
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
"Hei, kenapa menangis?” tanya Zein lembut, langsung menghapus air mata yang keluar dan membasahi pipi kesayangannya.
Dara diam dan terus menatap ke dalam mata Zein, “Jika suatu saat nanti kamu sudah berpaling atau sudah tidak mencintaiku, kamu bilang ya, biar aku yang menjauh,” ucap Dara serius.
Seketika Zein langsung menutup mulut Dara,cagar tidak kembali berbicara seperti itu. “Aku tidak ingin lagi mendengar kamu bicara seperti ini, karena sampai kapan pun, aku akan terus mencintaimu, kamu bisa pegang janjiku,” ucapnya penuh percaya diri.
Dara tersenyum menatap wajah Zein. “Aku percaya kamu, tapi aku tidak percaya keadaan,” batinya bermonolog sendiri.
Setelah keduanya asik dengan kegiatan malam mereka dengan bercanda riang bersama. Di keesokan harinya, terlihat Dara yang tengah sibuk di dapur untuk memasak breakfast untuk Zein sebelum pergi ke kantor.
Dengan gesitnya, Dara seperti istri yang menyiapkan keperluan suaminya sebelum pria itu bangun.
“Huft, masak udah, nyiapin pakaian udah, sepatu udah. Ehm, lebih baik aku mandi dulu, baru setelah itu membangunkanya,” gumam Dara yang terlihat lelah di pagi ini.
Zein memang tidak menyuruhnya melakukan itu semua, akan tetapi menurutnya itu adalah tugasnya.
Selepas Dara mandi, dengan hanya menggunakan handuk kimono, Dara keluar dan ingin membangunkan Zein yang masih tidur terlelap.
“Sayang, Sayang, bangun,” panggilnya sambil memainkan pipi Zein yang terlihat seperti mainan.
“Egh Dara, jangan gangu,” sahut Zein dengan mata yang masih tertutup. Lalu memperbaiki lagi posisinya mencari yang enak.
Cup... cup... cup.... Dara menciumi wajah Zein tanpa henti, hingga sang pemilik wajah bangun, dan menahan tengkuk leher Dara dan ******* bibir Dara dengan kelembutan.
“Aahhhssss,” rancau Dara di pagi hari, ketika Zein memainkan gunung kembarnya.
“Udah ih, bangun,” kesal Dara menepiskan tangan Zein dari tubuhnya.
“Jam berapa ini?” tanya Zein bingung, tanpa mau melepaskan tangannya dari gunung Dara.
Dara menoleh ke arah meja nakasnya dan melihat jam yang berada di sana, “Jam 06.30,” jawab Dara. “Aasshh, sakit,” keluhnya ketika Zein malah mengigit ujung gunungnya.
“Kamu ini, semalam udah aku kasih jatah, loh. Sekarang minta lagi, nggak ada capeknya,” hardiknya benar-benar kesal.
Sedangkan Zein hanya diam tanpa menjawab dan terus melakukan kegiatannya, sampai akhirnya dia menarik tali handuk Dara dan melepaskan seluruhnya, Zein berusaha memasukkan kukubirdnya masuk ke dalam apom milik Dara. Hingga setengah jam permainan mereka, barulah Dara dan Zein sama-sama pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka masing-masing.
Setelah selesai membersihkan tubuh mereka, Zein terlihat tengah menggunakan kemeja, sedangkan Dara terlihat tengah mengaplikasikan make-up di wajahnya. “Sayang, jangan tebal-tebal ya, make-upnya, aku nggak suka,” ujar Zein, yang tidak menyukai ketika Dara menggunakan make-upnya.
Dara menolehkan kepalanya menatap Zein dengan tajam. “Kapan kamu melihatku ber-make-up tebal,” balas Dara dengan nada yang kesal, lalu kembali lagi menatap kaca untuk merapikan rambutnya yang bewarna kuning.
“Oh ya, Sayang, kamu pulang jam berapa?” tanya Zein pada Dara.
“Belum tahu, memangnya kenapa ?” tanya Dara balik.
“Ehm,nanti aku jemput ya, jangan ke mana-mana, oke?” balas Zein lagi.
Dara yang telah selesai ber-make-up kini bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Zein. “Breakfast dulu ya, setelah itu baru kita berangkat,” ajak Dara sambil memakaikan dasi untuk Zein.
“Baiklah,” jawab Zein, sambil mengikuti langkah Dara untuk ke meja makan.
“Wah, semua ini kamu yang menyiapkan?” tanya Zein kagum dengan kemahiran kekasihnya.
Dara hanya tersenyum sambil menyiapkan makanan di piring Zein.
Tiba-tiba saja ponsel Zein berdering dan memperlihatkan nama security di bawah. “Ya,” sahut Zein ketika mengangkat panggilan telepon.
“Good morning, Sir, ada orang mau masuk atas nama Justin, boleh masuk, tidak?” tanya security itu meminta izin kepada pemilik rumah untuk memasukkan orang lain.
Zein menoleh ke arah Dara, “Justin itu teman kamu, kan,” bisiknya pelan, lalu dijawab anggukan kepala oleh Dara.
“Kasih dia masuk,” jawab Zein memberi izin pada Justin untuk masuk.
“Bolehkan Justin ikut makan di sini bareng kita?” tanyanya pelan pada Zein yang sedang menikmati makannya.
Zein menatap Dara sekilas, lalu menganggukkan kepalanya pelan. “Kamu boleh menyiapkan makanan untuknya, tapi jangan terlalu sering, karena jujur aku tidak suka,” tegas Zein yang membuat Dara tidak jadi menyiapkan untuk Justin. Biarkanlah nanti Justin yang mengambilnya sendiri.
Ting tong. Bell rumah Zein berbunyi, dan menandakan kedatangan Justin.
Dengan cepat Dara membukakan pintu untuk Justin, cklekkkk, “Halo, Justin, good morning,” sapa Dara lebih dulu.
“Good morning, Mrs, Dara, how are you today?” sapa Justin balik.
“I am good. Ayo, masuk dulu,” ajak Dara menarik tangan Justin untuk masuk.
“Sayang,” panggilnya pada Zein.
“Kenalin, dia adalah Justin, teman yang membawa aku ke sini dan memberikanku pekerjaan sebagai aktris,” ucap Dara memperkenalkan Justin dan Zein.
Zein kembali memasang wajah datarnya seperti biasa, dan Dara sudah memahami itu semenjak Zein menjelaskan jika tidak ada satu pun orang yang boleh melihat senyumnya. “Hai, Justin,” sapa Zein singkat.
Membuat Justin menjadi canggung dan tersenyum kikuk di depan Zein. “Sarapan dulu yuk, Justin! Setelah Zein berangkat ke kantor nanti baru kita juga akan berangkat,” seru Dara memecah rasa canggung yang ada.
Mau tidak mau, dan karena memang lapar, Justin mengikuti dan duduk di samping Zein untuk mengambil makanannya sendiri.
Justin bukan tidak tahu siapa Zein sebenarnya, namun dia berusaha mengabaikan itu dan menganggap bahwa Zein adalah orang biasa.
Namun di tengah-tengah kediaman mereka sambil menikmati makanan paginya, ponsel Zein kembali berdering dan memperlihatkan nama Mamah Stella di sana.
“Ya, Mah,” sahut Zein di saat menggeser icon hijau di ponselnya.
“Baiklah, baiklah aku akan segera ke sana,” balas Zein dan langsung menutup panggilan teleponnya.
“Sayang, aku harus segera berangkat sekarang, istri Kak Aiden diculik dan aku harus segera membantunya,” ucap Zein sambil beranjak dari duduknya.
Dara terdiam dan terus memandang wajah Zein yang datar. Cup. Zein memberikan sebuah kecupan singkat di kening Dara sebelum dirinya melangkahkan kakinya pergi.
Sedangkan Dara hanya terdiam menatap kepergian Zein yang terburu-buru, hingga Justin yang menyadari itu dan langsung menepuk tangannya singkat.
Plok! “Kenapa melamun? Sudah nggak ada orangnya, nggak usah diliatin terus,” seru Justin yang saat ini sudah merasa lega, karena sosok yang menakutkan itu sudah pergi.
Dara tersenyum dan langsung merapikan piring kotor dan segera mencucinya. “Kamu serius menjalin hubungan dengan dia, Dar?” tanya Justin pada Dara yang tengah sibuk membersihkan meja.
“Iya, memangnya kenapa?” tanya Dara balik.
“Kamu nggak takut sama dia?” tanya Justin lagi.
Dara terdiam dan membasuh tangannya ketika sudah menyelesaikan piring kotornya. “Aku tidak takut dengan kepribadiaan dia, tapi kutakut dengan kesetiaannya,” ucap Dara pelan.
Entah mengapa, meskipun Zein sudah berjanji akan setia, tetapi di dalam hati kecil Dara mengatakan jika akan adanya seseorang yang hadir, entah dari pihaknya atau pihak Zein. Yang jelas ini benar-benar sangat menganggu pemikiran Dara saat ini.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻