My Korean Husband

My Korean Husband
Tidak Akan Memaafkan Mu



Karena merasa penasaran, kenapa penjaga hotel seperti mengenali Avril. Boo Young pun berencana untuk keluar menemui penjaga hotel.


“Kamu tunggu di sini, aku keluar sebentar!” Kata Boo Young dengan nada menekan.


“Bunuh saja aku! Agar kamu bisa mendapatkan hak asuh Calvin. Jangan harap aku akan menandatangani surat itu, kalau aku masih bernafas!” Kata Avril sambil menangis.


Plak......


Tangan Boo Young pun mendarat di pipi Avril untuk kesekian kali, karena Avril tidak berhenti bicara. Rambut panjangnya pun tak ketinggalan jadi mangsanya.


“Bisakah kamu diam saja! Semakin kamu banyak bicara, aku akan semakin melukai mu!” Bentak Boo Young sambil menahan emosinya.


Boo Young pun akhirnya keluar dari kamar, setelah Avril benar-benar berhenti bicara. Dan Boo Young mengunci Avril dari luar. Dia mencoba menemui perempuan paruh baya itu, yang membuatnya curiga. Curiga, apakah Avril sering ke hotel dengan pria lain?


Tetapi ketika Boo Young sudah sampai di tempat resepsionis, penjaga hotelnya sudah berganti dengan orang lain.


“Maaf, ibu-ibu yang tadi di sini kemana ya?” tanya Boo Young kepada penjaga hotel.


“Maaf Tuan, Dia sudah pulang dan saya penggantinya. Besok pagi dia baru datang kesini.” Jawab seorang penjaga hotel tersebut.


Setelah itu Boo Young kembali masuk kamar dan mendapati Avril yang sudah tertidur lelap dengan posisi meringkuk. Air mata Boo Young pun memenuhi matanya, dia berjalan menghampiri Avril dan duduk di bibir ranjang.


Air matanya sudah tidak bisa ia bendung, tangannya menyibakkan rambut Avril yang menutupi sebagian wajahnya. Tangannya mulai mengusap halus pipi Avril yang tadi ia tampar.


“Avril, kenapa kamu tega berbuat ini kepadaku? Apa kamu tidak merasakan kalau aku mulai mencintaimu? Aku memang tidak bisa mengekspresikan dan menunjukan bahwa aku mencintaimu. Tapi cintaku kau balas dengan rasa sakit hati.” Batin Boo Young menangis.


Saat ini Boo Young benar-benar merasa bingung dengan apa yang akan ia lakukan. Dia ingin menyiksa Avril, tetapi hatinya tak tega. Jika mengingat Avril tidur dengan laki-laki lain, amarah Boo Young pun kembali menguasainya.


Kini Boo Young duduk di lantai, menangis dalam diam. Ketika Avril bergerak, tak sengaja tangannya menyentuh kepala Boo Young. Dan ia pun terbangun dengan memposisikan dirinya untuk duduk.


“Apakah kamu sering kesini, hingga penjaga hotel mengenal mu?” tanya Boo Young dengan pelan.


“Iya! Aku selalu membawa laki-laki ku kesini, puas!” Sahut Avril berbohong, karena ia sudah capek atas tuduhan Boo Young yang tak pernah ia lakukan.


Boo Young kemudian berdiri untuk mengambil bolpoin dan berkas cerai, lalu ia sodorkan di hadapan Avril untuk ia tanda tangani.


Avril memalingkan wajahnya, pertanda bahwa ia tak mau menandatangani surat tersebut.


“Tanda tangani surat ini, maka aku tidak akan menyakiti mu Avril!” Teriak Boo Young yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Tangan Avril segera menepis berkas perceraian itu hingga jatuh di lantai. Avril kemudian berdiri dan berusaha untuk membuka pintu, tetapi Boo Young sudah terlebih dahulu menangkapnya.


Boo Young pun menarik Avril dengan kasar dan melemparnya ke lantai. Kemudian Boo Young mendongakkan kepala Avril dengan kasar. Melihat wajah Avril, Boo Young pun merasa tak tega jika harus berbuat kasar.


“Aaaargh......”


Teriakan Boo Young pun keluar sambil meremas rambutnya sebagai protes kepada dirinya sendiri yang tak mampu menyakiti wanita yang sudah membuatnya sakit hati.


“Avril, jangan buat aku menjadi devil!” Kata Boo Young sambil menatap wajah Avril.


“Aku tidak pernah membuat mu menjadi devil, tapi kamu sendiri yang membuat dirimu seperti orang bodoh!” Avril teriak ke arah Boo Young.


Plak...


Lagi-lagi tangan Boo Young melayang ke wajah Avril, kali ini ia dia memukul sangat keras hingga darah terlihat di ujung bibir Avril.


Tangannya meraih rambut Avril dan menariknya hingga Avril menjerit kesakitan. Kemudian Boo Young menariknya ke dalam kamar mandi dan hendak mengguyurkan air dingin di tubuh Avril.


“Boo Young, jika kamu benar-benar mencintai ku, kamu tidak akan melakukan hal ini kepada ku!” Kata Avril lirih.


Tetapi Boo Young tak mendengar perkataan Avril dan dia tetap mengguyurkan air dingin ke tubuh Avril. Dingin yang teramat pun di rasakan Avril hingga menusuk sampai di tulang sum-sum.


Avril memberontak, memohon agar Boo Young melepaskannya. Bukannya berhenti mengguyur, tetapi Boo Young malah menjambak rambut Avril dengan kasar.


“Boo Young! Aku tidak akan pernah memaafkan mu!” Teriak Avril di sela-sela guyuran air dingin.


Puas menyiksa Avril, Boo Young pun langsung pergi meninggalkan Avril sendirian di kamar hotel.


Avril mencoba bangkit dari rasa dinginnya, ia berusaha berjalan dengan kakinya yang tidak bisa ia tegakkan dengan sempurna karena rasa dingin yang teramat dingin.


Dia keluar dari kamar mandi dan tidak melihat keberadaan Boo Young. Avril yang tidak ingin mati sia-sia, ia pun membuka seluruh pakaiannya dan membungkus badannya dengan selimut.


Tangannya meraih hairdryer yang berada di meja dan ia segera mengeringkan rambutnya. Beruntung ada beberapa kopi instan dan teh celup yang di sediakan oleh pihak hotel. Walaupun tidak hotel berbintang, tetapi pihak hotel menyediakan kamar khusus yang fasilitasnya cukup lengkap.


Avril merebus air dengan rebusan air listrik, ia segera membuat teh panas untuk menghangatkan badanya. Kakinya terasa dingin seperti es, Avril pun menyalakan hairdryer dengan memaksimalkan suhu panasnya.


Sudah di rasa cukup hangat, Avril pun menyadari kalau di ruangan itu ada pemanas ruangan, mungkin bukan ke beruntungan Avril, karena pemanasan ruangannya tidak berfungsi dengan baik.


Ingin pergi ke resepsionis, tapi dia merasa malu karena Avril tak mengenakan baju sama sekali. Karena merasa kantuk, Avril langsung naik ke ranjang dan membungkus badannya dengan selimut tebal.


“Kamu benar-benar tega menyiksaku seperti ini Boo Young! Aku tidak akan memaafkan mu!” Gerutu Avril sambil menahan rasa dingin.


Keesokan harinya,


Seorang penjaga mengetuk pintu kamar Avril untuk mengantar sarapan, tetapi berkali-kali ia ketuk tetapi tidak ada yang merespon. Penjaga hotel pun meraih ganggang pintu dan ternyata tidak di kunci.


Sang penjaga hotel pun langsung masuk dan menemukan Avril yang sudah tidak sadarkan diri dan mengalami demam tinggi.


“Kemana suami mu cantik?” Kata penjaga hotel tersebut sambil mengecek suhu badan Avril.


Karena Avril tidak mengenakan baju, sang penjaga hotel pun pergi mengambil baju seragamnya dan di pakaikan ke Avril. Kemudian sang penjaga hotel menelpon ambulan untuk membawa Avril ke rumah sakit.


Sang penjaga Hotel pun merasa panik, karena Avril tidak membawa handphone, jadi dia tidak tahu siapa yang harus di hubungi. Dan tak lama kemudian ambulans pun datang dan Avril pun di bawa ke rumah sakit untuk di selamatkan.


“Padahal semalam dia datang dengan suaminya, tapi kenapa pagi-pagi dia hanya sendirian.” Penjaga hotel bermonolog.


Lalu penjaga hotel membersihkan kamar hotel dan mengambil pakaian Avril yang basah. Tanpa curiga, penjaga hotel pun mencuci baju Avril.


Bersambung.......