
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
“Dara, tunggu dulu dengarin penjelasaan aku dulu,” seru Zein, berusaha menggapai tangan istrinya.
“Mau dengarin apa lagi, kamu bohong sama aku, sekarang mau menjelaskan apa? Kalau bukan tante kamu itu yang menjelaskan dan membongkar semuanya, apa kamu mau jujur,” teriak Dara, sambil terus berlari menjauh dari jangkauan Zein.
Namun apalah daya, langkahnya yang kecil membuat Zein dengan begitu bisa menangkapnya, dan bahkan langsung menggendongnya bagaikan karung beras.
“Lepaskann aku,” pekiknya lagi, tanpa perduli dengan tatapan orang-orang sekitar.
“Dara, kalau kamu mau teriak, nanti saja di rumah, kamu bisa berteriak sebisa dan sepuas kamu,” bisik Zein pelan, membuat Dara berhenti bersuara.
Sampai di dalam mobil, Zein menghempaskan tubuh Dara masuk, “kalau kamu berani keluar atau kabur dari mobil ini! Aku akan patahkan kakimu, agar kamu tidak bisa berjalan sama sekali,” ancam Zein, untuk yang pertama kalinya pada Dara.
Menatap Zein dengan penuh kemarahaan, Dara memilih untuk mengalihkan pandanganya, dan mengikuti perkataan Zein untuk tetap stay di dalam mobil.
Tanpa mendapatkan jawaban apapun dari Dara, Zein langsung kembali masuk ke dalam rumah sakit untuk memberikan pelajaraan pada Valen.
“Kosongkan lantai ini!” perintahnya pada Security
“Baik Tuan Zein,” jawab Security tersebut dengan serempak.
Zein menunggu mereka semua mengerjakan tugas mereka, sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Jingga.
Tidak lupa dia memanggil beberapa dokter untuk memmindahkan Jingga ke ruangan lainya.
“Cepat bawa putri saya keluar dari sini!” perintah Zein pada beberapa dokter dan suster itu.
“Ayahh,” panggil Jingga, ketika melihat sosok Zein yang datang kembali.
Zein melangkahkan kakinya memeluk putri kecilnya sejenak, lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di puncak kepala Jingga. “Putri ayah pindah kamar dulu ya sayang, nanti ayah akan datang, soalnya ayah masih ada urusan dengan nenek,” lirih Zein pelan, menatap ke arah Valen.
Jingga menganggukan kepalanya singkat, lalu beralih ke dalam pelukan ibunya, “ayo Jingga kita pindah,” ajak Tasya pada putrinya. Melihat tatapan Zein terhadap Valen itu membuat Tasya tau bahwa akan ada suatu hal besar terjadi.
Zein menunggu Tasya dan Jingga benar-benar pergi, tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganya dari Valen.
“Jadi kita mau mulai dari mana dulu bunda?” tanyanya sinis pada Valen, yang saat ini sangat terlihat gugup sekali. Namun masih berusaha untuk menutupinya.
“Apa maksud kamu Zein? Kamu mau menghukum bunda kamu juga yang sudah membesarkan kamu, hanya demi seorang wanita yang baru kamu temui,” bentak Valen dengan lancang pada Zein.
Zein tersenyum tipis menatap ke arah Valen, yang kini mengalihkan pandangan ke arah lain, “jadi sekarang bunda mau hitung-hitungan? Jadi bunda mau bilang kalau semua yang bunda lakukan selama ini tidak ikhlas, begitu,” sahut Zein lagi.
Kali ini dia sama sekali tidak memandang siapa yang tengah dia hadapi sekarang, baginya kenyamanan Dara adalah yang paling utama saat ini.
“Zein, ini bukan masalah mengungkit, tapi kamu harusnya tahu mana yang penting saat ini, kamu ingat siapa pembunuh orang tua kamu,” seru Valen, yang kali ini benar-benar merasa takut jika Zein akan berbuat nekat.
Zein kembali tersenyum sinis mendengar Valen terus menerus mengatakan bahwa orang tua Dara adalah pembunuh. “Kalau orang tua Dara adalah seorang pembunuh, lalu bagaimana dengan orang tuaku, bagaimana dengan Papahku yang menjual orang tua Dara, bisakah kamu berpikir semua itu secara baik-baik! Siapa yang paling bermasalah di masa lalu, kenapa kamu selalu menyalahkan Dara seperti itu,” pekik Zein, tanpa ada rasa hormat sedikitpun.
Lalu dengan cepat Zein mengeluarkan pisau yang ada di dalam sakunya, pisau beracun yang biasa dia gunakan untuk membunuh musuhnya. “Sudah cukup aku melihat Dara menangis karena ulah kalian semua, dan ini saatnya semua berakhir,” tandas Zein, dengan terus melangkah mendekat ke arah Valen.
Bughhhhh,,bugghhh, Valenn memberikan pukulan telak terhadap Zein, sungguh dia sudah lama sekali tidak menggunakaan ilmu bela diri ini, hingga ketika dia memukul, tangannya sudah terasa kaku.
“Arrrrggghhhh,Siallllaaan,” umpat Zein penuh emosi ketika Valen membalas serangnya.
Jleeebbbb Zein menusuk perut Valen dengan pisau beracunnya, “Zeiinnn kamuu,” lirih Valen, di tengah nafasnya yang tersenggal.
Brruuuggg, Valen tergeletak begitu saja, dengan mata yang masih berusaha untuk terbuka, “Zein,” panggil Valen, ketika melihat keponakaanya ingin melangkah pergi.
“Jika setelah ini kamu masih hidup, maka jangan pernah mencampuri urusan rumah tanggaku, tapi jika setelah ini kamu mati, maka selamat menikmati nerakamu,” ujar Zein sebelum akhirnya dia kembali melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari ruangan itu.
Sudah cukup selama ini dia bersabar menghadapi sikap-sikap dari Valen dan Arvan, terpisah selama belasan tahun dengan Dara bukanlah perkara muda. Dia hidup bertahun-tahun dengan jiwa yang mati, namun tidak satupun orang bisa mengerti dirinya.
Apa salah cintanya? Apa salah hubungannya? Selama ini dia sudah berjuang untuk mendinginkan api yang berkobar, namun sampai detik ini dia masih tidak mampu, sehingga memilih Darah yang tertumpah di atasnya.
Hidup atau mati, hanya itulah pilihan terakhir Zein saat ini untuk mengakhiri semuanya, dan mungkin setelah ini, Zein akan menggunakan Griffin untuk membalas kesakitaan terhadap Arvan.
Zein masuk ke dalam mobil dengan tangan dan pisau yang masih berdarah, membuat Dara yang sedari tadi menunggunya kini menatap ke arah Zein dengan bingung.
“Apa yang terjadi?” tanya Dara pada Zein.
“Nothing,” jawab Zein singkat, dengan wajah yang datar.
Dia tidak tau apa yang sedang dia rasakaan saat ini, tentang kepuasaan hati, itu sama sekali tidak dia dapatkan, rasanya saat ini semuanya hambar, bahkan keberadaan Dara di sisinya, terasa begitu semu.
Alasanya apa dia pun tidak memahaminya, hingga Zein menatap wajah Dara dengan lekat, namun sama sekali tidak menemukan jawabaanya.
“Bersihkan darah itu, aku jijik melihatnya,” lirih Dara, sambil menyerahkan tissue basah pada Zein untuk membersihkan darah-darah itu.
Sedangkan di sisi lain, Arvan yang baru saja pulih 65%, kini menampilkan sebuah dendam yang besar di matanya.
“Apaaaa, anak itu juga sudah menusuk Valen?” tanya Arvan pada sambungan telpon.
“Benar Lord, sekarang ini nyonya Valen sedang menjalani perawataan, dan beruntungnya Princess Stella mempunyai penawar racun yang dimiliki oleh Zein Lord,” lapor salah satu anak buahnya. Yang kini membuat Arvan tercengang dan langsung menutup panggilan ponselnya.
Bruuggghhh Arvan meninju asal ke dinding meluapkan segala emosinya, “anak ini tidak bisa dibiarkan, aku harus melakukan sesuatu.”
Arvan terlihat kembali menghubungi seseorang kali ini untuk menjalankan seluruh rencananya. “Cepat ambil paksa seluruh keluarga Dara, ayah dan kakak iparnya serta keponakaanya, dan bunuh mereka!” perintah Arvan pada seluruh anak buahnya.
“Baik Lord,” jawab mereka tegas.
Lalu Arvan menatap lurus dengan pandangan yang kosong, “akan aku perlihatkan padamu Zein, mana dunia nyata dan mana dunia semu,” gumamnya dengan senyuman iblisnya.
Permainan kecil antara Api dan Air kini mulai terjalin di antara mereka. Dan yang menang pasti akan bertahan, dan yang kalah pasti akan gugur.
Arvan tidak akan pernah bermain dengan kalimatnya, inilah ujung pencapaian dari sebuah rasa kesabaraan, Arvan yang sangat marah dengan sikap Zein saat ini, memilih untuk mengakhiri semuanya dengan cara yang sangat luar biasa.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻