My Korean Husband

My Korean Husband
Niat Baik, Berujung sakit hati



Setelah Calvin tertidur, Boo Young kemudian pergi ke kamarnya. Di lihatnya Avril yang sudah tertidur di ranjang, lalu ia pergi untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, Boo Young berjalan menuju tempat tidur si kembar. Ia begitu bahagia melihat kedua bayi kembarnya yang terlihat mirip dengan sang istri.


Dengan perlahan ia menoleh ke arah Avril, ia tahu kalau sang istri belum tidur. Hanya saja Avril pura-pura tidur dengan posisi miring. Mengingat kata-kata Calvin yang memberi tahunya kalau Avril marah, Boo Young pun segera berjalan menghampiri Avril.


"Aku tahu, kamu belum tidur! Apa kamu marah, karena aku tadi berbicara dengan Dinna?" Tanya Boo Young yang berdiri di samping Avril.


Tidak mendapat respon dari Avril, Boo Young pun duduk di lantai sambil mengelus rambut Avril. Sekarang ia baru menyadari kalau Avril benar-benar marah dengannya. Saat itu Boo Young meruntuki dirinya sendiri yang tidak peka terhadap perasaan sang istri.


Lalu Boo Young mengecup bibir Avril dengan lembut, tetapi tidak ada balasan dari sang istri. Ia tahu kalau Avril belum tidur, Boo Young paham kalau Avril sedang ngambek dia memilih untuk menghindari pertengkaran.


"Sayang, Maafkan aku yang tidak peka dengan perasaanmu. Aku janji, lain kali aku akan menjaga sikapku." Kata Boo Young lirih tepat di telinga Avril.


Avril yang lagi tidak ingin membahas Dinna, ia pun membalikan badannya dengan posisi membelakangi Boo Young. Berharap sang suami tidak mengajaknya berbicara, karena malam itu ia benar-benar tidak ingin membahas apapun dan ingin segera tidur. Seperti seorang ibu yang mempunyai bayi, Avril harus memberi Asi pada si kembar setiap 3-jam sekali. Jadi ia harus bangun di tengah malam.


"Aku tidak berbuat apa-apa, tapi kenapa kamu begitu marah denganku!" Protes Boo Young yang mulai agak kesal dengan sikap Avril.


"Aku capek, aku mau istirahat. Kita bicara besok saja!" Sahut Avril, karena nada bicara Boo Young mulai berubah kesal.


Boo Young mendengus kesal mendengar sahutan Avril. Dia merasa kalau Avril selalu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak perlu di permasalahkan. Malam itu Boo Young masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak marah dengan Avril. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya kepada Avril.


*****


Keesokan harinya, Avril baru selesai memberi ASI pada si kembar. Lalu ia keluar kamar untuk membangunkan Calvin. Karena mood nya belum baik, ia pun menyuruh Calvin untuk menyiapkan keperluan kuliah untuk dirinya sendiri. Avril tahu Calvin bisa melakukan semua sendirian, lalu Avril menyiapkan sarapan yang di masak Ahjumma untuk Calvin.


Setelah Calvin pergi kuliah, Avril kemudian masuk ke dalam kamar. Sedangkan Boo Young masih tertidur lelap. Avril sengaja tidak membangunkannya, karena ia masih kesal dengan sang suami yang terlihat akrab dengan Dinna, apalagi mereka selalu bertemu di kantor. Bayangan Avril sudah berlarian kesana kemari memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi.


"Jam berapa?" Tiba-tiba Boo Young terbangun ketika Avril sedang berdiri mematung.


"Jam 7!" Jawab Avril spontan.


Karena sudah kesiangan, Boo Young pun segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Avril segera menyiapkan baju kerja untuk Boo Young, walaupun hatinya masih merasa kesal. Setelah itu, ia pergi keluar kamar untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami.


"Aku sarapan di kantor saja, sudah kesiangan!" Kata Boo Young yang baru saja keluar dari kamar sambil merapikan jasnya.


"Oh.. kamu mau sarapan dengan Dinna!" Celetuk Avril dengan kesal.


Biasanya Boo Young walaupun kesiangan ia selalu menyempatkan diri untuk sarapan, tapi pagi itu dia memilih sarapan di kantor hingga membuat Avril merasa kesal dan menuduhnya kalau Boo Young akan pergi sarapan dengan Dinna. Mengingat mereka berdua berada di kantor yang sama dan juga ruangan yang sama.


"Aku tidak tahu dengan jalan pikiranmu! Kamu selalu mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu di permasalahkan. Kemarin kamu mempermasalahkan mamaku dan sekarang Dinna yang tidak tahu apa-apa. Terserah! kamu berpikir seperti apa, aku capek dengan sikapmu!" Kata Boo Young dengan nada kesal.


Boo Young sudah tidak bisa mentolerir sikap Avril yang berlebihan. Ia segera keluar dari kamar dan pergi ke kantor. Sedangkan Avril terduduk di atas ranjangnya, matanya mulai meneteskan air mata membasahi kedua pipinya.


Ia tidak bermaksud untuk membuat Boo Young marah. Dia menyadari bahwa dirinya terlalu sensitif. Tetapi dia sendiri tidak bisa menguasai dirinya untuk tidak berpikiran buruk terhadap sang suami. Apalagi menyangkut perasaannya.


*****


Siang itu Avril berencana mengantarkan makan siang untuk Boo Young, sebagai tanda permintaan maafnya yang sudah bersikap berlebihan. Dia menitipkan si kembar kepada Ahjumma, sebelum pergi ia lebih dahulu menyusuinya. Pikirannya, mengantar makanan tidaklah lama, jadi tidak apa-apa meninggalkan si kembar sebentar.


Dengan di antar asistennya Calvin, Avril membawa bekal makan siang kesukaannya Boo Young yang ia masak sendiri dengan penuh cinta. Ia berharap Boo Young akan menyukai surprise darinya dan memaafkan atas sikapnya yang menyebalkan.


Para scurity dan juga resepsionis yang jaga pada siang itu sudah tahu bahwa Avril adalah istri sang CEO, jadi ketika Avril memasuki gedung kantor, para karyawan menunduk menghormatinya. Avril tiba-tiba teringat di saat-saat ia bekerja di perusahaan sang suami dulu ketika masih muda.


Ia naik ke lantai di mana Boo Young berada dengan menggunakan lift. Dengan senyum manisnya, Avril menunduk dan menyapa semua karyawan yang berada di lantai tersebut. Avril tidak melihat Eun Soo, karena ia tidak bekerja di lantai itu. Selesai menyapa, Avril kemudian membuka pintu ruangan kerja Boo Young tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Oh, maaf mengganggu! Ini makan siang buat kalian." Kata Avril sambil menaruh kotak makanan itu di atas meja kerjanya Dinna.


Belum sempat Boo Young mengatakan sepatah kata, Avril sudah pergi keluar dari ruangan sang suami. Ia dengan buru-buru, memencet tombol lift. Agar para karyawan tidak berpikir macam-macam, Avril berusaha untuk tetap tersenyum kepada mereka tanpa memperlihatkan raut aneh wajahnya.


Setelah pintu lift terbuka, ia kemudian masuk. Sedangkan Boo Young baru keluar dari ruangannya dan buru-buru memencet tombol lift. Para karyawan mulai berbisik-bisik, mencurigai bahwa terjadi sesuatu sehingga membuat Avril buru-buru pergi.


"Pasti Avril melihat suaminya melakukan sesuatu dengan Dinna. Makanya dia buru-buru pergi." *Bisik salah satu karyawan.


"Sudah ku duga, pasti akan terjadi sesuatu. Secara, Dinna lebih cantik dari Avril. Lihat saja sekarang Avril, dia terlihat agak berisi, sedangkan Boo Young itu sangat menyukai wanita ramping." Sahut salah satu karyawan yang lain*.


Para karyawan mulai menduga-duga dengan apa yang mereka lihat. Sedangkan Dinna masih berada di dalam ruangan dan tersenyum sinis sambil melipat tangannya di dada. Dia merasa sedang memenangkan sebuah lotre dengan berhadiah fantastis.


Perlahan rencananya berjalan sesuai yang ia rencanakan. Boo Young mulai terperangkap dalam jebakannya. Pertama, ia bisa bekerja satu kantor dan satu ruangan dengan Boo Young. Kedua, dia bisa dengan leluasa memamerkan pesonanya tanpa harus memaksa Boo Young untuk melihat pesonanya.


Dinna yakin saat ini Avril akan marah besar, karena ia melihat apa yang sedang di lakukan Boo Young terhadapnya. Ketika Avril marah, Dinna bisa maju satu langkah untuk mendekati Boo Young dengan cara menghiburnya.


Bersambung....