My Korean Husband

My Korean Husband
Protektif Akut



"Ada apa dengan perut mu?" Tanya Boo Young semakin bingung.


"Sampai di sini kamu belum paham?" Tanya balik Avril yang merasa frustasi karena Boo Young tak mengerti juga atas clue yang ia kasih.


Dengan menggeleng Boo Young menjawab bahwa dirinya tidak tahu apa maksud yang di lakukan oleh Avril. Karena sudah frustasi, Avril pun menggandeng tangan Boo Young untuk masuk ke dalam kamar dan mereka berdua duduk di pinggir ranjang.


Lalu Avril mengeluarkan sebuah kertas berwarna putih dari dalam tasnya untuk di berikan kepada Boo Young. Dengan penasaran Boo Young mulai membuka kertas itu dan membacanya.


Entah ekspresi apa yang Boo Young tunjukan setelah ia mengetahui jika Avril hamil. Senang, gembira, terkejut, terharu, semua rasa itu yang ia rasakan ketika membaca surat itu.


"Sayang, ini beneran?" Tanya Boo Young terkejut.


"Seperti yang kamu lihat!" Jawab Avril dengan santai.


Sontak saja Boo Young langsung memeluk Avril, dia menangis karena terlalu senang dan terharu. Akhirnya apa yang dia dambakan telah terkabul. Lalu Boo Young berlutut di hadapan Avril dan mengelus perutnya. Sesekali Boo Young mencium dan mendengarkan perut Avril dengan harapan bisa mendengar apa yang sedang bayinya lakukan di dalam.


Tentu saja belum ada aktifitas di dalam perut Avril, karena usia kehamilan Avril baru menginjak 4 Minggu. Sangking senangnya Boo Young, dia menyuruh Avril untuk berhati-hati jika melakukan suatu hal.


"Mulai besok kamu tidak boleh bekerja." Kata Boo Young.


"Nanti aku bosan sendiri di rumah." Sahut Avril mengeluh.


Tidak ada alasan apapun untuk Avril tetap bekerja. Avril pun langsung menyetujui larangan dari Boo Young, karena dia tahu kalau Boo Young sangat menginginkan bayi yang ada di kandunganya. Jadi Avril tidak mau ambil resiko jika dia sampai kecapekan dan terjadi sesuatu dengan bayinya.


Avril kemudian beranjak dari duduknya, ia berencana untuk mandi karena ia merasakan badannya pegal-pegal. Sedangkan Boo Young menungguinya yang sedang mandi.


"Jalannya hati-hati!" Peringatan dari Boo Young sambil mengelap lantai yang sedikit basah.


"Iya, ini juga hati-hati." Sahut Avril yang melilitkan handuk di badannya.


Lalu Boo Young menuntun Avril untuk keluar dari kamar mandi. Dia pula yang mengambilkan baju ganti untuk Avril. Kemudian Avril duduk di depan meja rias dan rambutnya di keringkan oleh Boo Young dengan hairdryer dengan penuh kesabaran Boo Young mengeringkan rambut Avril.


Avril hanya bisa tersenyum atas sikap Boo Young yang overprotektif ketika ia mengetahui jika dirinya sedang hamil. Karena sudah larut malam, mereka berdua pun tiduran di atas ranjang. Dengan posisi Boo Young mengelus perut Avril, merekapun akhirnya tertidur pulas.


****


Keesokan harinya Boo Young bangun lebih awal dari Avril, ia menyiapkan semua kebutuhan Calvin dan juga membuat pancake, tetapi karena gagal dan gosong. Ia kemudian menyuruh Ahjumma untuk membuat sarapan yang kebetulan pagi itu dia belum pulang.


"Ahjumma, aku minta tolong untuk membuatkan sarapan?" Tanya Boo Young yang merasa putus asa karena pancake yang ia buat gosong.


"Baik Tuan, apa yang harus saya buat?" Tanya sang Ahjumma.


Kemudian Boo Young menunjuk ini dan itu untuk di masak. Lalu ia berjalan menuju ke kamar Calvin untuk membangunkannya. Dengan pelan Boo Young membangunkan Calvin dan membantu menyiapkan keperluan Calvin, sementara Calvin pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka.


"Mama kemana Pa?" Tanya Calvin.


"Mama masih tidur. Kamu tahu, kalau kamu akan segera memiliki adik."Jawab Boo Young sambil memberitahu kepada Calvin bahwa mamanya sedang mengandung.


Avril yang melihat mereka berdua yang sedang berpelukan pun ikut bahagia, karena dia merasa hidupnya beruntung memiliki dua laki-laki yang begitu menyayanginya.


"Boo, kenapa kamu menyuruh Ahjumma membuat sarapan?" Tanya Avril memprotes.


"Karena kamu tidak boleh masak lagi. Kamu cukup jaga bayi yang ada di sini." Jawab Boo Young mendekati Avril sambil memegang perut Avril.


Begitupun dengan Calvin yang ikut memeluk sang mama. Mereka bertiga saling berpelukan dengan di selimuti kebahagiaan. Lalu mereka bertiga keluar dari kamar Calvin untuk sarapan.


Boo Young berencana untuk mengambil les memasak demi bisa memasak yang sehat untuk sang istri. Dia terlalu bersemangat atas kehamilan sang istri, dia ingin memberikan hal yang terbaik untuknya dan calon buah hatinya.


"Aku baru hamil empat Minggu dan aku masih bisa mengerjakan sesuatu sendiri, bahkan masak pun tak akan membahayakan." Kata Avril memberitahu.


"Tidak! kamu aku tidak mau ambil resiko." Timpal Boo Young.


Mereka bertiga pun duduk di kursi makan, bersyukur Avril tidak merasakan rasa mual-mual ketika mencium bau makanan. Ia pun kemudian memakan sarapannya dengan lahap. Tetapi pagi itu Calvin tidak bisa makan banyak, karena rasa makanannya berbeda dari yang di masak sang mama. Mungkin dia perlu waktu untuk menyesuaikan lidahnya dengan rasa masakan baru.


Begitulah Calvin, jika tidak makan masakan sang mama, dia selalu hanya makan sedikit. Ketika mereka makan di restoran pun begitu, kecuali makan pizza karena itu makanan kesukaannya. Boo Young pun juga hanya makan sedikit, dia merasakan perutnya pagi itu tidak nyaman.


Setelah mereka selesai makan sarapan, Calvin kemudian berjalan menuju ke kandang kucing. Calvin memberi makan dan minum kepada hewan peliharaannya. Kemudian ia mengeluarkan kucing dari dalam kandang, karena ia tak tahan jika tidak memeluknya. Tetapi sang papa buru-buru melarangnya dan menyuruhnya untuk memasakkan kucing kembali ke dalam kandang.


"Masukan lagi kucingnya ke dalam kandang!" Suruh Boo Young yang tampak khawatir.


"Memangnya kenapa Pa?" Tanya Calvin heran.


Karena biasanya Calvin selalu menggendong sang kucing tak pernah ada masalah. Tetapi pagi itu sang papa melarangnya dan memindahkan kandang kucing di tempat pencucian baju.


Calvin hanya mengikuti sang papa ketika memindahkan kandang kucing dan terlihat bingung karena papanya bertingkah aneh dan tak seperti biasanya.


"Kamu tahu, bulu-bulu kucing bisa jadi bahaya untuk ibu hamil. Bisa mengakibatkan alergi dan asma." Kata Boo Young menjelaskan.


"Tapi Mama tidak memiliki riwayat alergi atau asma. Jadi tidak akan berbahaya jika kucing ini sehat dan Calvin akan terus rutin membawanya ke dokter hewan. Papa jangan berlebihan seperti itu." Sahut Calvin yang tak terima jika kucingnya di taruh di tempat cucian.


"Tidak Tidak! Papa tidak mau ambil resiko! ayo Papa antar kamu ke kampus." Timpal Boo Young yang tak mau ambil resiko jika terjadi apa-apa dengan kehamilan sang istri.


Calvin pun berpamitan dengan sang mama. Memeluk, mencium dan tak lupa tersenyum dengan calon adiknya. Dan Calvin berpesan kepada sang mama untuk menjaga calon adiknya agar selalu sehat sampai waktunya tiba untuk melihat dunia.


Kemudian Boo Young pun mengantar Calvin ke kampus, sementara Avril duduk di sofa menonton TV. Tetapi ketika Boo Young sampai di pertengahan jalan, ia merasakan mual di dalam perutnya. Keringat dingin pun keluar dari dahinya.


"Papa kenapa?" Tanya Calvin karena sang papa menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Perut Papa terasa mual. Mungkin karena makan masakan Ahjumma." Jawab Boo Young yang menyalahkan Ahjumma.


Karena khawatir jika terjadi kecelakaan, Boo Young kemudian menelpon sang asisten untuk menggantikan dia menyetir. Di sepanjang perjalanan Boo Young terasa mual dan ingin muntah, apalagi jika mencium bau AC mobil, perutnya semakin terasa ingin mengeluarkan isinya.


Bersambung.......