
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah dua hari berdiam diri, kini Valen dan Tasya kembali mengatur rencana untuk mengambil Jingga kembali dan membawanya ke rumah keluarga Emilio.
"Bunda pikir sebaiknya kamu naik pengadilan Tasya," ucap Valen, memberikan solusi terbaik saat ini.
"Pengadilan bun? Tetapi bagaimana bisa? Aku pasti kalau, karena Zein sudah menganti semua identitas kelahiran Jingga Bun," balas Tasya, yang merasa bahwa semua yang dikatakan Valen tidak akan pernah semuda itu bisa dikendalikan.
Valen terdiam sejenak, pada masalah ini, seharusnya memang Arvan membantu untuk Tasya keluar dari masalahnya.
Namun saat ini langkah mereka terhalang karena adanya Jenni dan Griffin yang menghalangi semua.
Valen jadi merasa kesal terhadap Griffin, padahal sudah jelas-jelas dia dan Jesper suaminyalah yang merawat Griffiin sedari kecil, tapi kenapa sekarang dia yang malah dibenci, sungguh tidak tahu balas budi, pikirnya seperti itu.
"Kita harus meminta Mario untuk berada bersama dengan kita," gumam Valen lagi. Namun seketika dia merasa bahwa itu juga tidak mungkin karena Mario juga berada dipihak Dara.
"Mungkin kita harus pergi ke tempat di mana kamu melahirkan dan mengambil kesaksian dari bidan itu, sangat jelas jika Zein tidak ada sekarang maka Dara tidak akan pernah bisa berkutik lagi," seru Valen lagi, yang kali ini mencoba menggunakan otak cerdasnya untuk terus memikirkan rencana-rencana untuk bisa mengambil Jingga kembali.
Karena biar bagaimanapun, Jingga adalah satu-satunya keturunan Maurice yang tersisa, dan harus hidup bersama dengan keluarga Maurice, bukan bersama dengan orang asing seperti Dara.
"Bunda, apa tidak sebaiknya kita biarkan saja dulu Jingga bersama dengan Dara? Pada saat ini Jingga butuh istirahat banyak bun, kalau dia kembali berpikir dan terlalu lelah, bisa jadi nanti dia akan anfal bun," tolaknya tidak ingin terjadi apapun dengan Jingga.
Dia adalah seorang ibu, jadi sangat tidak mungkin jika dia harus egois dan membahayakan nyawa anaknya sendiri dengan berebutan seperti itu.
"Kamu itu bodoh atau apasih Tasya? Saya sudah berjuang agar kamu bisa mengambil anak kamu kembali tetapi kamu malah membiarkannya bersama dengan Dara, maksud kamu apa coba ha," bentak Valen yang terlihat sangat emosi ketika Tasya mulai kembali lemah.
"Kamu itu seorang ibu, apa kamu tega membiarkan anak kamu hidup bersama dengan seorang ibu yang tidak dia kenali?" sambungnya lagi.
Kalau ditanya masalah tega atau tidaknya, jelas Tasya tidak tega dan bahkan tidak rela anaknya dirawat oleh orang lain sedangkan ibunya masih hidup. Namun dia juga bingung dalam kondisi ini.
Jingga sudah mengetahui bahwa dirinyalah yang membunuh ayahnya, walaupun tidak sengaja tapi tetap saja dia adalah pembunuhnya.
"Bukan masalah itu bunda, tetapi pada saat ini Jingga sedang sakit, kalau dia kenapa-kenapa bagaimana? Masalahnya merebut dia dari Dara itu bukanlah hal mudah bun," tolaknya merasa bahwa ucapan Valen itu seperti menuduhnya yang bukan-bukan.
Dari kejauhan Jesper yang melihat Valen telah berubah menjadi egois dan keras hati kini hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam.
"Aku kangen kamu yang dulu Leng, kamu yang ramah, baik, penyabar dan kamu yang selalu menjaga perasaan orang lain," gumam Jesper memandang Valen dengan tatapan penuh luka.
"Sekarang yang kamu lakukan hanyalah mencari masalah dengan orang lain, tanpa pernah memikirkan perasaan orang, terlebih yang kamu sakiti adalah istri dari keponakaan kamu, bahkan Zein meninggal saja, kamu masih terus menganggu kehidupan Dara," timpalnya lagi, merasa bahwa ini semua sangatlah tidak adil untuk Dara.
Tetapi dia hanya bisa diam, tanpa berani menegur Valen, karena jika ditegur, pasti Valen akan lebih marah nantinya.
"Sudahlah Tasya, biar bagaimanapun alasannya, Jingga adalah cucuku, tidak akan pernah aku biarkan dia tinggal bersama wanita murahaan itu, nanti bisa jadi ketika Jingga besar dia malah dijual oleh Dara untuk melayani laki-laki hidung belang di luar sana," tegas Valen pada Tasya.
Membuat wanita yang sedari dulu hanya menuruti perkataanya itupun lagi-lagi terdiam, tanpa bisa membantah apapun keputusan Valen.
"Besok kita akan pergi ke Indonesia, untuk mendatangi bidan yang dulu pernah membantumu melahirkan, bunda harap dulu Zein atau keluarga besar Lesham itu tidak mengubah apapun atau mendapatkan bidan itu terlebih dahulu," ucapnya mutlak tanpa bisa dibantah lagi.
Lagi-lagi Tasya hanya bisa menghela nafasnya kasar, dan menganggukan kepalanya lemah.
Setelah mengutarakan keputusaanya, Valen segera bangkit dari duduknya dan beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah kolam renang, namun tiba-tiba saja bayangan dirinya membunuh Zein datang dan tergambar jelas di dalam imajinasinya.
"Hiskkkss,,hisskk kenapa harus kamu korbankan dirimu dan membuatku menjadi tersangka dari semua ini Zein?" lirihnya pelan, merasakan sakit hati ketika putrinya sendiri menganggap bahwa dirinya adalah seorang pembunuh.
Lalu dia kembali lagi teringat pada masa di mana dia hidup bahagia bersama dengan mendiang kakaknya Teddy, "seandainya kakak tidak membunuh bayi milik Aiden, dan tidak tergila-gila dengan Freya, mungkin saja nasib kita tidak akan seperti ini kak."
"Kakak akan menemukan pasangan hidup kakak, dan aku akan menemukan pasangan hidup yang benar-benar mencintaiku apa adanya."
"Tidak menyiksaku, tidak membuat kehidupanku hancur berantakan, memiliki keluarga bahagia selamannya,hiskk,,hiskk," tangisan pilu kini kembali terdengar, sakit hanya itu yang bisa dia katakan untuk menggambarkan perasaannya saat ini.
Ketika dulu dia pernah bermimpi untuk mendapatkan kehidupan yang baik, menikah, dicintai lalu mempunyai anak, kini telah sirna tanpa bekas.
Memang benar dia telah menikah, memang benar dia telah memiliki anak, tetapi dia tidak memiliki Cinta dari suami ataupun kehidupan bahagia.
Semua terasa seperti hitam dan putih, tidak memiliki warna sama sekali. Ingin rasanya dia memberikan warna itu sendiri dalam hidupnya, tetapi tidak bisa.
Senyum yang dulu selalu merekah di wajah cantiknya, kini sudah lama tidak pernah terpancar lagi.
Jiwa dan kehidupannya sudah lama mati, tetapi dia masih memiliki Jingga sebagai penyemangat dan penopang hidupnya, tetapi sekarang, dia diambil kembali oleh Dara.
Kenapa semua selalu memilih Dara? Kenapa semua harus membela Dara?
Orang bilang akan ada saatnya pelangi yang terbit setelah hujan meredah.
Tetapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Tasya dan kehidupaanya, karena yang dia tau kehidupanya akan selalu menerbitkan sebuah langit mendung walaupun setelah hujan.
Kehidupannya akan tetap gelap tanpa ada lampu penerangnya.
Jika saja dia tidak mengingat Jingga, sudah pasti saat ini dia memilih untuk melenyapkan dirinya sendiri.
Dara dan Tasya kedua wanita ini terlihat masih memikirkan Jingga yang merupakan nafas kehidupan mereka.
Terasa lucu memang tetapi ini adalah sebuah kenyataan, bahwa setelah keduan saling berebut Zein, sekarang malah berebut Jingga.
Dulu Zein adalah alasan mereka untuk terus melukai satu sama lainnya. Dan sekarang setelah Zein meninggal mereka pikir bahwa semua akan selesai dan mereka akan berdamai.
Tetapi tidak, mereka masih mempunyai duplikat Zein yaitu Jingga. Dan sekarangpun Jingga lebih memilih Dara dibandingkan Tasya.
Kini bendera perang kembali dikibarkan, membuat kematian Zein terasa sia-sia, kuburan yang masih basahpun tidak mereka perdulikan. Yang terpenting pada saat ini adalah Tasya harus memiliki Hak atas semua yang Dara miliki.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*