
Suami yang berjanji akan selalu membuatnya bahagia dan tidak akan membuatnya bersedih, pada akhirnya dia lah orang yang selalu menyakitinya. Rasa kecewa membuatnya tidak ingin mengatakan sesuatu.Mungkin diam baginya akan membuatnya lebih baik.
Janji tinggalan janji dan janganlah membuat janji ketika sedang gembira. Pada akhirnya janji akan terlupakan ketika keadaan sedang tak mendukung. Mungkin memaafkan adalah kemenangan terbaik.
Sebagai manusia yang selalu berharap, Avril sangat berharap kalau suaminya akan selalu menepati janjinya. Tapi dia sudah merasa putus asa atas sikap suaminya yang tidak memihaknya sama sekali.
Bukan maksud Avril ingin di pihak, tapi karena sikap mertua Jie Hyo yang semakin hari semakin menyudutkannya, ia ingin suaminya mengerti bahwa dirinya tersakiti oleh perlakuan sang mertua. Tetapi Boo Young menganggap Avril terlalu serius dalam menanggapi sikap mamanya.
Memang sebelumnya Boo Young pernah berkata bahwa mamanya orang cerewet dan suka mengatur, tapi Avril tak menyangka kalau mertuanya lebih parah dengan yang ia bayangkan.
Sebenarnya bukan hal yang susah, jika saja mertuanya Avril pulang ke rumah mereka sendiri, maka Avril dan Boo Young tidak akan mendapat masalah seperti saat itu.
"Avril, apakah kamu ingin kita pergi dari sini?" Tanya Jie Hyo dengan lantang.
Saat itu Avril baru saja keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum, tapi pertanyaan dari sang mertua membuatnya menghentikan langkahnya. Lalu ia membalikan badannya menghadap ke arah kedua mertuanya yang sedang duduk di sofa.
"Aku hanya berharap mama memahami kondisiku dan biarkan aku menjadi menantu yang baik." Jawab Avril dengan pelan.
Maksud Avril agar sang mertua memahami kalau dia sedang menyusui sehingga berat badannya naik. Karena hampir setiap hari sang mertua menyinggung tentang berat badannya. Jika saja sang mertua memahaminya, pasti Avril akan menjadi menantu yang baik.
"Honey... jangan cari gara-gara terus!" Protes Min Sik kepada sang istri.
"Aku tidak cari gara-gara, tetapi apa yang aku katakan pada Avril semua demi kebaikannya. Kita sebagai orang Korea sangat menyukai tubuh ideal, begitupun dengan Boo Young. Apakah Avril mau kalau Boo Young nanti melirik perempuan lain di luar sana!" Timpal Jie Hyo dengan kesal.
Deg......
Hati Avril seperti berhenti berdetak, ketika Jie Hyo mengatakan "Apakah Avril mau kalau Boo Young nanti melirik perempuan lain di luar sana!". Avril sadar apa yang di katakan mertuanya ada benarnya, mungkin saja Avril salah mengartikan nasihat-nasihat dari sang mertua atau sang mertua yang berlebihan dalam memberi nasihat.
Avril segera mengambil air minum dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Kini pikirannya sedang sibuk memikirkan apa yang di lakukan sang suami di kantor. Mengingat dari pagi Boo Young tidak menelpon atau mengirim pesan kepada Avril.
*****
Siang itu Boo Young baru saja selesai meeting dengan perusahaannya Dinna dan Akhirnya perusahaan orangtua Dinna menanamkan sahamnya ke perusahaan Boo Young. Itu artinya perusahaan Boo Young terselamatkan dari kebangkrutan.
"Terimakasih atas kerja samanya." Kata Boo Young kepada ayahnya Dinna sambil berjabat tangan.
"Semoga kita saling menguntungkan!" Sahut ayah Dinna sambil mengepak punggung Boo Young dua kali.
Karena perusahaan ayah Dinna menanamkan sahamnya di perusahaan Boo Young, Dinna pun akan bekerja di perusahaan Boo Young sebagai team eksekutif. Tak bisa di pungkiri lagi, kalau Boo Young dan Dinna akan sering bertemu bahkan bersama.
Dinna tak lagi bersikap agresif terhadap Boo Young seperti sebelumnya, dia nampak elegan dengan image sebagai gadis kaya. Tapi dari tatapannya, dia masih memiliki rasa suka terhadap Boo Young. Mungkin di balik penanaman saham di perusahaan Boo Young, terselip rencana yang tidak di ketahui orang lain.
"Om, ayo kita makan siang dulu." Ajak Boo Young.
"Maaf, Om ada janji sama teman. Kamu makan siang sama Dinna saja!" Sahut ayah Dinna.
Kemudian Ayah Dinna meninggalkan perusahaan Boo Young dan mau tidak mau Boo Young mengajak Dinna untuk makan siang dengannya. Karena tidak ingin ada yang salah paham, Boo Young kemudian mengajak sekertarisnya untuk makan dengannya.
Wajah Dinna tampak kesal dan tersenyum sinis menyunggingkan bibirnya ke atas saat Boo Young mengajak sekertarisnya makan bersama mereka. Tetapi Dinna mencoba menyembunyikan kekesalannya.
Di dalam perjalanan menuju ke restoran, Boo Young tampak cemas. Tangannya menggenggam handphonenya, ingin menghubungi Avril tapi rasa gengsi membuatnya mengurungkan niat untuk menelpon sang istri. Dengan harapan Avril akan menghubunginya duluan.
Sesampainya mereka di restoran, Boo Young langsung memesan makanan dan duduk dengan gelisah. Mengecek handphonenya berkali-kali seperti menunggu panggilan atau pesan dari Avril. Karena setiap istirahat makan siang Avril selalu melakukan videocall dan memamerkan kebersamaannya dengan si kembar.
"Kita langsung balik ke kantor." Ajak Boo Young dengan raut wajah kesal.
"Baik pak!" Sahut sang sekertaris.
Mereka bertiga beranjak dari duduknya. Dinna mengikuti langkah cepat Boo Young, sepertinya Dinna mengetahui kalau Boo Young sedang ada masalah dengan sang istri.
Di dalam mobil Boo Young tanpa berkata apa-apa dan hanya melihat ke arah luar dari kaca mobil. Sedangkan Dinna dan sekertaris duduk di kursi belakang sambil mengobrol.
Untuk mengetahui keadaan Avril, Boo Young kemudian menelpon sang mama.
Tut...Tut...Tut....
"Ada apa sayang?" Tanya sang mama melalui panggilan.
Boo Young basa basi kesana kemari agar tidak ada yang mencurigai kalau dia sedang ada masalah dengan Avril.
"Tadi aku menelpon Avril, tapi dia tidak mengangkatnya. Mungkin dia sedang tidur. Mama bisa kasih lihat si kembar?" Kata Boo Young berbohong.
Kemudian sang mama masuk ke kamar dan memperlihatkan si kembar melalui panggilan videocall dan kebetulan memang Avril saat itu sedang tidur di ranjangnya.
Tak terasa mereka sampai di kantor dan Boo Young menyudahi panggilannya. Setidaknya melihat si kembar bisa mengurangi rasa kesalnya karena Avril tidak mencoba menghubunginya.
Di saat Boo Young, Dinna dan sekertaris keluar dari mobil, Eun Soo melihat mereka bertiga. Rasa khawatir menghampirinya, karena dia pernah melihat Dinna sedang menggoda Boo Young.
"Ada apa sayang?" Tanya Seung Chul yang kebetulan sedang bersama Eun Soo.
"Tidak apa-apa, hanya melihat Dinna sang COO baru di perusahaan kita." Jawab Eun Soo yang masih memandangi ke arah mereka bertiga.
Seung Chul yang tidak tahu apa-apa pun berpamitan kepada Eun Soo untuk pergi. Karena siang itu Seung Chul hanya menemani Eun Soo makan siang. Mereka berdua sedang sibuk untuk mempersiapkan pernikahan mereka, jadi Eun Soo jarang ada waktu untuk mengunjungi Avril.
Boo Young baru saja sampai di ruang kerjanya, dia duduk di kursi kebesarannya. Bersandar dan mengangkat kakinya di atas meja. Tatapannya menghadap ke langit-langit sambil memikirkan Avril.
Dia merasa kalau Avril terlalu kekanak-kanakan, hanya karena orangtuanya akan datang, tak seharusnya Avril menyuruh kedua orangtua Boo Young untuk pulang.
Sebenarnya Boo Young tidak benar-benar memahami apa yang di katakan Avril. Sehingga mereka berdua saling salah paham. Tetapi karena mereka tidak menjalin komunikasi dengan baik, sehingga permasalahan itu semakin membuat mereka berdua menjauh.
Tok...Tok...Tok...
"Masuk!" Suruh Boo Young kepada seseorang yang mengetuk pintu.
Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Dinna. Dinna memasuki ruangan Boo Young dengan berjalan bak model. Wajah cantiknya menyuguhkan senyum terbaiknya.
"Ruangan kerjamu sangat luas, bagaimana kalau kita share tempat kerja?" Pinta Dinna yang masih berdiri di hadapan Boo Young.
"Kalau kamu mau, silahkan! Tapi ada hal-hal yang tidak boleh kamu lakukan di ruangan ini." Sahut Boo Young tanpa berpikir negatif.
Kemudian mereka berdua membicarakan tentang perusahaan mereka dan langkah-langkah apa yang mereka akan lakukan untuk membuat perubahan pada perusahaan.
Sejauh ini, Dinna tidak melampaui batas. Dia bersikap selayaknya seorang rekan bisnis yang profesional.
Bersambung....