
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Dear Ayah,
Ayah, bisakah kamu melihatku di sini? Sekarang aku sudah dewasa ayah, aku sudah menjadi gadis dewasa milik ayah.
Gadis cantik dengan banyaknya pujian dari sekelilingnya ini adalah putri ayah.
Yang selalu mencoba tegar, walau menahan sakit yang teramat, yang selalu mencoba bertahan walaupun dirinya rapuh.
Ayah, bisakah saat ini kamu mendengar tangis kerinduanku? Aku ingin sekali dirimu mendekapku dengan pelukan hangatmu, ingin merasakan kasih sayang yang dulu pernah kamu berikan kepadaku.
Hari ini, hatiku terasa sangat sedih, hingga air mata, jatuh membasahi pipiku, hari ini aku kembali bersedih, aku selalu saja menangis ketika aku mengingatmu.
Tapi tidak mengapa, rasa sakit ini adalah cara untuk Tuhan mengantarkan aku untuk segera bertemu denganmu.
Ayah, tunggu aku, kita pasti akan bertemu kembali di sebuah kehidupan baru yang akan menghiasi setiap hari kita bersama.
\~\~\~\~\~\~Jingga Maurice\~\~\~\~\~
"Jingga sayang, ayo minum obatnya dulu ya sayang," ucap Tasya, sembari memberikan obat-obatan yang dia bawa untuk putrinya.
Tetapi Jingga hanya terdiam, sambil memeluk buku hariannya, yang terlihat basah akibat darah yang terus menerus keluar dari hidungnya.
Jingga menahan semua sakit yang dia rasakan, agar dia segera bisa bertemu dengan ayahnya.
"Jingga sayang," panggil Tasya lagi, namun betapa terkejutnya dia ketika melihat Jingga yang mimisan seperti itu.
"Astaga Jingga," teriaknya hingga membuat Valen dan Jesper yang berada di luar kini berlari masuk ke dalam kamar Jingga.
"Ada apa Tasya?" tanya Valen panik.
Lalu dia melihat ke arah Jingga yang sudah tidak sadarkan diri.
"Cepat panggil dokter ke sini!" perintah Jesper dengan tegas kepada beberapa pelayannya.
Tasya dan Valen saat ini hanya bisa menangis melihat keadaan Jingga yang seperti ini.
"Ayahh, jemput Jingga ayah, Jingga mau ikut Ayah, Mamah sudah gak sayang Jingga, mamah Dara gak mau Jingga ayah," gumamnya dengan mata tertutup.
Kalimat yang dia ucapkan tulus dari dalam hati, membuat Valen dan Tasya kembali semakin terpuruk oleh keadaan.
Tasya langsung memeluk Jingga, dan mengusap kepalanya dengan lembut, "Jingga sayang, kenapa bilang seperti itu Nak? Jingga masih punya Ibu, apa Jingga gak kasihan sama ibu? Kalau Jingga pergi ibu sama siapa?" Tasya benar-benar tidak mengerti mengapa semua ini terjadi.
Begitu besar kasih sayang yang dia berikan kepada Jingga, tetapi kenapa putrinya itu lebih menyayangi Dara.
"Aku yang mengandungnya, aku yang mempertahankaanya, aku yang berjuang hidup untuk mengurusnya, dan aku adalah wanita yang paling mencintainya, tatapi kenapa putriku sendiri lebih mencintai Dara, kenapa semua yang aku cintai, berbalik mencintai Dara, apa kesalahaanku Tuhan," tangisnya benar-benar lelah dengan semua permasalahaan ini.
Tak lama kemudian, terlihat seorang dokter wanita yang datang untuk memeriksa keadaan Jingga.
Wajah dokter tersebut terlihat berat sekali ketika memeriksa Jingga. "Kondisinya semakin melemah, jika kalian tidak memberikaan semangat padanya untuk menopang hidup dan berjuang melawan sakitnya, kita tidak bisa menjamin apakah Jingga akan bisa bertahaan lebih lama lagi atau tidak." Dokter tersebut menjelaskan apa yang dia dapatkan dari hasil pemeriksaan.
Jesper menatap Valen dengan lekat, dia tidak akan berbicara dihadapan orang luar.
Sedangkan Valen yang mendapatkan tatapan seperti itu, memilih untuk menundukan pandangannya. Merasa takut dengan Jesper yang seperti ini.
"Semuanya sudah selesai Tuan, dan saya juga sudah menaikan dosis obatnya. Dan jika bisa, saya mohon. Apapun keinginan dari pasien, coba untuk berikan saja, karena bisa jadi keinginan itu yang akan membuat dia ingin bertahan hidup." Pesan dokter itu sebelum dirinya pamit mengundurkan diri.
Setelah dokter tersebut pergi, kini Tasya memilih untuk membersihkan darah-darah yang sudah mulai mengering.
"Seandainya saja kalian tidak memaksa Jingga untuk tinggal di sini, mungkin saja kondisi Jingga tidak akan sampai seperti ini," ungkap Jesper, yang biasanya tidak pernah bersuara, kini mulai memberikan peringatan kepada dua wanita yang terkesan sangat egois itu.
Tasya melihat ke arah ponselnya sejenak, lalu melihat story dari Freya istri Aiden.
"Bunda," lirihnya pelan, memperlihatkan foto baby yang menggunakan nama Maurice.
Valen ingin sekali berkomentar, tetapi dia merasa tidak bisa membuka mulutnya ketika Jesper menatapnya lekat.
"Mario," gumam Jesper, yang sontak terkejut melihat kedatangaan pria ini.
Mario menatap wajah mereka satu persatu, hingga tatapannya jatuh ke arah Jingga yang terlihat di kelilingi oleh banyaknya selang yang membantunya hidup.
"Apa yang kamu lakukan di sini Io?" tanya Jesper bingung.
"Aku ingin mengambil apa yang seharusanya tidak jadi milik kalian," tegas Mario pada Jesper dan Valen.
"Apa maksud Anda Tuan Mario," sahut Valen yang merasa samar dengan kalimat pria ini.
Mario berjalan mendekat ke arah Jingga, dan melihat wajah yang semakin lama semakin mirip dengan Lucas kakeknya.
"Tadi aku sedang melihat perusahaanku di Negara ini, dan aku berniat untuk mampir melihat cucuku Jingga, tetapi apa yang aku dengar dari Dokter tadi, membuatku sepertinya akan mengganti rencana, dari yang hanya ingin berkunjung, jadi berubah dan ingin mengambil Jingga dari kalian." Tegas Mario tidak bermain-main di dalam kalimat yang dia ucapkan.
Valen merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Mario.
Tetapi di saat dirinya ingin menyela, Jesper menarik tangan Valen untuk segera keluar dari kamar Jingga.
Berbeda dengan Tasya, yang hanya bisa terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria ini.
"Apakah kamu senang jika melihat anak kamu sendiri menderita? Ataukah kamu senang jika karena keegoisan kamu, putri kamu jadi menderita?" cerca Mario penuh dengan rasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Tasya dan Valen.
Tadinya dia mengira jika semua keadaan sudah baik-baik saja, karena dia tidak pernah mendengar berita tentang Jingga maupun Dara.
Tetapi kenyataan yang dia dapatkan dari penjelasaan dokte tadi, itu membuat Mario menjadi merasa bersalah dengan mendiang Lucas.
Apa yang harus dia katakaan? Sudah tidak bisa menjaga anakknya, dan sekarang dia juga tidak bisa menjaga cucunya. Benar-benar memalukan.
Mario mengeluarkan ponselnya dan menelpon Stella. "Hallo,"
"Bukankah kamu sedang berada di rumah sakit untuk melihat keadaan Dara dan babynya?" tanya Mario pada Stella.
"........,"
"Bisakah kamu memberikan ponsel ini kepada Dara dan membiarkannya berbicara sebentar dengan Jingga?" pinta Mario lagi.
Namun bukannya menjawab, Stella memilih untuk mematikan panggilan ponsel tersebut.
Mario menghela nafasnya berat, dia tahu jika Stella bersikap seperti ini pastinya untuk melindungi Dara agar tidak merasakan sakit ketika melihat keadaan Jingga.
*****
"Siapa mah?" tanya Aiden, yang melihat wajah mamahnya seperti sedang emosi.
Stella mengedikan bahunya singkat, merasa enggan untuk menanggapi pertanyaan putranya.
Dia kembali fokus membantu Dara untuk membersihkan babby yang baru saja pup.
"Dara, kenapa kamu tidak ingin memperlihatkan wajah putrimu kepada orang luar?" tanya Stella yang sedari tadi bingung ketikia Dara selalu menutupi wajah putrinya ketika di foto.
Dara tersenyum dan menatap wajah Linzi dengan lekat, "aku hanya ingin tidak ada yang mengetahui tentang dia mah, siapapun pasti tahu, bagaimana Zein selama hidup, dan mungkin setelah ini aku juga akan pindah ke rumah lama kami mah, aku ingin membesarkan Linzi di sana, karena rumah itu adalah tempat di mana aku dan Zein memadu kasih bersama hingga tercipta sebuah nyawa yang saat ini telah lahir ke dunia." Dara menjelaskan semua keinginan hatinya pada Stella dan yang lainnya.
"Dara, aku dan Freya sudah membelikan rumah mewah untukmu, dari pada kamu tinggal di rumah yang kecil itu, lebih baik kamu tinggal di sini saja, kami akan memberikan seluruh fasilitas yang baik untuk kamu." Bujuk Aiden, yang tidak ingin jika istri dari mendiang adiknya ini lepas dari pengawasaanya.
To Be Continue
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*