It’S So Hurts

It’S So Hurts
Keadaan Dara



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Di saat mereka semua sedang berdebat, terlihat ketiga dokter yang tadi menangangi ketiga pasien tragedi berdarah itu keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaan mereka dok?" tanya Mario tanpa berbasa-basi.


Dokter yang menangani Arvan kini terlihat tersenyum dengan baik, "Lord Arvan keadaanya sudah stabil Tuan, beliau berhasil melewati masa kristisnya setelah melakukan transplatasi jantung tadi, dan beruntungnya jantung yang diletakan di tubuhnya, ini 96% cocok, jadi itu sangat membantu kami para tim dokter untuk menyelamatkannya," ucap sang dokter.


"Jika begitu, apakah saya bisa melihat Papah saya dok?" tanya Alson, yang terlihat menggengam tangan Mamahnya.


"Bisa Tuan, silahkan saja, Lord Arvan sudah kami tempatkan di ruang perawataan khusus untuknya," jawab dokter tersebut.


Tanpa menunggu apa-apa lagi, Alson dan Jenni langsung melangkahkan kaki mereka untuk melihat keadaan Arvan.


Berbeda dengan Mario dan Stella yang kini kembali menatap dokter yang tadi menangani Zein, yang juga menampilkan ekspresi yang sama.


Sebenarnya Stella juga ingin melihat kakaknya, namun karena dia merasa Alson dan Jenni sudah cukup untuk menjaga kakaknya, dia memutuskan untuk melihat keadaan Zein saja.


"Mungkin karena fisik Tuan Zein yang sangat kuat, itu membuatnya mampu bertahan dan menjaga tubuhnya tetap stabil, ini sebenarnya sungguh sangat luar biasa, bahkan setelah operasi dia masih sudah tersadar saat ini," jelas dokter tersebut, yang membuat Mario dan Stella tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, pasti Dara juga baik-baik sajakan dok," sahut Aiden, yang sedari tadi memikirkan nasib gadis malang itu.


Namun terlihat dokter yang menangani Dara, kini terlihat pucat dan bahkan tak bertenanga, "ada apa dok?" tanya Stella bingung, merasa ada suatu keganjilan.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Princess Stella, tetapi, keadaan Nyonya Dara masih tetap sama, dan bahkan tubuhnya semakin drop dan tidak bisa menerima segala upaya yang masuk," jawab dokter wanita tersebut, dengab gugup.


Sontak saja Mario langsung mengusap wajahnya dengan kasar, terlebih Stella yang mendadak lemas, "Mamah," seru Aiden, yang langsung menopang tubuh Mamahnya.


"Bagaimana ini Mario? Aku takut jika Zein sampai tahu hal ini, dia akan mengamuk lagi dan bahkan lebih parah," tanya Stella meminta pendapat dari Mario.


Mario menggelengkan kepalanya pusing, dia juga tidak tau langkah apa yang akan diambilnya saat ini, "aku tidak tau Stella, masalahnya saat ini kita sulit mengendalikan Zein, sebab dia saja sudah tidak bisa membedakan mana kawan mana lawan," jawab Mario, sambil terus mondad mandir, berharap akan ada ide baru yang masuk dikepalanya.


"Bagaimana jika kita pindahkan Uncle ke Cyberaya?" tanya Aiden memberikan solusi.


Namun Mario menjawab dengan menggelengkan kepalanya, menolak usul yang diberikan oleh Aiden, "kalau Arvan menghilang, takutnya Zein akan menyerang keluarga dekat, bisa jadi dia menyerang Alson atau Jenni sekalipun," jawab Mario.


"Bagaimana jika ke Sanova Island, dan kita akan membawa Alson beserta Jenni kesana," sahut Stella.


Akan tetapi lagi-lagi Mario menggelengkan kepalanya,"kenapa?" tanya Stella bingunh dengan reaksi Mario.


"Kalau Arvan,Jenni, Alson beserta keluarganya pindah ke Sanova Island, bukan tidak mungkin dia menyerang kamu dan aku, yang paling tahu di mana lokasi Pulau itu berada," jawab Mario lagi.


Dan kali ini benar-benar membuat mereka mati langkah. "Jalan satu-satunya yah memang Dara harus sadar dan stabil, tidak bisa tidak, karena kalau tidak Zein akan lebih parah lagi dari sekarang," ucap Mario, membuat Stella mendadak bingung.


"Baiklah, coba sini aku sendiri yang menangani Dara, aku rasa kamu memang tidka becus," ketus Stella, yang langsung masuk ke dalam ruang operasi Dara.


Sedangkan dokter yang tadi menangani Dara, hanya mampu terdiam sambil mengikuti langkah Stella yang masuk ke dalam ruang opreasi, di ikuti dengan dokter yang tadi juga menangani Arvan dan Zein.


Sesampainya didalam ruangan Stella melihat beberapa staf dokter yang tersisa tengah kesusahaan menbalikan detak jantung Dara yang sudah tidak terdeteksi.


Sontak saja Stella langsung menoleh kearah layar monitor yang memperlihatkan detak irama jantung itu.


"Siapkan automated external defibrillator sekarang !" Perintah Stella .


"Defibrillator siap Dok," jawab dokter lainya.


"Siapkan 120J!" pinta Stella.


"120J siap Dok."


Stella segera mengambil alat tersebut, mengambil gel khusus dan mulai menggosok alat itu lalu menempelkanya di dada Dara ,"Satu...dua....deppp.." alat itu mulai mengeluarkan kejutan elektrodanya ,namun tidak ada reaksi apapun dari Jantung Daea.


Sedangkan di sisi lain, terlihat Zein yang berusaha keluar dari ruanganya untuk mencari sosok Dara.


"Dimana wanita yang tadi bersamaku?" tanya Zein pada suster yang merawatnya.


Zein langsung bangkit dan melepaskan selang infusnya secara paksa, "Daraa," panggilnya sedikit berteriak, lalu dia langsung keluar dari kamarnya menuju ruang operasi.


****


Stella terlihat masih sibuk dengan alatnya untuk mengembalikan detak irama jantung milik Dara.


"Lagi 150J," perintah Stella lagi.


"150J siap Dok," balas dokter lainnya.


"Satu..dua..deppp ," lagi -lagi kejutan elektroda itu berkerja namun masih belum menghasilkan irama apapun.


Namun di saat Stella dan tim dokter lainnya sedang bekerja, terlihat Zein yang langsung menerobos masuk ke dalam ruang operasi, bahkan dokter serta suster yang menahanya sama sekali tidak bisa menghentikan langkah Zein.


Mario yang melihat itu, langsung memerintahkan dokter jaga untuk memberikan jalan pada Zein untuk masuk.


Stella yang bingung langsung melirik ke arah Dokter yang lain, dan dijawab anggukan kepala, "biarkan dia masuk dan berbicara sebentar dengan pasien, dan ingat Zein kamu tidak boleh lama karna kami harus segera kembali menanganinya," ucap Stella dengan lembut, dan lalu memberikan jalan bagi Zein untuk mendekat.


DEG


kali ini jantung Zein yang terasa ingin berhenti berdetak. Bagaimana tidak, wanita yang di cintainya saat ini tengah terbaring lemah dan berada diambang kematian karna ulah dirinya.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Zein langsung segera menghampiri tubuh Dara yang masih terlihat banyak mengeluarkan darah. Dia langsung mendekatkan wajahnya kepada telinga Dara, "hey sayang, apa kabar, sudah bertahun-tahun kamu pergi meninggalkanku dan sekarang Tuhan mengmbalikanmu padaku, sayang aku tau kamu marah dan kecewa padaku, tapi aku mohon kembalilah sayang, bantu aku untuk membayar semua kesalahaanku denganmu, hukum aku karena kejahataan yang aku lakukan selama ini Dara, jika kamu pergi, maka bawa aku bersamamu, aku mencintamu Dara, aku mencintaimu," bisik Zein pelan, tanpa terasa dia meneteskan air matanya menahan sakit melihat kekasihnya lemah seperti ini.


Setelah itu, dia langsung menatap ke arah Stella, Sudah Mah, Mamah bisa melanjutkan untuk menyelamatkannya," ucapnya mempersilahkan kepada Stella, para Dokter dan staf yang lain untuk melanjutkan penolongan terhadap Dara.


Tak lupa dirinya memberikan sebuah kecupan singakat dikening wanita kesayangaanya, sebelum akhirnya dia kembali menjauh sedikit untuk memberikan ruang untuk para dokter.


Stella menjawab dengan menganggukan kepalanya singkat dan tersenyum penuh arti ke arah Zein.


Stella yang melihat langkah Zein menjauh, kini kembali mengalihkan pandanganya ke arah dokter dan para stafnya.


"Sekali lagi dok 200J," pinta Stella dengan tegas.


"Baik Dok,200J siap Dok," jawab dokter tersebut


"Satu..dua...deepp "


Tut..tut..tutt suara irama jantung Dara perlahan mulai kembali terdengar berdetak lagi. Sontak saja raut wajah yang tadinya penuh dengan ketegangan, kini berubah dengan senyum dari semua Dokter yang berada di dalam ruangan itu.


"Dok, jantungnya sudah kembali berdetak Dok," seru salah satu Dokter lain yang berada di situ.


Seketika Stella langsung tersenyum lega, "cepat lakukan penanganan yang lain, dan jika darah itu sudah siap maka segera lakukan transfutasi itu!" perintah Stella dengan tegas.


"Baik Dok," jawab para staf dengan serempak.


Setelah itu barulah Stella mengajak Zein untuk keluar ruangan, dan membiarkan dokter lainya menyelesaikan tugas mereka.


*****


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻