
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
"Dara, Saya adalah Stella, Mamah angkat dari Zein," ucapnya memperkenalkan diri.
Lalu Dara menanggukkan kepalanya mengerti, "iya Tante, saya sudah tau, karena Zein pernah menceritakkannya," sahut Dara dengan lembut.
Stella tersenyum mendengar kalimat Dara, dan detik selanjutnya dia kembali menampilkan wajah seriusnya, dan kali ini dia duduk disebelah Zein, yang nampaknya masih cuek dengan keberadaan Stella.
"Jadi begini Dar," sambung Stella lagi.
Namun Zein sudah lebih dulu menatap Stella dengan tajam, bermaksud agar Stella tidak melanjutkan apa yang akan dibahas kali ini.
"Zein, biarkan Tante Stella bicara," seru Dara, yang tidak menyukai cara Zein seperti itu.
"Tapi sayang," sahut Zein.
"Zein," balas Dara lagi, meminta agar Zein diam terlebih dahulu.
Dan seketika Zein hanya bisa menutup mulutnya. Lalu memberikan ruang untuk Stella berbicara.
Melihat Zein yang sudah tenang, barulah Stella mulai menatap ke arah Dara lagi.
"Jadi begini Dara, Mamah bukan bermaksud untuk mencampuri urusan kalian semua, hanya saja Mamah tidak tega dengan Jingga, dia masih kecil dan belum tau apa-apa, dan sekarang dia sakit, kamu pasti bisakan ngerasain gimana perasaan seorang wanita atau ibu yang mendapatkan anaknya mempunyai kekurangan atas ulah ayahnya di saat di dalam kandungan dan dia sakit parah sekarang," jelas Stella pada Dara.
Dia ingin agar Dara mengerti apa yang telah diperbuat oleh Zein, dan bukan hanya menyalahkan Tasya saja, melainkan Zein memanglah yang paling bersalah di sini.
Dara menoleh pada Zein sekilas, yang kini hanya bisa mengedikan bahunya singkat.
"Coba tanya saja pada Zein apa yang sudah dia lakukan pada Tasya dulu," seru Stella lagi, yang merasa bahwa Dara tidak percaya dengan apa yang dia katakaan.
Dara tersenyum tipis menanggapi kalimat Stella, "untuk apa aku bertanya pada orang yang tidak akan pernah jujur apa lagi mengakui perbuataanya, Zein pasti tidak akan mau ngomong Tante," sindir Dara pada Zein yang terlihat sangat cuek dengan permasalahaan ini.
"Dara, mungkin kamu memang merasakan sakit dengan Tasya, tapi percayalah, tidak ada yang merencanakan semua. Ini adalah takdir dari Tuhan untuk kalian," tungkas Stella.
Zein yang mengerti kemana arah pembicaraan Stella, kini langsung bediri dari duduknya dan menatap lekat ke arah Stella , "aku rasa semuanya sudah tidak perlu dibahas lagi ya Mah, sekarang aku sudah kembali dengan Dara, dan tidak ada lagi yang perlu diingat-ingat lagi tentang masa lalu,” tegas Zein yang merasa muak dengan pembahasaan yang itu-itu saja.
Dara langsung menggengam tangan Zein yang tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini, “sayang,” tegur Dara, yang memberikan kode pada kekasihnya agar tidak emosi seperti ini.
“Tapi Sayang,” elaknya, tidak setuju dengan apa yang ada dipikiran Dara saat ini.
“Kita dengarkan dulu apa yang Mama inginkan Zein, bisa saja itu untuk kebaikan kita semua,” ucap Dara pelan, berharap agar Zein bisa mendengarkannya dengan baik.
Terlihat Zein menghela nafasnya kasar, dan kini dia memilih untuk duduk sambil memeluk tubuh Dara dari belakang, tanpa rasa malu pada Stella.
Keadaan terlihat hening sejenak, sampai Stella ingin membuka suara lagi.
“Bagaimana kalau kita ambil Jingga saja,” seru Dara tiba-tiba, menghentikan mulut Stella yang baru terbuka ingin mengeluarkan suaranya.
“Bagaimana?” tanya Zein yang sontak terkejut dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh kekasihnya itu.
Dara menganggukan kepalanya pelan, ketika mendapatkan tatapan dari Stella dan Zein bersamaan. “Zein, Tante, mungkin saja kalian memang bingung dengan keputusan aku ini, tapia ku hanya memikirkan nasib Jingga saja, dia tidak bersalah, Zein dan Tasya lah yang bersalah, jadi gak wajar dong kalau kita hukum dia,” ungkap Dara lagi, yang kini membuat Stella menatap Zein dengan diam.
“Tidak, aku tidak setuju,” sahut Zein, yang memberikan keputusannya mutlak.
“Kenapa Zein? Bukankah yang dikatakan Dara tadi memang benar, Jingga adalah anak kamu Zein, darah daging kamu,” ucap Stella, yang ikut mendukung keputusan Dara kali ini.
“Sayang, sadarkah dengan apa keputusanmu ini?” tanya Zein lagi pada Dara.
Zein bisa melihat jelas keraguaan yang ada di dalam hati Dara, membuatnya langsung tersenyum tipis menanggapinya. “Kita bicarakan ini lain waktu,” tungkas Zein, yang seketika menghentikan perdebataan ini.
“Tapi kenapa?” tanya Dara yang tidak mengerti kenapa lain waktu.
“Karena aku tidak mau melihat orang yang memberikan sebuah keputusan, tetapi hatinya masih ragu Dara,” sahut Zein, yang kali ini dikatakan dengan penuh penekanan.
Lalu dia beralih menatap pada Stella yang kini hanya diam melihat perdebataan antara Zein dan Dara yang terkesan lucu dan menjengkelkan.
“Mah, bisakah berikan ruang untuk Zein dan Dara membicarakan permasalahaan privasi dengan bocah ini?” tanyanya pada Stella, yang kini tersenyum mendengar pertanyaan yang terdengar seperti mengusir.
“Baiklah-baiklah, Mamah akan kasih kalian waktu, tapi tidak di sini ya, mungkin Uncle Mario akan membawamu ke Negara lain yang memiliki rumah sakit terbaik untuk Dara, agar kalian tidak bertemu dengan Uncle Arvan terlebih dahulu,” balas Stella, yang terlihat mulai beranjak dari duduknya.
“Aku dan Dara akan kembali ke Indonesia malam ini Mah, jangan khawatir,” ujar Zein lagi, yang kini mendapatkan tatapan bingung dari kekasihnya.
Stella menganggukan kepalanya pelan, mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Zein saat ini.
“Baiklah, kita semua akan kembali ke Indonesia malam ini, Mamah juga mengkhawatirkan tentang Griffin yang jauh dari kamu,” lirih Stella pelan, sambil terlihat menghela nafasnya kasar. Dan setelah itu, barulah dia melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Dara, untuk melihat keadaan kakaknya.
Melihat langkah Stella yang kian menjauh, Zein langsung membaringkan tubuh Dara di dalam pelukannnya yang kini juga sedang bersandar di tempat tidur, “kenapa kamu mengambil keputusaan seperti itu?” tanya Zein pada Dara, sambil mengusap lembut kepala kekasih yang selama ini sangat dia rinndukaan.
“Keputusaan yang mana?” tanya Dara bingung.
“Keputusaan yang mengatakan bahwa kita akan mengambil anak itu,” jawab Zein.
“Anak kamu,” sahutnya memperbaiki kalimat kekasihnya.
“Hemmm, anak itu,” timpal Zein dengan santai.
Dara beralih memeluk tubuh Zein dengan sangat erat, seakan-akan takut untuk kehilangaan pria ini lagi. “Karena aku mau, kita membuka pintu kasih sayang untuk Jingga, dia anak kamu, ya berarti mau tidak mau dia juga anak aku dong,” jelasnya, mengatakan pada Zein apa yang sedang berada dipikiraanya saat ini.
Zein langsung menutup matanya ketika mendengar jawabaan yang diberikan Dara kepadanya, sungguh ini sangat berat sekali, menerima anak yang sama sekali memang dia tidak inginkan. Ini bukan masalah dia mau atau tidaknya, tapi dia memang sama sekali tidak bisa menerima anak dari hasil yang tidak diinginkan.
Baginya anaknya hanya boleh dilahirkan oleh Dara, dan dia tidak menginginkan anak dari wanita lain, meskipun itu seratus persen memang anaknya.
“Sayang,” panggil Dara, ketika dia tidak mendengar suara Zein lagi.
“Sayang,”
“Sayang,” panggilnya untuk kesekian kali, namun sama sekali tidak ada tanggapan dari Zein. Membuat Dara yang kesal kini langsung ikut menutup matanya, karena kepalanya masih merasa sangat-sangat pusing.
Zein yang merasa Dara sudah hilang kesadaraan lagi, kini langsung mendekap erat tubuh Dara yang sangat mungil itu, “aku berjanji sayang, aku akan mengukum orang-orang yang sudah memisahkan kita dan membuatmu menderita,” batin Zein, yang kini sudah menemukan cara bagaimana agar pria tua yang selamat dari maut itu mendapatakan sebuah hukuman yang memang pantas dia dapatkan.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻