
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Zein yang sudah melakukan perjalanan 3 jam lamanya untuk bisa kembali ke rumah Valen, kini dengan santainya dia masuk ke dalam rumah yang telah menjadi saksi bisu kehidupannya sedari awal dirinya ditinggalkan oleh mamah dan papahnya.
Zein menatap ke arah foto besar yang menampilkan kemesraan Lucas dan Tenry di dalamnya.
"Apakah dulu ketika Papah jatuh cinta pada mamah, ada seseorang yang menentangnya?" tanyanya lirih pada bingkai besar itu.
"Apakah dulu papah disalahkan atas cinta yang di dalam diri papah?" tanyanya lagi, namun kali ini dengan suara yang sangat terdengar lemah.
"Apakah dulu ada yang menyalahkan atas lahirnya papah ke dunia ini karena papah mencintai mamah?" tanyanya lagi, tanpa satupun yang bisa menjawab semua pertanyaanya.
Hati Zein benar-benar sakit menahan luka yang terus menerus diberikan kepadanya, terutama pada Dara yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
Tanpa dia sadari, jika sedari tadi Valen mendengar semua yang diungkapkan oleh keponakaanya itu.
Tetapi dia sama sekali tidak bisa bicara apapun, yang terpenting adalah Zein mau untuk kembali pulang saat ini.
Merasakan keberadaan dari Valen, Zein memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Valen begitu saja tanpa ada tegur sapa di antara mereka.
Namun setelah dia beristirahat kurang lebih satu jam lamanya, dia mendengar ada sebuah ketukan pintu dari luar kamarnya. "Griffin," gumam Zein.
Tokk,,tookk Griffin mengetuk pintu kamar Zein berulang kali hingga pamannya itu membukakan pintu untuknya.
"Griffin ada apa?" tanya Zein ketika baru membuka pintu itu.
Dan tanpa aba-aba Griffin langsung berlutut di bawah kaki Zein dengan tatapan penuh permohonan, "apa yang sedang kamu lakukan Fin?" tanya Zein lagi bingung dengan sikap Griffin yang tiba-tiba seperti ini.
"Tolong antarkan aku untuk menemuinya paman," mohonya dengan sangat pada Zein.
"Menemui siapa?" tanya Zein dengan wajah bingungnya.
Griffin menggengam tangan Zein dengan masih berlutut di kakinya. "Seseorang yang telah mengasingkanku," jawab Griffin singkat, namun membuat Zein menganggukan kepalanya mengerti.
"Besok kita akan ke sana," jawab Zein santai, karena dia benar-benar merasa lelah saat ini.
"Tidak Paman, aku mau sekarang!! Aku mohon," pintanya lagi, membuat Zein berpikir sejenak sambil menatapnya.
"Baiklah," jawab Zein menyetujui permintaan Griffin.
Lalu dia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan segalanya.
Tidak lama kemudian Zein dan Griffin melangkah pergi keluar menuju bandara khusus keluarga Lesham, dan memakai salah satu Jet cepat yang sudah tersedia, sehingga perjalanan mereka tidak perlu memakan waktu yang lama.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu Fin?" tanya Zein lagi sebelum Jet itu lepas landasanya.
Griffin hanya diam dengan menganggukan kepalanya yakin. Dia ingin mendengar sendiri dari mulut pria yang sudah berani membuang serta mengasingkanya.
Dia ingin bertanya sendiri mengapa dirinya dibedakan dari yang lain, baginya ini semua sangat-sangatlah tidak adil.
Setelah mendapatkan jawaban dari Griffin, barulah Jet itu terbang menyusuri langit yang akan membawanya menuju Mansion Manopo.
Selama perjalanan, Griffin hanya terdiam menatap ke arah awan-awan di sebelahnya, dia mengingat kembali foto yang tadi di tunjukan oleh kakeknya Jesper, yang katanya adalah foto dari orang tuanya.
Sedangkan Zein kini langsung memberikan kabar pada Jesper dan Valen agar tidak mengkhawatirkan Griffin, dan segera menyusul dengan Jet selanjutnya.
10 jam perjalanan yang mereka lakukan, saat ini Jet itu sudah mendarat sempurna di sebuah halaman belakang Mansion yang sangat-sangat besar.
Ketika baru turun melangkah dari pesawat, Griffin termenung menatap ke arah Mansion itu, Zein yang melihat itu kini langsung menganggukan kepalanya pelan sebagai kode bahwa semuanya akan baik-baik saja, walau dia sendirinya juga merasa gugup, karena ini adalah pertemuan pertamanya dengan Arvan setelah kejadian tembakaan itu.
Setelah mendapatkan keyakinan itu, Griffin berjalan bersamaan dengan Zein yang terus menghampirinya, namun ketika dirinya baru ingin melangkah masuk, dia mendengar sesorang meneriaki namanya.
"Griffin," teriak suara itu, dan langsung membuatnya menoleh mencari sumber suara itu.
Bola mata Griffin membulat seketika melihat sosok Lyla yang baru saja menuruni Jet pribadinya dan berlari ke arahnya.
"Lyla kamu ngapain di sini?" tanya Griffin bingung.
"Tadi aku melihatmu di bandaraku, dan aku mengikutimu," jawabnya santai.
Namun ini bukan waktunya Griffin untuk mengobrol bersama Lyla, dia kembali mengikuti langkah Zein menyusuri setiap ruangan di Mansion.
Lyla yang merasa diabaikan kini mulai merasa kesal dan langsung mengikuti langkah Griffin.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan, dari jauh Griffin, Zein dan Lyla bisa mendengar suara ramai orang tertawa dan bercanda mesra.
Membuatnya langsung mengepalkan tanganya kuat, merasa semuanya benar-benar tidak adil baginya.
Ditambah saat ini dia bisa melihat jelas sebuah keluarga besar yang sedang tersenyum bahagia dengan banyaknya cucu serta cicit di sebelah mereka.
Membuatnya kini langsung mengeluarkan aura dinginya.
Lyla yang melihat Griffin kembali menakutkan seperti itu, kini langsung memeluk lengan kekar miliknya, "siapa mereka? Mengapa kamu ke sini?" tanya Lyla yang juga belum mengetahui keluarga ini.
Aiden sengaja tidak memberitahukan keluarga besar yang satu ini, agar putrinya tidak kelepasaan saat berbicara bersama dengan Griffin.
Seluruh keluarga besar itu langsung terdiam seketika melihat Zein yang masuk tanpa permisi terlebih dahulu.
"Zein kamu-," sahut Arvan terhenti ketika melihat sosok yang begitu mirip dengan putranya Albert.
"Griffin," serunya menyebutkan nama yang selama ini tidak pernah dia ingat.
Arvan tersenyum bahagia, dan langsung bangkit dari duduknya lalu melangkah ingin memeluk cucunya.
Namun gerakanya terhenti ketika melihat Griffin yang mundur serta menepis tanganya.
"Griffin why?" tanya Arvan bingung.
Dan kembali seluruh keluarga menjadi bingung dengan sikap Griffin yang sangat jauh dari cerita Jesper dan Valen.
Mario yang melihat ada hal yang tidak beres, kini meminta Alson membawa istri serta anak-anaknya pergi dari sini, begitupula dengan Brio dan Brina yang diminta untuk pergi sejenak.
Setelah kepergian mereka, kali ini giliran Mario yang mendekat ingin memeluk Griffin, namun hasilnya sama saja.
Anak itu menolak dengan tatapan membunuhnya.
"Griffin apakah kamu sudah tau siapa kamu sebenarnya?" tanya Arvan ketika melihat Griffin yang tak kunjung membuka suaranya.
Griffin tersenyum manis mendengar pertanyaan dari pria yang katanya sebagai orang yang mengasingkanya itu, "apakah drama kebahagiaan keluarga ini sudah selesai?" tanyanya di sela-sela senyum manisnya.
Sontak saja, Arvan,Mario,Jenni dan Eden menoleh ke arah Griffin, termasuk Lyla yang semakin erat memeluk lengan Griffin.
"Fin mereka siapa?" tanya Lyla dengan berbisik di telinga Sahabatnya itu.
Griffin menoleh sekilas melihat Lyla yang seperti khawatir padanya, dan dia mulai menggam tangan Lyla yang berada di lenganya.
Arvan tak tinggal diam melihat cucunya yang bersikap dingin padanya, dia mencoba kembali mendekatinya.
"Griffin sayang ini oppa."
"Tutup mulut kotormu itu!" bentak Griffin dengan sangat berani.
Membuat Jenni dan Eden merasa lemas dengan sikap Griffin yang jauh dari yang biasa di ceritakan oleh Jesper dan Valen.
"Griffin apa-apaan kamu, bersikaplah yang baik kepada kami yang merupakan Kakek dan Nenek mu!" bentak Mario yang mulai kesal dengan sikap cucunya ini dan langsung menatap ke arah Zein yang saat ini hanya diam saja melihat drama keluarga itu.
Karna tidak mampu menahan sakit karna sikap cucunya, Jenni dan Eden langsung mendekap tubuh suami mereka masing-masing.
Sedangkan Zein kini melangkah keluar menunggu Jesper dan Valen yang juga ternyata menyusul mereka.
"Kakek dan Nenek apa yang kalian maksud! Kalian membuangku 17 tahun yang lalu, dan kalian tidak pernah tau bagaimana susahnya diriku melawan dunia di luar sana sendiri apa kalian pernah paham itu ha," teriak Griffin dengan emosi yang memuncak.
Sudah 17 tahun lamanya dia menahan dan memendam rasa amarah kepada seseorang yang telah tega membuangnya dan melarangnya untuk mengetahui siapa orang tua kandungnya.
Di tambah lagi tadi dia melihat jelas bagaimana sosok yang sedang mengaku Kakek dan Neneknya ini lah juga yang merupakan orang yang sudah membuang dan mengasingkanya, namun malah bahagia dengan cucu yang lainya.
Andaikan saja dia melihat cucu yang lainya juga diasingkan, mungkin dia tidak akan semarah ini. Tapi kenyataanya dari semua keturunan memang hanya dirinyalah yang diasingkan hingga sedemikian rupa.
Beruntungnya masih ada Zein dan Aiden yang mau menemaninya hingga saat ini.
Griffin kembali menatap ke arah Arvan dan juga Mario yang tadinya terlihat angkuh namun sekarang berubah bisu. "Selama ini aku berjuang untuk menjadi yang terkuat agar aku bisa memiliki sebuah kehidupan dan juga seorang teman, tapi apa kalian perduli itu," teriaknya lagi, dan semakin membuat ke empatnya membeku terutama Arvan yang merupakan otak dari semua ini.
Jenni melepas pelukanya dari tubuh Arvan dan menatap Griffin dengan lekat, "sayang tidak seperti itu, dengar dulu penjelasan kami," lirih Jenni dengan pelan.
"Penjelasaan apa ? Apakah kalian ingin bilang jika kalian mau aku belajar agar tau caranya makna hidup, oh atau kalian mau aku tau rasanya jadi hinaan yang seperti sampah masyarakat, atau kalian memang sama seperti mereka yang menganggap aku adalah sebuah anak pembawa sial makanya aku diasingkan gitu," serunya lagi dengan kata-kata yang semakin menusuk ke jantung para tetuah.
"Cukup Griffin! Kamu jangan terlalu melampaui batas! Jaga kata-katamu itu! Kami semua mengasingkanmu karna kami mau melindungi keselamatanmu, dan semua ini memang untuk kebaikan kita bersama," bentak Arvan yang merasa jika Griffin sudah Overthingking terhadap mereka. Dan lagi-lagi merasa bahwa semua ini pasti ulah Zein.
Arvan berpikir bahwa pria itu sudah meracuni otak cucunya sehingga bisa melawan dan berkata kasar seperti ini.
Sedangkan Lyla kini terlihat menarik tangan Griffin untuk segera pergi dari tempat itu, "ayo kita pergi saja, aku gak mau kamu bertambah emosi di sini, semuanya bisa kita bicarakan lain waktu." ajaknya pada Griffin yang masih terdiam dengan kata-kata Arvan.
"Demi kebaikan semua, kamu mengasingkanku dan menyayangi cucumu yang lainya, apakah itu masih bisa dikatakan demi meyelamatkan? Anda sangat luar biasa Tuan," balasnya dengan sinis.
"Sudahlah, tidak ada gunanya juga kalian menjelaskan semuanya, bagiku kalian itu tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada, aku lebih baik hidup dan tinggal di luar sana bersama dengan uncle Zein dibandingkan aku harus menjadi cucu terbuang dari keluarga ini, ingat! Sekali dibuang maka selamanya kalian tidak akan bisa memungutnya kembali," kalimatnya terakhir sebelum melangkahkan kakinya keluar.
Arvan yang melihat Griffin ingin pergi darinya kini langsung menekan kode dan seketika semua penjaga langsung menghalau langkah Griffin dan juga Lyla.
"Robbeeetrttt," teriak Arvan ketika Griffin telah membeku dengan menatapnya tajam.
Dengan cepat Robert berlari menghampiri Arvan yang terlihat sangat marah itu.
"Saya Lord," jawabnya dengan menunduk hormat.
"Siapkan yang aku perintahkan kepada mu semalam! Mau bagaimanapun darah Manopo harus tetap mengalir kepada pewarisnya," perintah Arvan yang dijawab anggukan kepala oleh Robert.
"Baik Lord, akan segera saya siapkan," balas Robert, lalu kembali menunduk horma dan kemudian melangkahkan kakinya keluar untuk segera menjalankan perintah Arvan.
*To Be Continue. **
Note: teman - teman, Mohon Maaf ya, Mimin mau ngabarin, kalau Give Awaynya Mimin Pindah untuk Karya It’s So Hurts. Karena Mimin tidak bisa melihat hasil kalian jika tertumpuk dengan poin - poin yang lama.
Jadi Mimin pindah ya, Dukungan Give Away karyanya untuk Karya It’s So Hurts 🙏🏻🙏🏻
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*