
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Sudah satu bulan usia baby Linzi, dan hari ini Dara akan kembali ke rumah dulu untuk memulai kehidupan barunya.
Sedangkan rumah yang di sini akan digunakan sampai nanti anaknya dewasa dan bisa ditempati Linzi atau Jingga.
Dara memang tidak ada niataan untuk menjualnya, karena baginya itu adalah hak anak-anak, bukan hak dirinya.
"Dara, kamu yakin ingin tinggal sendiri di sana?" tanya Stella sudah yang ke 89 kali.
Entah kenapa dia sangat khawatir untuk melepaskan Dara untuk memulai kehidupaanya sendiri, apa lagi ada Linzi yang baru saja lahir, dan itu membuat Stella semakin takut.
"Iya tante, Dara yakin kok, tante tenang saja, karena selama satu bulan ini Dara sudah benar-benar belajar bagaimana cara mengurus Linzi dengan baik dan benar, jadi tante tidak perlu khawatir ya," ucap Dara dengan senyum yang selalu merekah di wajahnya.
Mungkin saja ketika orang lain yang melihat senyum itu, semua akan berpikir jika Dara sedang baik-baik saja.
Tetapi dari matanya, sangat tergambar jelas bagaimana luka yang tidak akan pernah hilang dan terus menerus bersarang di hatinya.
"Bye-bye Linzi, nanti kakak Lyla main-main ke sana ya sayang," Lyla merasa sedih, karena adiknya kembali diambil dan dibawa pergi.
Dara menganggukan kepalanya pelan, sambil tersenyum manis, sambil terus melihar wajah tenang putrinya.
"Kami berangkat dulu ya tante," pamit Dara yang merasa sesi pamitan antara mereka sudah selesai.
Namun baru saja mereka ingin berangkat. Terlihat Tasya yang datang bersama dengan Mario, Eden dan Jingga.
Tetapi fokus Dara bukan kepada Tasya melainkan menatap Jingga yang sedang berada di kursi roda, dengan wajah yang sangat-sangat pucat.
"Jingga, sayang kamu kenapa?" tanya Dara dengan perasaan yang sangat khawatir.
Berbeda dengan Stella yang dengan sigap mengambil Linzi dari tangan Dara, untuk memberikan ruang agar dia bisa melihat keadaan anak tirinya.
"Jingga," panggil Dara lagi, dengan sedikit menyentuh wajah putrinya.
"Jingga sudah lama tidak mau bicara dan membuka suaranya, dia tidak mau meminum obatnya, sehingga sekarang kondisinya semakin melemah Dar," adu Mario pada Dara.
Dan itu membuat Stella tersenyum puas mendengarnya. "Ya begitulah ya, kalau orang gak bisa urus anak, tapi sok-sokaan mau rebut anak, nanti kalau anaknya udah meninggal, baru nangis menyesal gak guna," sindir Stella yang benar-benar muak ketika melihat wajah Tasya berada dihadapaanya.
"Maafkan aku Dara, bukannya aku ingin bersikap egois, tapi kamu pasti mengerti perasaan seorang ibu yang ingin merawat anaknya sendiri, aku hanya-," ucap Tasya terhenti ketika Jingga tiba-tiba saja memeluk tubuh Dara dengan erat.
Tasya terkejut melihat itu, karena selama Jingga bersamanya, putri kecilnya itu sama sekali tidak pernah meresponnya.
"Jingga kangen banget sama mamah," ucapan Jingga yang terdengar sangat pelan namun tulus.
"Mamah juga sangat merindukanmu Nak, mamah sangat-sangat dan sangat merindukanmu," balas Dara, sambil terus mengecup lembut wajah Jingga seperti biasanya.
Setelah itu Dara bangkit dari posisinya dan menatap sinis ke arah Tasya.
"Dara."
"Untuk apa kamu mengambilnya jika kamu sendiri sebagai ibu tidak bisa merawatnya, apakah kamu belum puas mengambil Zein dari kehiduapnku dan sekarang kamu ambil Jingga dan seakan-akan kamu akan merawatnya, seakan-akan kamu yang paling mengerti dia." Kali ini Dara tidak akan pernah diam atas semua perlakuaan Tasya kepadanya.
Dengan cepat Tasya memegang dadanya yang terasa sesak, serta tangis yang kembali pecah ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Dara.
"Maafkan aku Dara, tetapi aku hanyalah seorang manusia biasa, seorang ibu yang menginginkan putri yang dia lahirkan, dia besarkan kembali menyayanginya." Tasya mulai mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada di dalam hatinya. "Mungkin kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan ketika kamu berada dposisiku saat ini. Keluargaku hancur, kakak aku dibunuh, lalu masa depanku dihancurkan hanya akibat sebuah amarah yang ada di dalam diri Zein atas kamu, lalu dia memaksaku untuk mengugurkan kandunganku, dia membuang kami, dan lalu sekarang dia kembali dan mengambil putri yang aku rawat dengan susah payah, menghadapi setiap omong kosong bullyan masyarakat, dan sekarang apa? Aku sama sekali tidak pernah membunuh Zein, tetapi dia yang menuntunku untuk membunuhnya." Ungkap Tasya dengan meluapkan semua emosi yang ada.
"Bukan hanya kamu yang korban di sini, tetapi banyak sebuah kehidupan yang hancur karena sebuah ke-egoisan di antara kita bertiga. Tidak pernah ada yang salah, karena sebuah perasaan di antara kamu, aku dan Zein adalah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan kepada kita."
"Kepergiaan Zein, harusnya tidak membuat kita saling membenci satu sama lainnya, Zein sudah menumpahkan darahnya di atas kobaran api yang sulit dipadamkan."
Semua orang menatap ke arah Tasya dan Dara, semua yang dikatakaan oleh Tasya itu memang benar, mereka hanya saling menyakiti tanpa mereka tau siapa yang terluka di antara mereka.
Begitupula dengan Dara, dia sadar bahwa kesalahaan tidak sepenuhnya berada di tangan Tasya, pengkhiataan yang Zein lakukaan itu hanya karena sebuah kesalahaan dendam masa lalu.
Sedangkan Tasya tidak tahu dan tidak pernah ada sangkut pautnya dengan masalah itu.
Kenapa dia harus membenci Tasya? Apa salahnya?
Wanita itu hanyalah seorang korban dari ke-egoisan dan kemarahaan Zein terhadap kenyataan hidup yang tidak mampu dia terima.
"Maafkan aku Dara, tetapi aku tidak bermaksud untuk melukaimu, kita sama-sama korban dari semua ini, aku mohon maafkan aku Dara," tangis keduanya pecah begitu saja. Membuat suasana seketika menjadi haru dan membawa seluruh hati juga ikut merasakan apa yang tengah mereka rasakaan saat ini.
Dara menanggukan kepalanya pelan, tanpa bisa berkata apapun lagi.
"Hue,,,oeekk,,oekk," tangis Linzi tedengar begitu nyaring hingga membuat suasana haru kini menjadi berwarna.
Dara tersenyum di dalam tangisnya, dan beralih mengambil Linzi dari tangan Stella.
"Dara apakah ini?" tanya Tasya terputus ketika melihat wajah Zein versi wanita.
Dara menganggukan kepalanya pelan, dan memberikan Linzi kepada Tasya.
"Ya ampunn lucu sekali," puji Tasya, yang mengundang tawa dari seluruhnya.
Terutama Stella dan Aiden yang merasa bahwa pengorbanan Zein ternyata tidak sia-sia.
Memang benar apa kata pepatah, hidup itu pasti harus bersakit-sakit terlebih dahulu, dan setelah itu pasti akan bahagia di masa depan.
"Dara, aku kesini ingin memberikan hak asuh Jingga kepadamu, apakah kamu masih mau merawatnya?" Ucap Tasya dengan tulus kepada Dara.
"Kamu mau kemana?" tanya Dara bingung.
"Tasya hanya akan berada di kota ini Dara, dia akan kembali bekerja sebagai dokter di rumah sakit kami," sahut Stella, sontak membuat Tasya dan Dara terkejut mendengarnya.
"Tapi aku-," Dara merasa bingung dengan semua ini, sebab semuanya jelas tahu, bahwa Dara saat ini akan pindah ke rumahnya yang dulu.
"Aku akan berkunjung dan melihat kalian dari jauh, karena aku takut, jika Jingga masih tidak mau menerima kehadiraanku Dara," balas Tasya dengan cepat.
*****
Semenjak saat itulah Dara diamanahkan kembali untuk merawat Jingga dan Linzi secara bersama, dia membeli sebuah butik yang dimiliki oleh Reta ibu dari Mafa.
Setiap harinya Dara menikmati kehidupannya bersama dua putri kesayangaanya, tidak ada beban yang terlihat dari wajahnya. Hanya saja rasa rindu akan kehadiran Zein di sisinya, akan terus tersimpan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Sedangkan Tasya, kini telah kembali menjalani kehidupaanya seperti hari-hari biasa, walaupun dia hanya bisa melihat keberadaan Jingga dari jauh.
Tasya sendiri ditakdir untuk menerima sebuah cinta kembali. Dia dipertemukan oleh sesosok pria yang begitu mencintainya dan menerima semua kekurangaan yang ada pada dirinya, termasuk kehadiraan Jingga.
Semua percaya, setelah awan yang bersinar ditutupi oleh kegelapan, pasti di ujung sana akan tersimpan sebuah cahaya yang berwarna membawa sebuah harapan terindah di dalam kehidupan baru.
***
Dara yang tengah menikmati ketenangan yang ada di hatinya, dan duduk bersama kedua putrinya di pesisir pantai dibelakang rumah.
"Jingga sayang, hati-hati adiknya ya," seru Dara dengan tersenyum manis ke arah Jingga.
Lalu dia terdiam sejenak, dan menutup matanya dengan perlahan.
Dia merasakan ketika tanganya digengam oleh seseorang disebelahnya.
Dara menoleh dan tersenyum dengan lebar, namun Zein hanya tersenyum datar. Merasakan lelah atas semua beban yang dia tangguhkan selama ini. Dara memilih untuk menyenderkan kepalanya sejenak di pundak Zein. Sambil menatap ke arah putri-putri mereka, menikmati hembusan angin yang akan membawa setiap kesedihan agar menguap pergi tanpa pernah singgah kembali.
\~\~\~\~
Hilang semua janji, semua mimpi-mimpi indah.
Hancur hati ini melihat semua ini.
Lenyap, telah lenyap kebahagiaan di hati.
Ku hanya bisa, menangisi semua ini.
Hancur hati ini melihat kau telah pergi.
Langit menjadi gelap berkelabu, Menyelimuti hatiku, Mengubah seluruh hidupku
Mengapa semua jadi begini? Perpisahan yang terjadi. Di antara kita berdua.
Ku akan menanti sebuah keajaiban, Yang membuat kita. Bisa bersama kembali.
We💐💐💐💐💐The Ending 💐💐💐💐💐