It’S So Hurts

It’S So Hurts
Tidak Mau Ibu Seorang Pembunuh



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


"Ini semua pasti gara-gara kamu! Pasti kamukan yang sudah menghasut Jingga agar tidak mau ikut bersamaku," tuduhnya pada Dara.


Merasa lucu dengan tuduhan konyol yang dilemparkan Tasya kepadanya, Dara memilih untuk memeberikan kode pada Aiden untuk segera pulang.


"Hey jawab! Kamu jangan diam saja," teriak Tasya, ketika melihat Dara yang tidak menanggapinya sama sekali.


Tasya mendorong tubuh Dara dengan sangat keras, beruntung di depan masih ada Griffin, jika tidak tubuh Dara bisa menindih tubuh Jingga di depan.


"Mamah," teriak Jingga, merasa takut jika Dara sampai terjatuh.


"Tante tidak apa-apakan?" tanyanya untuk memastikan kondisi Dara.


"Iya tidak apa-apa," jawab Dara, dan segera melihat Jingga, untuk memastikan bahwa dia tidak terkena apapun.


Plaaaakkkkkk Aiden yang sudah cukup habis kesabaraan kini langsung melayangkan satu tamparan yang cukup keras di pipi Tasya.


"Aku sudah cukup sabar ya menghadapi kamu Tasya, dari awal kakak kamu dan kamu memang sama-sama ingin memiliki seorang yang tidak bisa dimiliki, kamu harus sadar diri untuk itu!" tegas Aiden.


Dan karena tidak ingin masalah berlarut-larut lagi, Aiden kini membungkukkan tubuhnya agar sejejar dengan Jingga.


"Hallo sayang, bisakah kamu mengatakan pada uncle, kenapa Jingga tidak mau tinggal dengan ibu Jingga ini?" tanyanya dengan menunjuk ke arah Tasya.


Jingga tidak menjawab sama sekali, dia malah menatap Dara dengan tatapan yang mengatakan bahwa dia sedang takut. "Tidak apa sayang, katakanlah, biar semua tau apakah mamah sudah menghasutmu atau tidak," ucap Dara dengan tenang.


"Jingga," jawabnnya gugup.


"Jingga tidak mau memiliki ibu seorang pembunuh paman," lirihnya pelan, namun seketika membuat Aiden dan Stella tersenyum bahagia.


Aiden menggelengkan kepalanya menatap ke arah Dara dan Jingga yang terlihat masih murung.


Dan segera membawa seluruh keluarganya pergi ke halaman belakang, tepat di mana pesawat Jet miliknya terparkir.


Sedangkan Jenni kini memilih untuk melangkahkan kakinya pergi begitupula dengan Griffin yang merasa sudah tidak ada kepentingaan lagi.


Berbeda dengan Stella yang terlihat tersenyum bahagia ketika melihat Tasya dan Valen hanya bisa terdiam tanpa menjawab kata-kata Jingga.


"Udah dengarkan? Gak budegkan? Anaknya emang gak mau sama kalian, jadi jangan pernah paksa-paksa, dan jangan pernah menyalahkan Dara tentang semua ini, kalau tidak, kalian yang akan berhadapan denganku langsung," ancam Stella tidak bermain-main dengan kalimatnya.


Setelah itu Stella segera menyusul yang lainya untuk segera pulang ke Indonesia. Agar bisa kembali beraktifitas seperti biasnya.


Sesampainya di pesawat, Stella melihat Dara yang sedang menidurkan Jingga di dalam kamar pesawat yang tersedia.


"Jingga sepertinya sangat lelah ya," ucapnya dengan lembut pada Dara yang lembut, lalu menuangkan air ke dalam gelas yang ada di atas meja dan memberikannya pada Dara.


"Terima kasih mah," ucap Dara.


"Bolehkah tante tau? Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Stella, yang sangat ingin memastikaan jika Dara akan baik-baik saja.


Dara tersenyum tipis, lalu melihat cincin berlian kecil yang melingkar indah di jarinya, lalu kembali melihat cincin pernikahaan yang dulu disematkan oleh Zein di saat pengucapaan janji suci mereka berdua, dan kembali lagi melihat cincin pernikahaan milik Zein yang dia letakan di jari jempol.


"Sepertinya Zein ingin aku menjadi toko perhiasaan deh tante, coba lihat deh," seru Dara memperlihatkan ketiga cincin yang berada di jarinya.


Melihat senyum Dara, Stella berpikir untuk melepaskan kalung polos yang dia sedang pakai saat ini.


"Berikan kedua cincin pernikahaan itu pada tante," pinta Stella pada Dara.


Sontak saja Dara menjadi bingung dengan permintaan Stella, namun karena tidak ingin banyak bertanya apa-apa, Dara melepaskan kedua cincin yang ada di jarinya. "Ini tante," lirihnya pelan sambil menyerahkan cincin itu di telapak tangan Stella.


"Tante mau, janji suci pernikahaan yang terjalin di antara kalian, terikat dalam satu hati yang tidak akan terpisahkan," seru Stella sambil memasukan kedua cincin itu ke dalam kalung miliknya, dan menyematkanya di leher Dara.


"Tante benar, hati ini akan terus terikat seperti kedua cincin yang akan selalu ada di dekat hati ini," gumam Dara, merasa bahagia ketika Stella memberikannya hadiah seperti ini.


Cuuppp, Stella mengecup puncak kepala Dara dengan penuh kasih sayang.


Dara memandang ke arah Jingga, dan melihat wajah yang begitu mirip dengan suaminya. "Aku tidak akan kembali ke rumah Condo itu tante," jawab Dara yakin.


"Kenapa?" tanya Stella bingung, padahal rumah Zein adalah rumah Condo yang paling mewah di daerah itu.


"Tidak akan pernah ada seorang istri mau tinggal di sebuah rumah yang menjadi kenangan di mana suaminya pernah melakukan perselingkuhan," jawab Dara lagi, sambil terus mengingat di mana kejadian pengkhianataan itu terjadi.


Stella menganggukan kepalanya paham, dan kembali "setelah ini, mulailah babak awal baru kehidupanmu," pinta Stella dengan tulus.


Dara hanya diam saja, tanpa sedikitpun bisa menjawab dan memberikan sebuah kepastian pada Stella.


Apakah dia bisa melewati hari-hari tanpa kehadiraan Zein di sisinya? Bagaimana dia bisa mencari sosok bayangan Zein yang hilang?


Semua pertanyaan-pertanyaan yang terasa sukar untuk dipecahkan, seperti tumpakan Puzzle yang tidak akan bisa disatukan dengan rapi.


Tidak akan pernah ada satu perasaan yang bisa hilang begitu saja oleh karena sebuah kematian.


Dara menutup matanya dan berusaha merasakan kehadiran Zein di sisinya.


"Heyyy," sapa seseorang yang muncul dalam imajinasi Dara.


"Kamu lama banget sih sayang," keluh Dara melihat Zein yang sedang duduk tidak jauh darinya.


"Ssssttt, kamu apa kabar sayang?" tanya Zein yang kini terlihat berjalan melangkah ke arahnya.


Dara mengedikan bahunya singkat, lalu beranjak untuk duduk dipangkuan suaminya.


"Aku sudah lama menunggumu, kenapa lama sekali?" tanya Zein pada Dara.


"Tadi ada sedikit masalah di Mansion keluarga itu," adu Dara pada Zein.


Zein menganggukan kepalanya pelan, karena dia mengerti jika semua pasti akan terjadi.


"Jingga kenapa tidak mau ikut bersama dengan Tasya?" tanya Zein bingung, melihat Dara yang masih mau mengurus anak dari wanita lain.


"Katanya dia tidak mau memiliki ibu yang seorang pembunuh," jawab Dara santai.


Cuuuppp, Zein mengecup pipi Dara singkat, "maafkan aku," ungkap Zein yang dapat melihat kesedihan di dalam hati istrinya.


Namun ketika Dara baru ingin meminta penjelasaan, tiba-tiba saja terdengar suara Stella yang memanggilnya.


"Aku pergi dulu, nanti kalau sudah di rumah baru kita ketemu lagi," ucap Zein, dan segera pergi dari imajinasi Dara.


"Daraa," panggil Stella, dengan membangunkan Dara yang terlihat sedang tertidur.


Dara membuka matanya pelan, lalu tersenyum menatap Stella yang terlihat bingung.


"Kamu bertemu dengan Zein dalam mimipi ya," goda Stella pada Dara yang saat ini tersenyum manis.


Dara menganggukan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Stella. Rasa rindu yang bersarang dalam hati Dara kini sedikit mulai terkikis dengan kehadiran Zein di dalam mimpi Dara.


"Perasaan hati dan cinta kalian memang sudah terikat satu sama lain, teruslah hadir dalam mimpi Dara ya Zein, isi hari-harinya walau hanya di dalam sebuah imajinasi," batin Stella, dengan menaruh harapan penuh pada babak baru ini.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*