
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Di dalam sebuah ruangan, terlihat Zein, Aiden dan Stella sedang bersama untuk merundingkan masalah ini.
"Sudah sembuh kamu Zein? tidak gila lagi?" sindir Stella, yang langsung mendapatkan tawa dari Aiden.
Zein langsung menatap Aiden dengan tajam, membuat pria itu terdiam dan mengehentikan tawanya seketika.
"Aku rasa, istrimu jauh lebih gila dari pada aku," sahut Zein, sontak membuat Aiden tak mampu membalas perkataannya lagi.
Stella menggelengkan kepalanya pusing melihat tingkah anak-anaknya yang malah beradu arguemen saat ini.
"Jadi bagaimana Hitto?" tanya Stella pada asisten pribadi milik Aiden yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Hitto menanggukan kepalanya singkat, dan memberikan sebuah berkas kepada Stella dan Zein.
"Di dalam berkas itu, sangat terlihat jelas jika pada hari di mana Nyonya Dara dan teman-temannya berangkat, mereka tidak membeli 1 tiket pesawat saja. Ketiganya memang terlihat membeli tiket menuju Singapore, tetapi di tiket kedua, mereka mengambil dua pilihan yang berbeda, Justin dan Tyas membeli tiket ke Belanda, sedangkan Nyonya Dara membeli tiket ke republik dominica," lapor Hitto pada mereka.
Zein memandang Stella saat ini, yang masih sibuk mempelajari kasus Dara, dan teman lainya.
"Lalu yang jatuh adalah pesawat menuju Singapore yang berangkat bersamaan dengan jam mereka berangkat?" tanya Stella tepat sasaran.
"Benar nyonya, tetapi pesawat Justin dan Tyas berangkat 45 menit lebih dulu, sebelum keberngkataan pesawat nyonya Dara," sahut Hitto lagi.
Yang membuat mereka semua mengerti apa yang sudah terjadi saat ini.
"Berarti kemungkinan besar Dara bukan meninggal, bisa saja dia pulang ke rumah ayahnya yang selama ini bersembunyi itukan," seru Aiden mengambil kesimpulan sendiri.
Stella memandang Zein, menunggu keputusan darinya, namun Zein malah menggelengkan kepalanya cepat, menolak apa yang dikatakan oleh Aiden.
"Why, harusnya itu benar Zein, karena dia saja sudah membeli tiket ke Negara lain, kamu saja yang bodoh karena sampai depresi memikirkannya sedangkan dia mungkin saat ini sedang tidur-tiduran di rumahnya," tandas Aiden, yang membuat Zein menatap lekat ke arahnya.
"Tidak mungkin Dara berada di sana, karena jika dia masih hidup, alat pelacak yang aku letakan di tubuhnya pasti akan menyala, karena tidak mungkin Dara bisa mengeluarkannya sendiri, terlebih itu menggunakan leser, jadi sama sekali tidak terlihat bekas jahitanya," kata Zein, meyakini bahwa dirinya sama sekali tidak bisa melacak alat itu.
"Dan lagi, jika alat itu dikeluarkan, pasti alat itu tetap akan menyala, karena biar dihancurkan seperti apapun, alat itu tidak akan pernah mati seperti sekarang ini," sambungnya lagi menjelaskan kepada Stella dan Aiden.
Stella menganggukan kepalanya pelan, mencerna dengan baik apa yang dikatakan oleh Zein.
"Tetapi Tuan, selama dua minggu ini tim sar melakukan pencariaan, sama sekali tidak menemukan mayat nyonya Dara ada di lokasi, yang kemungkinan besar nyonya Dara masih hidup," sahut Hitto lagi.
Zein langsung bangkit dari tempatnya dan mendekat ke arah Hitto, namun langkahnya lebih dulu di halangi oleh Aiden.
"Zein, sadar kamu dia adalah asistenku dan dia juga sudah berusaha membongkar kasus ini, sabarlah, semuanya butuh proses," ucap Aiden, menahan tubuh Zein agar tidak melukai Hitto.
Zein terus memandang Hitto dengan tajam, bahkan jika bisa, mungkin saja tatapan itu membunuh orang lain seketika. "bilang sama semua tim kamu! Jangan pernah mereka kembali ke darataan sebelum mereka menemukan Dara, dan jangan pernah mereka meninggalkan Dominica kalau mereka tidak menemukan Dara, secepatnya aku mau kabar terbaik dari anak buahmu! Paham kamu?" gertaknya pada Hitto, yang kini menundukan kepalanya hormat.
"Baik Tuan Zein, akan segera saya laksankan semuanya," jawab Hitto, sebelum akhirnya dia pamit undur diri.
Setelah Hitto sudah pergi, Aiden mendorong tubuh Zein untuk duduk di kursi.
"Tenanglah Zein, kalau kamu seperti ini terus, bagaimana orang lain bisa mencari Dara, kamu tau segala sesuatu itu harus dilakukan dengan hati-hati, bukan secara asal kaya yang kamu lakukan ini, paham," seru Stella, yang merasa sulit mengendalikan sifat Zein ini.
Sifat keras kepala yang dari dulu tidak ada obatnya, hanya Daralah yang bisa mengendalikan Zein seperti kemarin, namun apa daya saat ini pawangnya masih dalam pencarian, sehingga mereka harus berusaha mendapatkan pawang Zein sebelum dia mengamuk lebih gila lagi.
"Tapi Mah, bagaimana bisa aku tenang sekarang kalau wanita yang aku cintai ada di luar sana dan tidak tau bagaimana keadaanya, apakah dia sehat atau kesakitaan, aku butuh tau semuanya Mah, perasaan aku bilang bahwa saat ini dia tidak sedang baik-baik saja, dan oleh sebab itu, aku harus sesegera mungkin menemukaanya Mah," balas Zein, merasa pusing, bagaimana lagi dia menjelaskan agar keluarga besarnya ini bisa mengerti apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Stella menghela nafasnya kasar, dia sangat tau bagaimana perasaan sakitnya Zein, ketika mengetahui orang yang dia cintai saat ini pergi dan tidak tau bagaimana keadaanya. Dia pernah merasakaan ini selama 5 tahun.
Di tinggal pergi kekasih yang dinyatakan meninggal, padahal jelas-jelas masih hidup, tapi entah dimana keberadaanya.
"Permisi, Nyonya,Tuan," izin Hitto dengan sopan.
"Ya Hitto katakaan apa yang sudah kamu dapatkan," sahut Stella, tidak ingin bertele-tele dalam masalah ini.
"Saya membawakan berita baik dan buruk nyonya,tuan," ucap Hitto, sontak membuat semua yang ada di dalam situ kebingungan mengartikan kalimat dari Hitto.
Zein langsung beraniak berdiri dari duduknya, dan mengahampiri Hitto dengan mencengkram kuat kerah kemeja Hitto.
"Katakaan cepat! Apa beritanya?" bentak Zein yang sudah tidak sabaran mendengarnya.
Hitto segera memberikan sebuah dokumen yang berisikan foto-foto penting di dalamnya kepada Zein.
"Apa ini?" tanya Zein, mulai melonggarkan tanganya dari kerah baju Hitto.
Zein langsung merampas dokumen itu dan segera membukanya.
"Inikan," gumam Zein, membuka setiap lembar dokumen itu.
Melihat perubahan wajah Zein, Stella ikut berdiri dan mengambil dokumen yang berada di tangan Zein.
"Inikan Bryan, ayah dari Dara," gumam Stella, memperhatikan setiap detail foto seorang pria yang saat ini bertubuh gemuk, rambut gondrong serta perut yang buncit.
"Benar nyonya, dia adalah ayah dari nyonya Dara, dan kamu sudah berhasil menemukan di mana selama ini dia bersembunyi, namun kabar buruknya. Kami tidak menemukan adanya nyonya Dara di sana, yang berarti nyonya Dara sampai saat ini masih belum kita temukan," sahut Hitto, sambil menatap wajah mereka satu persatu.
Stella langsung menatap ke arah Zein yang kini terlihat mengepalkan tanganya kuat.
"Bawa aku ke tempat pria tua itu sekarang!" perintahnya pada Hitto.
"Mamah ikut," sahut Stella.
"Aku juga ikut," seru Aiden. Namun dengan cepat Stella menggelengkan kepalanya menolak untuk Aiden ikut bersama mereka.
"Kenapa Mah? Kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Aiden bingung.
Plaakkk Stella menoyor kepala putranya yang seakan lupa dengan kondisi dari istrinya.
"Kalau kamu pergi, yang jaga Freya siapa? Kalau dia histeris lagi siapa mau hendel? Kita bukan mau pergi ke Surabaya Aiden yang bisa pulang pergi, tapi kita mau ke Luar Negara, ke Republik Dominica," jelas Stella, memberitahu Aiden dengan penuh penekanan.
"Oh iya, Aiden lupa Mah, kalau istri Aiden lagi sakit," sahutnya tanpa perasaan bersalah.
"Sudahlah, Zein, Hitto ayo kita berangkat," ajak Stella, yang kini berjalan lebih dulu dari mereka.
Hitto dan Zein, menganggukan kepala mereka, dan mengkuti langkah Stella, untuk mengunjungi Bryan, ayah dari Dara yang selama ini menjadi buronan keluarga Utama.
*****
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻