
**Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Ketika Dara baru saja ingin masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja pintu apartemen Tyas berbunyi.
“Ting,,tong,”
“Ya sebentar,” sahut Dara, dan segera mengintip ke arah kaca yang tersedia.
“Zein,” gumam Dara bingung melihat sosok kekasihnya yang ada di depan pintu apartemen temannya.
Dara segera membuka pintu itu, karena tidak ingin kekasihnya itu menunggu lama, “Sayang, ada apa?” tanya Dara bingung.
“Kamu meninggalkan ponsel dan tasmu di mobilku, karena aku merasa ini penting jadi aku putar balik dan ingin mengembalikannya padamu,” jawab Zein dengan menyerahkan tas milik Dara.
Sontak saja Dara langsung menepuk singkat keningnya karena lagi-lagi dirinya bisa seceroboh itu hingga membuat orang lain susah.
“Maafkan aku, Sayang, aku lupa,” sahut Dara, dan langsung memeluk Zein sebelum Zein memeluknya.
Ketika Zein baru ingin membalas pelukan Dara, dengan cepat Dara menjauhkan tubuhnya.
“Ehmm, mau masuk dulu nggak?” tanya Dara basa basi, karena wajah Zein yang terlihat bingung ketika Dara melepaskan pelukannya begitu saja.
“Teman kamu mana ?” tanya Zein menatap ke dalam apartemen.
“Dia pergi tadi, katanya ada syuting di luar kota,” jawab Dara lembut.
Zein menatap Dara dengan lekat, membuat Dara menyeritkan keningnya bingung. “Ada apa, Sayang?” tanyanya sambil ikut meneliti dirinya sendiri.
“Ikut aku,” ajak Zein langsung menarik tangan kekasihnya.
“Ke mana?” tanya Dara.
“Kamu tutup saja dulu pintunya dan kirim pesan ke teman kamu, jika malam ini kamu menginap di tempat kekasihmu,” titah Zein, yang langsung diiyakan oleh Dara.
“Tapi tunggu, aku ingin mengambil pakaianku dulu,” pintanya menahan langkah kekasihnya.
“Tidak perlu, Sayang, aku tidak kekurangan uang untuk membelikanmu pakaian ganti,” jawab Zein tegas.
Dara yang tidak ingin berdebat dengan kekasihnya itu, kini memilih untuk diam dan mengikuti apa pun keinginannya.
Dengan langkah gesit Dara segera mengunci apartemen Tyas, dan tak lupa mengirimkan pesan kepada temannya itu, meskipun banyak pertanyaan dari Tyas, akan tetapi Dara berusaha meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja.
Ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil, Zein terlihat langsung memasangkan seatbelt untuk Dara, “Besok aku akan dijemput oleh Justin, untuk syuting di Bandung,” ucap Dara memberitahukan kepada Zein jadwalnya besok.
“Aku tidak mengizinkan,” jawab Zein tegas.
“Tapi aku tidak meminta izin,” sahut Dara dengan polosnya, membuat Zein kembali menatap wajahnya dengan lekat.
“Andara Naqquenza, kamu itu baru kenal dengan Justin, bagaimana kamu bisa percaya jika dia akan berniat baik atau tidaknya kepadamu?” seru Zein berusaha menjelaskan agar Dara tidak begitu percaya dengan orang-orang baru.
“Tapi kamu dan aku kan juga baru kenal, lalu kenapa boleh menjalin hubungan?” tanya Dara sinis demi membalikan kalimat Zein yang mengatakan orang baru.
Zein mencoba menarik napasnya dalam, sambil berpikir solusi yang terbaik. “Baiklah, kamu boleh pergi asal kamu tidak keberataan jika salah satu anak buahku ada yang mengawalmu,” tegas Zein mutlak.
Dara diam dan memperhatikan wajah Zein, dengan mengambil cemilan yang ternyata masih di simpan di mobil Zein. “Okey,” jawabnya singkat.
“Okey?” tanya Zein meyakinkan jawaban okey dari kekasihnya.
“Ya, apa pun yang kamu bilang bukankah sudah tidak bisa dibantah lagi?” tanya Dara kembali.
Zein mengedikkan bahunya singkat, dan langsung menyalakan mesin mobilnya. “Aku paling membenci ketika ada pertengkaran seperti ini,” tandas Zein kesal.
“Kita tidak bertengkar, hanya saja ketika salah satu dari kita mengeluarkan pendapat maka yang lainnya akan memberikan pendapat yang lain, kan,” sahut Dara pelan.
Zein terdiam dan kini memilih fokus untuk mengendarai mobilnya menuju kondominium miliknya.
“Huwaaa, apartemanmu lebih mewah daripada punya Tyas tadi ya,” seru Dara merasa takjub dengan tempat tinggal kekasihnya.
“Ini bukan apartemen, Sayang, ini kondominum,” sahut Zein, memperbaiki pemikiran Dara.
Namun belum saja Zein menjawab, dari arah depan, terlihat banyak security yang berdiri dan memeriksa mobil-mobil yang baru masuk kecuali pemilik-pemilik rumah kondo tersebut.
“Kenapa ketat sekali pemeriksaannya?” tanya Dara bingung.
“Itulah yang disebut kondominium. Mungkin memang terlihat sama dengan apartemen, tapi ini rumah kondo yang keluar masuknya sesuatu harus melewati pemeriksan yang ketat,” ucap Zein menjelaskannya pada Dara.
Sesampainya di parkiran, Zein dengan tenang memarkirkan dulu mobilnya dengan rapi, setelah itu barulah dia membukakan pintu untuk Dara dan lalu menggandeng tangan kesayangannya itu naik ke atas, di mana rumahnya berada.
“Apa kamu tinggal di sini sendiri?” tanya Dara penasaran.
Zein menganggukkan kepalanya pelan, “Iyah, Bunda tidak tinggal bersamaku, tapi jika aku merindukannya, biasanya aku pulang,” jawab Zein.
“Oh begitu,” balas Dara pelan.
“Sayang, aku mandi dulu ya, kamu bisa melakukan apa saja di sini, oke, cupp,” pamit Zein, memberikan keccupan singakat di kening kekasihnya, dan meninggalkan Dara sendirian di ruang tamu.
Dara yang tidak bisa tinggal diam, kini mencoba melangkahkan kakinya ke dapur, mencari sesuatu yang bisa dia masak untuk Zein, karena dia tahu jika kekasihnya itu belum makan apa pun sedari tadi.
“Hemm, mau masak apa ya?” tanyanya pada diri sendiri sambil membuka kulkas dan melihat isi di dalamnya.
“Ahh masak ini,” lirihnya lagi, lalu mengambil beberapa barang yang akan dia masak.
Dengan suka riang, Dara memasak apa yang dia bisa, sudah seperti seorang istri yang sedang memasakkan suaminya. “Awwwwhhhh,” jeritnya kesakitan di saat tanganya menyentuh panci yang panas.
“Ada apa?” tanya Zein khawatir.
Namun Dara hanya mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit, dengan cepat Zein mengambil es krim bertempat mini di dalam kulkasnya dan memasukkan tangan Dara ke dalamnya. Cuuppp, lagi-lagi dia memberikan sebuah keccupan di pipi Dara.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Zein melihat beberapa hasil masakan dari kekasihnya.
“Hanya sedikit memasak untuk kesayanganku,” jawab Dara pelan.
Zein yang refleks langsung memakan es krim yang ada di tangan Dara, dan menggendongnya naik duduk di atas meja, dengan tangan Dara yang melingkar di lehernya.
“Apa kamu mencintaiku?” tanya Zein serius, sambil menggenggam salah satu tangan Dara dan mencciiumi punggung tangan mulus itu.
Dara tersenyum dan memeluk Zein dengan
sayang. “Aku mencintaimu,” bisiknya pelan.
Ckleekkk pintu rumah Zein terbuka dan memperlihatkan Aiden yang membulatkan matanya besar terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.
“Ehhheeemmm, pantas saja tidak kembali ke kantor, ternyata lagi mesra-mesraan di sini,” tegur Aiden, sontak membuat Dara melepaskan pelukannya, karena merasa malu dengan kedatangan pria asing.
“Sayang, aku ke kamar ya,” pamitnya pada Zein.
Namun Zein menahan tangannya dan membawanya duduk di ruang tamu.
“Sayang, kenalkan dia adalah kakak aku, Aiden,” ucap Zein memperkenalkan Aiden pada Dara.
“Halo, Kak Aiden,” sapa Dara canggung.
Aiden berusaha tersenyum walau setipis mungkin.
“Halo, Dara, sudah lama berhubungan dengan Zein?” tanya Aiden langsung to the point. Seketika Dara langsung menjadi gugup dan meremas kuat tangan kekasihnya.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻