
Terlalu kaget bagi Avril karena tiba-tiba baju yang ia kenakan di lepas paksa oleh Boo Young. Matanya memandangi Boo Young yang sudah di kuasai oleh keinginan untuk melahap gundukan kembar miliknya.
Rasa ingin teriak tapi suaranya terasa berat, biarpun teriak juga tak ada gunanya. Tanpa ia sadari kepala Boo Young sudah terbenam di selah-selah gundukan kembar miliknya. Kedua tangannya di kunci oleh Boo Young, sehingga Avril tidak bisa memberontak lagi.
Bibir Boo Young sudah berkeliaran menyusuri gundukan kembar nan kenyal itu, puas dengan gunung kembar, kini bibir itu naik ke atas hingga berhenti di telinga Avril yang meninggalkan beberapa tanda merah di sana.
Di rasa Avril sudah menikmati atas perlakuannya, kini Boo Young melepas cengkraman tangannya dari tangan Avril. Bibirnya mulai menjelajahi setiap jengkal kulit milik Avril, hingga berhenti di bibir ranum yang sangat menggoda.
Kali ini Avril tak lagi menolak, tetapi ia membalas setiap permainan yang di lakukan oleh Boo Young. Ketika Boo Young menurunkan kembali bibirnya ke daerah gunung kembar itu, tangan Avril mulai meremas rambut Boo Young dengan kasar.
Saat ini mereka sudah tidak mengenakan selembar pakaian apapun di tubuh, entah sejak kapan Boo Young melepas semuanya, Avril tidak menyadari itu karena dia sangat menikmati perlakuan Boo Young.
Setelah Boo Young puas memberi tanda merah di tubuh Avril, kini saatnya Boo Young menanamkan batang pohonnya di ladang milik Avril. Karena 7 tahun lamanya ladang itu tak di tanami apa-apa, Boo Young merasa kesulitan dalam bercocok tanam. Begitupun dengan Avril yang merasa kesakitan karena Boo Young terlalu kasar menancapkan batang pohonnya di ladangnya.
Ada perasaan aneh di dalam hati Boo Young, hatinya bertanya-tanya "Kenapa ladang Avril terasa gersang, bukankah banyak orang yang sudah bercocok tanam di ladang Avril?" tapi cepat-cepat Boo Young menyingkirkan pikiran itu.
Karena dia ingin segera menancapkan batang pohonnya ke ladang Avril sebanyak dan secepat mungkin sebisanya. Avril pun membantu Boo Young agar lebih mudah dalam bercocok tanam.
Berbagai gaya dan cara mereka terapkan, hal itu memudahkan mereka untuk mencapai sebuah hasil yang baik. Karena sedikit capek, mungkin sekitar 30 menit mereka saling membantu, nafas mereka saling terdengar satu sama lain. Perasaan Avril senang, sedih dan marah jadi satu.
Senang karena bisa merasakan kembali ladangnya di tanami oleh Boo Young, sedih karena Boo Young tidak perduli tanaman yang ia tanam tumbuh atau tidak dan marah karena Boo Young terlalu keras menancapkan batang pohonnya.
Akhirnya acara bercocok tanam pun selesai, Boo Young pun menyirami tanamannya dengan air terbaik miliknya agar apa yang ia tanam di ladang Avril tumbuh dengan subur.
Boo Young pun terkulai lemas di samping Avril, begitupun Avril yang masih tanpa busana meringkuk membelakangi Boo Young. Kemudian Boo Young meraih tubuh mungil Avril dan di peluknya dari belakang.
Entah beberapa kali mereka melakukan bercocok tanam di malam itu, ladang Avril membuat Boo Young kecanduan untuk menancapkan batang pohonnya di sana lagi dan lagi.
Tidur, bangun dan bercocok tanam. Mereka mengulangi hal itu sampai tiga kali dan mereka seperti tak ada tenaga lagi. Akhirnya mereka tertidur pulas dengan posisi Boo Young memeluk tubuh Avril dari belakang.
...****************...
Avril yang masih belum mengenakan pakaiannya, ia beranjak dari ranjang dan memakai pakaiannya yang berserakan di lantai. Pagi itu, dia bangun kesiangan. Dia segera keluar dari kamar setelah memakai bajunya.
Avril membangunkan Calvin dan menyuruhnya untuk membersihkan dirinya sendiri, sementara Avril membuat sarapan dan bekal untuk Calvin.
Tak lama kemudian asisten Joon datang untuk mengantar Calvin ke sekolah, karena Calvin belum sempat sarapan, Avril pun menyuruh asisten Joon untuk menunggu Calvin.
Sambil menunggu, Avril membuatkan secangkir kopi hitam yang ia bawa dari Indonesia untuk asisten Joon. Sang asisten pun memuji rasa nikmat kopi itu.
"Terima Kasih atas kopinya Non, kopi Indonesia mang tiada duanya." puji sang Asisten.
Kemudian Avril menyuruh Calvin untuk segera keluar dari kamarnya dan menyantap sarapannya.
"Calvin, ayo cepetan! Sudah di tungguin Mr. Joon." kata Avril menyuruh Calvin.
Setelah selesai sarapan, Calvin dan asisten Joon segera pergi meninggalkan apartemen.
"Kamu mau berangkat kerja tidak, ini sudah jam delapan." kata Avril membangunkan Boo Young.
Tetapi Boo Young hanya mendengus dan tidak segera bangun. Ketika ia melihat kalau Avril akan masuk ke dalam kamar mandi, Boo Young pun dengan segera beranjak dari ranjangnya dan berlari menghampiri Avril.
Karena kedatangan Boo Young yang tiba-tiba, Avril pun terkejut. Boo Young yang melihat ekspresi Avril yang sedang terkejut, membuat bibirnya segera melahap bibir Avril dengan rakus
Sambil membuka baju Avril, Boo Young menggiringnya sampai di bawah shower dan Boo Young mengguyur badan mereka dengan air yang jatuh dari shower.
Dengan rakusnya Boo Young menelusuri setiap jengkal tubuh Avril dengan bibirnya dan tak tertinggal ladang milik Avril yang terlihat basah karena guyuran air shower.
Avril pun menikmati setiap aktivitas yang di berikan oleh Boo Young. Setelah puas bermain-main dengan tubuh Avril, kini saatnya Boo Young mulai menanamkan batang pohonnya di ladang milik Avril.
Agar mudah Boo Young menancapkan batang pohonnya, ia pun memutar tubuh Avril agar ladangnya terlihat sempurna. Dari arah belakang Boo Young kembali menancapkan batang pohonnya dengan secepat mungkin, hingga air untuk menyirami ladang milik Avril tertumpah-tumpah.
Setelah mereka selesai bercocok tanam pagi itu, mereka berdua mandi bersama. Setelah mandi, Boo Young pergi ke kantor meninggalkan Avril sendirian di apartemen.
Tetapi sebelum Boo Young meninggalkan apartemen, dia pun membisikan kata-kata yang membuat Avril sakit hati.
"Murahan sekali kamu, dengan gampangnya kamu memuaskan pria." bisikan dari Boo Young.
Bisikan itu langsung tembus ke relung hatinya, Avril menangis sejadi-jadinya setelah kepergian Boo Young. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang dengan mudahnya melayani keinginan Boo Young.
Apalagi setiap aktivitas yang di berikan oleh Boo Young, dia sangat menikmatinya dan ingin merasakan lagi dan lagi.
Sementara Boo Young yang sedang menyetir, memikirkan apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Avril.
"Kenapa kamu tega tidur dengan pria itu Avril, apakah kau tidak tahu bahwa aku sudah mulai mencintaimu." batin Boo Young yang ingin menangis.
Setelah sampai di lobby perusahaan, Boo Young pun di hadang oleh Eun Soo. Dia menanyakan keadaan Avril dan Calvin, karena dari semalam Avril tidak bisa di hubungi.
"Kemana Avril, kenapa dari semalam dia tidak bisa di hubungi? dan kenapa hari ini dia juga tidak berangkat kerja?" tanya Eun Soo bertubi-tubi.
Mendengar pertanyaan dari Eun Soo yang tidak penting itu, Boo Young pun tidak merespon dan ia langsung masuk ke dalam lift. Eun Soo pun dengan sedikit berlari mengikuti Boo Young masuk ke dalam lift.
"Jangan mengganggu ku!" bentak Boo Young.
"Jawab pertanyaan ku dan aku akan pergi!" tekan Eun Soo.
Boo Young pun mendekat ke arah Eun Soo dan berbisik di telinganya.
"Avril kecapekan karena semalaman sedang membuat adiknya Calvin dengan ku." bisik Boo Young.
Sontak saja Eun Soo kaget dan ia segera pergi meninggalkan Boo Young dan Boo Young pun tersenyum puas yang melihat Eun Soo malu.
Bersambung...