
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah puas menangis tadi, saat ini terlihat Dara yang tengah menyiapkan makan malam bersama dengan putrinya.
Sudah cukup dia mengabaikan dan selalu lupa dengan jadwal makan dan minum obat Jingga.
Dia tidak mau karena kesedihaanya malah membuat Jingga semakin sakit nantinya.
"Jingga, sayang ayo makan dulu yuk," panggil Dara, dengan sedikit berteriak.
Tak lama kemudian, terlihat Jingga yang baru saja selesai mandi dengan membawa sisir mendekati Dara.
"Wihh anak mamah sudah mandi ya sayang, sini mamah sisirin rambutnya dulu ya," ucap Dara, sambil mengambil sisir dari tangan Jingga.
Dara mulai menyisir rambut Jingga dengan sangat lembut, hingga Jingga bisa merasakan kasih sayang yang mamahnya itu berikan.
Cuuuppp, Dara mengecup singkat puncak kepala Jingga, dan lalu beralih menatap wajah cantik putrinya.
"Sayang maafkan mamah yang sudah mengabaikanmu beberapa hari ini, maafkan mamah yang tidak mengurusmu dan tidak mau mengerti keinginan kamu, maafkan mamah ya sayang," lirihnya tulus, meminta pengampunan dari putrinya.
Jingga terdiam, dan memilih untuk menundukan kepalanya karena merasa takut dan cemas.
"Jingga, jawab mamah sayang," tegur Dara, meminta agar putrinya mau menanggapi kalimatnya.
Jingga tersentak ketika Dara menegurnya, lalu dengan cepat dia menganggukan kepalanya pelan memberikan jawaban kepada Dara.
Dara menghela nafasnya berat, melihat perbuahan kembali dalam diri Jingga.
"Kamu sudah sangat keterlaluan Dara, coba lihatlah, sekarang dia tidak mau berbicara lagi, kemarin dia sudah mau berintraksi dengan orang lain, tetapi sekarang dia kembali diam, itu karena kamu mengabaikannya," batinya, yang merasa kesal dengan dirinya sendiri karena sudah bertindak se-enaknya pada Jingga.
"Jingga sayang, tatap mata mamah!" tegasnya pada Jingga.
Karena tidak mau Dara marah, perlahan Jingga mulai mengangkat kepalanya dan melihat ke dalam mata indah milik mamahnya.
"Jingga sayang tidak sama mamah?" tanya Dara serius.
Jingga menanggukan kepalanya pelan sebagai jawaban untuk Dara.
"Cinta tidak sama mamah? Jika iya, maka jawablah dengan suara."
Jingga kembali terdiam, dan menahan rasa gugupnya dengan mengupas-ngupas kuku tangannya.
"I-i-iya mah," jawabnya gugup.
Sontak saja Dara langsung memeluk tubuh Jingga dengan erat, menumpahkan segala kasih sayangnya terhadap putri suaminya.
Mungkin Jingga memang bukan lahir dari rahimnya, tetapi cinta yang Dara berikan kepad Jingga itu sangatlah besar, dan bisa diadu dengan ibu kandungnya sendiri.
Benar, Jingga adalah anak dari hasil perselingkuhan antara Zein dan Tasya, namun Dara tidak pernah menyalahkan kehadiran Jingga di dunia ini.
Mau sebesar apapun kesalahan orang tuanya, Jingga tetap anak Zein, dan dia sebagai istri hanya bisa menerima walaupun itu sakit.
Namun karena Jingga adalah anak yang baik, Dara merasa sama sekali tidak keberataan dalam mengurusnya, bahkan menjadikan anak suaminya itu sebagai penyemangat kehidupan barunya.
Cuuuppp,,ccuuupp,,cuuup, Dara mengecupi wajah Jingga dengan sangat gemas, sehingga Jingga berusaha memberontak dari pelukan Dara.
"Mamah, bisakah kamu berhenti melakukan itu kepadku?" tanyanya kesal, sambil terus meronta dalam pelukan mamahnya.
"Mamah mencintaimu sayang, makanya mamah melakukaan ini," jawab Dara asal, sesungguhnya dia memang ingin mengecup wajah Jingga yang begitu mirip dengan suaminya.
"Mamah, udah ya, kita makan dulu, Jingga lapar mah," serunya, sambil menunjukan piring kosongnya pada Dara.
Dengan tersenyum manis Dara menganggukan kepalanya dan mulai menyendokan nasi ke dalam piring putrinya.
"Sayang kamu mau ayam paha atau dada?" tanya Dara, yang masih terlihat bingung dengan menu kesukaan putrinya.
"Ehhmm, mamah," panggil Jingga ragu.
"Iya sayang," sahut Dara, dengan meletakan piring Jingga kembali dan menatap putrinya dengan lekat.
"Jingga tidak bisa memakan ayam jika tidak di-," ucapnya terhenti, ketika memperagakan gerakan mensuwir-suwir ayam.
"Kamu persis seperti ayah kamu sayang, dia juga kalau makan ayam selalu seperti itu, sebenarnya tidak hanya ayam sih, tetapi dia juga melakukan itu kalau makan stick atau apapunlah," seru Dara, menceritakaan persamaan Jingga dengan mendiang ayahnya.
"Benarkah mah?" tanya Jingga antusias.
"Iya benar, lalu dia paling tidak suka makanan pedas, meminum air dingin, dan makan ikan,ayah paling banget jika mamah memasak makan pedas atau masak ikan, tetapi mamah pernah dimarahin oleh ayah ketika memasak telor biasa, ternyata dia sangat suka telur setengah matang tanpa minyak," ceritanya lagi, membuat suasana yang tadinya hening kini berubah menjadi penuh canda.
Jingga tidak bisa membalas cerita Dara, karena dia merasa sangat sulit jika berbicara, namun dia bisa tertawa ketika mendengar cerita kelucuaan hubungan mamah dan ayahnya.
"Terus ya, ayah itu paling tidak suka jika mamah pakai make up tebal, makanya sampai sekarang mamah tidak pernah mencukur alis mamah atau pakai-pakai bulu mata palsu, karena pasti ayah kamu mengomel, dan kalau ngomel bisa panjang kaya kereta api tau," serunya, menceritakan segala cerita kekonyolan hubungannya dengan Zein.
Hingga suasana makan malam bersama tanpa sosok ayah di samping mereka, kini sukses terlewatkan tanpa kesedihan. Sampai saat Jingga mengatakan satu kalimat yang membuat suasana menjadi hening seketika.
"Jingga rindu ayah mah," adunya pada Dara, membuat mamahnya terdiam karena merasa bersalah dengan keadaan ini.
"Sayang, kita lanjutkan makan saja dulu ya," pinta Dara, sambil mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Jingga menganggukan kepalanya pelan, dan menunduk sambil memakan nasinya dengan pelan.
Dara menelan salivanya kasar, dan juga mencoba untuk menghabiskan makannnya yang tidak mau turun dari lehernya.
Bahu Jingga terlihat bergetar, membuat Dara tahu jika putrinya itu tengah menangis saat ini.
"Jingga sayang," tegurnya pelan, ingin menggengam tangan Jingga yang berada di atas meja.
Namun Jingga menepisnya, dan segera berlari masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.
Buuuggghhh,,bbuuggghhh, "Jingga buka pintunya sayang, jangan seperti ini! Jangan membuat mamah takut,hiskk," pekik Dara, sambil menggedor-gedor pintu kamar Jingga, namun tidak ada jawaban dari dalam. Dan bahkan ketakutaan Dara semakin besar ketika mendengat suara tangisan Jingga dari dalam.
Dengan segera Dara mencari kunci kamar Jingga di dalam laci Tv, "kemana kuncinya, Tuhann, kemana Zein menyimpannya?" tanyanya entah pada siapa.
Lalu dia berlari masuk ke dalam ruang kerja milik Zein, seketika dia bisa merasakan aroma tubuh suaminya di dalam sana.
"Hiskkk,,hiskkk," tangisnya kembali pecah ketika mengingat Zein yang selalu duduk di sana lalu memandangnya dengan penuh kasih sayang.
Dara mencoba menghapus air matanya dengan kasar, lalu mencoba menetralkan perasaanya, dan kembali fokus mencari kunci serep kamar Jingga.
"Sayang," tegur suara yang tiba-tiba ada di belakangnya, membuat Dara semakin berusaha kuat menahan air matanya agar tidak tumpah kembali.
"Jika ingin pergi, maka pergilah, aku mohon jangan seperti ini," pinta Dara, tanpa membalikan tubuhnya melihat Zein yang ada di belakangnya.
Zein mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Dara saat ini, tetapi dia juga sudah tidak bisa melakukaan apapun.
"Maaf," hanya kata itu yang bisa dia keluarkan dari mulutnya.
"Kamu datang, terus kamu pergi lagi, ngilang gitu aja, tanpa pernah bisa hadir kembali. Bagaimana bisa aku dan Jingga menerimannya?"
"Dengan kamu seperti ini, itu malah akan mempersulit aku untuk melepaskaamu tau tidak?" bentak Dara dengan meluapkan segala emosinya.
Lalu dia kembali mencari kunci yang sampai saat ini belum dia temukan.
Zein mengambilkan kunci yang tersimpan di dalam rak bukunya, lalu memberikannya pada Dara tanpa suara.
"Makasih," ucap Dara, menganggap Zein adalah orang asing baginya.
Zein hanya bisa menatap kepergiaan Dara yang hilang begitu saja. Tanpa dia sadari air mata itu juga lolos dari mata indahnya melihat anak dan istrinya yang menderita menahan sebuah kerinduaan karenannya.
"Maaf," lirihnya pelan, walau dia tahu jika Dara tidak akan pernah memaafkaanya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*