
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah puas menangis dan menyerahkan semua keputusan pada kedua tangan - Nya.
Kini Dara terlihat baru saja sampai di rumah, dia ingin segera melihat keadaan Jingga, dan juga ingin bersiap untuk pesta nanti malam.
Ahh tidak, bukan pesta, karena Zein mengatakan bahwa malam ini akan menjadi malam terindah sekaligus malam terakhir untuk keduanya bisa bersama-sama.
Dengan tampang lesuhnya Dara membuka pintu dan melihat rumahnya sudah seperti kapal pecah. Mulut Dara terbuka tidak menyangka ketika rumah yang tadi dia tinggal dengan rapi, kini sudah berubah menjadi acak kadul, bagaikan terkena gempa bumi.
"Apa yang terjadi?" tanyanya bingung, dan langsung segera masuk mencari keberadaan Jingga dan Lyla.
"Jingga,,,Lylaaaa, kalian di mana?" pekik Dara, sambil mencari kedua anak yang entah di mana rimbanya.
Dara semakin panik ketika tidak mendapatkan keduanya di rumah, "hisskkk,,hiskkk kemana mereka, Tuhannn, jangan bilang ada yang menculik mereka," tangis Dara kembali pecah, mengingat kejadian dulu saat dirinya sempat beberapa kali diculik.
Apa lagi rumah sangat berantakan seperti ini, bisa jadi tadi Lyla berusaha mencoba melawan penjahatnya, namun tidak berhasil.
Dara mengambil ponselnya untuk mencoba menghubungi Lyla. "Duhh angkat dong Lyla, jangan buat tante khawatir," gumam Dara, sambil terus mengusap wajahnya kasar.
Namun terdengar suara ponsel Lyla yang berada di sekitaraanya. Membuat Dara semakin panik tidak karuan.
"Aku harus mencari mereka, mungkin meminta bantuan pada Kak Aiden," ucapnya lagi, lalu segera mengambil tasnya dan bergegas untuk pergi dari rumah.
Akan tetapi, ketika dirinya baru saja sampai di lift, dia melihat tiga tersangka utama yang sudah membuatnya merasa khawatir.
"Kalian itu dari mana saja? Tante khawatir tau gak? Jangan seperti ini bisa tidak?" bentak Dara dengan memberikan banyak pertanyaan pada mereka.
Sontak saja Lyla dan Griffin terdiam tanpa tahu ingin menjawab apa.
Sedangkan Dara langsung memeluk tubuh Jingga, dan memastikan jika putrinya tidak kenapa-kenapa.
"Tante maaf, kita tadi hanya bermain dan mengajarkan Jingga naik sepeda ini," lirih Lyla pelan, sambil menunjuk sepeda yang dulu dibelikan oleh Zein untuk Jingga.
"Loh ini?"
"Iya tante, kemarin Lyla sudah bilang, kalau barang-barang penting tante, akan diambil oleh anak buah papah. Tapi tante tenang saja, mereka tidak mengambil apapun dari rumah tante selain sepeda ini yang tante letak di halaman rumah," ujar Lyla, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana bisa sepeda itu ada di sini.
Dara melihat ke arah wajah Jingga yang nampak sangat bahagia, seperti melupakan sedikit kesedihaanya karena kehadiraan Lyla dan Griffin di sisinya.
"Lalu rumah tante?" tanya Dara lagi, ketika merasa kesal karena rumahnya menjadi hancur berantakan.
Griffin tersenyum kikuk ketika mendapatkan pertanyaan itu, berbeda dengan Jingga dan Lyla yang serempak menatap tajam ke arah Griffin.
"Semua karena Griffin tante, dia tadi sok-sokan mencoba peralatan golf milik uncle Zein, dan akhirnya memecahkan banyak barang-barang," adu Lyla pada Dara.
Dia memang paling suka ketika melihat Griffin dimarahi oleh orang lain, karena hanya itu yang bisa membuatnya balas dendam ketika Griffin selalu mengatur kehidupaanya.
"Griffin apakah benar itu?" tanya Dara penuh dengan tatapan selidiknya.
Dengan cepat Griffin menggelengkan kepalanya kuat, menolak tuduhan yang dilontarakan oleh Lyla.
"Tidak tante, dari tadi itu saya diam, dan memainkan ponsel saya. Malah ini tadi Lyla, yang kekeh untuk mengajarkan Jingga belajar naik sepeda di dalam rumah, sehingga menabrak semua barang-barang dan menjadi hancur berantak," elaknya dan langsung menuduh balik ke arah Lyla.
"Heh, enak saja, aku tidak ada bicara seperti itu tadi, kamu yang menyuruh dan mengatakan, di rumah tidak ada tante Dara dan kita bisa bermain sepeda di dalam rumah," sahut Lyla tidak terima dengan tuduhan Griffin.
"Loh tadikan aku sudah bilang, 'Jangan Lyla, Jangan, tetapi siapa yang tetap kekeh?" tanyang Griffin dan memulai perdebataan antara Griffin dan Lyla.
Mungkin benar saja, jika saat ini Dara sudah tidak khawatir dengan keadaan Jingga, tetapi dia merasa sangat pusing ketika mendengar pedebataan dua keponakaan suaminya ini.
"Jingga ayok kita masuk saja ya," ajak Dara, meninggalkan dua orang yang masih sibuk beradu mulut itu.
Bugggghhhh, bunyi sebuah pukulan terdengar sangat keras, membuat Dara dan Jingga menoleh melihat keadaan Griffin dan Lyla.
Namun yang lebih mengejutkan, ketika Dara melihat Lyla yang berlari masuk ke dalam rumahnya, dan bersembunyi di dalam kamar Jingga.
"LLLLLLLLLLYYYYLLLLAAAAA," teriak Griffin sekeras mungkin dan langsung beranjak dari duduknya lalu ikut mengejar Lyla.
Bugggghhhh, "buka pintunya Lyla!" perintah Griffin dengan menggedor keras pintu kamar milik Jingga.
"Hheeyyyyooooohhh, hancur rumah sayaaaaa," teriak Dara dengan sangat kuat.
Menghentikan kegiataan Griffin dan Lyla yang saling beradu kekuataan, karena yang satu sedang mendobrak pintu dan yang satunyanlagi terlihat menahan pintu.
Ckleeekkk Lyla membuka pintu kamar, karena merasa bahwa dirinya juga harus bertanggung jawab dengan semua kekacauan rumah Dara.
"Oke-oke tante, jangan marah-marah ya, Griffin pasti tanggung jawab kok tante," lirihnya pelan, namun menjadikan Griffin sebagai kambing hitamnya.
"Sudah-sudah cukup, di sini kalian berdua salah, dan-," seru Dara terhenti ketika Lyla kembali berulah dengan merampas ponsel milik Griffin.
"Tenang tante, sekarang kita ada Lord Griffin, semua pasti aman terkendali," sahut Lyla, dengan menaik turunkan alisnya, dan tersenyum puas dengan apa yang ingin dia kerjakaan saat ini.
"Kamu mau ngapain Lyla?" tanya Griffin bingung sambil berusaha merampas ponselnya dari tangan Lyla.
"Ihhh tenang aja kali, aku itu cuman mau kasih tau kamu, bagaimana caranya menghabiskan uang, karena aku yakin banget, pasti uang ini tidak akan pernah bergerak, jika bukan aku yang menggerakaanya," ucapnya dengan santai, merasa bahwa dirinyalah satu-satunya wanita yang bisa menghabiskan banyak uang di dunia.
Dara dan Griffin memilih untuk diam dan mengikuti saja apa yang sedang diinginkan oleh Lyla.
Tidak berapa lama, bahkan baru lewat tujuh menit, Lyla kembali memberikan ponsel pada sang pemiliknya.
Griffin menerima ponselnya dengan kesal, dan melihat apa yang sudah dilakukan oleh wanita setengah waras ini.
Ketika Griffin mengecek semua pesan dan aplikasi di dalamnya, Griffin terpaku melihat pesan yang memberitahukan pengunaan dana sebesar 30 juta.
"What the hell?" gumam Griffin tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.
Ini adalah pertama kalinya dia mempunyai uang banyak, karena biasanya untuk mempunyai uang lima juta saja dia harus menabung bertahun-tahun dan menghabiskaanya dalam beberapa bulan untuk biaya sekolahnya.
Tetapi sekarang dia melihat Lyla yang sudah menghabiskan uang 30' juta dalam waktu Tujuh menit saja.
Dia memang tahu jika Lyla adalah wanita paling boros dan suka berfoya-foya, tetapi dia tidak menyangka jika ternyata Lyla akan seroyal ini.
"Sudahlah Fin, untuk apa kamu bersedih?" tanyanya ketika melihat wajah Griffin yang galau ketika melihat penggunaan uangnya.
"Ingat Fin, kita adalah keturunan keluarga utama, terutama kamu adalah seorang Lord sekarang, jadi manfaatkan dan nikmati kehidupan dengan indah sekarang," jelas Lyla, yang mengingatkan Griffin siapa mereka sebenarnya.
Dara menghela nafasnya kasar, merasa bahwa Lyla benar-benar mempunyai sifat sombong dan aroghant di dalam dirinya.
Merasa semakin pusing, Dara memilih untuk mengajak Jingga untuk beristirahat.
"Tante tenang saja tante, tidur yang nyenyaknya tante, sebentar lagi rumahnya akab bersih kok," serunya pelan, ketika melihat Dara dan Jingga yang mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Griffin akhirnya tahu, ketika melihat bukti pembayaran Lyla yang mengarah kepada sebuah agensi pembersih rumah.
"Jadi kamu menggunakan uangku untuk bayar beberapa pembantu ini?" lirih Griffin dengan tataapan sinis pada Lyla.
"Iyah, untuk hari ini, aku memanggil 15 pembantu agar rumah ini bisa bersih dalam beberapa jam saja, sedangkan yang menetap di sini nanti hanya ada dua, untuk membantu tante Dara mengurus rumah," jelas Lyla, yang membut Griffin akhirnya paham, apa niat sebenarnya dari Lyla.
To Be Continue
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*