
Setelah mengantar Calvin ke sekolah, Avril dan Boo Young segera pergi ke kantor. Sebelum mereka sampai di kantor, Avril meminta Boo Young untuk menurunkannya, agar tidak terlihat oleh karyawan lain.
Karena waktu itu jam kerja sudah di mulai, bisa di bilang Avril telat. Dia berlarian masuk ke dalam perusahaan. Sang resepsionis yang melihatnya pun tertawa sambil menutup mulutnya, karena Avril terlihat berantakan.
Setelah melihat Avril masuk dalam lift, Boo Young pun berjalan masuk dengan langkah santai. Kemudian dia memencet tombol dan masuk ke dalam lift.
"Avril, seharusnya kamu menyiapkan berkas-berkas untuk kontrak dengan model kita. Kenapa kamu malah telat?" tegur ketua team.
"maaf Miss, tidak akan aku ulangi lagi." sahut Avril sambil menundukkan kepalanya.
Ketika Avril baru saja duduk di kursi kerjanya, Boo Young datang dan berjalan keluar dari lift dengan memakai kaca warna hitam. Para karyawan pun menatapnya dengan pandangan meleleh atas kegantengan sang CEO.
Boo Young tanpa membalas sapaan dari karyawannya pun langsung masuk ke dalam ruangannya. Memang Boo Young terkenal dingin, tetapi sebenarnya dia cukup baik dan perduli kepada karyawannya.
Jika peluncuran produk baru berhasil dalam pemasaran, Boo Young tak tanggung-tanggung memberi karyawannya hadiah berupa liburan seminggu penuh, bagi karyawan yang berprestasi.
Setelah Avril selesai menyiapkan berkas-berkas untuk meeting, kemudian Boo Young dan ketua team pergi untuk menemui Seung Chul di lantai dasar untuk meeting.
"Mr. Boo Young, anda ikut?" tanya ketua team, karena sebelumnya sang CEO sudah berpesan untuk tidak mengikuti meeting.
"karena aku tidak banyak pekerjaan, jadi aku memutuskan untuk menghadiri meeting." jawab Boo Young berbohong.
Mereka pun memasuki ruang meeting dan di sana sudah ada Seung Chul dan beberapa orang bawahan Boo Young.
Benar saja apa yang di khawatirkan Boo Young terjadi, bahwa keponakannya saat ini sedang memandangi Avril dengan tatapan nakal. Avril yang sedang serius menjelaskan, Seung Chul pun semakin serius memandangi Avril lebih lekat lagi.
"dasar laki-laki mesum!" batin Boo Young.
Mata Boo Young pun tak berhenti menatap Seung Chul dengan tatapan tajam ingin memukul wajah tampan sang keponakan.
"kenapa aku jadi emosi begini melihat Avril di pandangi oleh laki-laki. ah... mungkin karena aku tak rela melihat mama dari anakku di permainkan sama buaya macam Seung Chul." batinnya lagi.
Hingga akhirnya Avril selesai memberikan presentasi, ketika Avril meminta pendapat kepada sang CEO, Boo Young masih dalam lamunannya sambil menatap tajam ke arah Seung Chul.
"maaf, bagaimana pendapat Mr. Boo Young?" tanya Avril sampai di ulangnya tiga kali.
Akhirnya ketiga kalinya Avril bertanya, Boo Young baru tersadar dari lamunannya. Hal itu membuat karyawannya yang ikut meeting merasa aneh, karena biasanya Boo Young sangat serius ketika meeting berlangsung.
"ok! aku setuju." jawab Boo Young tanpa melihat kembali proposal yang di sodorkan Avril.
Meeting pun selesai dan Seung Chul menghampiri Avril untuk meminta nomer pribadi Avril dengan alasan untuk keperluan pekerjaan.
Di ruang meeting itu tinggal Boo Young, Sheung Chul dan Avril, ketika Boo Young melihat Avril memberikan nomernya, Boo Young dengan segera berdiri dari duduknya dan menyambar tangan Avril untuk keluar dari ruang meeting.
Beruntungnya Sheung Chul yang lebih cepat menyimpan nomer Avril. Dengan senyum sinis, Seung Chul melirik ke arah Boo Young.
Seperti yang kita ketahui, mereka ada dendam yang belum terselesaikan. Yang membuat mereka saling dendam adalah Boo Rua, yang dengan pintarnya mempermainkan hati mereka berdua yang akhirnya Boo Rua memilih Boo Young karena uangnya lebih banyak di banding Seung Chul.
Beberapa kali perusahaan Boo Young menghubungi Sheung Chul untuk menjadi ambasador brand milik perusahaan Boo Young, tetapi selalu ia tolak. Dan baru kali ini dia menerima tawaran dari perusahaan Boo Young, karena ada Avril.
"sampai ketemu dua hari lagi, akan ku hubungi kamu nanti. bye...." pamit Seung Chul kepada Avril dengan senyuman menggoda.
Boo Young yang melihat itu serasa ingin muntah den menyesal telah menggunakan model seperti Sheung Chul.
"bagaimana tidak senang, di godain pria seganteng dia. Semua wanita juga bakal seneng, jika di godain Sheung Chul. Beda, kalau yang godain kamu." ledek Avril sambil berjalan meninggalkan Boo Young sendirian
Dengan perasaan yang teramat kesal, Boo Young pun mengikuti langkah Avril dari belakang. Tak sengaja, tingkah mereka berdua di pergoki oleh seorang cleaning servis.
Sang Cleaning servis pun menggelengkan kepalanya yang melihat kelakuan Avril yang tidak bersikap sopan terhadap sang CEO.
...****************...
Sedari tadi Boo Young menunggu Avril di parkiran, berkali-kali dia menelpon Avril dan mengiriminya pesan singkat, tetapi Avril tidak meresponnya.
Sejam penuh Boo Young masih menunggu, hingga suara handphone nya berdering. Pertanda ada pesan masuk.
"aku menyetel handphoneku dengan mode silent, jadi aku tidak mendengar kalau ada telpon dari mu. Tapi saat ini aku sudah di rumah, sorry." isi pesan Avril.
Avril sendiri sengaja mengabaikan panggilan dari Boo Young, karena saat ini dia tidak mau terjebak oleh permainan Boo Young. Dia mencurigai, jika di balik kebaikan Boo Young ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
Sontak saja Boo Young naik pitam, sudah menunggu selama satu jam dan ternyata Avril sudah di apartemennya. Untung saja jarak dari kantor ke apartemennya cukup dekat.
Boo Young pun segera menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Tak lama kemudian pun, Boo Young sampai di apartemennya.
Tok..Tok..Tok...
Di ketuk kamar Avril, karena ketika ia mau membuka pintu kamar Avril pintunya terkunci. Avril yang tahu kalau Boo Young sedang marah, ia pun tak membukakan pintu kamarnya.
"buka pintunya!" teriak Boo Young dari luar.
"aku capek, mau tidur!" balas Avril dengan teriakan juga.
Boo Young pun tak kehilangan akal, ia pun mengancam Avril jika akan memberi tahu ke semua karyawan kalau mereka sudah menikah.
Seketika Avril beranjak dari ranjangnya dan membukakan pintu untuk Boo Young.
Baru saja Avril membukakan pintu, Boo Young dengan cepatnya mendorong tubuh Avril hingga membuat Avril jatuh telentang di atas ranjang.
Saat ini posisi Boo Young sudah menindih tubuh Avril dan Avril pun merasa gugup setengah mati, karena bibir Boo Young bergerak semakin dekat ke arah bibirnya.
Avril pun memejamkan matanya dan bersiap untuk di cium oleh Boo Young. Cukup lama Avril memejamkan matanya, tetapi bibir Boo Young tak kunjung menyentuh bibirnya.
Ketika Avril mencoba membuka matanya, tiba-tiba Boo Young meluncurkan bibirnya ke leher Avril hingga meninggalkan bekas merah di leher Avril.
Karena mendapat serangan dari Boo Young, hal itu membuat Avril merasa geli dan mulutnya pun terbuka menganga.
"tidak hanya kamu yang bisa bermain-main, tetapi aku lebih pandai dari mu." bisik Boo Young tepat di telinga Avril.
Bisikan itu membuat Avril merasa geli dan merasakan sensasi berat yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Boo Young berdiri melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar, sedangkan Avril masih dengan posisi yang sama dan masih tidak percaya apa yang di lakukan Boo Young terhadapnya.
Senyum tipis di bibir Boo Young menandakan kepuasannya atas mempermainkan Avril.
Bersambung...