It’S So Hurts

It’S So Hurts
Berkunjung ke Makam Lucas dan Tenry



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Dara yang tiba-tiba terbangun karena merasa haus, kini mulai mengidari matanya mencari sosok kekasihnya yang harusnya ada di sebelahnya.


“Sayang,” panggil Dara pelan, dan mencoba bangkit dari tidurnya.


“Zein Alucas,” panggil Dara lagi, lalu berdiri mencoba mencari Zein di kamar mandi, namun tidak menemukanya.


Hingga akhirnya dia memilih untuk melangkahkan kakinya keluar, dan melihat beberapa orang yang sedang berjaga. “Di mana Zein ?” tanyanya langsung to the point.


“Nyonya, maaf, Tuan Zein melarang Anda untuk keluar, Nyonya,” tegas salah satu anak buah Zein, dengan menundukkan kepalanya hormat.


Dara menggelengkan kepalanya, dan menatap lekat ke arah mereka, “Di mana Zein? Cepat beritahu aku!” pinta Dara dengan menolak segala apa yang dikatakan oleh mereka.


“Nyonya--,”


“Stop! Antar aku menemui Zein sekarang!” bentaknya dengan memerintah. Karena Dara ingat pasti saat ini Zein tengah berkunjung ke makam orang tuanya.


“Tapi Nyonya--,”


“Sekarang!” tegas Dara lagi, dan membuat mereka mau tidak mau megantar Dara untuk menemui Zein.


****


Sedangkan di sisi lain terlihat Zein yang sedang melangkahkan kakinya di sebuah pemakaman umum, mendekati makam kedua orang tuanya yang saling bersebelahaan.


“Halo, Papah, halo, Mamah. Zein datang hari ini,” sapanya pada makam Lucas dan Tenry.


“Pah, Mah, sudah 25 tahun kalian pergi, dan sudah 25 tahun juga Zein hidup tanpa kalian, walau berat tapi tetap Zein jalani,” lirihnya pelan, sambil mencoba mendudukkan dirinya di tengah-tengah kedua makam itu.


“Bryan dan Nayra, dua nama itu akan selalu Zein gengam dan ingat mati dalam pikiran, bukan Zein tidak menerima kematian kalian, hanya saja jika bukan karena mereka, Papah dan Mamah pasti masih ada di sini,” ungkap Zein, dengan menatap kosong ke depan.


“Ketika Zein mendapatkan mereka, akan Zein pastikan untuk membuat kehidupan mereka menderita bagaikan sebuah neraka dunia,” serunya dengan kobaran api dendam yang membara.


Lalu tak lama kemudian, Zein mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto dirinya dengan Dara semalam, “Papah, Mamah, bisakah kalian melihat dia? Andara Naqquenza, sosok wanita cantik yang menjadi pujaan hati putra kalian,” ucapnya seperti orang gila, yang memperlihatkan foto Dara ke hadapan makam Lucas dan Tenry.


Zein menganggap seperti kedua orang tuanya sedang duduk mendengarkan seluruh ungkapan isi hatinya, “Zein datang ke sini juga ingin meminta izin kepada kalian, untuk menikahi Dara, Pah, Mah. Zein mencintainya, karenanya Zein bisa tahu apa arti dari sebuah kebahagiaan,” lanjutnya lagi.


Dengan menarik napasnya panjang, Zein mencoba membaringkan tubuhnya di makam Tenry, “Mah, Zein tidak ingin seperti Papah yang bersikap bbodoh dalam mengenali rasa cintanya, Zein tidak ingin terlambat mencintai setelah kehilangan, Zein tidak--,”


“Zein,” panggil seseorang dari belakang.


Sontak saja Zein langsung menolehkan kepalanya melihat sosok siapa yang berani menganggu ketenangannya saat ini.


“Dara,” lirih Zein pelan, terkejut melihat sosok kekasih yang masih menggunakan pakaian rumah sakit datang ke sini.


Dara segera berlari, mendekat ke arah Zein, dan melingkarkan tangannya cepat di lengan kekasihnya tanpa bicara sepatah kata pun.


Sedangkan Zein langsung melepaskan pelukan Dara di lengannya, membuat Dara menatapnya dengan bingung, namun detik selanjutnya Zein menggantinya dengan sebuah gengaman tangan, Dara yang tidak ingin berbicara apa-apa saat ini, memilih untuk diam dan menyenderkan kepalanya di bahu kekasihnya dan menatap nama yang berada di sana, “Lucas Maurice, Aurora Tenriyola,” gumamnya merasa kenal dengan nama itu.


“Kamu masih sakit. Kenapa ke sini?” tegur Zein pelan, sambil menghirup lembut aroma khas rambut Dara.


“Kalian lihat, kan, wanita ini adalah Dara, wanita yang sangat Zein cintai, dan--,” ucapnya lagi-lagi terhenti ketika melihat sosok Valen tepat di hadapannya.


“Bunda di sini juga,” seru Zein, yang langsung berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Valen yang sedang menatap ke arah Dara.


“Wanita ini,” gumam Valen, seperti tidak asing dengan wajahnya.


“Bunda,” panggil Zein, menepuk singkat lengan Valen, ketika tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


“Eh iya, Zein, tadi kamu ngomong apa ? tanya Valen, karena dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh keponakannya itu.


Zein yang menyadari jika Valen sedang menatap ke arah Dara, langsung menggandeng tangan Dara dan mendekati Valen. “Bunda, dia adalah Dara, wanita yang tadi aku ceritakan ke Bunda dan wanita yang ingin aku nikahi,” tungkasnya dengan yakin memperkenalkan Dara dengan Bundanya.


“Dara, Tante,” sapa Dara selembut mungkin.


Namun Valen hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman tipis, benar-benar bukan tipe Valen.


“Ehm, Sayang, aku sudah selesai berkunjung di sini, lebih baik kita pulang ya,” ajak Zein pada Dara. Karena sedari tadi dia merasa suasana yang tidak nyaman dengan sikap Valen kepada Dara.


“Baiklah,” sahut Dara, menuruti apa yang dikatakan oleh Zein.


“Tapi, Sayang, kamu ke mobil duluan ya, nanti aku nyusul,” pinta Zein pada Dara, yang dijawab anggukan kepala olehnya dan melangkahkan kakinya pergi.


Dara berpikir mungkin memang ada yang ingin Zein bicarkan dengan Bundanya, dan itu sangat penting sehingga dirinya tidak boleh mengetahuinya.


Zein menatap Valen dengan lekat, dan penuh tanda tanda tanya, “Bunda, ini adalah hari pertama Bunda bersikap sangat-sangat mengecewakan, aku tidak tau kenapa. Bunda bersikap seperti itu pada Dara, dia tidak pernah melukai hati Bunda, dia tidak pernah mengatakan hal apapun, bahkan ini adalah pertemuan pertama kalian, tetapi Bunda bersikap seolah-olah Bunda membencinya dan aku tidak tahu mengapa. Tapi semua itu adalah hak Bunda, kalau memang penilaian Bunda seperti itu terhadap Dara maka it’s okay, tapi kenalin dulu Dara, baru bisa membencinya,” tegas Zein tanpa mengurangi sedikit pun rasa hormatnya, kepada adik dari Papahnya ini.


Karena mau bagaimanapun, Valen adalah sosok yang merawatnya sedari kecil, jadi Zein masih tetap harus menghormati Valen yang meskipun kadang berlebihan padanya, dan anggap saja jika ini adalah suatu penghargaan untuk mendiang Papahnya yang begitu mempercayakan dia pada Valen.


Zein tidak ingin emosinya semakin memuncak, dia langsung pergi meninggalkan Bundanya begitu saja dengan tatapan yang masih menuju ke arahnya.


Dengan fokus melangkah, Zein masuk ke dalam mobilnya. “Jalan!” perintahnya pada anak buahnya.


“Baik, Tuan,” jawab Sopir itu.


Sedangkan Dara kini mengalihkan pandangannya ke lain arah, dia merasa jika kehadirannya akan menjadi sebuah boomerang untuk kehidupan Zein selanjutnya. “Apa aku harus pergi?” tanyanya dalam hati, hingga tanpa disadari buliran kristal luruh begitu saja dari pelupuk matanya, namun sebelum Zein mengetahuinya, Dara sudah lebih dulu menghapusnya.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻