It’S So Hurts

It’S So Hurts
Zein Hidup Dalam Jiwaku



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Kini terlihat Dara yang begitu sangat marah dengan Tasya, selama ini dia masih bertahan dan cukup bersabar mengahadapi permainan yang ada.


Dan jika dulu akan selalu ada Zein yang menjadi tameng untuknya, memberikan kekuataan kepadanya, Tapi kali ini Zein sudah tidak bisa melindunginya sama sekali, yang memaksa dia harus berani menghadapi dunia kejam ini sendiri untuk melindungi dirinya dari orang-orang jahat.


"Kalau aku tidak ingat dosa, udah aku bunuh kamu Tasya," cercas Dara dengan emosi.


Griffin,Aiden,Stella dan Lyla, kini hanya bisa bertingkah seolah-olah tidak mendengar apa-apa.


"Tante Dara mau bunuh orang masih ingat dosa Fin, lah kita udah berapa banyak bunuh orang, dosa kita udah sebanyak apa Fin?" tanya Lyla pada sepupunya itu.


"Gillaa sih, kita masuk nereka lewat jalur VVIP kayanya ini," jawab Griffin dengan santai.


"Bunuh saja aku Dara! Bunuh! Kalau memang itu yang bisa bikin hatimu puas. Karena sekarang juga percuma aku hidup, Jingga juga tidak mau ikut bersamaku," tantang Tasya dengan bringas.


Freya yang melihat Jingga tertunduk takut, kini memilih untuk menggendong anak itu pergi, "Tasya, kalau kamu mau mati, silahkan tapi jangan di depan anak ngomongnya," ketus Freya, dan langsung membawa Jingga pergi dari tempat itu.


Sedangkan Dara kini membalas kalimat Tasya dengan senyum tipisnya, yang diiringi dengan air mata yang terjatuh di pipinya, namun dengan terus berusaha Dara menghapusnya walaupun itu terlihat sangat percuma, tapi dia tetap menghapusnya.


"Zein memang sudah mati dan kamu yang membunuhnya, tetapi bagiku dia tidak akan pernah mati, Zein akan tetap hidup selamanya di dalam jiwaku," tegasnya penuh keyakinan.


"Aku tidak takut kepadamu Tasya, sungguh aku tidak takut, hanya saja aku masih mempunyai otak untuk tidak melenyapkan seseorang yang sangat kamu tahu jika anak kamu membutuhkannya."


"Jangan pandang aku, jangan pandang semua yang berada di sini, tapi kamu pandang anak kamu, darah daging kamu yang selalu menginginkan ayah kandungnya terus menemani dia dan selamanya bersama memeluk tubuhnya," tunjuknya pada bayangan di mana Jingga melangkah tadi.


Aiden memberikan kode pada Stella untuk segera menghentikan segalanya, karena percuma mau disesali seperti apapun, Zein sudah pergi dari dunia ini, dan sekarang, meskipun Dara menyalahkan semua yang berada di Mansion ini, tetap saja itu tidak akan mengembalikan Zein yang hilang.


"Dara, ayo kita pulang saja ya sekarang, tidak akan pernah ada sudahnya jika kamu bicara dengan wanita ini sayang, sudah ayok, kamu masih butuh istirahat sekarang," ajak Stella, dengan sedikit menuntun tubuh Dara untuk berbalik arah.


"Tunggu tante, aku belum selesai membuka otak wanita bodohh ini," seru Dara, berusaha mengelak dari pelukan tubuh Stella.


Lalu dia kembali lagi menatap ke arah Tasya yang saat ini hanya bisa terdiam dan menangis, "sekarang kamu mau bilang apa? Kamu tidak bersalah? Kamu korban atau apa?" tanya Dara sambil mencerca ke arah wajah Tasya.


"Dara ayo sudah, percuma kamu buang tenaga buat ladenin dia," bisik Stella lagi, berusaha untuk membawa Dara pulang, namun lagi-lagi Dara menepisnya.


Stella mengusap wajahnya kasar, nampaknya dia baru tahu kalau Dara adalah orang yang sangat keras kepala sekarang.


"Dengarkan ini baik-baik ya Tasya, mulai detik ini aku adalah mamah dan satu-satunya mamah untuk Jingga, jangan pernah kamu mengambil bagian Zein lagi dariku, karena sampai kamu berani menyentuh dia sedikit saja, kamu akan berhadapaan denganku," ancam Dara dengan sangat berani.


"Tidak bisa seperti itu," sahut Valen, yang saat ini terlihat mulai bersuara dan berjalan mendekat ke arah Dara.


Dara, Stella, dan Aiden menatap ke arah Valen yang mulai mendekat, namun sayangnya Dara terlihat tidak takut dengannya sama sekali.


"Anda mau apa lagi tante? Ini adalah urusan saya dengan wanita selingkuhan suami saya ini, tidak ada hubunganya dengan Anda," cerca Dara tanpa rasa hormat sedikitpun terhadap Valen.


Baginya saat ini rasa hormat dan empati sudah tidak dia miliki lagi, karena sekarang jika dia terus menerus bersikap lemah, maka selamanya dia akan ditindas oleh orang-orang ini.


Dan sekarang adalah waktunya di mana Dara harus menunjukan, bahwa dia juga adalah seorang wanita yang memiliki sebuah harga diri yang harus dijunjung tinggi.


Dia tidak ingin pengorbanan Zein untuk dirinya menjadi sia-sia.


Lalu dia melirik sedikit ke arah Valen, Aiden, Lyla,Griffin, Freya dan Jingga yang terlihat berada dipihaknya saat ini.


"Sayang, lihatlah aku akan berjuang untuk keluarga kecil kita saat ini, kamu jangan khawatir ya, ada mereka bersamaku sekarang, aku tidak sendiri, kamu ada di hatiku serta Tuhan yang akan selalu bersamaku," ucapnya lagi, bermonolog sendiri dalam hatinya, berharap bayangan Zein akan mendengar segala rintihannya yang ada saat ini.


Valen sudah cukup sabar sedari tadi menahan amarahnya, ketika Dara terus menerus memaki Tasya serta menyudutkan wanita yang tidak bersalah dalam hal ini.


"Aku ingatkan sama kamu Dara! Di sini Tasya sama sekali tidak bersalah, kematian Zein adalah-,"


"Adalah apa tante? Adalah takdir? Atau adalah keinginannya sendiri?" serkas Dara tidak terima dengan apa yang akan disampaikan oleh Valen.


"Suamiku meninggal di tangan wanita ini, dan tante masih bilang itu adalah sebuah takdir, seperti itu?" tanyanya dengan sedikit membentak.


Berbeda dengan Jenni, dia merasa sama sekali tidak tahan dengan semua pertengkaraan ini, sehingga langsung berlari masuk ke dalam kamarnya untuk melihat apa yang sedang dilakukaan oleh Arvan di saat keadaan tengaj memanas seperti ini.


Bruggghhh dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun, Jenni membanting pintu dengan sangat keras.


Plokkkk,,ploookkkk,,ploookkkk Jenni memberikan tepuk tangan untuk suaminya, yang terlihat sedang duduk dengan tenang menghadap ke arah luar pemandangan.


"Hebat sekali ya suamiku ini, wah,,waahhh, aku harus memberikanmu perhargaan apa sayang? Hem?" sindir Jenni pada Arvan yang terlihat hanya meliriknya sekilas.


"Kenapa diam sayang? Katakan padaku, apa yang harus aku berikan kepadamu sebagai pengharagaan atas apresiasimu untuk melindungi keluarga ini?" tanyanya sekali lagi, sambil mengelilingi tubuh Arvan dan sesekali menyentuhnya.


Lalu dengan perlahan dia tersenyum dan memperbaiki kancing kemeja milik Arvan, dan tanpa aba-aba Jenni langsung mencengkram kuat kerah baju miliki suaminya dengan sangat kuat.


"Kataakaaaannn brenggseeekk, apa yang kamu inginkan untuk hadiahmu karena telah memecah seluruh keluarga ini," pekik Jenni tepat dihadapan wajah Arvan.


Namun bukannya bereaksi, Arvan justru hanya diam dan memandang sendu ke arah wajah Jenni.


"Maaf," lirih Arvan sangat pelan, bahkan terdengar sangat kecil.


Jenni melepaskan begitu saja cengkeramannya pada kerah Arvan, lalu beralih duduk di sebuah sofa kecil telat berada di samping suaminya.


Lalu dia ikut menatap ke arah langit, melihat apa yang sedang dilihat oleh suaminya saat ini.


Jujur hatinya sangat terluka dengan semua ini, sebagai wanita dia sering membayangkan untuk berada di posisi Dara maupun Tasya.


Dan sebab itu dia bisa paham kesakitaan seperti apa yang sedang mereka berdua rasakaan.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*