It’S So Hurts

It’S So Hurts
Duka Yang Tersisa



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Hari ini, Mansion Manopo terlihat sedang berduka, sedari kemarin, seluruh keluarga hanya terdiam, terkhususnya untuk Arvan sendiri.


Dia lebih memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar.


Arvan terus berpikir, kenapa Tasya dan Zein bisa seperti itu? Kenapa sangat sulit bagi Zein untuk menerima Tasya? Kenapa harus seperti ini?


Ancaman yang diberikan pada Zein, tidak disangka bahwa semua akan benar-benar terjadi.


Tokkk,,tookk,,tookk, ruangan pintu kamar Arvan terdengar ada seseorang yang mengetuk.


Arvan tidak memperdulikaanya, sampai terlihat Griffin yang masuk ke dalam.


"Ada apa?" tanya Arvan lemah, ketika dirinya merasa jika Griffinlah yang masuk ke dalam kamarnya.


"Apa kamu mau bersembunyi di sini pak tua? Kamu membunuh uncleku lalu dengan santainya kamu berada di dalam kamar seperti ini?" cerca Griffin, yang sangat-sangat marah saat ini.


"Griffin kamu tidak bisa mengerti keadaan saat ini," balas Arvan.


"Tidak mengerti apa? Kamu pikir aku adalah orang bodoh yang tidak tau permasalahaan sebenarnya gitu?" tanya Griffin sinis.


"Kamu menghalangi sebuah ikatan cinta yang kamu sendiri tidak akan bisa merasakan semua itu karena kamu pernah menyakiti istri kamu sendiri, dan sekarang kamu meminta orang lain untuk menyakiti istri dengan menikahi wanita lain seperti apa yang kamu lakukan, cuman bedanya kamu sama bayangan," sindir Griffin tidak tanggung-tanggung.


Dia bahkan sama sekali tidak takut dengan Arvan, mengetahui sifat asli kakeknya ini saja, rasanya dia sangat malu untuk mengetahuinya.


Wajah Arvan sangat terkejut ketika Griffin mengatakan semua hal buruk tentangnya, "kamu pasti bingungkan bagaimana aku mengetahuinya?" tanya Griffin lagi, ketika melihat ekspresi wajah Arvan yang tidak biasa.


"Aaahhh sudahlah, sekarang kamu bawa aunty Dara dan Jingga ke sini! Aku mau mereka bisa melihat uncle Zein untuk yang terakhir kali," seru Griffin dengan tegas.


Aura kepemimpinan di dalam dirinya memang sudah keluar, dan jauh lebih terasa dibandingkan aura pemimpin yang lainnya.


Setelah menyampaikan niat yang sebenarnya, barulah Griffin kembali melangkahkan kakinya keluar dengan di iringi tatapan tajam dari Arvan.


Sedangkan di luar sana, terlihat para keluarga yang terus menangis histeris. Terkhususnya Stella dan Aiden yang selama ini dekat dengan Zein.


"Padahal dia tidak pernah meminta apapun, sedari kecil Zeinku hanya selalu diam dan tidak banyak bicara, ketika semua orang meminta apapun yang mereka inginkan, maka Zein tidak melakukan itu, aku selalu bertanya apa yang sedang dia perlukan, tetapi jawabannya selalu tidak ada, ketika aku memaksanya untuk menerima suatu barang apapun, dia hanya diam tanpa menjawab apapun," ucap Stella di depan semua orang, termasuk Valen dan Tasya.


"Tapi ketika dirinya mencintai seorang wanita, yang karenannyalah Zein bisa menjalani kehidupan normal, baru pertama kali Zein meminta untuk kalian menerima sosok itu, kalian menolak, kalian menghakiminya, kalian-," ucap Stella karena tidak sanggup melanjutkannya lagi.


Lalu dia manatap ke arah Tasya yang sedang duduk dengan pandangam kosong sambil terus melihat tanganya.


"Ada apa dengan tanganmu Tasya?" tanya Aiden dengan sedikit menyindir.


"Apakah kamu melihat tanganmu itu akan berubah ketika kamu sudah membunuh adikku?" tanyanya lagi.


"Aku sudah bilang sama kamu untuk membuat jalan kehidupan kamu sendiri, aku tau Zein salah karena sudah menculik Jingga putrimu, tapi bukan berarti Zein tidak akan mengembalikannya padamu."


"Dia pasti akan mengembalikan setelah keadaan sudah stabil dan kamu sudah bisa menerima jika hak asuh akan dibagi dua," cerca Aiden, tanpa bisa satu orangpun yang bisa mencegah perkataan dari Aiden.


Mereka semua masih sibuk dengan pemikiraan mereka masing-masing, terutama Valen, yang sangat-sangat menyesal karena tidak bisa menjaga amanat kakaknya dengan baik.


Dengan memandangi wajah Zein yang sangat damai dalam tidur panjangnya, Valen kembali meneteskan air matanya sakit.


"Maafin aku kak, aku gagal menjaga putramu, hingga dia memilih untuk menemuimu di sana," batin Valen yang menyesali semua ini.


****


Sedangkan di sisi lain, terlihat Dara yang terdiam menatap kosong ke depan, merasa sesak di dalam dadanya.


Dia sama sekali tidak tahu jika Zein sudah benar-benar pergi untuk selamanya, yang dia tahu jika Zein pergi untuk kembali lagi.


"Aku akan menunggu masa di mana kamu akan kembali untuk memeluk tubuhku lagi Zein," batin Dara, dan kini memilih untuk bangkit dan melihat keadaan Jingga.


Dara terpaku menatap wajah Jingga yang begitu mirip dengan suaminya, "kembalilah Zein, aku merindukanmu," ucapnya di iringi dengan tangis yang akhirnya pecah.


Dia sama sekali tidak sanggup hidup berjauhan dengan Zein walau hanya untuk beberapa hari saja.


Namun ketika dirinya baru saja ingin membaringkan tubuhnya di dekat Jingga, tiba-tiba saja dari luar ada seseorang yang dia kenali sebagai anak buah Zein dulu.


"Permisi Nyonya," sapanya dengan sopan.


Dara hanya diam saja tanpa mau membalikkan tubuhnya menatap orang-orang tersebut.


"Nyonya kami hanya ingin menyampaikan kabar, bahwa-," ucapnya terputus, karena merasa tidak sanggup untuk melanjutkannya lagi.


Dara masih diam dan berusaha menyiapkan hatinya untuk kalimat apa yang akan disampaikan orang ini.


"Maaf nyonya, saya tahu ini berat, tapi saya harus menyampaikan jika Tuan Zein sudah Meninggal dunia karena sebuah tembakan yang tidak sengaja dilepaskan oleh nyonya Tasya," lapornya pada Dara.


Sontak saja Dara meneteskan kembali air matanya dalam diam. Sakit hanya itu yang bisa melambangkan perasaanya saat ini.


Anak buah Zein bisa melihat Dara yang sama sekali tidak merespon, tapi terlihat dari punggungnya bahwa wanita ini tengah menangis dengan keras.


"Nyonya, kami minta maaf karena menyampaikan hal ini, tapi kami diminta untuk menjemput Anda dan Nona Jingga untuk memberikan sebuah penghormataan terakhir kepada beliau," pinta pria itu.


Dara menggelengkan kepalanya kuat, "sampaikan kepada mereka, bahwa kami tidak akan pergi, kami akan tetap di sini sampai Zein kembali kepada kami," yakinnya merasa bahwa Zein hanya sedang tidur saja.


Suatu saat dia akan kembali untuk memeluk tubuhnya dan putrinya.


"Tapi nyonya-," bantah pria itu.


Dara berusaha menghapus air matanya, lalu mencoba membalikan tubuhnya dan menatap ke arah sosok itu, "tujuan mereka apa memanggil kami? Mau kasih lihat kalau kami sudah kalah, mau kasih lihat kalau Zein meninggal untuk mengorbankan semuanya, cinta yang ada didalam hatinya tidak akan pernah ada satu orangpun yang bisa memahaminya, lalu sekarang apa? Mereka meminta untukku datang memberikan penghormataan terakhir untuk suamiku? Sebagai apa? Cinta? Atau apa?" cercanya denga banyak pertanyaan.


"Huaahhh,,hisskkk,,hisskkk," tangis Dara benar-benar pecah.


Mau seberapa besarpun usaha dia untuk menyembunyikan luka sakit di hatinya, tetap saja dia terlihat lemah di depan semua orang.


"Katakaan pada mereka, setelah ini, jangan ganggu keluarga kecilku lagi, apa yang mereka mau sekarang sudah terjadi, mereka dari dulu ingin Zein berada jauh dariku, dan mengambil paksa Zein, dan sekarang mereka sudah mengambil Zein untuk selama-lamanya, jadi katakan pada mereka bahwa aku dan Jingga akan baik-baik saja," tegas Dara yang mengatakannya dengan seluruh tenaga yang dia punya.


Lalu dia mulai kembali membalikan tubuhnya, dan duduk kembali di sebelah Jingga, tanpa sama sekali perduli dengan keberadaan orang-orang itu.


Dara menatap lagi wajah Jingga yang begitu mirip dengan Zein.


Dia benar-benar tidak sanggup menerima semua duka ini. Dia ingin berteriak, dia ingin rapuh, dia ingin ikut bersama Zein. Tapi ada Jingga di sisinya. Membuat Dara putus asa dalam lingkungannya menghadapi kenyataan hidup ini.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*