It’S So Hurts

It’S So Hurts
Mr. Psychopat



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Zein nyaris tertidur ketika dirinya mendapatkan sebuah kehangatan dari belaian lembut tangan Dara, “Sayang, filmnya sudah habis,” tegur Dara membangunkan Zein.


Bersamaan juga telepon yang berdering masuk di ponsel Zein, “Halo,” sahut Dara mengangkat panggilan telepon di ponsel kekasihnya. “Halo, good afternoon, Miss. Ada kurir antar makanan, boleh masuk, ya ?” tanya security guard di bawah.


“Yes, boleh,” jawab Dara singkat. Langsung menutup panggilannya.


“Sayang, Sayang, bangun, ih, keluar dulu, itu kurirnya udah di depan,” ujar Dara, membangungkan Zein yang malah memperbaiki posisinya.


Dara semakin kesal melihat Zein yang tidak mau bangun, sehingga mau tidak mau dirinya yang memilih bangkit. “Sudahlah, aku saja yang membuka pintu,” lirih Dara pasrah.


Sontak saja Zein yang mengingat jika Dara sedang menggunakan pakaian sexy, langsung melompat dari tidurnya, dan menarik tangan Dara. “Biar aku saja, Sayang,” ucapnya pelan, tak lupa dia menggendong Dara untuk kembali duduk di sofa terlebih dahulu.


Setelah dia berhasil mengambil makanan, Zein langsung menyiapkanya untuk Dara, namun tiba-tiba, ponsel Zein kembali bedering dan memperlihatkan nama security.


“Halo,” sahut Dara lagi, segesit kilat, merampas ponsel Zein dari tangan sang pemilik.


“Halo, Miss, ini ada lagi, datang Mr. Justin. Boleh masuk, tidak ya?” tanya security.


“Yes,” jawab Dara, langsung mematikan ponselnya.


Setelah itu Dara menarik napasnya dalam-dalam, merasa kesal tinggal di rumah Zein.


“Kenapa setiap saat ada yang masuk harus selalu telepon seperti ini?” ketusnya, sambil mencomot makanan yang ada di piring.


”Sayang ih, belum selesai aku panaskan loh,” tegur Zein, menepis tangan Dara.


“Kamu lama, Yank, aku udah lapar,” sahut Dara dengan santainya, tanpa peduli kekesalan Zein terhadapnya.


Ting,,tong suara bel berbunyi. “Biar aku aja yang buka,” sahut Dara, tak lupa dia mengambil bantal sofa terlebih dahulu untuk menutupi dadanya.


Tringggg suara pesan masuk di ponsel, yang datang dari Valen. “Bunda”, gumam Zein, dan lansung segera membukanya sebelum Dara melihat.


Hati Zein kembali memanas seketika melihat foto Nayra dan Tenry yang sedang bergandengan tangan. “Kamu perhatikan wajah wanita ini, 80% mirip dengan Dara,” tulis Valen pada pesan itu, dan tak lupa dia melingkari wajah Nayra.


Zein tak ingin semua ini diketahui oleh Dara, sehingga dia memilih untuk menghapus pesan itu secepatnya.


“Sayang, ada Justin,” tegur Dara, sambil tersenyum menatap Zein yang masih fokus dengan ponselnya.


“Halo, Mr. Zein,” sapa Justin dengan ramah.


Namun seperti biasa, dia akan diam tanpa bersuara sama sekali. Membuat Justin terdiam tanpa berani menyahut lagi.


Hingga akhirnya Dara menyenggol lengannya untuk kembali bicara dengan Zein. “Kamu izin, lah. Kalau dia tidak bolehkan, aku nggak bisa pergi,” ucap Dara.


“Ada apa ?” tanya Zein, sambil melangkah mendekat ke arah Dara.


“Jadi begini, Sayang, aku itu hari pertama kali syuting, jadi meskipun kamu sudah bayar penaltinya, tapi tetap aja ada project lainnya. So--,” ucapnya terhenti, ketika mendapatkan


Zein menatapnya dengan begitu serius.


Sedangkan Zein yang sudah mengerti arti ucapan kekasihnya itu, kini lebih memilih diam, dan menarik tangan Dara untuk makan terlebih dahulu.


“Berapa lama syutingnya?” tanya Zein serius, sambil menyerahkan makanannya.


Justin tersenyum dan melihat ke arah jam tanganya, “Mungkin sebelum jam 10 malam saya sudah mengantarnya kembali ke sini, Mr. Zein,” jawab Justin dengan ragu.


“Gilaa sih, aku kayak minta izin sama bapaknya, woy,” batinnya, mengingat ketika dulu bertemu dengan bapaknya Tyas yang super duper galak.


Zein kembali terdiam, dan berpikir sejenak. “Ah, aku bisa ambil kesempataan untuk bertemu Bunda sebentar,” batin Zein, yang mulai mengatur waktunya di belakang Dara.


“Kamu di rumah aja kan, Sayang?” tanya Dara, seakan tau apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya.


Zein menganggukkan kepalanya singkat. “Iya, Sayang, aku di rumah. Aku masih banyak pekerjaan kok. Aku tidak akan keluar malam ini,” jawabnya bohong.


Dara tersenyum dan segera menghabiskan makannya, lalu segera bersiap untuk pergi bersama dengan Justin.


“Zein, itu apa?” tanya Dara dengan gugup.


Zein menelitinya, dan kembali mengeluarkan sebuah suntikan kecil. “Zein, Sayang,” tegur


Dara lagi, berharap Zein berhenti melakukan tindakan gila.


“Maaf, Sayang, tapi aku sangat mencintaimu, dan ini wajib aku lakukan,” ucap Zein.


Dara terdiam, dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini tidak berbahaya. Zein mulai melangkahkan kakinya menarik tangan Dara. Dan menyuntikkan obat bius ke arah punggungnya.


“Zein, pelan-pelan,” pinta Dara, karena bius itu tidak benar-benar menghilangkan rasa sakitnya, bahkan dia masih bisa merasakan sakit ketika pisau curter di punggung Dara.


“Ahhggrrhh, sakitt,” rintih Dara menahan perih akibat sayatan pisau yang begitu tajam menari di tubuhnya.


Zein merobek kulit Dara, dan memasukan sebuah alat kecil sebagi alat pelacak, dia tidak ingin Dara kabur dari genggamannya,


“Arrgghhh, sakit Zein, sakit,” rintih Dara, karena obat bius itu sama sekali tidak bereaksi padanya.


“Maaf, Sayang, ini hanya sebentar saja,” balas Zein pelan, dan terus melanjutkan aksinya, menjahit punggung Dara.


Setelah selesai, dia membalik tubuh Dara dan mengambil tangannya, “Sayang, maaf, tahan sedikit,”pinta Zein, menyayat kembali namanya di tangan Dara hingga membentuk kata


“ZERA".


“Aarrrggggghhhhh Zeiinnnnnn,” teriak Dara hingga ke luar ruangan.


Seketika Justin merasakan hawa yang tidak enak ketika mendengar jeritan kesakitan Dara memanggil nama Zein.


Sedangkan Zein langsung tersenyum ketika melihat dirinya yang berhasil melakukan tindakan ekstrimnya itu, dan segera menghubungi dokter pribadinya, yang berada di lantai dasar.


“Permisi, Tuan,” sapa dokter itu ketika baru sampai dan melihat pintu yang memang terbuka sedari tadi.


Justin menolehkan pandanganya, dan melihat sosok dokter itu, dan bersamaan dengan Zein yang baru saja keluar dari kamar, dengan tangan yang masih berlumuran oleh darah Dara tadi.


Dia sengaja untuk memperlihatkan darah itu pada Justin, agar pria ini tau jika Zein bukanlah seseorang yang bisa dipermainkan.


“Gila, habis diapain itu Dara?” batin Justin, bergedik ngeri melihat tangan Zein yang berlumuran darah seperti itu.


“Cepat obati luka di tubuh kekasihku, pastikan lukanya sembuh dan meninggalkan bekas,” perintah Zein pada dokter itu.


Dokter itu hanya berani menganggukkan kepalanya singkat, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, dan melihat Dara yang terbaring dengan darah yang membanjiri seprei.


Namun bukannya menangis Dara malah tersenyum menatap ke arah dokter itu.


“Tidak apa, Dok, dia mencintaiku, makanya dia melakukan ini kepadaku,” seru Dara, seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh dokter wanita ini.


“Obati saja luka ini, cepat ! Karena aku akan pergi keluar!” perintah Dara lagi, setelah melihat dokter itu yang tidak bergerak dari posisinya.


“Eh iya, Nyonya, segera akan saya obati,” sahut dokter itu dengan gugup.


Berbeda dengan Zein yang kini berjalan santai di depan Justin, bahkan mencuci tangan begitu saja tanpa ada perasaan jijik sama sekali.


“Benar-benar Mr. Psychopat,” gumam Justin dalam hati.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻