My Korean Husband

My Korean Husband
Avril Akan Melahirkan



Hari pertama Avril di terapi, ia merasa lebih rileks dan perutnya juga terasa lebih nyaman. Pagi itu ia di temani oleh sang suami, mereka keluar dari klinik dan langsung pulang ke apartemen. Handphone Boo Young tak henti-hentinya berdering, Avril sendiri tidak menanyai panggilan dari siapa. Dia menduga panggilan-panggilan itu dari kantor.


Entah siapa yang menelpon Boo Young, hingga dia tidak berani mengangkat panggilan itu di depan Avril. Boo Young pergi ke kamarnya untuk mengangkat panggilan itu. Hal itu membuat Avril sedikit curiga, karena biasanya Boo Young tak pernah menghindarinya untuk menerima panggilan telepon.


Tak lama kemudian Boo Young pun keluar dari kamar dan berpamitan kepada Avril untuk pergi ke kantor menemui rekan bisnisnya. Melihat sikap suami yang tak seperti biasanya, Avril pun hanya bisa mempercayai suaminya. Dia yakin kalau Boo Young tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitinya.


"Nyonya, apakah Anda ingin makan sesuatu?" Tanya Ahjumma yang melihat Avril sedang duduk di sofa.


"Tidak! terima kasih, kamu istirahat saja!" Sahut Avril yang mencoba menghilangkan pikiran buruknya.


Setelah capek menonton TV, Avril pun pergi ke kamarnya. Lalu ia mencoba untuk menelpon sang suami. Beberapa kali ia menelpon, tetapi tidak ada respon. Kemudian, ia menelpon Eun Soo untuk menanyainya tentang keberadaan sang suami.


Setelah mengetahui Boo Young tidak ada di kantor, Avril pun mulai gelisah. Avril teringat kalau Boo Young berpamitan untuk menemui kliennya. Sebisa mungkin Avril berfikiran positif, kalau suaminya sedang di luar kantor untuk menemui kliennya.


Avril merebahkan badannya di atas ranjang dengan posisi miring. Janin di dalam perutnya tak henti-hentinya bergerak, dia merasakan otot-otot rahimnya mengencang dan rasa sakit mulai datang. Dia mengira kalau rasa sakit itu hanya kontraksi palsu yang biasa ia rasakan.


Dengan menahan rasa sakit, Avril beranjak dari ranjangnya untuk pergi ke kamar mandi, karena dia merasakan ada cairan yang keluar dari alat kelaminnya. Karena cairan itu berwarna merah muda, ia pun khawatir dan segera mengenakan pembalut wanita. Ia keluar dari kamar mandi dan memanggil Ahjumma.


Karena Ahjumma sedang istirahat, ia pun tak mendengar panggilan dari Avril. Kemudian Avril keluar dari kamarnya dengan membawa handphonenya. Dia mencoba untuk menelpon suaminya, tetapi lagi-lagi tak ada respon. Rasa sakit kontraksi pun semakin sering ia rasakan. Akhirnya ia pun menelpon ambulan untuk pergi ke rumah sakit.


"Ahjumma!" Panggil Avril.


"Iya Nyonya." Jawab Ahjumma yang keluar dari ruangannya.


Ahjumma pun merasa khawatir, karena melihat Avril meringis kesakitan. Lalu Avril memberi tahu Ahjumma kalau dirinya sudah menelpon ambulan. Lalu Ahjumma dengan cekatan mengambil tas yang berisi perlengkapan bayi dan keperluan untuk melahirkan yang Avril persiapkan jauh-jauh hari.


Beruntung saat itu Calvin sudah pulang kuliah, jadi Avril tidak begitu khawatir jika ia pergi ke rumah sakit. Avril yakin saat itu pasti ia akan melahirkan, karena rasa sakitnya berbeda dari sebelumnya.


"Mama, apakah mama akan melahirkan?" Tanya Calvin yang melihat mamanya menahan rasa sakit.


"Sepertinya begitu!" Jawab Avril sambil menahan sakit.


Padahal saat itu belum waktunya Avril melahirkan dan juga baru sekali terapi, Avril pun semakin khawatir jika harus di operasi. Dia merasakan cairan mulai keluar lagi dan tak lama kemudian ambulan pun datang, para dokter dan perawat naik ke atas untuk menjemput Avril.


Dengan kursi roda, Avril di dorong salah satu perawat. Calvin dan Ahjumma pun ikut dalam mobil ambulan. Di keadaan seperti itu, seharusnya Boo Young ada di sampingnya, tetapi dia malah tidak bisa di hubungi. Sesampainya mereka di rumah sakit, Avril langsung di masukan ruang bersalin.


Dokter melakukan pengecekan terlebih dahulu dan juga melakukan USG untuk mengetahui letak posisi janin. Avril mulai tak tahan dengan rasa sakit kontraksi yang ia rasakan. Mulutnya mulai mengeluarkan suara-suara yang tidak bisa di pahami orang lain.


"Nyonya rileks, tarik nafas dalam-dalam dan buang berlahan." Kata seorang Dokter yang saat itu sedang melakukan USG.


*****


Boo Young baru saja selesai makan siang dengan Dinna dan papanya. Perasaannya pun mulai gelisah, lalu ia berpamitan untuk balik ke kantor, tetapi Dinna malah mengajaknya untuk berkeliling ke pusat perbelanjaan. Sialnya, saat itu handphonenya ketinggalan di kantor. Karena perasaannya sangat gelisah, ia pun tidak memperdulikan ajakan Dinna dan langsung meninggalkan mereka berdua.


Dengan buru-buru Boo Young pergi ke parkiran dan menyuruh asistennya untuk segera pergi ke kantor. Entah kenapa perasaanya sangat gelisah dan tidak tenang. Dan tak lama kemudian ia pun sampai di kantor dan langsung masuk ke ruangannya dengan buru-buru. Dan langsung mengambil handphonenya.


Ada sembilan panggilan yang tak terjawab dari Avril dan 3 panggilan tak terjawab dari Calvin. Tanpa menunggu lama, ia pun menelpon Avril. Tetapi saat itu handphone Avril sudah tidak aktif, lalu ia mencari nama Calvin dan menelponnya. Belum sempat menekan nama Calvin, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu ruangannya.


"Papa! mama, sekarang di rumah sakit!" Kata Calvin terengah-engah karena dia berlarian.


"Mama kenapa?" Tanya Boo Young khawatir.


"Sepertinya dia akan segera melahirkan. Karena perut Mama sakit." Jawab Calvin memberitahu.


Tanpa berkata-kata lagi, Boo Young segera menggandeng tangan Calvin untuk keluar dari ruangannya. Lalu dengan di antar asisten Joon, mereka pun pergi ke rumah sakit di mana Avril berada.


Di sepanjang perjalanan Boo Young hanya diam dan merasa bersalah karena tidak ada di samping Avril ketika keberadaannya sangat di butuhkan. Dia menyalahkan dirinya sendiri, yang sudah menerima ajakan Dinna untuk makan siang. Hal itu ia lakukan karena untuk menjaga hubungan baik antara dirinya dan papa Dinna. Mengingat mereka sedang menjalin kerja sama.


"Kenapa papa tidak mengangkat panggilanku?" Tanya Calvin yang membuka percakapan.


"Tadi papa sedang makan siang dengan klien dan handphone papa ketinggalan di kantor." Jawab Boo Young jujur.


Akhirnya, mereka pun sampai di rumah sakit. Dengan buru-buru Boo Young menggandeng tangan Calvin dan langsung menuju ke ruang bersalin. Di lihatnya Ahjumma duduk di kursi tunggu, lalu Boo Young memanggil seorang perawat dan menanyai keadaan sang istri.


"Suster, bagaimana keadaan istri saya? apakah saya boleh masuk untuk menemaninya?" Tanya Boo Young.


"Sebentar, saya tanyakan Dokter terlebih dahulu." Jawab perawat.


Boo Young kemudian berjalan mendekati Calvin.


"Sayang, apakah kamu sudah makan siang?" Tanya Boo Young khawatir jika Calvin belum makan.


"Belum Pa! tapi aku tidak lapar." Jawab Calvin menggelengkan kepalanya.


Karena Calvin belum makan siang Boo Young kemudian menelpon orang tuanya dan menyuruh mereka untuk datang ke rumah sakit. Karena Calvin juga ingin menemani sang mama di rumah sakit. Tak lama kemudian sang perawat pun memanggil namanya untuk masuk ke ruang pasien.


Bersambung....