My Korean Husband

My Korean Husband
Akhirnya Dia Tahu



Dengan perasaan yang tak tenang, Boo Young menyiapkan semua kebutuhan Calvin untuk sekolah. Pikirannya tak bisa berhenti memikirkan Avril, perasaan khawatir pun mengganggu konsentrasinya untuk memasak.


“Kamu kenapa masak sendiri? Kemana Avril?” Tanya sang Mama yang baru bangun.


“Avril pagi-pagi pergi, karena ada pekerjaan mendadak.” Jawab Boo Young berbohong.


Setelah membantu Calvin ganti baju dan sarapan, Boo Young berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk mengantar Calvin.


“Memangnya Avril kemana?” Tanya Min Sik pada sang istri.


“Kata Boo Young, Avril pergi pagi-pagi karena ada pekerjaan mendadak.” Jawab sang istri sambil mengoles selai di roti.


Setelah Boo Young mengantar Calvin sekolah, Dia berencana akan pergi ke hotel untuk melihat kondisi Avril. Di perjalanan, perasaan Boo Young merasa tidak enak, khawatir jika terjadi sesuatu pada Avril. Mengingat suhu dingin minus sampai 6°C.


Akhirnya ia pun sampai di hotel itu, tanpa bertanya pada penjaga hotel, Boo Young langsung menuju ke arah kamar yang ia sewa semalam. Tetapi, ketika ia membuka pintu, pintu itu sudah terkunci. Boo Young pun mengetuk-ngetuk pintu kamar dan memanggil nama Avril.


“Avril....Avril....buka pintunya!” Kata Boo Young dengan nada keras.


Suara Boo Young pun terdengar oleh penjaga hotel dan ia langsung berjalan menemui Boo Young yang masih memanggil-manggil nama Avril.


“Oh...nama wanita cantik di kamar ini namanya Avril?” Kata penjaga hotel yang menghentikan aktivitas Boo Young.


“Bukankah kamu penjaga hotel semalam? Di mana istriku?” Tanya Boo Young khawatir.


Sang penjaga hotel pun mengajak Boo Young untuk duduk di sofa dekat resepsionis, karena takut mengganggu penghuni hotel yang lainnya.


“Kalau kamu memang suaminya, kenapa kamu meninggalkan istrimu yang hampir mati kedinginan? Dan juga membiarkan istrimu pergi dengan pria lain ketika dia sedang mabuk? Untung saja ada aku, jadi istrimu tidak sampai di sakiti.” sang penjaga hotel yang membuat Boo Young bingung.


“Maksud Anda pria yang mana?” Tanya Boo Young penasaran.


Kemudian sang penjaga hotel pun menceritakan kejadian di mana Avril sedang di jebak oleh Boo Rua. Seakan-akan Avril sedang pergi ke hotel dan tidur dengan laki-laki lain.


Boo Young bagai di tusuk pedang di dadanya setelah mendengar cerita dari sang penjaga hotel, dada yang terasa sesak, air mata yang tak tertahan lagi. Kini ia sedang meratapi kesalahannya yang sudah salah paham dengan Avril.


“Ja-jadi di ma-mana istri ku se-sekarang?” Tanya Boo Young terbata-bata karena menahan rasa sakit di dadanya.


“Tadi pagi saya menemukan istri Anda tidak sadarkan diri karena kedinginan dan tadi bagi dia di bawa Ambulans ke Rumah Sakit H.” Jawab sang penjaga hotel.


Sambil memberi beberapa lembar 1000 won kepada penjaga hotel, Boo Young kemudian berlari menuju mobilnya yang ia parkir tak jauh dari hotel.


“Tuan, ini terlalu banyak!” Teriak sang penjaga hotel, karena Boo Young berlari.


Tak memedulikan sang penjaga hotel itu, Boo Young pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar ia cepat sampai di rumah sakit H. Ia ingin segera bertemu dengan Avril dan meminta maaf atas kesalah pahaman yang membuatnya menyakiti Avril.


Sesampainya ia di rumah sakit, Boo Young langsung bertanya kepada suster penjaga tentang ciri-ciri Avril.


“Dia di bawa Ambulans tadi pagi, pingsan karena kedinginan. Dia bukan orang asli Korea.” Kata Boo Young berusaha menyebutkan ciri-ciri Avril.


Sang suster pun segera mengantar Boo Young ke IGD, karena Avril tidak memiliki identitas, makanya dia belum di bawa ke ruang inap.


Di lihatnya Avril yang masih tertidur, dengan rasa bersalah Boo Young berjalan ke arah Avril dengan tatapan sedih. Matanya sudah di penuhi genangan air mata, hatinya sesak menahan sakit.


Boo Young duduk di kursi sebelah Avril, di raihnya tangan Avril. Tidak tahu apa yang ingin ia ucapkan, kata maaf kah atau penyesalan? Tiba-tiba teringat kata-kata Avril yang tidak akan memaafkannya.


“Maaf Tuan, apakah Anda salah satu keluarga pasien?” Tanya seorang Dokter penjaga yang membuat Boo Young bangun dari lamunannya.


“Oh i-iya Dok, Saya suaminya.” Jawab Boo Young dengan gelagapan.


Karena sang dokter meminta kartu identitas pasien, Boo Young pun segera menelepon asisten Joon untuk mengambil kartu identitas Avril yang berada di apartemen.


Tak lama kemudian sang asisten pun datang dengan kedua orang tua Boo Young. Karena mendengar kegaduhan, Avril pun terbangun.


“Avril, kamu kenapa bisa di rumah sakit? Di bagian mana yang sakit?” Tanya sang mertua yang khawatir.


“Avril tidak apa-apa Ma, hanya kecepekan saja!” Jawab Avril berbohong.


Setelah Boo Young selesai mendaftarkan Avril sebagai pasien, Avril pun di pindah ke ruang inap. Tak tanggung-tanggung, Boo Young menempatkan Avril di ruang VVIP yang sehari saja bayar 12 juta rupiah.


Setelah Avril masuk ke ruang inap, Boo Young pun menyuruh kedua orang tuanya untuk pulang, karena Avril harus istirahat.


“Mama dan Papa pulang saja, biar Boo Young yang jaga. Lagian Avril harus istirahat total kata dokter.” Kata Boo Young memberi alasan.


“Ya sudah, Mama dan Papa pulang dulu, kalau ada apa-apa hubungi Mama, ok!” Kata sang Mama.


Kedua orang tuanya sudah pergi, kini tinggal Avril dan Boo Young yang berada di kamar itu. Tatapan Avril sangat marah pada Boo Young, hingga ia tidak mau menatap wajah Boo Young.


“Kenapa kamu menolong ku? Apa belum puas kamu menyiksa ku.” Kata Avril memecah keheningan.


Boo Young menunduk dan berjalan mendekati Avril. Kemudian dia meraih tangan Avril dan meminta maaf karena telah membuatnya celaka.


“Avril, aku memang orang yang paling bodoh! Maaf kan aku, aku berjanji tidak akan menyakiti mu lagi.” Kata Boo Young sambil meneteskan air mata penyesalan.


“Sekarang kamu menyesal dan besoknya lagi kamu akan menyiksaku, begitu? Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu, sehingga kau membuatku seperti ini. Apakah dengan menyiksaku kamu bahagia?” Kata Avril yang membuat Boo Young terduduk menangis sesenggukan.


Avril merasa ada yang aneh dari sikap Boo Young, sehingga membuatnya berpikiran negatif. Avril pikir, Boo Young pura-pura baik kepadanya karena ada maksud lain, yaitu agar Avril mau menandatangani surat perceraian itu.


“Avril, maukah kamu memaafkan ku?” Kata Boo Young berharap.


“Apakah kamu sudah menyadari kesalahan mu, tapi tidak mudah bagi ku untuk memaafkan mu.” Sahut Avril dengan memalingkan wajahnya.


Boo Young menyadari akan sikapnya yang sudah keterlaluan terhadap Avril. Dia pun tak bisa memaksakan Avril untuk memaafkannya, mungkin butuh waktu agar Avril memaafkan semua kesalahannya.


Bersambung....