
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Aiden dan Freya kini terlihat sudah berada di rumah sakit, mereka benar-benar menemani Dara selayaknya kakak dan adik yang sedang menjaga adiknya.
Setelah lima jam berlalu, Dara terdengar mulai menjerit di saat dokter mengatakan jika dirinya sudah memasuki pembukaan kelima.
"Aaahhhhsssshh, sakit,," keluhnya berusaha bertahan menahan rasa sakit yang tidak bisa dia gambarkan.
Dia memeluk tubuh Aiden, meletakan kepalanya di perut Aiden, dengan posisi dirinya yang duduk dan Aiden yang berdiri. Sedangkan Freya kini terlihat mengusap kepala Dara dengan lembut, bersamaan dengan Aiden yang mengusap punggung Dara.
Jika tidak ada yang tahu, siapapun pasti bisa mengira jika Aiden adalah suami Dara. "Sabar ya Dara, semuanya nanti akan terbayar ketika kamu melihat baby yang akan lahir." Freya terus berada dipihak Dara, dia benar-benar tidak perduli dengan tanggapan, kenapa Freya membiarkan Aiden dan Dara bertingkah seperti itu, dia tidak perduli jika ada yang mengatakan tentang perselingkuhan Aiden dan Dara.
Yang lebih tahu adalah dia, Freya bahkan masih bisa melihat perasaan cinta yang sangat besar terpancar dari mata suaminya. Dan lagi Cinta yang besar Dara terhadap mendiang Zein juga masih tersisa.
"Sayang, kamu itu kenapa usap kepalanya, ini itu perut yang sakit," protes Aiden yang bingung melihat istrinya.
"Lah, gimana mau usap perut, kalau ketutup sama badan kamu yang sexy," Freya tidak sadar bahwa dirinya saat ini tengah menggoda suaminya sendiri.
"Awwww,,awwww," goda Aiden, yang sontak mendapatkan cubitan keras dari Dara.
"Aaaaahhhrrgg Dara, kamu kenapa cubit kakak," keluhnya sambil mengusap perutnya yang dicubit Dara.
Sedangkan Freya kini tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi suaminya, "kan,,kan jangan isengn sih, ada pawang aku sekarang," Freya dan Dara tertawa bersama.
Hanya tiga menit sakit itu hilang, dan akhirnya kembali lagi, membuat Dara memeluk Aiden kembali.
"Itukan, makannya jangan kualat ama yang lebih tua." Seronohnya yang membuat Freya ingin sekali mengigit suaminya saat ini.
"Ehem,,eheeem," suara seseorang yang kini membuat mereka bertambah pusing, apa lagi melihat orang itu membawa belanjaan serta barang-barang yang membuat ruang VVIP yang sangat luas itu seketika menjadi sangat sempit.
Membuat Dara rasanya ingin semakin menjerit, "pahhhh, anak siapa itu," ringisan Freya, selalu merasa pusing dengan tingkah laku anaknya.
"Pah, aku sudah melakukan tugas aku sebagai anak yang baik pah, hari ini aku sudah menghabiskan uang papah 800 juta, ehhm, sebenarnya kurang sih pah, tapi gak papa deh, kan nanti bisa belanja lagi," Ucap Lyla dengan santai.
Dia bahkan terlihat menghitung-hitung barang yang ada, "aaahhhh semuanya lucu banget sih."
Lyla buru-buru menelpon Griffin karena ingin memperlihatkan semua barang-barang yang dia beli.
"Aahhhh, kangen banget," serunya dengan antusias.
"Ihhhh,, udah gak usah gitu, luu itu gak ketemu aku selama beberapa bulan, tapi sudah sampai gitu aja," sahut Griffin.
Tanpa memperdulikan perkataan dari Griffin, dia langsung memutar kameranya untuk memperlihatkan semua barang-barang yang dia beli.
Namun reaksi Griffin hanya tersenyum dengan tipis. Dan Lyla merasakan semua itu.
"Fin, kamu kenapa berubah?" tanya Lyla dengan serius.
Griffin menggelengkan kepalanya pelan, merasa acuh dan memilih untuk fokus dengan gamenya.
Merasa muak karena tidak ada tanggapan dari Griffin, Lyla memilih untuk mematikan panggilan tersebut.
Dia sekilas menghapus air matanya yang terjatuh karena sikap Griffin yang begitu dingin kepadanya.
Ini bukan Griffin, pria itu sudah berubah dengan sikap yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
"Aaaarrrggghhhhh,,aku sudah gak kuat, pleasee,,pleaseee, Tuhann aku gak kuat, kak Freya,kak Aiden, ini sakit," Dara benar-benar tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa sakitnya.
Aiden menghela nafasnya berat, sedari awal ketika dia meminta untuk Dara melakukan operasi, semuanya pada menolak. Dan jika saat ini dia meminta, pasti akan dilarang oleh dokter dengan banyaknya segala pertimbangan yang ada.
Dan yang bisa dilakukaan saat ini hanyalah sabar dan berusaha untuk menyemangati Dara untuk melewati semua ini.
****
Setelah melewati saat-saat sulit, kini semua keluarga telah berkumpul, dan melihat wajah dari manusia baru yang terlahir ke dunia.
"Aaahhh ya ampun, lucu sekali."
Malah seperti pinang yang dibagi dua, sayangnya ini adalah versi wanita, andai saja yang terlahir adalah laki-laki, pasti saat dewasa nanti, orang lain akan mengira jika Zein sudah bangkit dari kubur.
"Dia benar-benar hanya menumpang hidup di rahim mamahnya, tetapi semua dia ambil dari papahnya."
"Iyah, tinggi badan saja sepertinya ikut Zein," sahut Dara, yang merasa bahwa semuanya tidak adil baginya.
Tidak ada satupun dari tubuh babynya yang mirip dengannya, bahkan tinggi badan dan juga rambut semua ikut pada Zein, coklat gold.
"Berapa sih tingginya?" tanya Stella yang sedari tadi terus menggendong cucu barunya.
"52," jawab Freya.
"Huwaaa, perfect banget sih baby ini," puji Stella yang tidak henti-hentinya menatap baby girl.
"Sumpah demi apapun, ini adalah bayi tercantik yang pernah mamah lihat, benarkan Fre," ujarnya meminta persetujuaan dari menantunya.
"Iya benar mah, aku juga gak bisa berhenti melihat wajahnya, ya Tuhan, bisa-bisanya ada bayi selucu dan secantik dia." Freya merasa gemas, sampai tak ingin berhenti untuk menciumi wajah dari little baby.
Aiden menggelengkan kepalanya, dan memeluk tubuh putrinya. "Kalau aku, baby dan wanita yang paling tercantik di dunia itu ya anak aku, Kalyla Nafezza," sahut Aiden, yang selalu menomor satukan putri kesayangaanya.
"Dia memang perempuan yang paling cantik di Negara ini," balas Freya, yang juga selalu mengatakan hal sama.
Lyla selalu bersyukur, karena mempunyai kedua orang tua yang begitu menyayanginya, semua kasih sayang, cinta dan kebahagiaan, rasanya sudah sangat sempurna dia dapatkan.
"Tetapi, kapan mamah mau kasih aku adik mah, aku juga ingin punya adik," pintanya pada Aiden dan Freya.
"Gimana mau punya adik, orang mamah aja kalau diajakin bikin sekarang susah," lirih Aiden dengan santai, tanpa perduli tatapan sinis dari yang lainnya.
"Heh, mulut-mulut," tegur Stella, yang sontak memancing tawa dari yang lainnya.
LINZIERA MAURICE nama yang begitu indah mereka sematkan untuk the little baby girl. Untuk sebuah harapan baru dengan kehidupan baru.
***
Sedangkan di sisi lain, terihat seorang anak yang tengah berjuang dengan penyakitnya bersama dengan ibunya.
Anak itu terlihat menatap sendu ke arah senja yang dia lihat dari dalam jendela ruanganya.
Dia melukiskan sebuah gambar untuk mencurahkan seluruh rasa kerinduannya pada ayah dan mamahnya.
Jingga, gadis cantik itu kini hanya terdiam untuk berjuang menghadapi penyakit yang di setiap detiknya mulai menggrogoti kehidupaannya.
Semenjak dirinya diambil paksa dulu, anak itu tidak pernah membuka suara sama sekali, bahkan ketika dia menangis menahan sakit, dia juga berusaha tidak mengeluarkan suaranya.
Dia begitu marah dengan keadaan, tetapi tidak ada satupun yang paham dengan perasaannya.
Semua sama-sama egois, dan hanya mementingkan diri sendiri.
Jingga, ibu sudah masakin makanan kesuakaan kamu sayang.
Jingga, ibu hari ini akan menemani kamu seharian.
Jingga, nenek membelikan banyak pewarna dan mainan untuk kamu.
Jingga, Jingga, dan Jingga. Selalu nama itu yang mereka panggil tetapi tidak pernah ada respon sama sekali dari si pemilik nama.
To Be Continue
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*