It’S So Hurts

It’S So Hurts
Menjadi Bintang kecil di Langit



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Dara berlari kecil menuju kamar Jingga dan berusaha membuka pintu kamar putrinya tetapi ternyata tidak bisa.


"Jingga,,Jingga dengar mamah sayang buka pintunya," pekik Dara dengan rasa khawatirnya, dan terus berusaha membuka pintu kamar itu.


"Ini kenapa tidak bisa, Tuhannn," keluh Dara merasa kesal ketika kunci pintu itu tidak bisa terbuka.


"Tidak akan pernah bisa terbuka, jika Jingga masih menggantung kunci di dalam, itu akan tertahan," ucap Zein memberitahukan kenapa kunci kamar itu tidak mau terbuka.


Dara terus menggedor pintu kamar Jingga, karena merasa takut dengan keadaan putrinya di dalam. Bahkan Dara sampai menendang-nendang pintu itu membuat Zein tercengang dengan yang dilakukan oleh istrinya.


"Kamu jangan diam saja! Itu anak kita di dalam lagi nangis, kalau ada apa-apa bagaimana?" bentak Dara merasa kesal ketika melihat Zein hanya diam saja tanpa ada niat membantunya untuk membuka pintu.


Zein menggelengkan kepalanya pusing, merasa jika Dara selalu saja menyalahkannya saat ini.


"Katakan padanya, jika aku akan menemuinya di dalam mimpi," ucapnya mengatakan janji pada Jingga.


"Kamu jangan macam-macam Zein, kalau kamu buat janji lalu tidak ditepati, nantinya dia akan lebih sakit hati Zein," seru Dara, memberikan peringatan kepada Zein untuk tidak selalu bermain-main dalam tindakannya.


"Hanya katakan saja Dara, aku akan menemaninya dalam mimpi malam ini, apa kamu tidak khawatir jika dia di dalam berbuat nekad, anak aku memiliki kekurangan Dara please," mohonya pada Dara, untuk menyampaikan pesan pada Jingga.


Melihat keseriusan suaminya, Dara menganggukan kepalanya pelan, dan kembali menggedor kamar putrinya.


"Jingga sayang, mamah pernah mendengar sebuah kisah, kalau ketika kita merindukan seseorang, maka kita harus menjadi anak baik. Jingga ingat tidak? Jika ayah pernah bilang bahwa Jingga harus menurut pada mamah, pasti Jingga akan diberikan hadiah, dan sekarang berarti ketika Jingga mau membukakan pintu untuk mamah, maka akan ada hadiah terbaik untuk putri cantiknya mamah," serunya lagi, mengucapkan janji pada Jingga.


Namun tetap saja tidak ada tanda-tanda Jingga akan membukanya. "Dia tidak mau, harus bagaimana sekarang?" tanya Dara bingung.


Zein terdiam sambil terus berpikir, bagaimana caranya agar bisa membuka pintu ini.


"Apakah aku harus menembus dinding ini?" tanya Zein konyol.


Membuat Dara memilih untuk memutar bola matanya malas. Dan di saat terlihat berdebat, tedengar suara slot kunci yang terbuka dari dalam.


"Jingga," lirih Dara pelan, langsung membuka pintu yang sudah tidak dikunci itu.


"Hisskkk,,hiskskk, Jingga rindu ayah mah, Jingga rindunya," adunya pada Dara, yang dia pasti tahu jika Dara juga tidak akan pernah bisa memberikan solusi apa-apa.


Dara mencoba mengusap lembut kepala Jingga, lalu memeluknya sambil menatap langit luar yang dapat terlihat dari dinding kaca kamarnya.


Akan tetapi, Dara melihat sebuah buku kecil bersampul pink yang berada di bawah lantai, "ini apa sayang?" tanya Dara pada Jingga yang hanya terdiam takut.


Dara mulai membuka, lembar demi lembar ke dalam buku itu, dan terpaku setiap puisi-puisi indah yang berisikan tentang ayahnya.


Mulai dari dulu dia menginginkan kehadiran sosok ayahnya, kebahagiannya saat bertemu dengan Zein, dan sekarang tentang kerinduaanya terhadap Zein.


Sehingga Dara terpaku ketika membaca salah satu puisi yang Jingga tuliskan di halaman terakhir.


Dear Ayah Zein.


Dulu ayah pernah berjanji kepada Jingga, Ayah akan selalu hadir di sisiku ....


Menikmati keindahan langit di kala senja menghampiri, berbagai cerita dengan pelukan hangat di bawah sinar rembulan


Tapi kenapa?


Kenapa sekarang aku hanya sendiri di sini


Sendiri menikmati keindahan langit di saat senja menerpaku. Sendiri di saat malam sunyi menghampiri.


Bahkan aku sudah tidak bisa merasakan pelukan hangat serta senyum indah di wajahmu itu lagi.


Jejak langkah kini sudah tidak terdengar lagi


Dear Ayah Zein.


Andaikan Ayah ada saat ini disampingku, banyak hal yang ingin aku ceritakan bersamamu


Tentang bagaimana kejamnya dunia mempermainkan kehidupakanku. Dan, betapa teganya takdir ini mempermainkanku.


\~Naura Jingga Maurice\~


Setelah membaca isi pesan hati putrinya, Dara menangis dan memeluk tubuh Jingga dengan sangat erat, membiarkan Zein membaca pesan di dalam buku itu.


Zein membaca puisi indah buatan putrinya, hingga tanpa sadar dirinya kembali ikut meneteskan air mata secara perlahan.


"Maafkan papah sayang," tangisnya dan ikut memeluk tubuh Dara dan Jingga dengan erat, walaupun tidak terasa tetapi Zein sudah berusaha.


"Sayang, kamu pernah tau tidak seseorang yang pergi itu, mereka tidak benar-benar pergi, karena mereka telah menjadi bintang kecil di malam hari dan bersinar paling indah untuk menunjukan bahwa dirinya ada di sana," ucap Dara, masih berusaha untuk menenangkan putrinya.


"Sayang, kita harus ikhlas mengizinkan ayah untuk pergi, selamanya ayah akan tetap ada di hati, kita sama-sama belajar dan berusaha untuk hidup tanpa ayah, anggap aja ayah ada di sini, tetapi kita tidak bisa melihatnya," serunya lagi, dengan senyum manis, untuk menjadi kuat padahal dia lemah.


Jingga menganggukan kepalanya pelan, dia mengerti dengan semua yang di sampaikan oleh mamahnya.


"Maafkan Jingga mah," ucap Jingga penuh penyesalaan.


"Iya sayang, tidak apa, Jingga jangan melakukan itu lagi ya,Nak, mamah khawatir Jingga kenapa-kenapa sayang," balas Dara, merasa sudah legah, karena Jingga ternyata hanya menuliskan sebuah buku dan tidak melakukan apapun yang berbahaya.


"Ya, sudah, sekarang kamu tidur dan beristirahat ya, mama akan temani," pinta Dara, sambil membawa Jingga naik ke atas tempat tidur.


Jingga menganggukan kepalanya pelan, dan kini mulai menatap Dara dengan sendu, "mah, ayah akan datang di dalam mimpi Jingga kan mah?" tanya Jingga, menagih janji yang tadi Dara ucapkan.


Dara menoleh sedikit ke arah Zein yang masih berdiri di sampingnya, untuk memberitahu bahwa dia harus segera pergi untuk menepati janji kepada Jingga.


Zein yang mengerti perlahan pergi dan hilang dari bayangan Dara, sehingga Dara kembali fokus kepada Jingga.


"Tidurlah sayang, ayah akan datang nanti," ucap Dara, meyakinkan putrinya bahwa Zein akan datang.


Jingga kembali menganggukan kepalanya pelan, dan mulai memejamkan matanya, membuat Dara akhirnya bisa kembali bernafas legah.


"Mamah juga rinddu dengan ayah kamu sayang, mamah rinddu saat di mana ayah kamu marah karena cemburu, mamah rinnndu saat di mana ayah kamu memeluk tubuh mamah dengan sangat erat, lalu mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja."


"Ayah kamu tidak pernah sadar, bahwa semua tidak akan pernah baik-baik saja, karena dia selalu salah dalam mengambil setiap langkah," batin Dara, mengungkapkan sendiri rasa sepi yang ada di dalam hatinya.


Tidak akan pernah ada yang mengerti bagaimana sakit dan susahnya Dara untuk menerima semua ini, baginya sesulit apapun dia harus bisa bangkit untuk Jingga.


Sulit mungkin iya, melepaskan dan mengikhlaskan seseorang yang kita cintai.


Tetapi siapa yang mau kehilangaan cinta mereka, namun seperti tidak mempunyai kunci untuk keluar dari jalannya. membuat Dara harus mengerti bahwa perjalanan mereka hanya sampai di sini.


Mereka tidak bisa menyusul Zein, apa lagi terbang ke atas sana.


"Aku akan tetap mencintaimu, karena di dalam hati ini, hanya akan ada terlukis indah namamu, aku akan menunngu sampai hari di mana kita bersatu kembali, menjadi dua sosok bintang yang akan menyinari dunia ini dengan kekuataan cinta sejati.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*