My Korean Husband

My Korean Husband
Avril dan prasangka buruknya.



Ketika Avril masuk ke dalam kamar mandi, Boo Young kemudian beranjak dari tidurnya. Ia berdiri di depan cermin untuk merapikan rambutnya yang berantakan, lalu ia keluar dari kamar berjalan menuju ke meja makan. Ia menyapa kedua mertuanya dengan menundukkan kepalanya dengan hormat, kemudian ia duduk di kursi samping Calvin.


"Maaf Pa, Ma, tadi aku ketiduran." Kata Boo Young sambil tersenyum dengan sopan.


"Iya tidak apa-apa, pasti kamu capek." Sahut Papa mertuanya.


Avril yang baru keluar dari kamar mandi tidak melihat Boo Young di atas ranjang. Ia pun segera keluar dari kamarnya dan di lihatnya Boo Young sedang duduk di kursi meja makan sambil mengobrol dengan papanya.


"Sayang, ayo cepetan makan, nanti keburu si kembar bangun loh..." Panggil Boo Young kepada Avril.


"Iya sebentar!" Sahut Avril berjalan menghampiri Boo Young.


Seperti biasanya, Avril mengambilkan makanan untuk Boo Young dan Calvin. Boo Young sendiri bersikap seperti tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Avril. Sesekali Boo Young tertawa kecil karena candaan dari Papa mertuanya.


Melihat Boo Young tertawa seperti itu membuat Avril tersenyum. Berharap sang suami akan bersikap baik kepadanya.


Setelah makan malam selesai, orangtuanya Avril berpamitan untuk istirahat.


"Mama sama Papa istirahat dulu ya! Badan mama pegal-pegal nih!" Pamit sang Mama.


"Iya Ma, kalian istirahat dulu, biar besok bisa jalan-jalan." Sahut Avril sambil menggendong Afifah.


Seperti biasanya, Boo Young menemani Calvin mengerjakan tugasnya dan juga menemaninya sampai tidur. Sedangkan Avril mengajak si kembar masuk kedalam kamar untuk diberinya Asi.


"Apakah aku harus minta maaf kepada Boo Young agar dia bersikap baik kepadaku?" Tanya Avril pada dirinya sendiri.


Kring Kring Kring....


Suara ponsel Boo Young berbunyi.


Avril mencoba melihat siapa yang menelepon dan ternyata nama Dinna tertera di layar ponsel, hal itu membuat Avril tidak bisa menahan diri dan langsung mengangkat panggilan itu.


"Ada apa Dinna?" Tanya Avril dengan nada biasa.


"Oh maaf mengganggu, aku hanya ingin bicara sama Boo Young. Kata Boo Young dia ingin mengajakku pergi ke suatu tempat, tapi aku tidak tahu jam berapa!" Sahut Dinna dengan nada manjanya.


"Kalau masalah itu aku tidak tahu, coba nanti kamu telpon lagi, soalnya Boo Young sedang menemani anaknya." Imbuh Avril.


"Okay, Terima Kasih, nanti aku akan menghubunginya lagi." Timpal Dinna sambil menutup panggilannya.


Avril lagi-lagi terbakar oleh api cemburu. Kali ini dia tidak bisa menahan emosinya. Setahunya besok Boo Young libur kerja dan Avril sudah merencanakan untuk mengajaknya jalan-jalan bersama kedua orangtuanya.


Tak lama kemudian Boo Young pun masuk ke dalam kamar. Dia melihat Avril duduk di atas ranjang dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"Besok kamu mau pergi kemana?" Tanya Avril sambil menatap tajam ke arah Boo Young.


"Besok aku mau pergi menemui klien dari Jepang." Jawab Boo Young jujur.


"Sama siapa?" Imbuhnya.


Tetapi Avril tidak percaya dengan jawaban dari Boo Young. Ia berfikir kalau Boo Young dan Dinna hanya pergi berdua. Air matanya sudah tidak terbendung lagi, Avril menangis tersedu-sedu dan mendorong tubuh Boo Young hingga ia terjatuh di atas ranjang.


"Jangan bohong kamu! Pasti kamu sudah janjian sama Dinna dan pergi berlibur berduaan dengannya!" Tuduhnya kepada Boo Young.


"Aku jelasin sampai berpuluh-puluh kali pun kamu tidak akan pernah percaya denganku. Jika kamu tidak percaya, besok kamu pergi sama aku dan biarkan si kembar sama mamamu!" Bentak Boo Young dengan nada agak tinggi hingga membangunkan si kembar.


Karena Avril sedang menangis, ia pun membiarkan di kembar menangis juga. Hingga Boo Young beranjak dan menghampiri si kembar untuk menenangkan mereka.


Setelah Si kembar kembali tertidur, Boo Young kemudian menghampiri Avril yang sedang menangis. Dia mencoba untuk memeluk Avril dan menyingkirkan egonya. Belum sempat Boo Young memeluknya, Avril sudah berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Boo Young yang juga sudah selesai bersih-bersihpun berusaha menyingkirkan egonya dan merebahkan tubuhnya di samping Avril, ia mencoba menjelaskan kepada Avril bahwa dirinya dan Dinna tidak terjadi apapun.


"Aku tahu kalau Dinna mencoba untuk menggodaku, tapi percayalah bahwa aku tidak tertarik sedikitpun kepadanya. Kamu tahu, saat ini perusahaan sangat membutuhkan bantuan dari perusahaannya Dinna, jadi aku terpaksa untuk menuruti kemauan Dinna yang ingin bekerja di perusahaan ku." Boo Young menjelaskan kepada Avril dengan detail.


"Tapi terakhir aku melihatmu mau menciumnya, apa mataku salah?" Sahut Avril dengan nada agak tinggi.


"Jangan keras-keras suaranya, kasian si Kembar nanti bangun lagi. Kemarin itu aku mau bantuin dia meniup matanya yang kemasukan sesuatu." Imbuh Boo Young menjelaskan.


"Jelas-jelas aku melihatmu menarik dagunya Dinna dan mau menciumnya. Kalau saja aku tidak datang, pasti kalian sudah berciuman dan gak tau lagi kelanjutannya seperti apa. Kan kamu orangnya seperti itu!" Sahut Avril.


Avril yang terlalu sensitive mulai berbicara di luar kendalinya. Boo Young yang mendengar perkataan Avril pun langsung duduk dan menarik tangan Avril dengan kasar hingga posisi mereka saling berhadap-hadapan.


"Aku sudah berusaha untuk jujur dengan mu, tapi kamu malah berbicara ngelantur dan terus menuduhku. Sekarang terserah kamu mau berpikir seperti apa tentangku!" Kata Boo Young dengan nada menekan.


"Aku tidak menuduh mu, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Pasti besok kamu dan Dinna juga bakal pergi berduaan." Sahut Avril yang tak terkendali.


Mendengar perkataan Avril yang semakin melantur, Boo Young kemudian turun dari ranjang. Dia mencoba menahan dirinya untuk tidak berantem dengan Avril, karena dia ingat kalau mertuanya sedang di rumahnya.


Ia mengambil ponselnya dari atas nakas dan berjalan keluar kamar meninggalkan Avril yang masih tiduran di ranjang. Boo Young tidak mengerti dengan jalan pikirannya Avril, ia sudah mencoba untuk mengalah, tapi Avril sama sekali tidak mempercayainya. Boo Young pun mendengus kesal duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


"Oh.. kamu mau telponan sama Dinna, Besok juga ketemu!" Kata Avril yang juga keluar dari kamar untuk mengambil air minum.


"Iya, Aku mau telponan sama Dinna untuk janjian besok." Sahut Boo Young dengan kesal.


Saat itu Boo Young benar-benar marah, tapi ia masih bisa mengendalikan amarahnya karena ada sang mertua. Mungkin kalau tidak ada mertuanya di sana, mereka berdua sudah bertengkar hebat.


Setelah mendapat panggilan dari Dinna, Avril tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya. Pikirannya melayang membayangkan suaminya bermesraan dengan Dinna. Padahal apa yang ia bayangkan tidak pernah terjadi.


Boo Young kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar Calvin. Ia berencana untuk tidur dengan Calvin, jika ia tidur dengan Avril kemungkinan Avril tidak bisa mengendalikan perkataannya dan akan membuat Boo Young semakin marah. Sedangkan Avril masuk ke kamarnya dengan membawa air minum di botol.


Tiba-tiba ia menangis duduk di lantai. Ia menganggap suaminya tidak perduli dengannya, ia dengan prasangka buruknya semakin membuatnya sakit hati. Pikirannya tidak karu-karuan memikirkan tentang suaminya dengan Dinna.


Memikirkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya, itu hanya akan menyakiti diri sendiri. Berfikir lah positif dan buanglah prasangka-prasangka buruk yang merugikan diri sendiri.


Bersambung....