mama.
"Karena Boo Young tidak mau Mama dan Papa khawatir" Timpal Avril.
Ketika mereka bertiga sedang bercerita kesana kemari, Boo Young dan Calvin pun datang. Avril pergi keluar dari kamarnya, tersenyum melihat Calvin yang masih merengek untuk di belikan Pizza oleh papanya.
"Hari ini Mama masak banyak loh..." Kata Avril sambil membantu Calvin melepas jaketnya.
"Tapi Ma, Papa sudah janji akan makan Pizza denganku." Protes Calvin.
"Kan Papa bilang lain hari, Papa gak bilang kalau hari ini akan makan Pizza denganmu!" Timpal Boo Young.
Calvin kemudian duduk di sofa dengan raut wajah cemberut. Di saat itu, Avril menyuruh kedua orangtuanya untuk keluar memberi surprise kepada Calvin. Masih tak menyadari keberadaan sang dan kakeknya, Calvin malah menyalakan TV di ruang tamu.
"Calvin..... Sudah lupa sama nenek dan kakek ya!" Sapa sang nenek.
Mendengar suara yang tak asing baginya, Calvin pun segera menoleh ke arah Nenek-kakeknya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Nenek..Kakek.... Kapan datangnya?" Tanya Calvin sambil berlari menghampiri mereka.
Saat itu Calvin benar-benar senang sekali melihat kakek nenek yang sudah lama ia rindukan. Sementara Boo Young masuk ke dalam kamar, ia tampak kelelahan setelah menjemput mertua dan Calvin. Avril yang melihat Boo Young lesu, ia pun mengikutinya dari belakang.
Boo Young mengambil baju ganti dan langsung masuk ke kamar mandi. Sedangkan Avril tidak tahu apa yang harus ia katakan, di sisi lain dia masih marah, tetapi dia juga sangat merindukan sang suami. Melihat Boo Young dengan tatapan dinginnya, membuat Avril sedikit takut, karena dia paham kalau Boo Young sedang marah sangat menakutkan.
"Kamu nyambut Papa sama Mama duluan, aku capek! Aku mau istirahat!" Kata Boo Young yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kamu tidak lapar? Atau kamu mau makan sesuatu?" Tanya Avril.
"Aku gak lapar, aku cuma mau tidur sebentar!" Jawabnya dengan nada dingin.
Kebetulan di rambut Boo Young ada potongan benang, Avril mencoba untuk mengambilnya tetapi tangannya di tepis oleh Boo Young dengan kasar. Lalu Ia meminta Avril untuk meninggalkannya, karena ia ingin istirahat. Kali ini Boo Young benar-benar marah, Avril pun menyadari hal itu.
Di saat yang bersamaan, si kembar terbangun sehingga Avril membawa mereka berdua keluar dari kamar untuk bermain dengan orangtuanya. Sebelum keluar, Avril terlebih dulu menenangkan dirinya yang tampak ingin menangis.
"Boo Young ngapain?" Tanya sang Mama.
"Dia ketiduran! Habis jemput Mama terus jemput Calvin, jadi kecapekan. Biasanya kan asistennya yang nyetir." Jawab Avril menjelaskan.
Mamanya Avril memaklumi sikap Boo Young yang sedikit cuek terhadap tamu, karena memang orang Korea tidak seperti orang Indonesia. Apalagi Mamanya Avril paham dengan sifat Boo Young yang tidak banyak berbicara. Jadi dia tidak mempermasalahkan atas sikap Boo Young yang tak menyambut kedatangannya dengan baik.
"Calvin, cepetan mandi dulu dan ganti pakaianmu, terus kita makan malam bareng." Suruh Avril kepada Calvin.
"Ok Ma!" Sahut Calvin yang langsung berhenti melakukan aktivitasnya.
Sekitar 30 menitan Avril sudah selesai menyiapkan makan malam. Orangtuanya dan Calvin sudah duduk di kursi meja makan, lalu Avril berjalan masuk ke kamarnya untuk membangunkan sang suami.
"Sayang, kamu mau makan malam sekarang atau nanti?" Tanya Avril dengan lirih tepat di telinganya Boo Young.
Boo Young tak menjawab pertanyaannya Avril. Dia malah mendorong tubuh Avril dan menarik selimutnya. Mendapat perlakuan seperti itu dari Boo Young, membuat Avril tidak bisa menahan air matanya. Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Bersambung.....