
...****************...
Dua hari sudah Avril merasakan mual ketika mencium bau masakan, terutama yang pedas. Pagi itu Boo Young melarang Avril untuk berangkat kerja, karena Avril memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya. Tetapi Avril tetap mau masuk kerja, karena dia pikir itu hanya masuk angin.
Tapi Avril mempunyai feeling kalau dirinya sedang hamil. Karena waktu hamil Calvin dia tidak mengalami mual-mual, jadi dia berencana untuk membeli tes kehamilan. Tapi saat ini dia belum membicarakan hal itu kepada sang suami, karena dia khawatir kalau dirinya hanya masuk angin biasa.
"Sayang, sepertinya kita pergi ke Rumah Sakit, sudah dua hari ini kamu setiap pagi muntah terus." Kata Boo Young khawatir.
"Tidak apa-apa, aku hanya masuk angin saja. Sebentar lagi juga baikan, kemarin juga begitu." Sahut Avril s ambil merias wajahnya.
Karena Avril tetap memaksa untuk pergi ke kantor, Boo Young pun hanya bisa memandangi istrinya dengan perasaan yang khawatir. Dia takut terjadi sesuatu dengan sang istri, tetapi dia tidak tahu kenapa Avril jadi keras kepala.
Kemudian Boo Young menelpon sang asisten agar mengantarkannya ke kantor. Dia hanya khawatir jika nanti Avril muntah-muntah di mobil, jadi dia bisa menjaganya.
Mereka berdua pun akhirnya pergi ke kantor dan bersyukur Avril tidak merasakan mual-mual ketika di perjalanan. Tetapi ketika sampai di kantor, rasa mual itu pun ia rasakan, tapi Avril mencoba menutupinya dari Boo Young, agar dia tidak khawatir.
****
Siang itu Boo Young ada acara makan siang dengan para eksekutif, tetapi Avril menolak untuk ikut dengan alasan ia sudah ada janji dengan Eun Soo untuk makan siang. Setelah Boo Young keluar dari kantor, Avril pergi menemui Eun Soo di ruangannya.
Semua karyawan bagian editor pun memberi hormat kepada Avril dengan menundukkan kepala mereka. Walau sebenarnya Avril merasa risi di perlakukan berbeda dari sebelumnya.
"Eun Soo, temenin aku ke Watson." Ajak Avril.
"Mau beli apa?" Tanya Eun Soo sambil mematikan komputernya.
Tanpa menjawab pertanyaan Eun Soo, Avril segera menarik tangannya dan berjalan menuju masuk ke lift. Dengan curiga Eun Soo memandangi Avril yang sedang bersikap gugup.
"Sebenarnya kamu mau beli apa ke Watson?" Tanya Eun Soo yang masih curiga.
"Nanti sampai di sana juga tau, aku mau beli apa." Jawab Avril dengan gugup.
Tak lama kemudian mereka berdua sampai di apotek dekat kantor. Avril langsung berjalan menuju tempat di mana tes kehamilan berada. Dengan mengambil 3 tes kehamilan dari merk berbeda, ia pun bergegas pergi ke kasir.
Sedangkan Eun Soo masih hanya bisa mengikuti Avril dari belakang. Setelah selesai membayar, mereka berdua pun langsung keluar dari Watson, tempat ia membeli tes kehamilan.
"Kamu hamil lagi?" Tanya Eun Soo dengan wajah terkejut.
"Belum tahu, makanya aku beli ini." Jawab Avril sambil melihatkan alat tes kehamilan itu.
Setelah itu Avril mengajak Eun Soo ke sebuah restoran di dekat tempat ia membeli alat tes kehamilan. Mereka kemudian masuk ke restoran dan duduk memesan makanan.
Sebelum makanan datang, Eun Soo menyuruh Avril untuk pergi ke kamar mandi. Karena dia juga ingin tahu, apakah Avril hamil atau tidak.
"Cepetan pergi ke toilet." Suruh Eun Soo memaksa.
"Bukanya setalah bangun tidur baru bisa cek?" Tanya Avril yang sebenarnya dia juga belum paham mengenai alat tes kehamilan.
Avril pun langsung berdiri membawa tasnya berjalan menuju toilet. Dengan ragu Avril menggunakan semua alat tes kehamilan yang dia beli. Sebelumya ia membaca petunjuk yang ada pada kotak tempat alat itu.
Hal itu membuatnya bingung, sebenarnya dirinya hamil atau tidak. Padahal Avril sengaja beli tiga karena jika dua di antar tiga itu ada yang sama berarti itu jawabannya. Avril meyakini bahwa dirinya hamil, tetapi kenapa kedua tespek itu hanya satu garis?
Tidak mau ambil pusing, Avril kemudian keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangannya. Dengan raut wajahnya yang sedikit kecewa ia berjalan menuju arah Eun Soo, di mana ia duduk.
"Bagaimana?" Tanya Eun Soo penasaran.
"Tidak yakin aku, kalau aku hamil." Jawab Avril dengan rasa kecewa.
Lalu Eun Soo menyemangati Avril, kalau masih ada kesempatan lain waktu untuk hamil. Kemudian mereka berdua memakan makanan yang mereka pesan. Saat itu Avril juga makan dengan lahap tanpa merasakan mual di perutnya.
Karena waktu Avril hamil Calvin dia tidak pernah merasakan apa-apa, jadi ketika ia merasakan mual-mual pun tak begitu yakin jika dirinya sedang hamil. Apalagi di tambah hasil tespek, hal itu membuat Avril semakin ragu.
Setelah selesai makan, Eun Soo menyarankan Avril agar pergi ke rumah sakit kandungan, agar hasilnya lebih akurat. Dan Avril pun menyetujui saran dari sahabatnya itu.
"Sebaiknya kamu pergi ke rumah sakit kandungan, agar hasilnya lebih akurat." Saran Eun Soo.
"Benar juga, tapi kamu temani aku ya!" Sahut Avril memohon.
Tidak sabar menunggu nanti sore, Avril pun berpamitan kepada ketua team, begitupun dengan Eun Soo. Mereka pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Boo Young, karena pada waktu itu Boo Young masih makan siang dengan rekan bisnisnya.
Eun Soo pun mengantar Avril dengan mengendarai mobilnya. Dengan perasaan yang tak menentu Avril melihat ke arah luar melalui kaca mobil. Avril berharap kalau dirinya sedang hamil, karena Boo Young sering mengatakan bahwa dia menginginkan adik untuk Calvin.
Sesampainya mereka di klinik rumah sakit kandungan, Avril kemudian mendaftarkan diri dan mengambil nomer antrian. Kemudian mereka berdua duduk di kursi tunggu dan tak lama kemudian handphone Avril berbunyi.
Di ambil handphonenya dari dalam tas dan di lihat ada nama *M*y Husband tertera di layar handphonenya. Dengan segera Avril mengangkat panggilan itu.
"Sayang, kamu di mana?" Tanya Boo Young khawatir.
Avril tak memberi tahu kepada suaminya jika ia sedang di rumah sakit kandungan. Karena jika dia hamil, ia akan memberi kejutan pada sang suami.
"Maaf sayang, saat ini aku sedang sama Eun Soo membeli sesuatu." Jawab Avril berbohong.
Setelah memberi penjelasan panjang lebar, akhirnya Boo Young pun mempercayai sang istri dan mengakhiri panggilan mereka.
Tak lama kemudian Avril pun di panggil oleh perawat untuk masuk ke ruangan dokter. Avril dengan di temani Eun Soo masuk ke dalam ruangan.
Setelah menceritakan keluh kesah yang ia rasakan pada sang Dokter, kemudian sang Dokter menyarankan Avril untuk mengambil darahnya. Dan Avril pun menyetujui anjuran Dokter untuk mengambil darahnya.
Kemudian Avril di tuntun seorang perawat untuk memasuki ruang khusus dan untuk mengambil darahnya. Setelah itu Avril di suruh menunggu di depan untuk mengetahui hasilnya.
"Kenapa aku jadi deg-degan begini ya?" Tanya Eun Soo sambil memegang dadanya.
"Sama, aku juga deg-degan!" Sahut Avril yang tak kalah gugup.
Selang beberapa menit, seorang perawat memanggil nama Avril dan menyuruhnya masuk ke ruang Dokter untuk memberikan hasil tes yang ia jalani. Dengan hatinya semakin berdegup kencang, mereka berdua pun masuk ke dalam ruang Dokter.
Bersambung......