It’S So Hurts

It’S So Hurts
Zein Sudah Membunuh Kakakku



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Di sebuah lorong rumah sakit, terlihat Zein yang tengah berlari secepat mungkin sambil membawa surat cerainya bersama Tasya, untuk diperlihatkan dengan kekasihnya.


"Sayang," serunya ketika baru saja sampai di ruangan Dara.


Namun betapa terkejutnya dia melihat ruangan yang kosong dan sudah rapi, "Dara," panggilnya, mencari sosok yang sudah dia sangat rinnndukan.


Zein mencoba mencari Dara di dalam kamar mandi dan lain sekitarnya, tetapi tidak juga menemukaan. Sehingga dia memilih untuk mencoba menghubungi Tyas.


Sedangkan di sisi lain, Dara,Tyas yang berhasil kabur kini terlihat sudah ada di dalam mobil menuju bandara.


"Apa kamu benar-benar ingin pergi dari Zein?" tanya Tyas, yang merasa bersalah karena tadi sudah menghubungi Zein, namun malah ikut kabur bersama dengan Justin sesuai permintaan Dara.


Dara yang mendapatkan pertanyaan itu, kini memilih diam dan menatap ke arah luar jendela.


Dreettt,,dreetttt, ponsel Tyas berdering, menandakan sebuah panggilan masuk.


"Dara, bicaralah dulu dengan Zein untuk terakhir kaliinya," pinta Tyas, sambil menyerahkan ponselnya ke arah Dara.


Dengan rasa malas Dara mencoba untuk mengikuti kemauaan Tyas, "hallo," ucap Dara, dengan suara seraknya.


"Hallo Daraa sayangg, kamu di mana ? Kenapa kamu tidak ada di kamar sayang, heyy, aku di sini," sahut Zein, dengan rentetan pertanyaan yang membuat Dara kembali menangis.


"Hisskk,.hisskk,,hiskk," tangis Dara yang terdengar lewat sambunga telpon itu.


"Kembalilah sayang,aku mohon, aku sudah menceraikan Tasya, kamu bisa melihat surat cerainya sudah ada di tangan ku sayang, kembalilah," pinta Zein, dengan senyum yang gembira menatap pada surai cerai yang berada di tangganya.


Dara menggelengkan kepalanya kuat, padahal dia jelas tahu jika Zein tidak akan bisa melihat itu.


"Sayang bicaralah, apa yang kamu mau ? Katakan apa yang harus aku lakukan untuk medapatkan maafmu ?" tanya Zein merasa bingung serta frustasi.


Namun Dara masih memilih diam, tanpa mengeluarkan suara apapun, "baiklah Dara, jika kamu masih menolak ku, maka aku akan memperlihatkan kamu satu foto, yang akan membuatmu kembali denganku," seru Zein, dan langsung mengirimkan sebuah foto ke dalam ponsel Tyas.


Langsung saja Dara melihat foto yang di kirim oleh Zein.


DEG, jantung Dara seketika berhenti, melihat foto mayat Elang kakaknya yang meninggal di tangan anak buah Zein.


Dara menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini.


Tinggg, lagi-lagi notif pesan masuk, dan memperlihatkan foto Liliy kakak iparnya serta Niki keponakaanya berada di tangan Zein.


"Aku sudah membunuh kakakmu, silahkan berlari dan pergi dariku jika kamu mau dua orang yang tersisa itu mati," ancam Zein, yang mau tidak mau menggunakaan cara terakhir ini untuk mendapatkan Dara kembali.


"Hiskk,,hisskk, kenapa kamu jahat sama aku? Kenapa kamu teggggggaaaa,,Zeiiinnn Alucaaassss," teriak Dara benar-benar sudah merasakan lelah dengan sikap egois yang dimiliki oleh Zein.


Dara langsung mematikan ponsel Tyas dan melemparkan ke sembarangan arah.


"Ada apa Dara ? Kenapa kamu histeris seperti itu ?" tanya Tyas khawatir.


"Zein sudah membunuh kakakku, dan sekarang dia menyandera kakak ipar serta keponakaanku, hiskk,,hiskk," tangisnya, menjawab pertanyaan Tyas.


Sontak saja Tyas dan Justin, meneggang mendengar penuturan Dara, dan menatap satu sama lain untuk bertukar pikiraan secara mata batin.


"Katakaan padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Dara bingung.


Justin terdiam, dan berusaha berpikir keras, "lebih baik sekarang kamu menemui ayahmu saja dulu, tenangkan pikiranmu dan setelah itu barulah mulai mengambil tindakaan, karena jika saat ini kamu mengambil keputusaan, yang ada kamu malah akan menyesalinya," jelas Justin, agar Dara yang masih mempunyai pemikiraan labil itu bisa mengerti baik dan buruknya dalam berpikir.


Dara diam, dan mencerna baik-baik, seluruh perkataan Justin, hingga tak lama kemudian, dia menyetujuinya, dan bertolak pulang ke rumah ayahnya.


Namun Zein teringat akan alat pelacak yang masih bersarang di tubuh Dara, dan tersenyum merasakaan kemenangan.


"Mau kamu lari sejauh apapun, aku pasti akan menemukaanmu Dara, itu pasti," gumamnya melihat ke arah GPS yang menunjukan di mana keberadaan Dara saat ini.


Lalu tanpa berpikir panjang lagi, Zein langsung segera mengendarai mobilnya untuk menyusul Dara.


**


Namun sesampainya di bandara, Zein lagi-lagi mengumpat, karena dia benar-benar terlambat untuk mengejar Dara.


Pesawat yang ditumpangi oleh Dara kini sudah berangkat dari 10 menit yang lalu, "dammn it! Aku harus mengejarnya," umpat Zein lagi, benar-benar seperti manusia yang tidak mempunyai arah tujuan.


"Kamu benar-benar menganggap ancamanku adalah angin lalu Dara, kamu benar-benar mengujiku," gumam Zein, yang tidak habis pikir, jika Dara tidak menggubris kata-katanya.


Zein mencoba terus berlari ke sana dan ke sini untuk menggapai cintanya, berharap jika penerbangaan itu memang salah, namun hasilnya malah nihil, Dara benar-benar sudah pergi.


"Dara,,tunggu aku, kita pasti akan kembali bersama," batinya menatap ke arah langit lepas.


Setelah merasakan lelah, Zein memilih untuk kembali ke rumah, untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya sejenak.


Dia benar-benar letih menghadapi kenyataan ini, "aku ingin tidur saja, aku ingin bertemu Dara saat ini," gumam Zein, berharap akan bertemu dengan Dara di dalam mimpi.


Tanpa Zein sadari, saat ini Tasya sedang memandangnya dari arah kejauhan, "dia sama sekali tidak pernah melihatku, yang ada di dalam pikirannya hanyalah Dara dan Dara, hiskk,,hisskk, Dara, bisakah kita bertukar tempat sementara ? Bisakah aku merasakan indahnya dicintai oleh Zein? Mengapa kamu boleh mendapatkan cinta sedangkan aku tidak," batin Tasya, menahan sesak di dalam dadanya, serta sakit di perutnya.


Di saat Zein masih dalam tidurnya, tiba-tiba saja dia terbangun karena mendapatkan sebuah mimpi buruk di dalam ingatannya bersamaan dengan ponselnya yang berdering.


"Aaahhh damn it! Siapa yang menggangu tidurku," umpatnya kesal, ketika mendapatkan panggilan berulang-ulang.


Dengan rasa kesal Zein mencoba untuk mengangkatnya. "Ya ada apa? Kalau ini bukan berita baik, jangan pernah katakan kepadaku," sahutnya tegas.


"Tuan, ini bukan berita baik, tapi ini berita yang sangat penting," jawab anak buahnya di sambung telpon.


"Katakan!" perintah Zein tegas.


"Pesawat Jt-783, yang ditumpangi oleh Nyonya Dara beserta 2 temannya, di kabarkan jatuh Tuan," lapor anak buahnya.


DEG, jantung Zein, terasa berhenti terpompa, sudah tidak ada nafas yang bisa dia hembuskan begitu saja.


Dadanya ditusuk dengan sangat kuat dan dalam, berharap ini hanyalah sebuah mimpi belaka. "A-a-apa--apa yang coba kamu untuk katakaan? Bicara dengan jelas!" bentaknya dengan berteriak. Bahkan air mata terlihat lolos begitu saja tanpa seizinnya.


"Maaf Tuan, berita yang kami dapatkan sudah sangat-sangat akurat, dan kami mendapatkan jika Nyonya Dara adalah salah satu korbannya," lapor anak buahnya lagi.


"Ararrrrrrggghhhhhhhhh Daraaaa," teriakkknya, hingga lepas kendali.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻