
Setelah menerima panggilan itu, kemudian ia berdiri dari duduknya dan pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya sang sembab karena menangis. Setelah selesai membasuh wajahnya, ia pun kembali lagi ke tempat menunggu depan ruang bersalin.
Dan tak lama kemudian sang dokter keluar dari ruangan itu dan memberi tahu kepada Boo Young jika pendarahan Avril tak kunjung berhenti. Dan dokter memberitahu jika Avril harus segera di operasi. Mendengar perkataan dokter, detak jantung Boo Young berdegup kencang. Ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan Avril.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok!" Kata Boo Young dengan lemas.
Suami mana yang tak lemas yang mendengar istrinya tak berdaya pasca melahirkan. Setelah ia melihat perjuangan istri ketika melahirkan, hal itu membuat Boo Young merasakan betapa menyakitkan ketika melahirkan. Ia kemudian menandatangani persetujuan untuk operasi.
Avril pun di pindahkan di ruang operasi, berharap pendarahannya segera berhenti. Ketika Avril di pindahkan ruangan, Boo Young pun melihat wajah Avril yang pucat tak bertenaga. Melihat itu, membuat air matanya jatuh tak tertahankan. Ia berdiri mematung, pikirannya mulai melayang memikirkan Avril jika terjadi sesuatu kepadanya.
Agar pikirannya tak memikirkan hal negatif, ia pun pergi untuk melihat anaknya yang berada di dalam ruangan khusus bayi. Dua bayi kembar itu tertidur pulas di kotak inkubator. Walaupun ukuran mereka lebih kecil dari bayi normalnya, tetapi Boo Young yakin jika anaknya akan tumbuh menjadi anak yang sehat.
Dengan melihat bayi kembarnya, membuatnya memiliki harapan dan keyakinan kalau Avril juga akan baik-baik saja. Tak pernah ada di benaknya jika Avril akan mengalami pendarahan, sebelumya mereka rutin pergi ke klinik untuk memeriksakan kehamilannya. Tidak ada masalah serius dan tidak ada riwayat Avril mengalami pendarahan saat melahirkan.
Tiba-tiba handphonenya berdering, ia pun mengangkat panggilan itu dan tak lama kemudian Eun Soo dan Seung Chul datang menemuinya.
"Bagaimana keadaan Avril?" Tanya Eun Soo cemas.
"Sekarang ia sedang di ruang operasi untuk menghentikan pendarahannya." Jawab Boo Young sambil memandangi bayi kembarnya.
Eun Soo yang mendengar Avril akan di operasi pun merasa kasihan. Dia tahu bahaya, jika mengalami pendarahan pasca melahirkan. Apalagi pendarahannya di karena Retensio plasenta, hal itu membuat Eun Soo semakin khawatir.
Retensio plasenta adalah kondisi di mana tertahannya jaringan plasenta atau janin (retensio plasenta) di dalam rahim. Kondisi yang juga disebut retensio plasenta ini bisa membuat pembuluh darah di rahim belum tertutup dengan benar, sehingga menyebabkan perdarahan berat pada ibu setelah melahirkan.
Mereka pun hanya memandangi bayi kembar dari balik kaca, karena belum boleh di jenguk. Setelah satu jam mereka melihat bayi kembar sambil mengobrol, tiba-tiba seorang perawat memanggil Boo Young untuk menandatangani surat persetujuan untuk menambah darah pada pasien. Avril terlalu banyak mengeluarkan darah, jadi dia butuh donor darah.
"Aku tahu, team medis pasti melakukan hal yang terbaik buat istri ku." Kata Boo Young sambil menanda tangani kertas itu.
"Kami akan melakukan yang terbaik, sesuai kemampuan kita." Sahut seorang perawat.
Boo Young sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Dalam hatinya ia tak henti-hentinya berdoa, agar Tuhan memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi suami dan ayah terbaik untuk Avril dan anak-anaknya. Dia menyadari, bahwa dia belum bisa menjadi suami yang baik untuk Avril.
Malam itu Eun Soo dan Seung Chul berencana untuk menemani Boo Young, tapi Boo Young menyuruh mereka untuk pulang. Karena ia perlu waktu untuk menenangkan diri. Akhirnya, Eun Soo pun mengajak Seung Chul untuk pulang.
Saat itu sang perawat keluar dari ruang operasi dan memberi tahu ke Boo Young kalau keadaan Avril kritis setelah operasi. Jadi Avril di tempatkan di ruang ICU dan dia belum di perbolehkan dokter untuk melihat sang istri.
Getaran handphone yang berada di sakunya, membuat ia berdiri. Di lihatnya nama Calvin di layar handphonenya. Dia tahu kalau Calvin akan bertanya tentang keadaan sang mama.
"Papa, bagaimana keadaan mama?" Tanya Calvin khawatir.
Tentu saja Boo Young tidak akan menjawab jujur tentang keadaan Avril yang sedang kritis. Dia tak ingin sang anak khawatir, ia hanya meminta Calvin untuk mendoakan sang mama agar cepat pulih.
"Mama baik-baik saja! Calvin jangan lupa berdoa untuk Mama dan katakan juga kepada kakek nenek." Jawab Boo Young.
Sampai saat ini, Boo Young juga belum memberitahu keluarga Avril yang di Indonesia, jika Avril sudah melahirkan. Dia juga tidak ingin mertuanya khawatir, jika mengetahui keadaan Avril yang sedang kritis. Boo Young berencana memberitahu mertuanya, ketika Avril sudah keluar dari ruang ICU. Calvin pun di larang untuk tidak memberi tahu kepada kakek neneknya yang di Indonesia.
Kemudian Boo Young pergi menemui dokter yang menangani Avril. Di dalam ruangan, dokter memberitahu secara detail apa yang di alami Avril. Dokter meminta Boo Young agar tidak terlalu khawatir dan menjaga kondisi kesehatannya. Karena pada waktu itu, dokter melihat Boo Young yang terlihat frustasi.
"Sebaiknya Anda menjaga kondisi kesehatan, karena jika Anda sakit, lalu siapa yang menyemangati pasien? Karena Anda adalah suaminya, orang yang sangat dekat dengannya, jadi sangat berpengaruh atas kesembuhannya." Kata dokter menasehati.
Boo Young pun mengangguk dan menyadari dirinya yang berpenampilan seperti orang yang baru saja di pecat dari kantornya. Setelah dokter selesai menjelaskan tentang keadaan Avril, Boo Young pun keluar dari ruangan dokter dan menelpon asistennya.
Ia menyewa hotel di dekat rumah sakit dan menyuruh asistennya untuk membawakan baju ganti untuknya. Dan tak lupa, sang asisten membawakan makan malam untuknya. Setelah selesai ganti baju, ia pun berjalan menuju ruang tamu hotel tersebut.
Dilihatnya Gimbap makanan kesukaan Avril di atas meja. Sejenak pandangannya tanpa ekspresi, memori di dalam otaknya mulai memutar kenangan saat Avril dengan lahap memakan Gimbap yang ia belikan.
"Avril, cepatlah sembuh. Aku berjanji akan membuatkan Gimbap kesukaan mu ketika kamu sudah pulang ke rumah." Janji Boo Young dalam hatinya.
Dengan perasaannya yang sedih, Boo Young memakan Gimbap itu sampai habis. Lalu ia keluar dari hotel untuk kembali ke rumah sakit. Dia berharap jika sampai di rumah sakit, ia mendapatkan berita baik tentang Avril.
Sesampainya ia di rumah sakit, pertama ia melihat Avril dari balik kaca. Di lihatnya Avril yang masih belum bangun, seandainya dia di perbolehkan masuk, ia akan tidur di samping Avril sambil menceritakan hal-hal yang lucu. Tetapi saat itu dokter belum mengijinkan ia masuk ke dalam.
Lalu ia pergi untuk melihat anak-anaknya, kebetulan saat itu seorang perawat sedang memberi mereka susu. Jadi Boo Young bisa melihat anak kembarnya dengan jelas. Tangannya yang mungil, membuat Boo Young ingin menyentuhnya. Dia sendiri belum bisa membedakan anak kembarnya dan juga belum memberi nama untuk bayi kembarnya.
Karena Avril ingin memberi nama anak setelah lahir dan tidak mempersiapkan nama sebelumnya. Begitupun dengan baju bayi, mereka belum memiliki stok banyak. Avril hanya membelikan baju masing-masing 4 pasang untuk bayi kembar. Avril sengaja memilih baju bayi warna putih, karena sebelumnya dia tidak tahu jenis kelamin bayi kembarnya. Warna putih cocok untuk bayi laki-laki dan perempuan.
Bersambung...