It’S So Hurts

It’S So Hurts
Rahasia Besar yang Terungkap



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Setelah kepergiaan Tasya, barulah Zein bisa kembali tenang dengan memeluk tubuh Dara yang menangis sedari tadi.


Sedangkan Dara terlihat mengusap kepala Jingga dengan lembut, memberikan seluruh kasih sayangnya terhadap Jingga.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dara pada Zein, yang kini ikut menatap wajah Jingga yang begitu mirip dengannya.


Zein menghela nafasnya kasar, dan kini beralih ke sisi sebelah Jingga, dan ikut mengusap lembut kepala putrinya, “aku tidak mempunyai pilihan lain sayang, kita hanya bisa melakukan kemotrapi pada Jingga, kita akan pindah ke Jerman dan mengobati dia di sana,” jawab Zein, memberikan keputusan yang simpang lagi.


“Bagaimana dengan Tasya? Dia pasti akan menolak jika kita mengambil alih Jingga darinya,” balas Dara.


Namun di saat Dara dan Zein tengah membicarakan masalah Jingga, tiba-tiba saja dari arah luar terlihat pintu terbuka dan menampilkan sosok Valen yang baru saja datang.


Dia datang setelah mendengar berita pernikahaan Zein dan Dara tadi dari anak buah milik Arvan, dan juga posisi mereka yang saat ini di rumah sakit. Membuat Valen langsung segera menghampiri mereka di sini.


“Jingga cucuku,” lirih Valen pelan, dan segera melangkahkan kakinya menghampiri Jingga yang masih tertidur.


“Awas kamu pinggir,” usirnya pada Dara yang terlihat menhalangi jalannya. Valen mendorong tubuh Dara dengan keras, namun beruntungnya ada Zein yang secepat kilat menahan tubuh Dara agar tidak terjatuh.


“Bundaa!” bentak Zein pada Valen.


Dan tak lama kemudian Tasya yang sedari tadi berada di luar, kini kembali masuk ketika melihat Valen yang baru saja datang.


Dia sangat tau jika ketika Zein dan Valen bertemu maka pasti akan terjadi sebuah pertengkaraan.


“Apa Zein, kamu mau bicara apa sekarang? Kamu itu adalah manusia yang paling tidak tau di untung, karena apa, karena aku adalah adik dari Papah kamu dan aku yang merawat kamu sedari kecil hingga kamu jadi orang seperti sekarang ini, tapi sekarang apa ha,” pekik Valen penuh emosi.


Dia benar-benar tidak habis pikir ketika mendengar berita pernikahaan ini, dia merasa sesak ketika mendengar Zein berani membunuh Arvan hanya karena demi seorang wanita yang merupakan anak pembunuh kakak kesayangannya.


“Kamu menikahi anak dari seorang pembunuh Zein, pembunuh,” sambungnya lagi dengan berteriak tepat dihadapan wajah Dara.


Sontak saja, Dara yang mengerti bahwa tuduhan itu diarahkan kepadanya, kini dia langsung menoleh pada Zein yang saat ini menutup telinganya, agar tidak mendengar semua perkataan Valen.


Namun seperti orang bodoh, Zein menutup telinga Dara setelah istrinya itu mendengar semua apa yang dikatakan oleh Valen.


“Siapa yang pembunuh Tante, kenapa Tante bicara seolah-olah orang tua saya adalah pembunuh,” sahut Dara tidak terima dengan perkataan Valen itu.


“Cccccccuuuukkkkkuuupp, kalian bisa tidak jangan tibut di sini! Anak aku butuh istirahat, Zein anak kamu sakit loh, kamu malah bertengkar di sini,” teriak Tasya yang sudah tidak tahan melihat keributaan ini.


Memang Jingga masih terpengaruh obat bius, tapi apakah mereka tidak berpikir bahwasalnya ini adalah rumah sakit, dan mereka jelas tau bagaimana kondisi Jingga, tapi mereka malah menjadikan ruang istirahat Jingga sebagai ruangan untuk berdebat.


“Ayaaahhh,” suara Jingga yang terdengar begitu lemah, memanggil Zein. Sepertinya dia terbangun di saat Tasya berteriak tadi dan mendengar Tasya mengusir Zein yang seingatnya masih ada di sini.


Zein menggenggam tangan Dara dan melangkah mendekat ke arah Jingga, “iyah sayang ayah di sini, jagain Jingga, tapi sekarang ayah harus pulang dulu ya, Ayah mau siapkan kamar yang indah untuk Jingga di rumah ayah, Jingga maukan tinggal sama ayah sama Mamah,” tunjuknya pada Dara.


“Zein,” sahut Tasya berhenti ketika Zein mengisyaratkannya untuk berhenti berbicara.


Jingga menatap ke arah Dara dengan tatapan bingung, “jangan takut sayang, mamah adalah peri kecil yang di kirimkan Tuhan untuk ayah dan juga Jingga,” ucapnya selembut mungkin.


Tasya dan Valen yang mendengar itu, ingin sekali rasanya berteriak pada Zein yang mempunyai sifat sangat memuakkan, kemarin dia sendiri yang membuang anaknya, dan sekarang dia ingin mengambil anaknya, benar-benar manusia labil.


Jingga terdiam dan menatap ke arah yang sedang termenung dengan lekat, lalu kemudian dia menganggukan kepalanya pelan sebagai tanda bahwa dia mau pulang ke rumah ayahnya.


Namun baru saja Zein ingin membuka suaranya kembali, Valen lebih dulu menarik tangan Zein untuk keluar dari ruangan Jingga.


“Ada apasih bunda,” elak Zein, ketika mereka baru saja sampai di luar ruangan.


Plaaaaaaakkkkk Valen langsung melayangkan sebuah tamparan pada keponakaanya sendiri meluapkan segala emosinya.


“Kamu itu sebenarnya apa yang sedang terjadi denganmu Zein, what happened, tell bunda sekarang!” pekik Valen, tanpa perduli dengan orang-orang sekitarnya.


Zein terdiam lalu membuang pandanganya ke arah lain, karena merasa enggan menatap Valen saat ini.


Karena merasa tidak ada tanggapan dari Zein, kini Valen beralih pada Dara yang sedari tadi hanya menundukan kepalanya. “Dan kamu wanita malam, sebutan yang sama dengan ibu yang seorang wanita murahaan.”


Plaaaaaaakkkkk kali ini Daralah yang menampar Valen dengan sangat erat. Dia begitu marah ketika ada yang mengata-ngatai mendiang ibunya.


“Jaga mulut Tante ya, ibu saya bukan wanita murahan! Kalau Tante tidak suka sama saya, ya udah sama saya saja tante, tidak usah membawa orang tua saya,” seru Dara, yang kini mulai mengeluarkan taringnya.


Menurut Dara sudah cukup selama ini dia sudah mengalah dan diam ketika Valen dan lainnya mengata-ngatai dirinya sebagai wanita murahaan, tetapi kali ini dia tidak bisa diam begitu saja ketika Valen mengatakan jika orang tuanya pembunuh dan bahkan mendiang ibunya pun sampai di bawa-bawa.


Valen tersenyum sinis, sambil memegang pipinya yang terasa panas, “kenapa marah? Memang kenyataanya seperti itukan,” sindir Valen lagi, yang kali ini membuat Zein menatapnya dengan tangan yang mengepal kuat.


“Ohhh iya, saya lupa, bukanya Papah kamu yang menjual ibunya dulukan Zein,” ucap Valen pelan, namun berhasil membuat Dara menatap Zein dengan tajam.


“Biar aku perkenalkan, kami adalah keluarga Maurice, dan dia adalah Zein Alucas Maurice, anak dari Lucas Maurice dan juga Aurora Tenriyola Arifin, saudara kandung dari ibu kamu, Nayra Tenriyola Arifin.”


DEG jantung Dara rasanya ingin keluar dari tempatnya, mendengar jika mamah Zein adalah adik dari ibunya.


“Bunda,” tegur Zein, yang merasa sudah cukup membongkar semuanya.


“Oh kenapa Zein? Biar saja istrimu ini tau, jika kamu adalah sepupu sedarah dengan dia dan juga, Papah kamu yang menjual ibunya hingga terkena penyakit dan meninggal, dan jangan lupakan kalau kedua orang tuanya lah yang menyebabkan Mamah dan Papah kamu meninggal, benarkan Zein,” ucap Valen lagi, merasa begitu puas di saat sudah mengutarakan semuanya.


“Benar begitu Zein?” tanya Dara, ingin memastikan apa yang di katakaan oleh Valen itu semua benar.


Zein terdiam, tidak sanggup mengatakan apapun lagi saat ini, “Zeiiiin,” pekik Dara dengan keras.


Melihat Zein yang tidak menjawab apapun, membuat Dara mengambil kesimpulan bahwa semua yang dikatakaan oleh Valen adalah benar.


“Ternyata selain pengkhianat, kamu juga berbakat untuk menjadi seorang pembohong ya Zein,” sinis Dara, menahan air matanya agar tidak keluar.


“Aku salah percaya sama kamu,” lirihnya pelan, sebelum akhirnya dia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Zein dan Valen begitu saja.


“Daraa,” panggil Zein, yang lalu mengejar istrinya.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻