My Korean Husband

My Korean Husband
Calvin Menyelesaikan Ujian Ke-3



...****************...


Hari ini adalah hari Calvin mengikuti ujian tahap ke-3. Avril dan Boo Young sedang menunggu Calvin di luar ruangan. Dengan perasaan cemas, Boo Young mondar-mandir seperti setrikaan. Sedangkan Avril terlihat tenang sambil berdoa agar Calvin di mudahkan dalam mengerjakan soal ujian.


Sebenarnya bagi Boo Young tidaklah apa jika Calvin gagal, karena dia tahu kalau soal yang di berikan untuk Calvin tidaklah mudah. Tapi bagi Calvin ujian itu sangat penting baginya, agar ia bisa menjadi asisten profesor Fisikawan dan juga bisa kuliah di universitas Korea.


Boo Young dan Avril hanya bisa menyemangati dan mendukung semua kegiatan yang ingin Calvin lakukan. Avril sebenarnya sangat bangga melihat anaknya yang Genius, tapi terkadang ia tidak tega melihat Calvin tidak ada waktu untuk bersenang-senang.


"Ya! bisakah kau duduk saja! melihat mu mondar mandir membuatku pusing!" Protes Avril.


"Entahlah, kenapa aku jadi tidak tenang begini." Kata Boo Young.


Kemudian Avril meraih tangan Boo Young dan menariknya untuk duduk di sampingnya. Lalu Avril menyandarkan kepalanya di bahunya dan melingkarkan tangannya di lengan Boo Young.


Boo Young yang mendapat perlakuan dari Avril pun menolehkan kepalanya dengan sedikit menunduk memandangi Avril. Lalu ia meraih dagu Avril dan mendongakkan wajah Avril ke atas dan merekapun saling berpandangan.


"Avril, kenapa kamu sangat menggemaskan!" Puji Boo Young tersenyum.


"Ya! jangan bertingkah seperti remaja. Kita sudah cukup tua untuk melakukan hal romantis di luar ruangan." Kata Avril memprotes.


Tak mendengarkan perkataan Avril, Boo Young pun malah memeluk Avril dengan erat dan mengecup kepala Avril berkali-kali tanpa memperdulikan orang yang sedang lewat di depan mereka.Avril merasa malu atas perlakuan Boo Young yang semakin meresahkan.


"Hentikan! aku malu orang-orang memperhatikan kita!" Protes Avril sambil menutup wajahnya.


"Apa yang membuatmu malu? kita suami istri, tak ada larangan bagi kita untuk melakukan hal ini." Kata Boo Young sambil mencoba melepaskan tangan Avril yang menutupi wajahnya sendiri.


Ketika mereka berdua sedang sibuk berargumen, tanpa mereka sadari Calvin sudah berdiri di depan pintu sambil menonton kedua orang tuanya. Calvin hanya menggelengkan kepalanya melihat orang tuanya bertingkah seperti anak kecil.


Tetapi Calvin merasa senang melihat kedua orang tuanya tampak akur dan saling menyayangi. Sekitar lima menit Calvin berdiri di sana dan menonton orang tuanya yang saling bercanda, akhirnya Avril pun menyadari keberadaan Calvin.


"Calvin! kamu sudah selesai? sejak kapan kamu berdiri di sana?" Tanya Avril dan menghampiri Calvin.


"Dari lima menit yang lalu." Jawab Calvin.


Boo Young pun langsung memeluk Calvin dan menggendongnya. Mereka bertiga duduk di kursi menunggu ada pemberitahuan dari pihak kampus. Sambil menunggu, mereka saling bercerita dan bercanda dengan bahagia.


Ketika mereka sedang tertawa-tawa kecil, tiba-tiba seorang profesor datang menemui mereka dan memberitahu kalau Calvin mulai bulan depan bisa mulai kuliah di universitas Korea. Calvin yang mendengar pemberitahuan itu pun langsung turun dari pangkuan sang papa dan meluk Avril.


"Calvin sangat berbeda dengan anak-anak Genius lainya. Dia memiliki kemauan tinggi, sehingga membuat apa yang ia inginkan mudah di gapai." Puji sang Profesor.


"Nanti pihak kampus akan mengirim formulir pendaftaran melalui email yang Anda cantumkan." Imbuh sang profesor.


Tak henti-hentinya Boo Young dan Avril berterima kasih kepada sang profesor atas keberhasilan Calvin. Avril dengan bangga mencium kening Calvin berkali-kali. Sedangkan Boo Young sudah tidak bisa berkata apa-apa melihat anak kesayangannya tumbuh menjadi anak yang spesial.


"Papa, antar Calvin ke rumah Nenek. Aku mau menginap di sana selama satu Minggu, karena selama 1 Minggu Calvin libur dan Calvin mau merencanakan keberhasilan Calvin dengan Nenek-kakek." Kata Calvin ceria.


"Iya, tapi kita harus pulang dulu ke rumah. Sekarang Calvin ingin makan apa?" Tanya Boo Young.


Seperti biasanya, Calvin selalu minta makan pizza setelah selesai ujian. Dan Boo Young yang ingin selalu membahagiakan Calvin selalu menuruti kemauan sang buah hati.


Dan mereka pun berjalan menuju ke parkiran mobil. Calvin menolak sang papa untuk menggendongnya, karena dia merasa sudah tumbuh menjadi dewasa. Mereka bertiga tampak bahagia saling bergandeng tangan.


Avril menoleh ke arah Boo Young yang sedang menyetir. Dan Boo Young hanya tersenyum genit menggoda sang istri dan menjawab pertanyaan dari Calvin.


"Secepatnya sayang, Mama akan beri kamu adik." Jawab Boo Young tersenyum.


"Calvin ingin adik perempuan!" Sahut Calvin dengan antusias.


Akhirnya mereka pun sampai di restoran pizza langganannya. Sangking seringnya mereka makan di sana, para karyawan pun sudah mengenali mereka dengan baik. Bahkan mereka mendapat pelayanan yang super baik dari para karyawan.


"Calvin, selamat datang." Sapa salah satu karyawan.


"Annyeong...." Sapa balik Calvin.


Kemudian mereka duduk dan mulai memesan makanan yang mereka inginkan. Avril memandangi Boo Young yang sedang membantu Calvin untuk mengambil makanan. Dia merasakan kalau Boo Young adalah papa yang baik.


Setelah melalui proses yang panjang dan penuh rintangan akhirnya Avril bisa benar-benar merasakan kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Boo Young yang ia anggap sebagai laki-laki yang tak bertanggung jawab, kini malah menjadi pria yang ia cintai.


Setelah mereka selesai makan, mereka pulang ke apartemen untuk menyiapkan barang-barang yang harus Calvin bawa ke rumah Nenek-kakek. Avril memasukkan barang-barang Calvin termasuk buku ke dalam koper kecil.


"Sayang, kayaknya aku tidak ikut ke rumah Mama. Perut ku tidak merasa enak." Kata Avril sambil mengelus perutnya.


"Pasti karena kamu minum bersoda. Ya sudah tidak apa-apa, kamu istirahat saja!" Suruh Boo Young sambil memegang perut Avril.


Calvin kemudian berpamitan kepada Avril dan memeluk erat tubuhnya. Padahal mereka hanya akan berpisah selama satu Minggu, tetapi seperti akan pisah bertahun-tahun.


Tanpa Avril sadari air matanya menetes di pipinya. Biar bagaimanapun ini kali pertama mereka akan berjauhan selama satu Minggu, jadi Avril terbawa perasaan.


"Kamu terlalu banyak menonton Drama! apa-apa kebawa perasaan." Kata Boo Young sambil memeluk Avril.


"Calvin beri kalian kesempatan untuk berduaan, jadi gunakan waktu sebaik-baiknya." Kata Calvin sambil menarik kopernya.


"Papa yang akan mengantar mu Calvin!" Kata Boo Young.


Tetapi Calvin menolak untuk di antar sang papa, Dia sudah menelpon asisten Joon untuk menjemputnya. Tak lama kemudian asisten Joon pun datang dan membantu Calvin untuk membawakan koper.


Setelah Calvin pergi, Avril kemudian masuk ke kamarnya di ikuti oleh Boo Young karena merasakan perutnya tidak enak. Avril merebahkan tubuhnya di ranjang, lalu Boo Young membantu Avril memijit perutnya dengan pelan.


Merasa nyaman perutnya di pijit oleh Boo Young, tak terasa Avril dengan tidak sengaja buang angin yang cukup keras. Dan mereka berdua tertawa bersamaan menertawakan bunyi kentut Avril.


"Anginnya sudah keluar! kini saatnya melakukan tugas kita memberi adik untuk Calvin." Kata Boo Young yang saat ini sudah menindih tubuh Avril.


"Perut ku masih ada anginnya!" Teriak Avril karena Boo Young mulai memainkan tangannya.


Tanpa memperdulikan perkataan Avril, Boo Young mulai melakukan aktivitasnya untuk membuat adiknya Calvin. Dengan lembut Boo Young memanjakan Avril dengan permainan tangan dan bibirnya. Mereka berdua jatuh dalam kenikmatan hingga sore menjelang.


Bersambung.....


Like Like Like......