
Setelah melihat Boo Young mendekatkan wajahnya ke Dinna, Avril tidak bisa menahan amarahnya lagi. Apa yang dia khawatirkan selama ini terhadap suaminya benar-benar terjadi. Mengingat dua insan manusia yang berlawanan jenis berada di satu ruangan, pasti tidak membutuhkan waktu lama untuk tumbuh rasa suka di antara mereka. Apalagi Dinna dari segi fisik adalah tipe Boo Young.
Kebetulan Dinna membuka komputer untuk mengecek para karyawan melalui CCTV. Di saat itu juga, Dinna melihat Avril keluar dari lift. Dia sudah mengira kalau Avril akan masuk ke dalam ruangannya Boo Young. Dengan buru-buru Dinna berlari ke arah Boo Young dan berpura-pura matanya kemasukan benda asing.
"Boo... tolongin, mata aku kemasukan sesuatu." Pinta Dinna dengan berpura-pura panik.
"Kenapa? Coba sini aku lihat!" Sahut Boo Young yang langsung berdiri dari duduknya.
Boo Young menarik dagu Dinna hingga wajah mereka berdekatan. Ia mulai melihat mata Dinna yang sebenarnya tidak ada apa-apa. Di saat yang bersamaan, Avril membuka pintu ruangannya. Avril mengira kalau Boo Young akan mencium Dinna.
Avril yang melihat suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain, ia pun segera menaruh bekal makan siang di meja kerjanya Dinna dan ia langsung pergi karena tidak ingin mengganggu suaminya.
Terkejut melihat Avril datang dan langsung pergi, Boo Young kemudian mendorong tubuh Dinna dengan kasar. Tetapi Dinna menarik tangannya dan berpura-pura matanya terasa sakit. Boo Young tak memperdulikan perkataan Dinna dan langsung mengambil ponselnya.
"Boo... Mataku masih sakit nih!" Teriak Dinna.
Seperti tak menganggap Dinna ada, Boo Young keluar dari ruangannya. Tetapi Avril sudah keburu masuk dalam lift. Lalu Boo Young masuk ke dalam lift khusus, agar lebih cepat untuk mencari Avril.
Ketika Boo Young keluar dari lift, Ia melihat Avril berjalan keluar dari pintu utama. Dengan segera ia berlari menghampiri Avril yang mempercepat jalannya, karena dia menyadari kalau Boo Young sedang mengikutinya.
"Avril, aku bisa jelasin. Apa yang kamu lihat itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan." Kata Boo Young yang mencoba untuk menjelaskan kepada Avril.
"Boo, kita bicara di rumah. Di sini banyak orang, malu di lihatin!" Sahut Avril dengan ketus.
Di tariknya tangan Avril untuk masuk ke dalam gedung kantor. Boo Young mengajak Avril untuk masuk ke dalam ruang meeting, karena Avril tidak mau orang-orang di sekeliling mengetahui masalahnya, ia pun hanya bisa mengikuti kemana Boo Young menariknya.
Pintu di kunci oleh Boo Young, Avril melepas paksa tangannya yang di cengkram oleh suaminya. Melihat Avril yang sedang marah, Boo Young kemudian memeluknya supaya Avril lebih tenang, bukanya membalas pelukan dari sang suami, Avril malah mendorong tubuh Boo Young dengan sekuat tenaganya.
"Aku tadi hanya membantu Dinna untuk meniup matanya, hanya itu tidak lebih!" Boo Young mulai menjelaskan.
"Iya, sekarang meniup matanya, besok memeluk tubuhnya dan seterusnya akan lebih berani! Wajar saja lah, Dinna cantik dan seksi, laki-laki mana yang tidak tertarik dengannya!" Celoteh Avril dengan kesal.
"Ya Avril! Aku sudah berusaha jujur terhadapmu, tetapi kenapa kamu tidak percaya denganku!" Sahut Boo Young yang terlihat kecewa karena Avril tidak mempercayainya.
Avril terdiam sejenak dan Boo Young mencoba meraih tangan Avril, tetapi Avril menepisnya dengan kasar. Mata Boo Young memandang ke arah Avril yang tampak menahan air matanya.
"Dulu kamu bilang mencintai Boo Rua dengan segenap hatimu, tapi kamu berpaling kepadaku. Mudah sekali mengatakan cinta! Apakah kejujuran mu bisa di pertanggung jawabkan?" Pekik Avril menahan air matanya.
"Avril! Aku memilihmu karena kamu berbeda dari yang lain. Kenapa kamu tiba-tiba membicarakan masa lalu yang tidak ingin aku dengar lagi! Jangan pernah mengingatkan ku dengan masa laluku!" Teriak Boo Young.
Perkataan Avril yang mengingatkan Boo Young akan masa lalunya, hal itu membuat Boo Young marah. Ia membuka pintu dan keluar dari ruangan meninggalkan Avril sendirian di sana. Selama ini Boo Young memang tidak ingin mengingat mas lalunya yang baginya sangat tidak pantas untuk di ingat, tapi Avril malah mengungkitnya dan itu membuat Boo Young semakin murka.
Air mata tak lagi bisa ia bendung, pipinya tanpa ia sadari sudah basah. Avril tidak tahu apa yang harus ia lakukan, dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak membicarakan hal sensitif. Tetapi melihat suaminya yang sedang berduaan dengan wanita lain membuat Avril semakin kehilangan kendali.
*****
Sepulangnya ia dari kantornya sang suami, Avril hanya diam diri di kamar dengan si kembar. Hal itu membuat Ahjumma khawatir. Karena biasanya Avril suka mengajak Ahjumma dan si kembar jalan-jalan sore di taman dekat apartemen.
"Nyonya, apakah Anda sedang tidak enak badan?" Panggil Ahjumma dari depan pintu kamar.
Ahjumma merasa lega, ia pun segera menyiapkan makan malam. Sedangkan Calvin yang baru saja pulang dari kampus langsung bermain dengan kucing kesayangannya. Karena ia jarang sekali bermain dengan kucingnya semenjak ada si kembar.
Setelah beberapa menit bermain dan memberi makan kucingnya, Calvin kemudian masuk ke kamar orangtuanya. Di lihatnya sang mama yang sedang bermain dengan ponselnya, lalu ia berjalan menuju ke arah si kembar.
"Calvin, kamu sudah cuci tangan belum?" Tanya Avril yang menyadari kedatangan Calvin.
"Belum!" Jawab Calvin yang langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.
Sebenarnya, saat itu Avril sedang menunggu pesan atau telpon dari Boo Young. Ia berharap sang suami meminta maaf kepadanya, tapi sampai sore hari handphonenya tidak tidak ada panggilan atau pesan masuk dari sang suami.
"Calvin, coba kamu telpon papamu. Tanyain di mana dia sekarang?" Suruh Avril dengan serius.
"Kan mama sedang pegang handphone, mama saja yang telpon papa!" Sahut Calvin.
"Mama pengennya kamu yang nelpon dan pakai ponselmu." Timpal Avril.
Sebagai anak yang penurut, Calvin langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil handphonenya. Lalu ia menelpon sang papanya dan kembali menghampiri sang mama.
Tut-tut-tut....
"Ada apa sayang?" Boo Young menjawab panggilan dari Calvin.
"Papa lagi di mana?" Tanya Calvin yang saat itu sudah duduk di samping sang mama.
"Papa masih di kantor! Hari ini papa pulang telat, Calvin jangan tunggu papa ya, kalian makan duluan, nanti papa makan di luar." Jawab Boo Young yang saat itu memang sedang banyak kerjaan.
Avril memberi kode kepada Calvin untuk tanya kepada Boo Young, dengan siapa dia di kantor.
"Papa di kantor sama siapa? Sudah malam, papa apa tidak takut?" Tanya Calvin atas perintah Avril.
"Papa sama Tante Dinna yang kemarin kita ketemu di restoran." Jawab Boo Young.
"Yasudah... cepat pulang ya pa!" Calvin menyudahi panggilannya.
Seketika Avril merasa lemas mendengar suaminya yang sedang berduaan dengan Dinna. Pikirannya mulai tidak karu-karuan, memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
"Mama kenapa bengong? Ayo makan dulu ma, kata papa dia pulang telat dan papa mau makan di luar." Ajak Calvin yang tidak tahu kalau mamanya sedang nangis batin.
"Kamu sudah lapar ya, ayo makan dulu!" Sahut Avril yang mencoba menutupi kesedihannya.
Setelah mereka berdua selesai makan, Avril menyuruh Ahjumma untuk menemani Calvin tidur, tetapi Calvin menolaknya, karena Calvin masih mau mengerjakan tugas-tugasnya dan dia mengatakan bahwa dirinya bisa tidur sendiri.
Sedangkan Avril langsung masuk ke kamarnya, pikirannya kembali memikirkan suaminya yang sedang berduaan dengan Dinna. Memikirkan hal itu Avril menjadi kesal dan marah tanpa tahu apa yang sedang di lakukan Boo Young saat itu.
Bersambung...