
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Dara kini tengah berdiri dan memandang ke arah Jingga yang sedang di kemoterapi dari sebuah dinding kaca transparan.
Tidak lama kemudia terlihat Zein yang berada di belakang Dara, dan memeluk tubuh mungil itu, “apa kamu tau sayang, sebelum bertemu denganmu aku tidak pernah benar-benar menjalani kehidupanku, momen terindah di dalam kehidupanku adalah sekarang, tentang bagaimana Tuhan mengirimkanmu ke dalam sebuah kehidupan yang kosong, lalu Tuhan mengirimkan Jingga sebagai pelengkap sebuah momen terindah,” lirihnya pelan, sambil terus memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Lalu, dia melihat dokter yang sudah membawa Jingga keluar dari ruangan, menandakan bahwa program kemoterapi tahap pertama untuk putrinya sudah selesai.
Zein dan Dara mengikuti Jingga yang tengah dibawa ke dalam kamar rawatnya kembali.
“Apakah Jingga merasakan sakit sayang?” tanya Zein lembut pada putrinya yang kini tengah tersenyum manis kepadanya.
Jingga menggelengkan kepalanya pelan, lalu menggengam erat jemari Zein, dan meletakan jari-jari Zein untuk mengusap wajahnya, di situ barulah Zein menyadari bahwa anaknya tengah menangis, mungkin karena sedari tadi dia menahan sakit.
Zein menghapus air mata yang masih terlihat di pelupuk mata Jingga, “ayah, apakah jemari ayah ini akan selalu menjadi penghapus air mata Jingga ketika putri ayah ini merasakan sakit? Apakah ayah akan selalu jadi penopangku ketika anak ayah ini sudah merasa lelah?” tanya Jingga dengan tatapannya yang sangat penuh dengan harapan.
“Sayang, apa kamu tahu, jika ayah adalah cinta pertama untuk putrinya, jadi tanpa kamu meminta, ayah akan selalu bersama dengan Jingga, melakukaan apapun untuk putri ayah,” jawab Zein dengan penuh keyakinan, memberikan harapan yang selama ini diinginkan oleh putrinya.
Jingga tersenyum, lalu berusaha bangkit untuk memeluk tubuh ayahnya dengan sangat-sangat erat. Bahkan Dara yang berdiri tidak jauh dari mereka, kini memilih diam tanpa ingin menganggu kebersamaan Zein dan Jingga.
Dia melihat Zein dan Jingga yang saling berbagi cerita dengan tawa dan senyum yang tergambar jelas dari wajah mereka.
Hingga beberapa saat kemudian terlihat Jingga yang tertidur di dalam pangkuan ayahnya, sambil Zein terus mengusap serta membeelai lembut rambut putrinya. Tanpa sepengetahuan Dara, Zein meneteskan air matanya pelan.
Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini, tetapi pastinya sebuah perasaan yang sangat sulit untuk diungkapkan.
Setelah merasa bahwa Jingga benar-benar tertidur sangat nyaman, Zein menghampiri Dara yang tengah duduk di sofa, sambil terus memandanginya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dara langsung to the point.
Zein terdiam sambil memposisikan duduknya di sebelah Dara. Lalu kembali memeluk tubuh mungil itu dengan erat, dengan Dara yang menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Zein.
“Besok aku harus pergi, kalau aku tidak pulang, maka hiduplah dengan baik bersama dengan Jingga,” ucap Zein dengan serius.
Sontak saja Dara bangkit dan membalikan tubuhnya untuk menatap wajah Zein dengan lekat, “jangan pergi aku mohon Zein, kita bisa pergi ke belahan Negara lain yang membuat mereka semua tidak bisa menemukan kita dan mulai membangun keluarga dengan baik di sana,” balas Dara, yang terlihat mulai meneteskan air matanya perlahan.
“Dara, apakah kamu tahu? Bahwa tugasku lahir ke dunia ini adalah untuk melakukan sebuah tugas untuk membantu cucu mereka berjuang melawan kejamnya dunia,” jelas Zein pada Dara. Agar istrinya itu bisa mengerti tentang kehidupan dirinya yang terlahir hanya untuk menjadi budak keluarga besar itu.
“Zein tapi aku tidak bisa dan aku tidak akan sanggup jika-,” ucapnya terputus ketika Zein menutup mulutnya dengan sumppalan bibir miliknya.
Di menngecuup bibir Dara hingga keduanya merasa puas, seketika Dara langsung menangis di dalam pelukan Zein, merasakan takut akan sebuah rasa kehilangan.
Setelah pembicaraan yang tidak menemukan titik jalan keluar, kini Dara lebih memilih untuk terus mendekap tubuh suaminya, menikmati setiap detik demi detik kebersamaan mereka. Walaupun dia yakin, suatu saat nanti pasti hati mereka terbuka untuk menerima kebersamaan cinta Zein dan Dara.
Dan untuk Jingga, mungkin jika Tasya sudah bisa menerima keberadaan Dara, barulah Zein akan mempertemukan kembali antara Jingga dan Tasya.
Yang terpenting saat ini adalah, Zein ingin memadamkan sebuah api yang terus berkobar tanpa henti dan membakar mereka semua tanpa henti.
Namun di saat Zein dan Dara sedang menikmati kebersamaan mereka, tiba-tiba saja ponsel Zein berdering dan menandakan adanya pesan masuk.
Zein membuka pesan itu, dan melihat ada yang tidak beres dari semua ini, “sayang, aku harus pergi sekarang," pamitnya pada Dara.
Sontak saja Dara terkejut, dan bahkan memeluk tubuh Zein dengan sangat-sangat erat.
Namun Zein menggelengkan kepalanya pelan, "Dara kamu harus tahu, bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang paling aku cintai di dunia ini," ungkapnya dengan ketulusan. Dan itu sangat terlihat jelas di matanya.
Dara ikut menggelengkan kepalanya menolak apa yang dikatakan oleh Zein pada saat ini.
"Aku mencintaimu Dara, kini nanti dan selamanya," bisiknya pelan, lalu kembali mellumaaat bibir mungil milik Istrinya, dan setelah itu dia beralih melihat Jingga yang masih tertidur dengan pulasnya.
"Jika kamu ingin kita hidup dengan tenang tanpa bayang-bayang mereka, maka izinkan aku untuk pergi meninggalkan sosok Zein yang dulu bersama dengan mereka, lalu aku akan pulang kembali dengan membawa sosok Zein yang baru," mohonya pada Dara, untuk bisa mengertikan posisinya sekarang.
Dara sadar akan semua ini, mau dia memohon sampai seperti apapun, mau sebesar apa keinginan Zein untuk tinggal, namun sebuah tugas yang memang sudah membebaninya dari lahir, kini memang harus diselesaikan, agar mereka bisa hidup dengan nyaman di lain hari.
Tapi sungguh Dara sama sekali tidak kuasa menahan tangisnya, ketika Zein selesai menggecup dan memeluk tubuh putrinya. Dan kini kembali memeluk tubuh Dara. Ingin sekali rasanya Dara meminta dia untuk tetap tinggal namun dia urungkan, karena ini adalah keinginan mereka semua untuk bisa hidup berdamaian.
Cuuuup, Zein mengecup singkat kening istrinya, sebelum berlalu melangkahkan kakinya pergi.
Tangis Dara benar-benar pecah, ketika melihat sosok bayangan Zein sudah menghilang dari balik pintu.
Dia terduduk di lantai karena tidak kuasa menahan kepergian suaminya.
"Zeeeeeiiiiinnnnn," teriaak Dara sekeras mungkin. Dia benar-benar tidak bisa berpisah dari Zein walau hanya untuk beberapa waktu saja.
Di luar sana, Zein yang baru ingin melangkahkan kakinya pergi, kini terduduk di depan pintu ketika mendengar suara teriakan istrinya yang terus memanggil namanya.
"Maafkan aku Dara,,maafkan aku karena membuatmu jatuh cinta kepadaku, maafkan aku karena aku juga telah mengikatmu dengan cinta yang aku miliki."
"Tapi aku bukan seorang Tuhan yang mampu menentukan pada siapa aku akan jatuh cinta, aku tidak bisa menulis sebuah takdir yang akan merubah kehidupan kita, aku hanyalah seorang manusia biasa yang berusaha kuat dihadapan kalian semua."
"Tanpa kalian ketahui, bahwa aku adalah seorang manusia yang paling lemah, aku hancur, aku kecewa,aku marah, tapi aku hanya bisa memendamnya, tanpa perlu orang lain untuk mengetahuinya," ungkapan seluruh hati Zein, yang begitu mencintai sosok istrinya.
Baginya Dara adalah sosok malaikat kecil yang Tuhan kirimkan kepadanya untuk memberikan sebuah momen bermakna di dalam kehidupaanya.
Sebuah hubungan cinta, kewajiban, dan bayangan pengkhinatan, serta dendam yang mengikat sebuah hubungan yang mereka bangun dengan kesuciaan cinta.
Kini harus terus digengam kuat, agar dia tidak benar-benar hilang dan menghancurkan segalanya.
Mereka sudah berusaha untuk mendinginkan sebuah api yang membara, hingga pengorban atas diri mereka juga sudah dilakukan.
Hingga saat ini mereka hanya bisa menunggu hasil dari seluruh pengorbanan itu semua, membiarkan takdir berjalan menentukan arah dan tujuan jalannya itu sendiri.
*To Be Continue. **
Note: teman - teman, Mohon Maaf ya, Mimin mau ngabarin, kalau Give Awaynya Mimin Pindah untuk Karya It’s So Hurts. Karena Mimin tidak bisa melihat hasil kalian jika tertumpuk dengan poin - poin yang lama.
Jadi Mimin pindah ya, Dukungan Give Away karyanya untuk Karya It’s So Hurts 🙏🏻🙏🏻
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*