It’S So Hurts

It’S So Hurts
Puncak Kemarahaan Zein 2



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Setelah mengudara 20 jam lamanya, kini Zein telah tiba di Mansion Manopo, dengan menenteng kepala Yudha yang dia bawa dari Markas tadi.


Di saat dirinya berjalan masuk, Zein melihat Arvan dan seluruh keluarganya tengah duduk bersama di meja makan, karena jam memang menunjukan waktu sarapan pagi di Italia.


"Loh Zein kamu di sin-," sapa Jenni terhenti, ketika melihat apa yang dibawa oleh Zein.


"Arrrrrrrggghhh," teriak Jenni langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.


Berbeda dengan Vika yang sontak temuntah menatap jijik ke arah kepala yang sudah mengeluarkan bau busuk itu.


Arvan yang mendapatkan perlakuan seperti ini, sontak saja langsung marah dan menyiram Zein dengan air di gelas.


"Apa-apaan kamu Zein," bentak Arvan penuh dengan emosi.


Zein hanya terdiam ketika dirinya disiram seperti itu oleh Arvan.


Dia malah memilih untuk meletakan kepala Yudha di atas piring makan Arvan, membuat Alson dan Vika benar-benar tidak tahan sehingga memilih menjauh dari ruangan itu.


Jleeeeeebbbbbb Zein langsung menikam perut Arvan, dengan pisau beracun yang dia bawa tadi. "Aku tidak akan pernah lupa dengan kebaikan yang pernah kamu lakukan kepadaku dan mendiang Papahku, tapi aku juga tidak akan lupa kejahatan kamu yang membunuh bayi dan orang-orang tersayangku," tandasnya penuh penekanan, dan semakin menusuk pisau itu ke dalam lalu mencabutnya.


"Kamu menjadikanku tameng keluargamu, tapi kamu malah menyakiti bayiku dan juga wanita yang sangat aku cintai, kamu memperalatku untuk mendidik Griffin, tapi kamu lupa suatu saat nanti aku juga bisa membuat Griffin membencimu," ujarnya dengan penuh amarah.


"Aaaarggghhh anak sialan, beraninya kamu," bentak Arvan, yang langsung mengeluarkan pisstoll yang berada di tanganya dengan sekali detakan nadinya pisstoll itu akan keluar.


Doorrr,,dorrr, dua peluru Arvan lepaskan dan menembus dada Zein, hingga Mario datang dan melihat pertengkaraan berdarah mereka berdua.


"Cukkuupp kalian berdua ini apa-apaan ha?" teriak Mario yang tidak habis pikir dengan tindakan Zein dan Arvan.


Zein tersenyum tipis, melihat darah yang berada di dadanya, lalu dia juga mengeluarkan pisstolnya dan menembak tepat di jantung Arvan.


Dorrrr,,dorrrr,,dorrr Zein melepaskan tiga peluru tepat sasaran, dan itu benar-benar berhasil menembus jantung Arvan, "Zeiinnnnnnnnn," teriak Mario tidak menduga bahwa Zein berani melakukan hal itu.


Arvan luluh di lantai begitu saja, dengan tubuh Mario sebagai penopangnya, namun dengan kekuatann yang tersisah, Arvan membalas tembakaan yang diberikan oleh Zein.


Dorrrrr,,doorrrr tembakaan balik itu diberikan secara membabi butaz


"Zeiiinnnn," teriak Dara yang baru saja datang, dan langsung mamasang badan untuk menerima peluru itu agar tidak menembus tubuh Zein.


"Daraaaaaaaaaaa," teriak Zein, Stella dan Aiden bersamaan.


Namun di detik selanjutnya, setelah melepaskan tembakan Arvan benar-benar hilang kesadaraan.


Zein langsung mendekap erat tubuh kekasihnya, "huahuahua, Zein, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Dara dengan nafas yang mulai tersenggal dan mulai hilang kesadaraan.


"Dara sayang, kamu kenapa ada di sini, Daraaaaaa, bangun, Daraaa," teriak Zein, menepuk-nepuk pipi Dara.


Namun tiba-tiba saja dirinya juga mendadak pusing menahan sakit di dadanya yang menerima peluru bertubi-tubi sebelumnya.


"Shitt! Zein bertahanlah, ada Dara yang harus kamu selamatkan terlebih dahulu," umpatnya, terus menahan keseimbangan tubuhnya.


Sedangkan Stella langsung berlari menghampiri Arvan yang sudah terbujur tanoa bergerak sama sekali.


Mario dan Aiden hanya bisa terdiam tanpa berkata apapun, semua kejadian ini benar-benar terasa semu baginya.


Mendengar jeritan suara Stella, Alson dan Jenni langsung berlari keluar dan melihat tragedi berdarah yang nyata ada di depan mereka.


Jenni terduduk lemas di samping tubuh Arvan, "kalian berdua tunggu apa? Cepat bawa Papah ke rumah sakit sekarang," perintah Alson pada Aiden dan Mario.


Namun Mario lebih memilih untuk menggendong tubuh Dara. "Aiden, kamu bantu Alson untuk mengangkat tubuh Arvan, dan lalu kamu Stella dan Jenni, bantu topang tubuh Zein, mereka semua butuh pertolongan, bukan hanya Arvan saja," tandas Mario, yang kini berjalan lebih dulu keluar sambil menggendong tubuh Dara.


Sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga langsung mendapatkan pertolongan masing-masing. Bahkan Mario memerintahkan untuk pihak rumah sakit mengosongkan seluruh rumah sakit.


Mario tidak ingin ada satu manusiapun yang berhasil mengambil berita ini, dan menyebar luaskannya. Karena ini akan sangat bahaya dan menguntungkan bagi musuh-musuh keluarga.


"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya Alson pada Mario dan Stella yang masih terduduk diam menunggu ketiga korban itu.


Mario hanya mampu mengehela nafasnya kasar, "Stella, Aiden kenapa kalian tidak bisa menahan Zein agar tidak melampau seperti ini?" tanya Jenni yang sedari tadi hanya diam.


"Kalian tidak bisa menyalahkan Zein, ini semua terjadi karena ke-egoisan Arvan, kamu pikir deh Jen, siapa yang rela melihat wanita yang di cintainya serta bayinya menghilang begitu saja, aku rasa kamu juga tidak akan menerima jika kamu ada di posisi Zein atau Dara," sahut Mario muak mendengar jika ada yang berada dipihak Arvan.


Sedangkan Stella hanya diam tanpa bisa menjawab, karena di satu sisi kakak tersayangnya sedang berjuang melawan maut, tapi di sisi lain Zein juga benar dan bahkan tidak pantas menjadi korban keserakahaan kakaknya.


Aiden berdiri berusaha menenangkan Alson, "cukuplah Alson, kamu tidak bisa berpikir apa-apa saat ini, yang perlu kamu pikirkan adalah Zein dan Dara adalah korban dari Papah kamu, sudah cukup itu saja," ujar Aiden, seperti menghina Alson yang merupakan anak yang tidak bisa mengendalikan orang tuanya.


"Jika masih ada Lucas, ini semua tidak akan terjadi, keluarga kita tidak hancur berantakan seperti ini! Tidak akan ada yang kehilangan, tidak akan ada yang tersakiti, semuanya akan damai-,"


"Tapi karena tidak ada Lucaslah semuanya jadi seperti ini," teriak Stella dengan penuh emosi.


"Kamu lihat didalam sana Dara dan Zein sedang berjuang untuk bisa lepas dari Maut, itu karena siapa? Karena kalian yang mendukung Arvan dan Valen menikahkan Tasya dengan Zein, kalian tidak sadar bahwa kalian juga berperan dalam semua kejadian ini," bentak Stella, pada Jenni dan Mario.


"Tapi aku tidak pernah mendukung Arvan buat membunuh bayinya Dara, Stella," sahut Mario yang tidak terima jika dirinya disangkut pautkan.


"Sudaahhhh cukupppppp," teriak Aiden, menengahi perdebataan ini.


"Kalian semua itu secara tidak langsung pernah menentang antara hubungan Dara dan Zein, kalian ingat itu! Ini bukan masalah siapa dukung siapa, tapi tentang kesadaraan kalian dalam menyakiti hidup mereka berdua, ini bukan hanya salah Arvan, tapi kalian semua yang memancing pemikiran Arvan untuk bertindak sejauh ini, dan yang harusnya paling bertanggung jawab atas hal ini adalah Valen, karena dialah Arvan bisa berpikir bahwa Dara tidak baik untuk Zein dan karena Valenlah Arvan bisa mengambil kesimpulan bahwa Zein tidak akan mengurus Griffin setelah dia mempunyai anaknya sendiri, kalau ada orang yang paling salah atas hal ini adalah Valen, hanya Valen," teriak Jenni dengan nafas yang tidak beraturan, menandakan betapa emosinya dia saat ini.


Membuat semua yang ada di situ terdiam tidak bisa berkata apapun. Melihat Jenni yang baru pertama kali ini mengeluarkan Tanduknya.


*****


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻