It’S So Hurts

It’S So Hurts
Kebahagiaan Baru, Hidup Baru



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Sudah 2 jam lamanya Zein mengendarai mobilnya menuju lokasi yang sudah dia beli.


Dia sengaja memilih pemukimaan yang dekat dengan pantai, agar bisa mengajak putrinya untuk melihat matahari terbenam setiap malamnya.


"Jingga tidur ya sayang?" tanyanya pada Dara, yang sedari tadi melihat wajah Jingga.


"Wajah Jingga ini 100% mirip sama kamu loh sayang, aku suka lihat kamu yang versi cewek seperti ini," candanya menggoda Zein.


Zein tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, "mungkin ini yang membuat dia selalu memperhatikan wajahku dan wajahnya sedari tadi," balas Zein, yang mengingat ulang ketika putrinya terus menatap wajahnya.


"Serius? Jingga sudah menyadari itu?" tanya Dara antusias, dan dijawab anggukan kepala oleh Zein.


"Iyah, putriku ini rupanya sangat pandai," puji Zein, sambil mengusap lembut kepala Jingga.


"Udah ih, kamu ambil Jingga deh, kaki aku kram," pinta Dara, merasakan jika kakinya kesemutan karena terlalu lelah menahan beban tubuh Jingga selama di perjalanan.


Zein beralih membuka pintu mobilnya, dan segera membukaakan Dara pintu, lalu mengambil alih Jingga dari pangkuan istrinya.


"Aku langsung bawa Jingga masuk ke kamar ya sayang," izin Zein, yang dijawab anggukan kepala oleh Dara.


"Oke, hati-hati ya, awas jatuh," sahut Dara, memberikan suaminya itu sebuah peringataan.


Zein tersenyum, lalu segera mengayunkan kakinya masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana.


Rumah minimalis, dengan 2 kamar, dan taman yang luas, serta deru ombak yang akan memberikan mereka semua kenyamaan.


"Selamat datang kehidupan baru," gumam Dara, mendapatkan sebuah ketenangan ketika melihat sunset senja yang menghampirinya.


Setelah puas menatap langit, barulah Dara ikut melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah baru mereka, "sayang, aku ambil koper-koper dulu ya," ucap Zein, setelah memastikan bahwa putrinya masih tertidur nyenyak.


"Iyah, sekalian cari makan ya, sudah waktunya Jingga makan, dan oh ya jangan lupa tebus obat-obatan Jingga," ingatnya pada Zein.


"Baik sayang," jawab Zein.


Sekarang semuanya akan mereka lakukan sendiri, tidak ada anak buah atau yang lainnya, membuat Zein harus terbiasa dengan semua ini.


Namun beruntungnya, Dara sama sekali tidak mengeluh tentang kehidupan ini, istrinya itu sama sekali tidak menuntut untuk mempunyai rumah mewah dan lain-lainnya.


"Ehmm sayang," panggil Zein, ketika melihat Dara yang baru saja mau melangkahkan kakinya masuk ke dapur.


"Hemmm," sahut Dara dengan senyum.


"Aku akan menjual mobil ini, dan menggantinya dengan mobil yang sederhana, apakah boleh?" izinnya pada Dara.


Dara terlihat berpikir sejenak, "sebenarnya kita tidak punya mobil juga tidak apa-apa sih, hanya kasihan Jingga, jika kita ajak keluar pasti dia kedinginan kalau naik motor, jadi yasudahlah, terserah kamu saja bagusnya bagaimana, aku mendukungmu," jawab Dara dengan penuh keyakinan.


Zein menatap Dara sejenak, hingga akhirnya dia langsung memeluk tubuh mungil istrinya itu. "Terima kasih ya sayang, terima kasih karena kamu tetap mau mendukungku meskipun keadaan terjepit seperti ini, aku mencintaimu Dara."


"Aku juga mencintaimu Zein, sangat-sangat mencintaimu," jawab Dara, dengan perasaan yang sangat tulis.


"Sudah, kamu pergi dulu sana, nanti keburu Jingga bangun dan dia lapar loh," seru Dara, mendorong pelan tubuh suaminya agar tidak berlama-lama seperti ini.


"Baik sayang, aku pergi sekarang," sahut Zein, yang lalu melangkahkan kakinya keluar.


Namun, tidak lama Zein keluar, terlihat Jingga yang baru saja bangun. "Ayahhh," panggilnya mencari sosok Zein.


Dara tersenyum, lalu segera menghampiri putrinya, "Jingga sudah bangun sayang? ayah tadi pergi mencari makanan sebentar, Jingga sama mama dulu ya," ucapnya dengan lembut, yang dijawab anggukan kepala pelan oleh Jingga.


Dara menuntun tubuh Jingga untuk duduk di sofa kecil ruang tamu, "mama sisirin rambut Jingga ya sayang," izinya pada Jingga yang hanya diam saja.


Tanpa ada tanggapan, Dara langsung menyisir rambut putrinya yang terlihat sangat berantakan karena bangun tidur.


"Permisi, hallo," suara seseorang yang terdengar dari luar.


"Iya sebentar," sahut Dara. Lalu dia menatap ke arah pintu belakang yang terbuka, dan segera menutupnya.


"Mama keluar dulu ya sayang, Jingga di sini saja," pesanannya pada Jingga.


Setelah itu barulah Dara melangkahkan kakinta keluar, untuk melihat siapa yang datang.


"Hallo ibu, mohon maaf siapa ya?" tanya Dara lembut.


"Oh saya bu Satrowi ketua Rt di sini bu, ingin mendata penduduk baru di kampung ini, ketika saya sudah tau dari kemarin jika rumah ini ada yang beli, saya langsung ke sini untuk mendata," jawab bu Satrowi.


"Baiklah bu, silahkan masuk dulu," ucap Dara, mempersilahkan bu Rt itu untuk masuk.


Dara menghela nafasnya kasar, mengingat keberuntungan ketika Zein sudah lebih dulu menyiapkan berkas-berkas kependudukan mereka.


Dengan canggihnya Zein bisa membuat KTP Dara dan juga Akte kelahiran Jingga yang di dalamnya sudah tertera nama Zein dan Dara sebagai orang tua. "Dia memang pria hebat," gumam Dara, menatap ke arah dokumen-dokumen di tangannya.


Dara segera keluar dari kamarnya, dan melihat bu Rt yang sedang menatap Jingga dengan tatapan aneh.


"Maaf ini bu berkas yang ibu minta," seru Dara dengan ketus, dan segera memeluk putrinya.


Bu Rt yang menyadari itu, langsung tersenyum, "maaf bu, bukan maksud saya ingin memandang aneh kepada anak ibu, hanya saja saya tau dimana rumah sakit yang bisa mengobati penyakit autisme ini bu, dulu anak saya juga seperti itu, dan 1 tahun menjalani pengobataan sekarang dia sudah normal bu, ya walaupun masih sedikit Tantrum, tapi itu lebih baik bu," ucap bu Rt itu.


Dara terdiam sejenak mencerna apa yang dikatakaan oleh bu Rt itu, "boleh minta alamatnya tidak bu? Nanti saya dengan suami saya akan mencobanya," jawab Dara.


"Bisa bu, ini saya tulis ya," balas bu Rt.


"Oh iya bu, ini anaknya mau masuk SMP sini ya?" tanya bu Rt.


Lagi-lagi Dara terdiam tanpa tahu harus menjawab apa. Karena dia sama sekali tidak tahu ijazah atau tentang sekolah Jingga.


"Ehmm, iya bu, anak saya akan masuk SMP saat ini," jawabnya asal. Sumpah demi Tuhan dia akan memaki Zein setelah ini, karena tidak mengatakan apapun soal penambahan umur untuk Jingga.


Dan juga Pria itu sama sekali tidak memberitahu tentang sekolah putrinya. "Kalau begitu, data putri ibu akan saya bawa dan daftarkan di SMP Negri di sini ya bu," izin bu Rt pada Dara.


"Ini Ijazahnya lengkap, dan nilai-nilainya semua di atas KKM bu, waahhh putri ibu ini rupanya sangat pintar," seru bu Rt itu lagi, membuat Dara terdiam tidak memahaminya.


"Ijazah?" tanya Dara bingung.


Bu Rt terlihat menganggukan kepalanya pelan, lalu menunjukan satu kertas yang tidak diketahui Dara itu apa.


"Ini ijazah anak ibu, dan ini Skhunnya bu, nanti akan saya daftarkan ya bu, karena pasti ibu dan bapakknya belum mengetahui prosedur di kota ini," jawab bu Rt.


"Baik bu, saya dan suami akan mengikuti saja apa yang ibu katakan," balas Dara dengan ramah.


"Oh iya bu, di kampung sebelah, nanti malam ada pasar malam, mungkin saja ibu ingin membawa putri ibu jalan-jalan dan bermain di sana," ujar bu Rt memberitahu pada Dara.


Dara menganggukan kepalanya pelan, "saya tanya suami saya dulu ya bu, mau atau tidaknya dia," sahut Dara yang dijawab senyum manis oleh bu Rt.


"Baik bu, semuanya sudah selesai saya data, kalau begitu saya permisi dulu ya bu," pamit bu Rt.


"Oh iya bu, silahkan, terima kasih banyak ya bu, sudah dibantu untuk mendaftarkan sekolah anak saya," ucap Dara dengan sopan.


"Iya bu sama-sama, sebagai warga kita hanya ingin saling membatu," balas bu Rt.


Dara menganggukan kepalanya singkat, dan mempersilahkan bu Rt untuk pulang.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻