
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Zein mengajak Griffin ke Markas besar milik Aiden. Di sana adalah tempat di mana Aiden dan Zein melakukan aksi-aksi bejadnya. Seperti membunuh, membakar korbanya dan juga melakukan penyelundupan Narkobanya.
Di karenakan Aiden memeliki transportasi dan juga nama di Dunia ini. Itu benar-benar sangat memudahkan langkahnya menyebar luaskan usahanya dalam mengedarkan senjata ilegal dan juga Narkoba hingga berton-ton banyaknya tanpa pernah tercium oleh pihak kepolisiaan.
Kalaupun sampai ada yang berani menyentuh ataupun mengusut usahanya ini. Maka Aiden dan Zein tidak akan segan-segan menghabisi orang itu. Mengingat jika Aiden bahkan pernah menbantai satu keluarga hanya karna ingin membawa kasus Aiden kerana hukum.
Griffin dan Zein berjalan memasuki Markas tersebut, dari luar Griffin sudah melihat banyaknya manusia yang di siksa dan di penggal hidup-hidup oleh beberapa orang yang dia yakini adalah anak buah dari pamanya.
Mereka terus berjalan masuk hingga sampai di tempat utama ruangan itu, Griffin bisa melihat dua orang yang tengah di gantung terbalik bagaikan kelelawar dengan kaki di atas serta kepalanya yang di bawah.
Zein tersenyum lebar dan meminta laporan dari anak buahnya tentang kesalahan dua pria ini.
Cukup lama Zein membacanya, dan setelah selesai Zein langsung tersenyum dengan manis.
Inilah Zein Maurice, sosok anak Lucas Maurice sang Dewa kematian yang paling menakutkan.
Dia tidak pernah tersenyum kepada siapapun termasuk keluarganya. Biasanya dia hanya memaksankan melebarkan mulutnya membentuk sebuah senyuman. Namun jika orang lain melihatnya itu bukanlah sebuah senyuman melainkan sebuah keterpakasaan.
Zein tidak akan pernah tersenyum kecuali dengan lawanya, ataupun korbanya. Senyuman Zein itu mendapatkan julukan sebagai senyuman maut. Karna jika dia sampai tersenyum, maka di saat itu juga Malaikat Maut keluar dan berdiri di belakang siapapun yang melihat senyumnya tersebut.
Dan mulai sejak itulah orang terdekat Zein bahkan Valen sangat menyayangkan hal tersebut.
Dari kecil Zein sudah di didik dengan akhlak dari agama yang di anut oleh Valen saat ini. Namun mungkin memang darah Psychopat itu tidak bisa di rubah dan di hentikan mengalir.
Dia akan terus turun temurun tanpa perduli alam sekitarnya. Zein adalah putra Lucas Maurice penguasa Dunia Gelap di kala itu. Dan sekarang telah di gantikan oleh Aiden yang mungkin sebentar lagi akan lengser karna dia telah memiliki Istri yang melarangnya untuk membunuh.
Sehingga pekerjaan ini langsung di serahkan kepada Zein selaku Generasi kedua dari keturunan Lucas.
"Apa kamu ingin mencobanya Griffin?" tanya Zein yang mulai memberikan pisau yang sangat-sangat tajam itu pada Griffin.
Awalanya Griffin hanya melihat Pisau itu saja, namun tiba saatnya dia tersadar bahwa ini adlaah langkah pertama untuk belajar agar bisa membalaskan dendam kedua orang tuanya. Dan akhirnya Griffin mengambil pisau itu dari tangan Zein.
"Aku yakin bisa melakukanya Paman," sahutnya dengan penuh rasa percaya diri.
"Ah jika begitu baguslah," balas Zein lalu tersenyum menatap kearah dua korbanya yang sontak mengetahui jika ini adalah ajal mereka.
Kedua pria itu terlihat sudah pasrah menerima takdir akhir dari kehidupan mereka. Dari awal mereka sudah tau jika berani bermain dengan Zein itu sama saja menggali kuburan mereka sendiri.
Griffin terlihat menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha memperbaiki posisi pisau itu di tanganya. "You can do Griffin, you can do," gumamnya menyemangatu dirinya sendiri.
Setelah semua keberanianya muncul, kini Griffin langsung melangkahkan kakinya pelan mendekati korban-korban itu.
"Maafkan aku Paman," lirihnya pelan. Dan Sreeeekkkkkk Griffin menyembelih leher salah satu korban itu hingga urat di leher pria itu putus dan memuncratkan banyak darah.
Sedangkan satu pria yang masih tersisa kini terlihat sangat pucat sekali, dia ketakutan melihat aksi Griffin yang di luar batas anak seusianya.
"Nak,hey, saya ini juga orang tua kamu , tolong jangan hisskk,hiskk, paman mohon." Serunya memohon belas kasihan dari Griffin.
Namun Griffin sama sekali tidak berhenti dengan itu. Dia terus menggerakan pisaunya ke wajah pria itu.
"Paman ini adalah giliran mu, maafkan aku! Tapi Paman nakal dan ini harus terjadi." Ucapnya lagi pelan.
Namun dia tak langsung menyembelih leher pria itu. Griffin terdiam sejenak untuk mencoba hal baru.
Dia menolehkan pandanganya melirik ke arah Zein yang tengah melihatnya juga saat ini. "Paman apakah aku boleh bermain terlebih dahulu?" tanyanya pada Zein untuk meminta izin.
"Ya, kenapa tidak, kamu bisa bermain dengan dia sesuka hatimu Griffin, paman akan mengawasimu tenang saja," jawab Zein santai.
Sama sekali tidak ada rasa takut ataupun khawatir di hati Zein melihat keponakanya yang sudah bisa membunuh di usianya yang baru 10 tahun itu. Dia malah berjanji pada dirinya sendiri jika Griffin akan menjadi orang yang paling di takuti di Dunia.
Dia akan menjadi sosok yang tersadis melebihi yang tersadis. Bahkan Aiden dan Zein akan memastikan jika Tingkat kesadisan Griffin nanti akan melebihi dari tingkat kesadisan Lucas.
Setelah mendapatkan Izin dari Zein, kini Griffin kembali memandang ke arah pria yang tengah digantung bagaikan kelelawar itu.
"Paman this time to playing," serunya pelan. Dan mulai melayangkan pisaunya kembali ke wajah pria itu.
"Arrggghh tidaakk ampunnn jangannn,” teriak pria itu kesakitan di saat Griffin mulai menyayat wajahnya dan sampai akhirnya Griffin mulai mencongkel kedua bola matanya.
Bahkan Grffin dengan berani memotong lidah pria itu lalu membuangnya sembarangan.
“Haishh, Griffin bosan paman, kamu gak seru,” lirihnya pelan lalu meniiikamm perut pria itu berkali-kali tanpa ampun bagaikan sedang menusuk boneka beruang yang hanya mengeluarkan busa.
“Kak Briel, kak Albert, aku akan melatihnya menjadi orang hebat, lihat saja kalian pasti akan bangga denganya.” Batin Zein merasa puas dengan hasil pembunuhaan pertama yang dilakukan oleh keponakanya.
Zein terus menerus membawa Griffin untuk menghabisi target-target mereka dengan senuah siksaan dan permainan kecil yang dianggap sangat menggemaskan. Membuatnya semakin tau cara mana lebih bisa membuat kepuasan di hatinya.
Dan hari ini cukup 8 korban yang telah dimutilassi olehnya, dan setelah itu Zein memintanya untuk membersihkan tubuhnya dari darah-darah yang menempel di tubuhnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Zein langsung mengantar Griffin untuk kembali pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, terlihat Jesper dan Valen yang sedangn berada di depan rumah Jesper dengan perasaan yang sangat khwatir.
“Itu Griffin dan Zein,” seru Valen yang melihat kedatangan dua pria yang sedari tadi nyaris membuat mereka gila.
Sebenarnya jika hanya Zein saja yang tidak pulang, maka Valen tidak akan pernah mempermasalahkanya. Karna anak itu memang sudah sering tidak pulanh sampai beberapa hari lamanya.
Namun saat ini dia tengah membawa Griffin keponakanya. Valen sangat takut jika Zein mengajarkan Griffin hal di luar batas.
Jesper terlihat dingin menatap ke arah Griffin, “kamu masuk ke dalam kamar sekarang!” Perintah Jesper dengan sedikit menaikkan suaranya.
Dengan acuh Griffin langsung melangkah masuk ke kamar, tanpa perduli dengan Nenek dan Pamanya yang masih berada di luar. Baginya ini adalah pertama kalinya Kakeknya itu membentaknya, dan itu sedikit membuatnya merasa tidak di sayang.
Setelah Griffin masuk ke dalam, Jesper dan Valen langsung menarik Zein untuk masuk ke dalam rumah juga. Namun beruntungnya Jesper memasang peredam suara di kamar Griffin. Sehingga dia tidak akan pernah mendengar apa yang akan di bicarakan orang-orang di luar.
“Zein apa yang sudah kamu lakukan sekarang! Kemana kamu membawanya tadi!” Bentak Jesper dengan menahan emosinya.
“Tidak ada, aku hanya membawanya ke Markas dan mengajarkanya cara membunuh dan juga memutilasi lawan-lawanya.” Jawabnya dengan santai.
Plaaakkkk Valen replek langsung melayangkan satu tamparan yang cukup keras di pipi Zein.
“Bunda nampar Zein?” Sahutnya terkejut jika Valen berani menamparnya. Seimur hidupnya ini Valen hanya bersikap lemah lembut tanpa tahu cara memukulnya. Namun kali ini untuk yang pertama kalinya Valen menampar dirinya.
“Iya Bunda memukul mu Zein, karna kamu sudah lancang mengajarkan keponakanmu sendiri cara membunuh di usianya yang masih sangat kecil.Ya Allah Zein, apa yang ada di otak mu ha,” tangis Valen yang tak habis pikir dengan jalan pikiran dari anaknya ini.
“Bunda sudah mendidikmu sedari kecil Zein, tapi jika memang kamu mengikuti langkah dari Papah kamu. Bunda sama sekali tidak bisa melarangnya. Itu hak kamu dan dosa juga kamu yang menanggungnya. Tapi Griffin masih kecil, apa jadinya nanti Akhlaknya dia ketika besar?” Serunya lagi menasehati anak kakaknya ini.
Jesper merangkul tubuh Valen agar emosinya tidak meledak seperti ini, “sudahlah mungkin memang ini sudah saatnya Griffin belajar, ini sudah kita diskusikan tadi Valen, tolong jangan mengubah keputusan yang sudah ada,” balas Jesper membela Zein.
Dia membenarkan sikap Zein yang sudah lebih dulu mengambil star untuk membentuk kekuatan Griffin, walaupun untuk kelas membunuh ini adalah hal yang terlalu cepat. Namun Jesper bisa memakluminya.
Karna sedari kecil memang Griffin sudah saatnya di bekali oleh jiwa Psychopat ini, mengintat dirinya memanglah penguasa Dunia selanjutnya. Dan terlebih lagi dirinya yang banyak di incar musuh.
Membuatnya memang harus tahu cara melingdungi dirinya sendiri.
“Tapi ini terlalu cepat Kak,” sahut Valen yang masih belum siap menerima semua ini.
Zein yang sedari tadi hanya diam saja kini mulai bangkit dan menatap ke arah Valen dan Jesper.
“Cepat atau lambat semua ini akan terjadi, Griffin tetap harus menjadi yang terkuat dari yang terkuat. Dan itu harus di mulai sejak dini, untuk masalah kedepanya nanti. Biarkan dirinya sendirilah yang mengatur kekuatanya,” seru Zein dan kini memilih meninggalkan Valen dan Jesper yang sedang terdiam mendengar perkataanya tadi.
“Zein benar Valen, please tolong jangan bawa masalah agama maupun akhlak dalam masalah dendam dan penguasaan. Kamu harus ingat jika keluarga ini dari awal memang sudah berada di Dunia hitam, sehingga akhlak dan agama mungkin akan jauh di tinggalkan. Karna yang terpenting saat ini adalah bagaimanan caranya untuk mempertahankan diri sendiri dan kedudukan.” Ucap Jesper pelan. Namun membuat tangis Valen semakin menjadi.
“Ya Allah, apa ini? Mengapa rasanya susah sekali untuk kami kembali ke jalan yang semestinya, mengapa semuanya harus berada di lingkar gelap ini?” Batin Valen yang memang sudah tidak bisa memberikan komentar apapun tentang masalah ini.
Dia sadar jika dari awal tugasnya hanya merawat Griffin saja, tentang masalah hidup dan langkah kedepanya nanti. Itu semua sudah di tentukan oleh para tetuah khususnya Arvan yang paling berhak atas hidup Griffin.
“Semoga langkah ini tidak salah,” balas Valen menanggapi ucapan Jesper itu.
“Ya semoga.” Balas Jesper juga.
*****
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻