It’S So Hurts

It’S So Hurts
Tragedi Kematian Lucas dan Tenry



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


"kamu aman kan, ayo kita lari sebelum kita ditangkap," ajaknya pada suaminya dengan menarik paksa tangan Lucas, dia tidak ingin Lucas kembali mengambil jalan untuk membunuh keluarganya yang tersisa.


Namun belum saja beberapa langkah Tenry merasakan perutnya mengalami kontraksi yang sangat hebat.


"Aaarrrggghhh Saaayngg,, peruutt akuu,.aaarrgghh perutt akuu saakkkiiitt," jerit Terny merasakan sakit yang luat biasa membuat Lucas merasa khawatir.


"Tenry,,Tenry," ucapnya dengan panik lalu tidak lama kemudian dia melihat darah yang mengalir di kaki istrinya.


"Aaarrggghhh sakitt," jeritan Tenry lagi sambil terus menggengam erat tangan suaminya.


"Bertahanlah kita akan segera ke rumah sakit," ucap Lucas dengan suara yang lemah, karena tidak tega melihat kedaan Tenry beserta jeritan kesakitanya.


"Kevviin, siapkan mobil antar aku ke rumah sakit," perintahnya berteriak dengan sedikit berlari membawa tubuh Tenry yang sedang menahan sakit.


Kevin segera menyiapkan mobil dan melajukanya dengan cepat menembus jalan agar bisa segera sampai di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, karena panik Lucas berteriak lalu meletakan tubuh istrinya di atas tempat tidur rumah sakit. "Kalian semua selamatkan istri dan bayiku, atau tidak aku akan membunuh kalian semua," perintahnya dengan mengeluarkan sebuah ancaman untuk suster dan dokter itu.


Karena kebetulan rumah sakit itu adalah rumah sakit tempat adiknya yaitu Valen bekerja.


Tidak jauh dari tempatnya saat ini, Valen melihat dirinya yang sedang berdiri panik dengan baju yang sudah penuh dengan darah dan segera menghampirinya.


"Kakak, ada apa ini? Kenapa kakak menangis? Kakak nangis?" tanya Valen melihat Lucas untuk pertama kalinya menangis.


Melihat kedatangan adiknya; Lucas langsung menggengam tangan Valen dengan erat, "Istriku Valen,,selamatkan istriku di dalam," lirihnya pelan, dan terdengar sangat ketakutan.


Ini adalah hal pertama yang Valen liat dari kakaknya, takut, menangis bahkan memohon, seumur-umur dia menjadi adik Lucas, Valen belum pernah melihat kakaknya seperti ini.


Melihat Tenry yang sedang diberikan sebuah tindakan dalam meja operasi, membuat Valen menyadari bawah kasus Tenry pasti akan berat.


Dan karna kekuasaan Valen di rumah sakit itu, Dia langsung membawa kakaknya masuk untuk untuk menemani Tenry di dalam.


"Tenry," panggil Lucas ketika melihat tubuh istrinya yang banyak di penuhi alat-alat.


"Kenapa kalian meletakan banyak sekali alat di tubuh istriku ha?" bentakanya dengan ketakutan yang begitu besar.


Dia baru pertama kali merasakan rasa takut seperti ini setelah bertahun-tahun lamanya perasaannya mati, hati yang tidak bisa merasakan kehangat serta rasa takut, kini secara ajaib merasakan takut, sangat berbanding dengan itu semua ketika dia takut melihat Tenry yang seperti ini.


"Sayang, maafkan aku," tangis Tenry pecah di saat dirinya merasa sudah tidak sanggup lagi menahan sesak nafasnya di tengah-tengah operasi yang dilakukan dokter sebagai upaya penyelamatan.


"Aku titip anak kita ya, aku mau dia menjadi sepertimu sosok yang kuat dan tegar dalam mengahadapi hidup yang keras ini, maafkan aku yang sudah tidak sanggup lagi mendampingimu, maafkan aku yang sudah harus pergi saat ini,,hisskk,,aaakkhhh." Tangisnya di saat merasakan nafasnya sudah berada di ujung.


"Sssttt, Tenry hey, berjuanglah sayang itu anak kita sebentar lagi akan keluar ya, aku mohon bertahanlah sayang, aku mencintamu Tenry," lirihnya pelan, memohon agar istrinya itu terus bertahan, dan itu sontak membuat Tenry tersenyum di sela-sela nafasnya.


"Katakan sekali lagi." pinta Tenry dengan suaranya yang pelan.


"Aku mencintaimu Tenry,,aku mencintaimu sayang," ucap Lucas dengan lantang dan penuh keyakinan.


"Terima kasih karena sudah mencintaiku Lucas Maurice, aku begitu bahagia karna kamu akhirnya mampu mengungkapkan rasa itu," balasnya dengan suara yang terdengar semakin pelan.


"Hisskk,,hisskk, berjuanglah Tenry," tangisnya memeluk tubuh Tenry dengan sangat erat seakan-akan mengahalangi semuanya.


"Aku pamit Lucas, aku mencintaimu."


Tttiiiiiiitttttttt,, oeekk,,eeookkkk,,eeeookk. Suara detak jantung yang sudah tidak dideteksi berbarengan dengan suara tangis Zein yang semakin membuat Lucas merasakan keterpurukan.


"Tenry sayang anak kita sudah lahir, sayang lihat," serunya dengan mengambil alih bayi yang masih penuh dengan darah itu, lalu didekatkan ke arah wajah Tenry.


"sayang bangun, setidaknya berikan dia kecupan sayang," tangis Lucas semakin pecah ketika dokter mengarahkan Zein di tubuh istrinya, agar bayi Zein bisa melakukan inisiasi menyusu dini terlebih dahulu walaupun nyawa Tenry sudah tidak ada.


"Terny bangun,,banggun,, kenapa kamu pergi padahal aku tidak membunuhmu,Tenry," teriaknya frustasi ketika melihat anaknya yang menyusu tanpa ada respon dari ibunya.


Bahkan Valen yang sedari tadi berdiri di ujung serta tim dokter yang membantu, tidak kuat menahan rasa haru melihat bayi Zein yang begitu malang.


Lucas berdiri dengan langkah gontai mengambil tubuh putranya itu. "Cukup ya, Nak, biarkan Mamah pergi dengan tenang," ucap Lucas semakin jadi ketika melihat wajah teduh istrinya yang tadi terlihat sangat kesakitan.


"Oeeekkk,,oeeekkk,,oeekk," tangis suara Zein lagi, namun terlihat Lucas sedang berusaha memberikanya ketenangan.


"Ssstttt, Nak, kamu dibersihkan dulu ya, biar tampan anak papah," lirihnya pelan dan kembali memberikan baby Zein kepada dokter agar segera ditangani.


Lalu dia kembali lagi menatap wajah istrinya lalu menciumnya dengan segenap penuh rasa kasih sayang. "Apakah kamu menyesal mengenalku? Apakah memang ini yang kamu inginkan sejak dulu? Apakah sebegitu menakutkanya aku sampai kamu pergi seperti?" tanyanya dengan berbisik pelan di telinga Tenry.


Valen berjalan mendekati kakanya. "Kak sudah kak, ayo kita urus dulu semua, kasian kak Tenry tidak bisa dibiarkan lama-lama seperti ini," ucapnya pelan, dengan tangis Valen yang pecah meraskaan sakit melihat kakaknya yang selama ini terlihat kuat, kini hancur dan lemah bagaikan tak bernyawa.


Lucas yang sudah lemah saat ini, hanya diam dan mengikuti saja kemana Valen membawanya berharap untuk mendapatkan sedikit ketenangan.


****


Keesokan harinnya adalah hari pemakaman Tenry.


Terlihat seluruh kerabat datang mengantarkan peristirahatkan terakhir istri dari Lucas tersebut.


Setelah prosesi pemakaman selesai, kini hanya tinggal tersisa Lucas yang sedang menggendong bayinya dan juga Valen yang masih begitu setia menemani kakanya.


Lucas terus menangis dan menatap ke arah putranya yang baru berumur sehari itu, dia sengaja mengambil putranya dari rumah sakit, karena merasa Baby Zein baik-baik saja dan tidak perlu berada di rumah sakit. Sesaat dirinya sudah merasa puas, barulah Lucas berdiri dan menatap ke arah Valen.


"Valen, kakak titip Zein sama kamu ya, kakak mohon rawatlah dia seperti bayi kamu sendiri, ajarkan dia agar bisa menjadi laki-laki yang kuat dalam menghadapi kehidupan ini," ucapnya dengan diiringi air mata yang terjatuh ketika dirinya menyerahkan Baby Zein kepada Valen.


"Kakak," lirih Valen pelan, karena tidak sanggup untuk berkata apapun lagi.


Lucas langsung memeluk tubuh Valen dengan tangis histerisnya. "Maafkan kakak Valen, maafkan jika selama ini kakak tidak pernah menjadi saudara yang baik untuk kamu, maafkan lah karena kesalahaan kakak kamu yang medapatkan hasilnya, maafkan kakak karna belum bisa menjadi yang terbaik untuk kamu," ungkapnya dengan tulus, lalu melepaskan pelukanya dari tubuh adik kesayangaanya.


"Enggak kak, kak Lucas adalah kakak yang paling hebat dan nomor satu untuk Valen, kakak selalu ada disamping Valen ketika ada yang menyakiti adik kakak ini, Valen bangga memiliki Kakak seperti kak Lucas, Valen sangat mencintai kakak, sangat mencintai.hisskk,,hisskkk."


"Valen, kakak cuman mau bilang jaga diri kamu baik-baik ya, kamu taukan hidup sebagai seorang wanita yang sudah pernah menikah itu akan banyak sekali cobaanya, terlebih mulai saat ini kakak minta berdirilah sendiri karna kakak sudah tidak mungkin berada disampingmu lagi, tidak bisa menghapus air matamu lagi, tidak bisa memberikan pelajaran untuk mereka yang menyakitimu, jadilah wanita yang kuat dan tangguh."


Valen menggelengkan kepalanya menolak kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut kakaknya itu. "Enggak kak, please jangan bilang seperti itu, kakak akan selalu di sinikan temanin Valen, kakak tau Valen udah tidak punya siapa-siapa lagi, kalau Valen kesepian bagaimana kak? Valen belum bisa berdiri sendiri tanpa sandaran."


"Ada Zein yang akan menemani kamu Valen, kakak harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kakak selama ini Valen, terutama pada istri kakak," balas Lucas yakin, membuat Valen kembali tidak mampu berkata apa-apa lagi.


Tatapan Lucas langsung beralih pada bayi mungilnya. "Zein jangan nakal ya, Nak, dengarin jika bundanya berbicara, jangan dibantah, jangan buat bunda pusing, Papah mencintaimu Zein, namun Papah harus pergi untuk mendapatkan hukuman atas seluruh kesalahan Papah, maafkanPapah yang tidak bisa melihat dan menemanimu tumbuh Zeeinn. Ingat pesan Papah sayang, jangan pernah percaya dengan orang luar, dan jangan sembarang memilih teman yang akan bisa menjatuhkanmu, gunakanlah kakimu untuk berpijak Nak, jangan pernah mengandalkan orang lain. Papah mencintamu Zein, Papah tidak tau bagaimana lagi cara mengatakanya tapi Papah sangat ingin memeluk dan melihatmu tumbuh, maafkan Papahmu yang tidak sempurna ini Zein," ucapnya sambil mengecup gemas pipi tembem putranya sebagai kecupan terakhir mereka.


"Pipi kamu gembul Zein, ini pasti karena mamah kamu kemarin banyak makan deh," imbuhnya dengan sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.


Lalu dia beralih pada kuburan istrinya. "Aku merindukanmu Tenry, aku pamit untuk mempertanggung jawabkan semuanya, walaupun ini tidak akan pernah terbayarkan oleh semua kesalahanku yang sudah seperti gunung," gumamnya pelan lalu mencium nisan istrinya yang masih baru.


Kemudian dia beralih pada Valen yang mengalihkan pandanganya ke arah lain. "Kakak mencintamu Valen, berjuanglah," kalimat terakhirnya lalu mengecup singkat kening adiknya.


"Kakak," panggil Valen dengan suara yangterdengar sangat gemetar.


"Zein Alucas Maurice," nama yang begitu indah dia sematkan untuk putranya sebelum dia benar-benar pergi.


"Kakak pamit ya Valen," pamitnya ingin menyerahkan dirinya pada polisi.


Lucas sudah melangkah menjauh dari Valen, lalu membalikan kembali tubuhnya dan tersenyum manis kepada adiknya.


Dddroooorrrr,,dddooorr,,ddoooorr,,dddoooorr.


"Kakakakkaakakakakkakak," teriak Valen ketika melihat dengan jelas kematian kakak kesayanganya itu.


Lucas tewas seketika di saat mendapatakan beberapa tembakan kematian yang dilayangkan oleh polisi sekitar.


Polisi sengaja menembak mati Lucas di tempat karena tidak ingin Lucas kabur atau mengamuk dan mengakibatkan kematian untuk polisi itu sendiri mengingat siapa Lucas yang mereka kenal. Namun seperti yang terlihat saat ini, Lucas sama sekali tidak memberikan perlawanan, dan bahkan meralakan dirinya mati dengan sia-sia hanya karena sebuah rasa cinta pada istrinya.


Valen semakin melemah dan segera mendekati tubuh kakaknya sambil terus menggendong Zein yang menangis didekapanya.


"Kak,kak Lucas bangun," panggilnya frustasi melihat kakaknya yang tidak bernyawa tepat dihadapanya.


"Kak Lucaaass bangunnn!! Jangan tinggalkan Valen kak, banggunnn," panggilnya lagi diiringi tangisan Zein yang semakin nyaring.


"Kakakkakakakakkakakakkak." Teriak Valen lagi merasa sesak di dadanya.


Flashback Off.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*