It’S So Hurts

It’S So Hurts
Menerima Banyak Tamu



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Karena semalam Jingga tidur dengan sangat nyenyak, Dara tidak tega membangunkannya. Hingga di pagi hari inilah baru mereka bisa balik ke rumah mereka.


"Jingga sayang," panggil Dara ketika baru saja sampai di rumah mereka.


Jingga menolehkan pandangnya melihat ke arah mamahnya, "nonton tv dulu ya sayang, biar mamah masak dulu buat Jingga," ucapnya, meminta agar Jingga tidak terus menerus stay di dalam kamar.


Jingga menganggukan kepalanya pelan, walau dia sebenarnya paling tidak suka menonton Tv tetapi dia tetap menuruti ucapan Mamahnya.


Merasa senang karena Jingga mau mendengarkannya, kini Dara segera masuk ke dapur untuk membuat sarapan, karena dia jelas tahu kalau putrinya itu pasti sangatlah lapar.


Dara melangkahkan kakinya mendekat ke arah kulkas, dan melihat barang apa yang bisa dia masak, "ehhhmm, masak apa ya pagi ini?" gumam Dara bertanya pada pemikirannya sendiri.


Namun ketika dirinya sedang sibuk memilih-milih bahan, tiba-tiba saja dari arah luar terdengar suara bel pintu yang berbunyi.


Tingg toonggg


"Eihh, siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini?" ucap Dara, entah bertanya pada siapa.


Dia melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukan angka delapan pagi.


Tinggg tongggg


"Iya sebentar," sahutnya, dan segera melangkahkan kakinya keluar.


Tingg tongg


"Iya, astaga gak sabaran banget sih," keluhnya, merasa kesal dengan tamu yang datang di pagi ini.


Ckleeekkk, Dara membuka pintu dengan cepat, dan terkejut ketika melihat siapa yang baru saja datang.


"Surrrpriseee," teriak mereka semua yang berada di depan pintu.


"Lohhh kalian," seru Dara terkejut ketika mendapatkan bahwa semua orang kini bertamu ke rumahnya.


Ada Tyas, Justin, Dante, Kasim, Mafa, Reta, Stella, Aiden, Freya, Lyla, Griffin, dan beberapa orang lagi yang baru pertama kali dia lihat.


"Heh, masa tamu gak disuruh masuk sih," tegur Tyas, merasa senang melihat Dara yang nyaris saja menangis karena melihat mereka semua.


"Ahhh iya, ayo silahkan masuk," ucap Dara, langsung mempersilahkan mereka semua masuk dan bertamu di rumahnya.


"Hallo Jingga," ucap Mafa pada gadis yang tengah serius menonton Tv.


"Hallo Jingga," sapa Dante, anak Justin dan Tyas.


"Hallo Jingga," ucap semua orang menyapa anak yang sama sekali tidak mengalihkan pandanganya dari tv.


Mereka semua memaklumi Jingga yang seperti itu, karena mereka sadar bahwa Jingga adalah anak yang luar biasa.


Namun berbeda dengan Mafa, dia merasa kesal karena sudah diacuhkan oleh teman barunya itu.


"Jingga," sapanya dan langsung berdiri di depan wajah Jingga.


Sejenak anak itu melihat wajah Mafa, dan terus meningat siapa pria yang berada dihadapaanya.


Lalu di detik selanjutnya, Jingga mulai tersenyum dan segera memeluk Mafa dengan erat.


"Aaahhhh akhirnya dia mengingatku," gumam Mafa, sontak memancing tawa dari semua orang yang ada.


"Aduuhhh, kalian mau minum apa ini semua? Biar saya buatkan dulu ya," seru Dara yang merasa lupa menawarkan mereka semua hidangan.


"Ahhh gak usah repot-repot Dara, tapi keluarkan saja semua yang ada di dapurmu," sahut Tyas dengan santainya, tanpa memperdulikan Justin yang merasa malu dengan sikap cuek istrinya ini.


Dara tersenyum manis, "baiklah, tunggu ya," balasnya dengan ramah.


"Daraa tunggu, kami ke sini bawa makanan kok, jadi kamu gak usah repot-repot ya," seru Freya, yang kini terlihat berdiri ingin membantu Dara di dapur.


"Ahhh, aku jadi gak enak kak, masa tamu yang bawa makanan," balas Dara merasa sungkan dengan semuanya.


"Tidak apa-apa Dara, anggap saja ini party keluarga kita," sahut Stella yang duduk di meja makan dengan ruang tamu.


Karena rumahnya memang terlihat seperti aparteman, membuat Ruang makan, Ruang tamu dan dapur menjadi berdekataan.


Sehingga mereka dengan leluasa melihat kegiatan di dapur serta ruang tamu yang tidak muat menampung beberapa orang lagi, memilih untuk duduk di meja makan.


"Hey Lyla, Griffin kalian jangan diam saja bermain game ya! Itu diambil makanannya di bawah, kurirnya gak boleh masuk," perintah Airein pada dua keponakaanya.


"Pah, telpon Scuritynya! Suruh antarkan ke atas aja makanannya," perintahnya pada Aiden.


"Memang ya zaman sekarang anak-anak ini kalau disuruh, pasti akan menyuruh balik," sahut Aiden.


"Heleh, dulu kamu juga seperti itu, malah lebih parah dari anak kamu," sahut Stella, yang tidak terima jika Aiden menjelak-jelekan cucunya.


Dara dan Freya tersenyum melihat kebahagiaan mereka semua.


Namun tiba-tiba saja, Dara kembali merasakan mual yang berlebihan. Bahkan lebih parah dari perasaan yang semalam.


"Huekkk,,huekk,"


"Loh Dara kamu kenapa?" tanya Freya, yang langsung merasa panik sambil mengusap punggung belakang Dara.


"Hueekkk,,huekkk,"


"Dara kenapa Ya?" tanya Stella, yang juga langsung ikut masuk ke dapur.


Freya menggelengkan kepalanya pelan, sambil mengedikan bahunya singkat.


Begitupun dengan Reta dan Tyas yang juga ikut berdiri melihat keadaan Dara.


"Kamu kenapa Dar?" seru Tyas.


Dara merasa risih dengan semua ini, dia malu karena semua orang kini terfokus padanya.


"Aku juga tidak mengerti, sepertinya masuk angin, karena dari semalam seperti ini," jawab Dara dengan suara yang lemah.


Airein yang baru saja ikut berdiri, kini mendekat ke arah Dara dan menggenggam tangan Dara dengan erat untuk memeriksa denyut nadinya.


"Apa? kenapa?" tanya Stella bingung, ketika melihat senyum yang terbit di wajah putrinya.


Airein mengedikan bahunya singkat, lalu memberikan tangan Dara kepada mamahnya. Dan begitu juga dengan Stella yang perlahan menerbitkan senyum manis di bibirnya.


"Kalian pada kenapa sih?" tanya Dara bingung.


Namun karena Stella dan Airein sebenarnya bukan ahli dalam hal ini, tetapi mereka sudah yakin, sehingga sebelum mereka bercerita, mereka mau memberikan bukti terlebih dahulu.


Airein melihat ada sebuah kertas di atas meja dan segera menuliskan sesuatu di atasnya.


"Lyla, Griffin, bisa minta tolong belikan ini di apotik gak?" serunya bertanya dengan dua keponakaanya itu.


"Baiklah," sahut Lyla, karena dia sudah tau bahwa obat itu untuk tante Dara.


"Ayo Fin, kita pergi," ajak Lyla dengan wajah yang terpaksa.


dengan malas keduanya berdiri dari duduk mereka lalu mendekat ke arah Airein. "Mana sini," ketus Lyla, saat mengambil catatan kertas itu dari tangan Airein.


"Terima kasih anak cantik," lirih Airein karena tau pasti keponakaanya ini merasa tidak ikhlas disuruh-suruh.


"Heemm," jawab Lyla singkat, dan langsung menarik tangan Griffin untuk cepat pergi.


Setelah keduanya pergi untuk membeli barang di apotik, Stella menarik tangan Dara untuk duduk terlebih dahulu.


"Udah ih, kamu pasti capek, biar tante dan lainya aja yang menyiapkan minuman," seru Stella, membuat perasaan Dara semakin tidak enak.


"Aduuh tante, jangan deh, masa iya tamu yang ngelayanin diri sendiri," protesnya, benar-benar merasa sungkan dengan yang lain.


"Sudah tidak apa Dara, mending kamu duduk dan nikmati segalanya," sahut Aiden, sambil menyerahkan sebuah cemilan pada Dara.


Karena terus menerus dipaksa, akhirnya Dara menganggukan kepalanya pelan, menyetujui apa yang dikatakaan oleh mereka semua.


Sementara yang lain, kini terlihat masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Canda dan tawa terdengar dengan riangnya, terlebih Jingga yang sepertinya sangat nyaman dengan keberadaan Mafa di sini, padahal yang Dara tahu mereka baru saja kenal, tetapi sudah begitu akrab sekali.


To Be Continue


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*