
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah terdengar suara pintu yang tertutup rapat, Dara semakin menangis dengan histeris, meluapkan segala emosi kekecewannya terhadap Zein.
“Ya Tuhan, kenapa rasanya sangat sakit ? Hiskk,,hiskk, aku ingin memaafkannya tapi kenapa rasanya itu sulit,” tangisnya, sambil berteriak, karena sudah tidak tau ingin bersikap seperti apa lagi.
Sedangkan di luar sana, Zein yang belum benar-benar pergi dan masih terduduk di depan pintu, kini berusaha untuk menahan emosinya, “Arrrrggghhhh, Zeinnnnn, kenapa kamu begitu tidak punya otak sama sekali?” makinya pada diri sendiri.
Bagaikan nasi yang sudah menjadi bubur, saat ini mau menyesal pun sudah tidak ada guna, yang Zein perlukan saat ini adalah maaf dari sang kekasih beserta kesempatan kedua yang sangat dia harapkan.
Untuk masalah Valen dan wanita itu, Zein sama sekali tidak memedulikannya, baginya Dara jauh lebih penting dari apa pun.
Zein mencoba untuk mengistirahatkan pikirannya, semenjak mabuk tadi dia benar-benar merasa pusing, hingga saat ini.
Namun di saat dirinya baru ingin tertidur, terdengar suara Dara yang mengetuk pintu kamar, meminta agar dibukakan, “Zein,” teriak
Dara dari dalam, memanggil kekasihnya.
Mau tidak mau Zein harus bangkit dari tidurnya dan membukakan pintu untuk Dara.
“Sayang,” panggilnya di saat pintu terbuka dan melihat Dara dengan matanya yang sudah sangat-sangat bengkak bagaikan monster.
“Kenapa pakai dikunci sih, menyebalkan Sekali,” bentak Dara, tanpa perasaan takut Zein akan marah.
“Maaf, Sayang, aku hanya takut kamu kabur dan pergi tinggalkan aku,” sahut Zein, langsung memeluk tubuh Dara dengan erat.
“Awwww sakittt, lepasin, aku mau minum,” elak Dara lagi, merasa enggan dipeluk oleh Zein.
Tetapi Zein sama sekali tidak peduli dengan permintaan Dara, dia bahkan mengikuti Dara dan terus memeluk Dara sampai ke dapur.
“Aku itu heran ya, kenapa laki-laki kalau sudah menyesal pasti akan seperti ini, ya minta maaf, lah, janji mau memperbaiki, lah, mencari kesalahaan orang lain, lah. Pasti begitu, sudah hafal aku tuh, tapi ujung-ujungnya apa? Diulang lagi, dilakukan lagi, nanti kalau ketahuan lagi, jawabnya tidak sengaja, oh aku khilaf, BASI TAU TIDAK,” cerca Dara, membuat Zein terdiam tanpa tau harus bicara apa lagi.
Karena mau ngelak pun juga sudah tidak bisa, karena Dara benar-benar sudah menangkap basah dirinya. “Maaf,” hanya kata itu yang mampu keluar di mulut manisnya.
“Aku maafin kamu, Zein, tidak mungkin aku tidak memaafkanmu, tapi diibaratkan kaca kalau sekali pecah tidak akan bisa kembali utuh, meskipun kamu tempel, kamu lem, pasti akan tetap terlihat retakannya, begitu juga sebuah kepercayaan, sekali kamu berkhianat maka rasa sakitnya akan terus ada di sini,” ungkap Dara jelas, dan itu semakin menyakitkan hati keduanya.
Zein langsung mengeratkan pelukannya tubuh Dara, menundukkan kepalanya di bahu Dara. “Aku tau mungkin kamu saat ini masih sangat marah, tapi bukankah manusia boleh mendapatkan kesempatan kedua? Jika aku tidak bisa mengembalikan kepercayaan kamu, maka biarkan aku melakukannya dengan tindakan. Aku benar-benar menyesal, Dara, dan lagi aku melakukan semua ini benar-benar tidak sadar, aku mabuk bukan normal, seandainya aku normal, bukan aku memperkosanya tapi aku akan membunuhnya saat itu juga,” balas Zein, semakin membuat Dara pusing.
Zein yang sudah tidak tahan melihat mata kekasihnya yang bengkak, kini beralih untuk mengambil sesuatu yang bisa mengompres mata Dara. “Besok aku kerja ya,” ucap Dara, sambil mendudukkan dirinya di atas meja dapur.
“Memangnya besok kamu ada jadwal?” tanya Zein, tanpa menolehkan pandangannya, mengambil air hangat, untuk mengompres.
“Ada lah, hari ini juga kan ada, tapi kamu bawa aku honeymoon gagal, yang berujung perselingkuhan,” sindir Dara tidak habis-habisnya mengungkit kesalahaan Zein.
Zein mendekat ke arah Dara, dan mengecup keningnya. “Aku tidak selingkuh, Sayang. Aku hanya melakukan kesalahaan,” sahut Zein, sambil mengarahkan kasa hangat itu ke mata Dara, untuk mengurangi bengkaknya.
“Kalau dia hamil bagaimana? Kamu, kan, harus tanggung jawab? tanya Dara, berandai-andai.
Zein hanya mengedikkan bahunya singkat, dan menunjukkan pisau ke arah Dara. “What ? Jangan bilang kamu mau membunuhnya?” tanya Dara tanpa rasa takut sama sekali.
Karena dia sangat tau, jika Zein tidak akan pernah berani melukainya walau hanya seujung kuku saja. “Aku tidak mau kehilangan kamu, dan pilihan terakhir dia harus lenyap,” sahut Zein santai.
“Bagi aku, tidak akan pernah ada anak yang lahir dari wanita lain, aku hanya akan menganggap anak yang lahir dari kamu. Jika tidak, maka lebih baik mereka mati,” tegasnya, tanpa raut wajah yang main-main.
Dara tersenyum menanggapinya. “Sekarang kamu ngomong seperti itu, tapi kita liat nanti. Kamu jangan panggil aku Dara jika Bunda kamu tidak memaksa kamu untuk menikahinya,” balas Dara geregetan dengan jawaban dari sang kekasih.
Zein mengecup singkat bibir Dara, agar berhenti membahas masalah ini. “Oh ya, kamu belum makan sedari tadi kan? Aku pesan makanan ya,” ucap Zein lembut.
“Nggak nafsu makan aku, lihat kekasihku yang morena di depan ku,” singgung Dara tidak habis-habisnya, membuat Zein hanya bisa menggelengkan kepalanya pusing.
“Sayang, udah ya, tidak usah dibahas terus. Aku tau salah. Udah ya,” sahut Zein, frustrasi.
Namun Dara hanya bersikap acuh dan berusaha mengalihkan pikirannya dengan menonton TV. “Zein, ponsel aku kamu rusak, kenapa ?” tanyanya tiba-tiba ingat jika ponselnya sudah dipatahkan oleh kekasihnya.
“Sengaja, karena mau gantikan kamu ponsel baru,” sahut Zein dengan santai, sambil duduk membawa cemilan ringan. “Kamu mau makan apa ?” tanya Zein sambil melihat ponselnya untuk mengecek makanan.
“Makan hati,” jawab Dara dengan ketus.
“Sayang,” tegur Zein agar kekasihnya ini tidak main-main.
“Mau makan orang, bisa nggak?” tanyanya balik. Membuat Zein gemas ingin mengigitnya.
Namun dia masih mengingat sakitnya gigi Dara ketika membalasnya, “Udahlah, aku pesan sembarang aja,” sahut Zein pusing sendiri.
“Susah mau lawan wanita, tidak akan ada habisnya,” gumam Zein mengalah.
Dara diam, membaringkan tubuhnya di sofa, sambil menonton drama yang ada.
Tiba-tiba saja Dara merasa mau muntah ketika melihat adegan di TV, sedangkan Zein rasanya ingin tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Dara. “Sayang, kalau kamu merasa jijik kenapa masih ditonton?” tanya Zein bingung.
Dara tersenyum manis menanggapinya, “Bentar lagi, ini udah mau habis kok;” sahut Dara sedikit tertawa, mengingat dirinya yang terasa aneh.
Zein melangkah mendekati Dara dan memeluknya dengan erat, cuppp, Zein mengecup kening Dara singkat, dan bergerak meletakkan kepalanya di paha kekasihnya, Dara tersenyum dan mengusap lembut kepala Zein, “I love you, Sayang,” lirih Zein pelan, menatap mata Dara dengan lekat.
“I love you more, Zein. Jangan diulang lagi ya, karena kamu nggak tau rasa sakitnya sebuah pengkhiantan yang aku rasakan itu seperti apa,” ungkap Dara, dengan mengusap lembut wajah Zein.
“Maafkan aku ya, dan terima kasih atas kesempatan kedua ini,” balasnya, walaupun Dara belum mengatakan apapun tentang kesempatan kedua.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻