
**Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Zein hanya mampu menggelengkan kepalanya pusing mendengar jawaban dari wanita ini. “Lalu kenapa Indonesia?” tanya Zein lagi. Namun kali ini tidak ditanggapi oleh Dara.
“Apa kamu tuli?” tanya Zein kesal, karena Dara yang tidak mau menjawabnya.
Dara menolehkan pandangannya menatap Zein dengan tajam. “Isshhhhh,” keluh Dara kesal mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Apaan?” tanya Zein melihat ekspresi Dara.
Dara kembali menatap Zein dengan tajam, “Masih bisa tanya apa?” sahutnya kesal.
Rasanya Dara ingin sekali mencekik leher Zein yang masih bisa bertanya APA padanya.
“Tahu ah gelap, sangat menyebalkan kamu itu,” sahutnya lagi.
Merasa enggan menjawab, Zein hanya terus menggenggam tangan Dara melangkah masuk ke dalam mobilnya.
“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Dara sinis.
“Makan, kamu harus temani aku makan,” jawab Zein, ketika baru menduduki dirinya di belakang kemudi.
“Aku sudah makan,” balas Dara, menolak diajak makan oleh Zein.
“Aku tidak tanya kamu sudah makan atau belim,” jawab Zein santai, refleks membuat Dara langsung mencekik lehernya.
“Uhukkk,,uhhukk, kamu gila ya, kamu mau bunuh aku?” bentak Zein penuh emosi.
Braagghh, Dara tidak sengaja menyenggol dashbord mobil Zein dan menjatuhkan pissssstoll di dalamnya.
“Wah,,wahh ternyata Tuhan berpihak kepadaku,” tandas Dara pelan.
Zein langsung merampas barang itu dan menatap tajam ke arah Dara. “Jangan main-main kamu, Dara,” ancamnya pada wanita yang terlihat sama sekali tidak takut padanya.
Dara mengalihkan pandangannya fokus ke depan dan menyilangkan kedua tanganya di depan dada. “Aku nggak mau main-main, aku hanya ingin pulang,” jawabnya santai.
Zein menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskanya dengan kasar, benar-benar butuh ektra kesabaran tinggi buat menghadapi sifat Dara yang selalu suka beradu mulut dengan orang lain.
“Dara, apa kamu tidak takut padaku?” tanya Zein penasaran.
Dara menolehkan pandangannya sedikit, menatap wajah Zein, “Tidak, aku tidak takut denganmu, awalnya mungkin aku sedikit merasa segan, tapi sekarang sudah tidak,” jawabnya polos.
“Oh,” balas Zein, ingin tersenyum namun dia tahan, dia khawatir jika dirinya tersenyum akan terjadi malapetaka untuk Dara.
Zein dan Dara saat ini telah sampai di sebuah restoran cepat saji, dengan Dara dan Zein yang hanya minum saja.
“Kamu bilang mau makan? Ini apa? Kamu hanya minum saja sampai kenyang,” bentak Dara kesal.
Lagi-lagi Zein hanya diam saja, dia merasa enggan menjawab semua yang dikatakan oleh Dara.
Namun entah apa yang sedang di pikirkan oleh Zein, tiba-tiba saja dia memeluk tubuh Dara tanpa izin dari sang pemilik tubuh.
“Aaawww,” jerit Dara kesakitan.
“Sakitt,pelukan kamu itu sakit tahu,” cerca Dara, yang langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Zein.
“Tapi aku meluk kamu pelan, tidak menggunakan tenaga,” sahut Zein bingung kenapa Dara mengeluh jika pelukannya terasa sakit.
Dara menatap Zein dengan lekat, “Apakah kamu baru pertama kali memeluk seseorang?” tanyanya penasaran. Dan dijawab anggukan kepala oleh Zein.
“Pernahkah waktu kecil kamu memeluk orang lain selain aku?” tanya Dara lagi.
Zein mencoba mengingat-ingat kejadian itu. “Ah ya, dulu aku juga pernah memeluk Bundaku di saat masih berusia 15 tahun, dan Bunda juga sempat mengeluh jika itu sakit,” jawab Zein mengingat semua itu.
Dara yang mengerti arti sorotan mata Zein, kini langsung memeluk tubuh Zein kembali. “Jika begitu biarkan aku saja yang memelukmu, kamu tidak boleh memelukku,” ucap Dara yang membuat Zein salah tingkah.
Cuppp, Zein mencium pipi Dara lembut. Hingga Dara melepaskan pelukannya dan menatap wajah Zein. “Kenapa kamu menciumku?” tanya Dara bingung.
“Sejak kapan?” tanya Dara bingung, karena sedari tadi Zein tidak pernah meminta Dara untuk menjadi kekasihnya.
“Sejak aku memelukmu,” jawab Zein polos.
Ini adalah pertama kalinya Zein dan Dara sama - sama memiliki kekasih. Dara yang terlalu sibuk dengan urusannya mencari uang, sedangkan Zein yang baru pertama kali jatuh cinta dan lebih memilih Dara karena hanya dia yang memiliki daya pikat tersendiri.
“Oh, jadi aku kekasihmu?” tanya Dara lagi belum yakin dengan jawaban Zein.
“Iyah,” jawab Zein tegas.
Dara terlihat menganggukkan kepalanya pelan, lalu kembali memeluk Zein dengan erat, dan sesekali mengusap lembut punggung pria itu.
“Aku antar kamu pulang ya,” ucap Zein yang teringat jika dirinya masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Dara kembali menganggukkan kepalanya pelan, dan mengeluarkan ponselnya. “Ini alamat tempat tinggalku, bisakah kamu mengantarkanku ke alamat ini?” tanya Dara pelan.
Zein memperhatikan ponsel Dara, dan langsung mengambilnya. “Aku akan save nomor aku di sini, dan kamu harus mengangkat panggilan dariku kapan pun itu,” tandas Zein dengan kalimat yang penuh penekanan.
“Okey,” jawab Dara tanpa penolakan.
“Good girl,” balas Zein, dan langsung segera berdiri menggandeng tangan Dara untuk segera keluar dari restoran.
Selama di dalam mobil, baik Zein maupun Dara kini sama-sama saling terdiam. “Bagaimana kamu bisa mengenal pria itu?” tanya Zein yang begitu penasaran sedari tadi.
Karena menurut informasi yang dia tahu, Dara tidak pernah mengenal pria mana pun, Dara lagi - lagi hanya terdiam merasa enggan untuk menjawab pertanyaan kekasih barunya ini.
“Tidak apa jika kamu tidak mau memberitahuku, karena pasti aku akan mencari tahu itu,” ujarnya lagi, dengan kalimat penuh ancaman.
“Okey,” jawab Dara singkat.
Inilah yang disukai oleh Zein dari dalam diri Dara, wanita yang tidak takut olehnya bahkan dengan semua ancamannya. “Kau begitu berbeda, Dara,” batinnya bermonolog sendiri.
Sesampainya di depan apartemen milik Tyas, Dara langsung melepaskan seatbelt-nya, “Aku pergi ya,” pamit Dara pada Zein.
Cup, Dara menccciiiuumm bibir Zein singkat. “Hati-hati ya, jangan lupa kabarin aku,” ucapnya sebelum melangkahkan kakinya keluar mobil.
Zein hanya diam menatap langkah kekasihnya yang menjauh dan hilang ditelan lift apartemen.
Setelah itu baru dia melajukan kembali mobilnya untuk bertemu dengan Aiden.
Tingg tongg Dara menekan bel apartemen Tyas, cklekkk pintu itu terbuka dan menampilkan Tyas yang sedang ingin bersiap-siap.
“Aahhh Dara, akhirnya kamu pulang juga, tadi itu aku lupa save nomor kamu jadi susah mau nelepon,” seru Tyas sambil melanjutkan make-upnya yang masih belum sempurna.
“Memangnya ada apa?” tanya Dara bingung.
“Hari ini aku ada syuting di luar kota, dan sepertinya aku harus pergi meninggalkan kamu sendiri di sini, mungkin besok malam baru pulang, gak papah, kan?” tanyanya ingin memastikan bahwa Dara akan baik-baik saja.
Dengan ragu Dara menganggukkan kepalanya pelan, Tyas yang sudah siap untuk pergi kini berjalan mendekat ke arah Dara. Cupp “Aku pergi ya, jaga diri baik-baik selama aku nggak ada, kalau lapar kamu telpon aku saja, nanti aku pesanankan makanan oke, bye,” pamit Tyas yang berjalan terburu-buru.
“Oh iya, besok Justin akan menjemputmu untuk casting pertama dengannya, jadi selain Justin kamu tidak boleh membuka pintu untuk siapa pun, mengerti,” tandasnya lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan apartemennya.
Dara tersenyum manis mendapatkan perhatian dari sahabat barunya itu, karena Tyas yang notabenenya adalah orang baru di hidupnya, namun begitu memperhatikannya dan percaya padanya.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻