It’S So Hurts

It’S So Hurts
Kenangan Indah di Bawah Langit Senja



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Tidak lama mereka mengudara, saat ini terlihat Dara yang sedang berada di kediaman Lesham.


"Dara, kamu sama Jingga istirahat dulu di sini ya, besok pagi baru tante akan suruh supir untuk antar kamu ke bogor," ucap Stella, sambil menunjukan salah satu kamar yang biasa Zein gunakaan jika menginap di Mansion itu.


"Terima kasih ya tante," sahut Dara dengan sopan, tak lupa menundukan kepalanya hormat pada Stella.


"Ya sudah, kamu dan Jingga istirahat dulu gih, tante mau kembali ke kamar," titah Stella lagi sekalgus pamit pada Dara.


"Ohh iya tante, bisa tidak? Jika nanti saya izin keluar untuk pergi ke rumah Zein?" tanyanya ingin mendapatkan izin agar bisa keluar dari Mansion yang sangat ketat penjagaan ini.


Stella berpikir sejenak, lalu menganggukan kepalanya ragu, antara memberi izin dan tidak.


"Tapi perginya nanti sama Lyla ya, biar dia yang mengantar kamu untuk ke sana," kata Stella, yang sepertinya memilih cari aman.


"Ada apa sih tante? Perasaan semuanya baik-baik saja kan, kenapa tante takut saya pergi sendiri tante?" tanya Dara bingung, menatap wajah Stella yang sangat jelas terlihat ragu.


Stella menggelengkan kepalanya singkat, sebagai jawaban pertanyaan Dara. "Tidak apa-apa, hanya saja Tante khwatir dengan kondisi kamu yang masih lemah ini, dan kamu mau keluar sendiri," jawabnya.


"Tante, Dara tidak apa-apa kok, Dara sudah sehat sekarang," balasnya lagi.


"Iyah sudah, kalau begitu kamu istirahat dulu, lalu nanti agak soreaan baru di antar sama Lyla," ucap Stella.


"Baik tante," balas Dara, dan segera masuk ke dalam kamar dengan terus menggengam tangan Jingga.


Ketika pintu kamar sudah di tutup rapat oleh Dara, air mata yang sedari tadi ditahan oleh Dara kini kembali merosot keluar tanpa izin dari pemilik mata.


"Hisskkk,,hissskkk,,Zeinnn," tangisnya kambali tumpah tepat dihadapan Jingga.


Meskipun dia terlahir sebagai anak yang istimewa, tetapi Jingga bisa merasakan dan bisa melihat betapa hancur hati mamahnya saat ini, meskipun sudah ditutup dengan sebuah senyum yang sedari tadi terlihat di wajahnya.


Tetapi inilah Dara yang sebenarnya, dia rapuh, dia sakit, dia hancur, tapi tidak akan pernah ada yang memahami itu semua.


Jingga menatap Dara tanpa suara, membiarkan mamahnya menangis hingga puas terlebih dahulu.


"Zeiinnnn,,hiskkk,,hisskk, kenapa harus pergi Zeinnn kenapa?" tangisnya dengan bersuara parau.


Mencoba memeluk tubuh Dara, Jingga yang sesungguhnya merasa takut dengan semua orang saat ini, namun memberanikan diri terhadap Dara.


"Mamah," lirihnya pelan, sontak menyadarkan Dara bahwa di dalam ruangan ini masih ada Jingga yang tidak boleh mendengar kerapuhaanya.


Dengan buru-buru dia menghapus air matanya, dan kembali mencoba tersenyum ketika Jingga menatapnya dengan lekat.


"Mamah gak apa-apa kok sayang, mamah hanya masih merasa kehilangan sosok pria yang selalu memeluk mamah di kalla mentari senja menghampiri, yang memberikan kenyamanaan di dalam setiap hembusan nafasnya, yang mencintai mamah dan Jingga dalam setiap detakaan jantungnya, mamah rindu ayah kamu Jingga, mamah rindu ingin memeluknya seperti kenangan indah di saat mentari senja menghampiri," curhatnya pada Jingga. Yang entah akan mengerti yang dia katakan atau tidak.


Yang jelas dia sangat paham tentang sebuah kerinduaan dan pastinya Jingga juga sedang merindukan ayahnya saat ini.


"Mamah, Jingga lapar," adunya pada Dara.


"Ohh,,astaga sayang mamah, maafkan mamah yang terlalu fokus dengan rasa sakit mamah, sampai lupa dengan keadaan anak cantik mamah ini," sahut Dara, yang benar-benar lupa jika dirinya sudah tidak mengurus Jingga beberapa hari ini.


Di saat Dara baru saja ingin berdiri, Jingga langsung memeluk tubuh Dara dengan sangat erat, "mamah, Jingga sayang Mamah, Jingga sayang Ayah, tapi Jingga takut bersama ibu," ungkapnya baru berani mengatakan semua apa yang sedang dia pikirkan.


Dara mengerti dengan apa yang tengah dirasakan oleh Jingga saat ini, "mamah tau sayang, nanti kita bicarakan lagi ya, sekarang katakan sama mamah, Jingga mau makan apa? Biar mamah masak untuk putri cantik mamah ini," ujar Dara sambil memeluk tubuh jingga dan mulai menggendongnya.


"Aahh mamah Jingga takut," teriaknya karena merasa takut ketika Dara menggendong tubuhnya.


Namun bukannya menurunkan Dara malah semakin menggendong Jingga dengan erat lalu berjalan keluar kamar. "Mamah, Jingga mau makan bakso," pinta Jingga pada Dara.


"Dulu Ibu sering mengajak Jingga makan bakso, dan sekarang Jingga ingin makan bakso," ucapnya memperjelas apa yang dia inginkan.


Jujur saja Dara bukan tidak mau menuruti apa yang diinginkan oleh Jingga, namun dia benar-benar tidak tahu apa itu bakso? Karena selama dia hidup bersama Zein, sekalipun pria itu tidak pernah membawanya untuk makan bakso.


"Tunggu ya kamu Zein, bisa-bisanya kamu tidak memberitahuku tentang makanan itu," gumam Dara merasa kesal dengan Zein.


"Ehhmm sayang, begini,"


"Mamah bukan tidak mau membuatkan bakso sayang, tetapi mamah tidak tahu apa bakso itu,hiskk,,hisk," keluh Dara memasang ekspresi wajah sedih dihadapan Jingga.


Namun sepertinya Jingga tidak mengerti dengan apa yang dikatakaan oleh Dara saat ini. Hingga dia hanya terdiam dan menatap wajah Dara dengan teliti.


Sampai saat Aiden datang dan menilah Dara dengan Jingga yang saling bertatapan dengan aneh.


"Kalian ngapain?" tanya Aiden pada Jingga dan Dara.


"Ehh kak Aiden, ini Jingga sedang lapar kak, dan dia mengatakan jika dia ingin makan bakso," jawab Dara, sambil mengelus lembut puncak kepala Jingga.


"Lalu apa masalahnya? Tinggal belikan saja kenapa kamu diam dan menatapnya dengan wajah seperti itu?" tanya Aiden kembali bingung.


Dara menggarukan lehernya yang tidak gatal untuk menutupi kegugupaanya.


"Jangan bilang kamu tidak tahu bakso itu apa? Benar begitu Dara?" tanya Aiden lagi penuh selidik, yang merasa curiga ketika Dara masih saja diam dan tidak ada keinginan untuk membeli bakso.


Dara menganggukan kepalanya pelan, rasanya malu sekali ketika seorang wanita tidak mengenali masakan-masakan daerah.


Barulah di situ Aiden memahami jika Dara masih belum banyak belajar tentang budaya dan makanan khas Indonesia.


"Baiklah Jingga, Uncle akan membawamu pergi makan bakso," ajak Aiden pada Jingga.


Akan tetapi ajakaan itu terdengar di telinga Freya,Lyla,Stella dan Arnon yang kini berjalan mendekati Aiden.


"Bos,,bos, kita juga ikut ditraktir bakso kan bos," goda Stella pada putranya yang tajir itu.


"Iyahloh Aiden, sekarang perusahaankan kamu yang pegang, jadi mamah dan papah miskin sekarang, jadi kita masuk ke daftar tagihanmu jugakan," seru Arnon yang mendukung kalimat istrinya Stella.


Aiden berpikir sejenak, lalu melihat ke dalam dompetnya, yang hanya mempunyai uang 100.000 1 lembar.


Dan bahkan dia memperlihatkannya kepada seluruh keluarga dengan menerawangnya. Lalu dia kembali membalikkan dompetnya dan terjatuh uang 500 perak di dalamnya. Membuat mata Stella membulat seketika. Beberbeda dengan Arnon yang langsung memeluk tubuh putranya dengan erat.


"Hiskkk,,hisskk, nasib seorang suami yang mempunyai istri sebagai guru matematika," lirih Arnon pelan, benar-benar menyinggung para istri yang menjajah kehidupan mereka.


Stella dan Freya yang merasa tersindir kini hanya menelan salivanya kasar, dan memandang kedua pria yang sedang terjajah oleh wanita-wanita kesayangannya.


"Itu agar kalian tidak bisa berselingkuh di luar sana," tegas Stella yang membuat kehidupan mereka semakin menderita.


Sedangkan Dara kini hanya tersenyum manis, karena dia dulu tidak pernah berprilaku seperti itu terhadap Zein selama kebersamaan mereka.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*