It’S So Hurts

It’S So Hurts
Kembalinya Mental Zein



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Setelah dirinya selesai latihan, Zein terlihat menuruni tangga, dan masih mendapatkan Tasya berada di rumahnya.


"Mau sampai kapan kamu di sini?" tanya Zein, merasa tidak suka jika ada orang lain yang berada di apartemannya.


Tasya menoleh sejenak menatap Zein, lalu kembali sibuk dengan masakaanya. "Ini adalah tugasku sebagai istri, wajar dong kalau aku mengurusimu," jawabnya santai.


"Mantan, jangan lupa kalau posisi kamu sudah mantan," sahut Zein, memperbaiki perkataan Tasya, membuat wanita itu membalasnya dengan senyuman.


Zein sama sekali tidak memperdulikan itu, yang dia pikirkan saat ini adalah, membongkar dan mencari tau tentang kematian kekasihnya.


Dia berlalu begitu saja, tidak memperdulikan Tasya yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


Zein masuk kedalam kamar untuk segera membersihkan tubuhnya.


Tidak lama kemudian, Zein keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian rapinya, "kamu mau kemana Zein? makan dulu yuk, aku sudah siapkan kamu makanan," seru Tasya, ketika melihat Zein yang sudah siap ingin pergi.


Namun Zein sama sekali tidak menanggapi kalimat Tasya, dia beralih ke store room untuk mengambil sepatunya. "Zein," panggil Tasya lagi, dan mulai mendekat ke arah Zein.


"Zein, ayo kita-," ucapnya terhenti ketika Zein memberikan kode padanya untuk segera diam.


"Sssttt, bisakah kamu diam dan tidak mengeluarkan suaramu itu! Aku merasa muak mendengarnya," bentak Zein, dengan perasaan kesalnya.


Tasya menundukan kepalanya ketika mendapatkan bentakan seperti itu. "Aku--aku--aku hanya-,"


"Aku tau kamu mau menawarkanku makanan Tasya, tapi ingat aku bukan orang sembarang yang memakan masakan orang luar," sahut Zein, merasa pusing dengan sikap semua orang saat ini.


"Aku pernah depresi, bukan berarti aku hilang ingatan, aku tidak lupa bagaimana semua kejadian ini terjadi, itu semua karena aku dipaksa untuk menikahimu, dan karena itu semua, aku harus kehilangan wanita yang sangat-sangat aku cintai, kamu dengar itu!! Aku sangat mencintainya," seru Zein, dengan berteriak di depan wajah Tasya.


Tetes demi tetes air mata kini menetes membasahi pipi. Sakit hanya itu yang tergambar di hati Tasya saat ini.


Apa yang bisa dilakukan ? Saat Zein sudah secara terang-terangan menyatakan jika dia sangat mencintai Dara.


"Lebih baik kamu menjauh dariku Tasya, aku tidak ingin melihat wajahmu ini lagi, karena bagiku kamu adalah penyebab utama kematian Dara," ucap Zein, mengusir Tasya dari rumahnya.


Zein sama sekali tidak ada rasa kasihan, apa lagi sedikit rasa sesal, padahal dia jelas tau siapa yang mengurusnya selama dia depresi kemarin.


Namun sepertinya Zein melupakan itu semua, dia memilih untuk bersikap acuh terhadap semua yang dilakukan oleh Tasya.


Melihat Tasya yang diam, Zein mulai berpikir untuk melakukan sesuatu. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerjanya, dan mengambil cek didalamnya.


"Ini adalah cek kosong, tetapi sudah aku tanda tangani, kamu boleh isi berapapun nominal yang kamu mau Tasya, pergilah dari kehidupanku sejauh mungkin, cari Negara atau bahkan kota baru untukmu dan bayimu ini tinggal, kalau kamu memang tidak mau menggugurkannya," seru Zein, merasa tidak sanggup lagi untuk melihat Tasya berada di sekitaraanya.


"Kamu yang merebut harga diriku, kamu yang menghancurkan masa depanku, dan kamu juga yang membuat bayi ini ada di dalam diriku, dan kamu yang mengkhiantai Dara, kamu yang plin plan, kamu yang tidak bisa menjaga nafsumu sehingga dengan mudahnya kamu meniduri wanita lain yang kamu sendiri belum kenal siapa dia, dan sekarang, dengan mudahnya kamu menyalahkan aku, kamu mengatakan bahwa semuanya karena aku, kamu yang berkhianat aku yang salah, kamu yang menyebabkan semuanya Zein, kamu! Tapi kamu masih tidak bisa terima karena bagimu hanya orang lain yang salah, dan kamu selalu benar, iyahkan," jeritanya menumpahkan segala kekesalaan di hatinya.


Sudah cukup hampir 2 bulan ini dia diam dan terus dijadikan kambing hitam oleh Zein, kesalahaan ini ada karenannya, bukan karena orang lain.


Zein terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Tasya, semua memang benar, tapi dia tetap tidak bisa menerimanya.


"Welll, jadi sekarang terserah dari kamu Tasya, ambil cek ini dan pergi dari kehidupanku? atau aku akan membunuhmu dengan bayi ini sekarang juga dan kamu akan pergi dari hidupku serta dunia ini?" tanyanya dengan sedikit mengancam.


Tasya menggelengkan kepalanya, karena merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zein, "bayi ini adalah bayi kita Zein, tidak bisakah kamu sedikit aja mempunyai perasaan, kalau kamu tidak mau berpikir tentangku, berpikirlah tentang bayi ini, anak kamu ini Zein, kamu sadar tidak, kalau kamu hanya memikirkan Dara,Dara dan Dara, ketika bayi Dara meninggal, kamu marah dan kamu nyaris membunuh bayi kita, hanya karena bayi Dara meninggal," teriak Tasya, benar-benar merasa bahwa ini semua gak adil baginya.


Plaakkkkk,,plaaakkk Zein melayangkan sebuah tamparan keras di kedua pipi Tasya, dia tidak suka mendapatkan perlakuan seperti ini.


Dan karena Tasya tidak kuat menahan keseimbangan tubuhnya, dia terjatuh dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya, serta pipi yang memerah.


Zein berjogkok, dan mencengkram kuat rahang Tasya, hingga sang empunyanya meringis kesakitaan, "kamu tau, itulah bedanya kamu dengan Dara, semarah-marahnya Dara, dia tidak pernah sekalipun berteriak tepat di depan wajahku, Dara selalu diam dan diam, kecuali dia sudah muak baru dia akan bersuara tapi dia masih mengetahui batasaanya, dia adalah orang yang dikatakan tidak berpendidikan sedangkan kamu adalah lulusan kedokteraan bahkan professimu adalah dokter, tapi ternyata attitude Dara jauh lebih baik dari pada kamu," tandas Zein dengan penuh penekanan.


Lalu dia melemparkan cek itu tepat di depan wajah Tasya, "pergi dan bawa jauh bayi ini dariku, karena aku tidak akan pernah menerima anak dari siapapun, kecuali anak yang terlahir dari rahim Dara, hanya dia yang boleh melahirkan bayiku, tapi tidak dengan kamu, jadi aku tidak akan pernah mau bayi ini, silahkan kamu bawa dia pergi," perintah Zein, yang kemudian bangkit dari posisinya, dan mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Tasya yang masih teduduk di lantai.


Ketika Zein baru saja menyentuh pintu, dia menoleh kembali ke arah Tasya, "aku akan pulang besok, dan aku harap kamu sudah tidak ada lagi di sini maupun di kehidupanku, jika tidak, detik itu juga aku akan membunuhmu, karena tidak sulit bagiku jika hanya akan membunuh 1 orang ibu hamil seperti kamu, namun aku masih akan memberimu kesempatan untuk lari sejauh mungkin," serunya lagi, sebelum dia benar-benar melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Tasya begitu saja.


"Hiskkk,,hiskkk,,hiskkk," tangis Tasya kembali menahan sesak di dadanya.


Awalnya dia berpikir jika Zein masih bisa berubah setelah ini, walau Zein tidak bisa menerimanya tapi setidaknya dia bisa menerima anaknya dia sendiri.


Bayi yang tidak berdosa kenapa harus dibenci? Apa karena dia tidak lahir dari rahim Dara? Tapi yang jelas Tasya sudah tau akan satu hal, bahwa sekeras apapun usahanya untuk membuat Zein jatuh kedalam pelukannya, dia tetap tidak akan bisa jatuh cinta kepada yang lain, selain Dara.


*****


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻