It’S So Hurts

It’S So Hurts
Jingga Rindu Ibu



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Di sisi lain, di kediaman keluarga Maurice, terlihat mereka sedang sama-sama bercanda tawa. Menikmati makan malam bersama keluarga mereka yang telah kedatangan tamu.


"Jadi Mafa ini juga bersekolah di SMPN 1 ya Sim?" tanyanya pada Kasim.


"Iya Tuan, anak saya ini sekolah di Smp itu, mungkin nanti kalau Jingga masuk ke situ, Mafa bisa menjadi kakak kelas yang akan melindunginya," jawab Kasim.


"Dan istri saya ini, adalah anak dari pemilik yayasan SMA Airlangga Tuan, jadi nanti setelah anak-anak lulus Smp, Tuan tidak perlu khawatir, karena kami akan menjamin sekolah Jingga sampai perguruaan tinggi," sambungnya lagi, penuh dengan keyakinanan tinggi.


Zein terdiam seketika, dia mendapatkan sebuah firasat yang aneh di dalamnya dirinya sedari kemarin, namun dia tidak berani mengungkapnya pada Dara atau siapapun.


"Mafa, kamu adalah anak laki-laki, jadilah kuat seperti papahmu, dan jika bisa, om meminta untukmu menjaga Jingga sampai dia sudah menemukan kebahagaiaannya sendiri, apakah bisa seperti itu?" tanya Zein dengan perasaan tenang pada Mafa.


Dia sangat yakin jika Mafa adalah anak yang pintar, sehingga akan mengerti dengan apa yang dia sampaikan saat ini.


Perkataan Zein yang seperti itu, membuat Dara dan yang lainya menghentikan gerakaannya seketika. "Pasti om, Mafa Berjanji akan selalu menjaga Jingga seperti adik Mafa sendiri, tidak akan pernah Mafa biarkan siapapun mengganggu adik Mafa, itu Janji Mafa." Ucapnya dengan lantang dan merasa yakin jika dia bisa mewujudkan janji itu.


Setelah pembicaraan singkat itu, kini terlihat para orang tua yang sedang berbincang-bincang, dan lain halnya dengan Jingga dan Mafa, yang terlihat sedang duduk bersama di halaman belakang, melihat keindahan pantai beserta langit malam.


"Jingga, aku boleh tanya tidak?" seru Mafa, yang sedari tadi penasraan dengan darah yang keluar dari hidung Jingga tadi.


Dengan menganggukan kepalanya pelan, Jingga mengizinkan Mafa untuk bertanya kepadanya.


"Kamu sedang sakit ya?" tanya Mafa pelan, takut jika Jingga akan tersinggung dengan pertanyaannya.


Kemudian Jingga sontak menganggukan kepalanya pelan, lalu ketika dia menyadari itu, dia langsung kembali menggelengkan kepalanya keras.


Mafa tertawa dengan tingkah Jingga yang seperti ini, "jadi yang mana benar? sakit atau tidak?" tanya Mafa untuk memastikan jawaban Jingga.


"Aku tidak tau," jawab Jingga singkat. Dan semakin membuat Mafa ingin mengigitnya.


"Kenapa bisa kamu tidak tau, sedangkan kamu yang merasakan di dalam diri kamu," seru Mafa dengan kesal.


"Aku hanya merasakan sakit tapi tidak tau aku sakit atau tidak," jawabnya polos, kembali membuat Mafa membulatkan matanya besar, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jingga.


Mafa memilih diam dan tidak lagi berbicara, namun seketika dia ingat akan satu permainan.


"Bagaimana kalau kita balapan makan biskuit ini, dan yang kalah akan jadi kuda," tantang Mafa.


Meskipun menang atau kalah dia tetap harus jadi kuda, tapi dia ingin Jingga bisa tersenyum kali ini.


Jingga menggelengkan kepalanya pelan, lalu memasang wajah dengan tatapannya yang sendu. "Aku rindu ibu," lirihnya pelan.


"Ibu?" tanya Mafa bingung.


Pasalnya yang dia tahu, tante Dara adalah ibu dari Jingga.


"Ibu," gumam Jingga lagi, lalu mendadak dia merasakan jikan kepalanya pusing.


Bruggghhhh Jingga pingsan tepat di sebelah Mafa. "Jingga,,Jingga," ucapnya membangungkan Jingga.


Karena tidak ada reaksi apapun, Mafa langsung berlari masuk ke dalam untuk memanggil om Zein.


"Pahhhh,Maaahhh, omm Zeiinn,," teriak Mafa dari arah belakang.


Sontak saja Zein segera berlari mendatangi Mafa. "Ada apa?" tanya Zein dengan wajah yang panik.


"Jingga pingsan di halaman belakang om," lapornya pada Zein.


Dan tanpa bertanya lagi, Zein segera melangkahkan kakinya ke halaman belakang untuk melihat putrinya.


"Ya Tuhan Jingga," lirihnya pelan, disusul oleh Dara yang membawakan selimut tebal untuk Jingga.


"Kita langsung bawa ke rumah sakit saja," seru pak Kasim yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Zein.


Dengan Kasim yang mengendarai mobil, Zein dan Dara duduk di belakang, sambil terus mengusap tangan dan kaki Jingga agar tetap hangat.


"Sebenarnya apa yang terjadi sebelum Jingga pingsan Mafa?" tanya Dara menatap ke arah Mafa yang tengah duduk di bangku paling belakang.


"Tadi Jingga hanya bilang dia rindu ibu, dan setelah itu dia langsung pingsan," jawab Mafa dengan polosnya.


Melihat ekspresi Dara yang terlihat ingin menangis, membuat Zein segera menggengam tangan istrinya.


"Aku ibunya Jingga," lirihnya pelan mengadu pada Zein. Bahwa tidak ada ibu lain selain dirinya.


Zein tersenyum dan mengusap lembut jemari Dara, "kamu adalah ibu yang terbaik, aku yakin Jingga hanya sedang tidak sadar mengucapkan kalimat itu," ucap Zein yang masih ingin bersikap egois.


Dara menganggukan kepalanya pelan, lalu beralih menatap wajah Jingga yang sangat pucat.


"Ini ibu Jingga sayang, bangun ya nak, ini mamah, ini ibu sayang," gumamnya dalam hati. Berharap yang sedang dirrindukan oleh putrinya ini adalah dia.


Walaupun pada kenyataanya dia sangat tau, jika yang sedang berada di dalam pikiran putrinya itu adalah Tasya bukan dia.


Sesampainya di rumah sakit, Zein langsung membaringkan tubuh putrinya di atas ranjang yang dibawa oleh suster.


"Selamatkan anak saya cepat," perintah Zein tegas seperti biasanya.


"Baik pak, silahkan kalian semua tunggu di luar," ucap beberap suster itu, sambil mendorong ranjang Jingga masuk ke dalam ruang tindakan.


Zein,Dara, dan keluarga Kasim kini sedang menunggu dengan perasaan harap cemas di kursi tunggu.


"Jingga akan baik-baik saja sayang, percayalah," ucap Zein berusaha menenangkan istrinya yang terlihat sangat ketakutaan saat ini.


Dara menghela nafasnya panjang, menumpahkan segala rasa khawatirnya di pundak Zein.


Sedangkan Zein dari tadi sedang berpikir banyak hal, dia teringat akan semua ancaman Arvan, keadaan Valen, Stella dan Aiden, terutama dengan Griffin. Namun dia juga bingung langkah apa yang akan dia ambil kali ini.


Dia selalu ingin memadamkan api yang berkobar di antara mereka semua, ingin mengakhiri rasa sakit dari semua orang yang disebabkan olehnya. Tapi dia tidak tau bagaimana caranya. Dia bingung dia buntu.


Terlebih sekarang dia sangat tau jelas bahwa yang dirinddukan oleh Jingga putrinya adalah Tasya, bukan istrinya.


Cukup lama mereka semua menunggu, sampai dokter yang tadi memeriksa Jingga keluar dari ruang tindakan.


"Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Zein tanpa berbasa-basi.


dokter tersebut terlihat menarik nafasnya dalam, membuat Zein dan Dara semakin ketakutaan.


"Besok pagi kami akan melakukan kemoterapi untuk anak Anda pak," ucap dokter tersebut, yang memberikan sebuah keputusan tanpa sama sekali tidak memberikan mereka pilihan.


"Kenapa harus kemoterapi dok?" tanya Kasim yang sedari tadi berdiri di belakang tubuh Zein.


"Karena anak ini menderita Leukimia Pak, atau nama lainya adalah Kanker darah," jelas dokter tersebut.


Sontak saja Mafa, Kasim dan Lina terlihat terkejut mendengar kabar itu.


Mafa bukan orang bodoh yang tidak tahu apa itu kanker darah, karena di sekolah dia sudah mempelajari ini semua.


"Lakukanlah yang terbaik untuk anak saya dok, atur jadwal kemo untuk dia," perintah Zein dengan tegas.


Dia tidak mau orang luar terlalu banyak bertanya apapun lagi tentang putrinya. Karena dia tidak ingin ada yang merasa kasihan dengan Jingga.


"Baik pak, segera akan saya atur jadwal untuk putri bapak, dan maaf pak, dosis obat-obatannya akan saya tambahkan lagi," seru dokter itu lagi.


Membuat Zein hanya mampu menganggukan kepalanya saja saat ini. Karena mau marah atau menolak untuk sekarang ini juga sama sekali tidak bisa.


Biar bagaimanapun, Jingga butuh apapun yang disarankan dokter kepadanya. Dan itulah yang membuat Zein saat ini harus berusaha melatih tingkat kesabaraan di dalam dirinya lagi.


*To Be Continue. **


Note: teman - teman, Mohon Maaf ya, Mimin mau ngabarin, kalau Give Awaynya Mimin Pindah untuk Karya It’s So Hurts. Karena Mimin tidak bisa melihat hasil kalian jika tertumpuk dengan poin - poin yang lama.


Jadi Mimin pindah ya, Dukungan Give Away karyanya untuk Karya It’s So Hurts 🙏🏻🙏🏻


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*