
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰
**Jangan sinder **😘😘
🌹 **Happy Reading **🌹
Setelah pengucapan Janji suci, Dara dan Zein kini langsung kembali menuju rumah mereka, “apakah kamu bahagia?” tanya Zein untuk yang kesekian kalinya.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Zein, dia ingin sekali Dara menjawab sesuai dengan yang dia inginkan, namun lagi-lagi jawaban Dara di luar dari perkiraanya.
“Kamu sudah bertanya denganku untuk ke 11 kalinya Zein, cukuplah, aku bahagia, tapia ku masih merasa ada yang kurang dari semua ini, tapi tidak tahu apa,” jawab Dara ketus, dia merasa kesal karena pertanyaan yang diulang-ulang dan sudah jelas jawabannya.
Zein memandang Dara dengan bingung, pasalnya semenjak tadi, istrinyaitu hanya mengomel dan terus menerus megomel.
“Sayang, kamu kenapa sih? Sedari tadi sepertinya kamu itu marah terus, lagian tidak ada yang salah dengan pertanyaanku, semuanya wajar-wajar saja jika aku bertanya seperti itu bukan,” balas Zein lagi.
Terlihat Dara yang mengehela nafasnya kasar, dan menyenderkan kepalanya di bahu miliki suaminya. “Kita bertemu dengan Jingga ya,” pintanya tiba-tiba pada Zein.
“Sayang,” sahutnya Zein.
“Kita ambil Jingga dari Tasya, kita yang rawat Jingga sayang, please,”
“Dara, aku takut kamu tidak bisa mengurus Jingga, dia adalah anak yang berkebutuhan khusus sayang,” jawab Zein ragu. Karena dia sangat tahu bagaimana sifat ceroboh istrinya ini.
Dara menggelengkan kepalanya pelan, “aku bisa sayang, aku bisa urus Jingga, kamu tinggal ambil Jingga dari Tasya dan kita merawatnya, oke,” pinta Dara lagi, yang membuat Zein sama sekali tidak bisa menolaknya.
Jujur di dalam hatinya, dia ingin sekali bertemu dengan Jingga, namun semua itu ditutup oleh sebuah ke-egoisan semata.
Zein terdiam sejenak, mencerna baik-baik permintaan Dara dan keputusaan yang akan dia ambil.
“Baiklah sayang, kita akan ke rumah sakit dan melihat keadaan Jingga sekarang, kalau dokter mengizinkan kita untuk membawa Jingga baru kita akan membawanya, namun jika tidak maka biarkan dia mendapatkan perawataan terlebih dahulu,” ucap Zein, yang kini membuat Dara menjadi senang.
“Terima kasih sayang, you are husband the best forever,” pujinya pada Zein, dan langsunh memberikan pelukan yang sangat erat.
Beruntung saat ini ada supir yanh mengendarai mobil Zein, jika tidak akan dipastikan jika mereka akan celaka karena pelukan Dara yang sangat erat.
“Sayang,” panggil Zein, ketika Dara menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Zein.
“Hemm,” jawab Dara malas, karena dia merasa ngantuk saat ini. “Apakah ketika aku memelukmu, rasanya masih sakit seperti dulu?” tanya Zein untuk memastikan.
Dara bangkit, lalu memperbaiki posisi duduknya, “tidak terlalu sakit seperti dulu, tapi okelah,” jawab Dara dengan santai.
Zein kembali mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, “baiklah, kita ke rumah sakit sekarang,” titah Zein pada supir.
“Baik siap Tuan,” jawab supir itu.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Dara memilih untuk memejamkan matanya, karena dia kembali merasakan nyeri di punggungnya karena luka operasi yang masih belum kering. “Kamu tidak apa-apa kan sayang?” tanya Zein, yang khawatir dengan kondisi istrinya.
“Iya, aku tidak apa-apa kok, santai saja ya,” jawabnya dengan lembut, lalu dia memilih untuk membaringkan tubuhnya dengan paha Zein yang menjadi bantalnya.
Sepanjangan jalan Dara menyempatkan diri untuk tidur sejenak, sedangkan Zein, memilih untuk memainkan ponselnya.
Hingga tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit besar milik Stella, “sayang,sayang, bangun kita sudah sampai,” ucap Zein, membangunkan Dara yang masih terlelap nyenyak.
“Uhhhh, sudah sampai ya,” jawab Dara, dengan suara yang serak, karena baru bangun tidur.
Zein menganggukan kepalanya pelan, melihat Dara yang mencoba untuk bangkit dari tidurnya, “kita langsung saja yuk, kita lihat keadaan Jingga,” ajak Dara, sambil terus memperbaiki penampilaannya.
“Baiklah, ayo,” jawab Zein, lalu membuka pintu mobilnya, dan beralih membukakaan pintu untuk istrinya itu. “Terima kasih sayang,” ucap Dara pada Zein.
“Sama-sama sayang,” jawab Zein, lalu menggandeng tangan Dara untuk berjalan bersama menuju ruangan Jingga yang sudah dia dapatkan dari Stella tadi.
Mereka mengarahkan langkah mereka menuju ruangan yang berada di sudut lantai 3, kamar khusus untuk usianya, “sayang, nanti kalau ketemu dengan Tasya, kamu jangan emosi ya,” pinta Dara pada Zein.
Ckleeeekkkk Zein membuka pintu kamar ruangan Jingga, dan melihat Jingga yang tengah menangis jingkar, “huaaaahhhhh,,huaaaahhhh sakit ibu,,sakitt,” jeritnya ketika dokter menyuntik dirinya lagi dan lagi.
“Jinggq sabar ya nak, om dokternya lagi berusaha untuk Jingga sembuh,” sahut Tasya, sambil terus memeluk tubuh kecil mungil itu.
Melihat itu Zein langsung merasakan sesak, itu adalah putrinya, anak yang dia buang dulu dan kemarin, saat ini sedang merasakan sakit yang teramat, Zein melangkahkan kakinya menarik tubuh Tasya menjauh dari Jingga.
“Aaahhh Zein,” lirihnya pelan, melihat sosok yang dari kemarin ingin ditemui oleh Jingga, “akhirnya kamu datang juga Zein, Jingga sedari kemarin mencarimu dan ingin bertemu denganmu,” ungkap Tasya. Dia bahagia karena Zein mulai melunak dan saat ini terlihat mau memeluk tubuh Jingga putrinya dia sendiri.
Namun senyum Tasya memudar, ketika melihat sosok Dara yang berada dibelakangnya. Tadinya Tasya berpikir Zein kesini atas keinginan hatinya, akan tetapi melihat sosok Dara, dia begitu yakin jika pasti ada unsur bantuan Dara yang membuat Zein mau datang melihat putrinya.
“Om siapa?” tanya Jingga ketika melihat sosok yang belum dia kenali.
“Ini Ayah Jingga sayang, dari kemarin Jingga ingin menemui Ayah bukan, dan sekarang Ayah sudah berada di sini nak,” sahut Tasya, karena dia tau Zein tidak akan menjawan pertanyaan Jingga itu.
Jingga menolehkan kepalanya mendangakan keatas, melihat wajah Zein yang dulu pernah dia lihat, “ayah, akhirnya ayah datang juga, hisskkk,,hisskk, Jingga sakit Ayah, Jingga sakit,” adunya pada Zein yang kini semakin memeluknya erat.
Hati Zein teriris mendengar rintihan putrinya itu, “iya sayang ayah di sini,Jingga nanti udah tidak sakit lagi ya,” balas Zein, dengan mengelus lembut punggung belakang putrinya.
Zein mengangkat tubuh Jingga dan menggendongnya, ketika Dokter ingin menyutiknya kembali, “apa ini dok? Kenapa sedari tadi dia tidak berhenti mendapatkan suntikan?” tanya Zein yang kali ini sewot dengan kegiataan dokter itu.
Dara langsung cepat menghampiri Zein dan Jingga, “Jingga sayang, anak cantik tidak boleh nangis ya, om dokternya lagi kasih obat ke Jingga, biar cepat sembuh ya, Jingga mau pulang ke rumah ayah tidak?” tanya Dara, pada Jingga yang kini tengah menangis jingkar karena kesakitaan.
Jingga tidak menjawab, dia terus menangis, karena dakit yang dia rasakan. Dara mengambil alih Jingga dari tangan Zein, “biar aku yang gendong sayang,” pinta Dara, dan Zein dengan tenang melepaskan tubuh Jingga.
Dara memangku Jingga, dan duduk di tepi ranjang rumah sakit, namun Tasya yang melihat itu langsung mengambil alih Jingga dari tangan Dara.
“Dia butuh ibunya, bukan istri ayahnya,” ketus Tasya menyindir Dara.
Zein ingin menyahuti perkataan Tasya, namun Dara lebih dulu menahaaanya, hingga Zein dan Dara membiarkan Tasya untuk menenangkan Jingga terlebih dahulu, hingga dokter selesai dengan kegiataannya.
“Bagaimana dengan keadaan Jingga dok?” tanya Zein pada dokter yang sedari tadi memeriksa kondisi Jingga.
“Keadaan putri Tuan semakin menurun, kami harus segera mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang untuk mengobatinya Tuan,” jawab dokter itu.
“Sum-sum tulang belakang, bagaimana dengan punya saya dok?” tanya Zein langsung to the point.
Dia tidak ingin masalah kesakitaan Jingga terus menerus akan terjadi.
“Donor sum-sum tulang belakang, hanya bisa dilakukan dengan saudara kandung Tuan, kalaupun ada dari Ayah atau saudara yang lain, itu sangat susah untuk mendapatkan yang cocok, dan langkah satu-satunya adalah milik saudara kandung,” jelas dokter itu, yang membuat Zein dan Dara kini hanya terdiam tanpa menjawab apapun lagi.
“Baik dok, terima kasih atas penjelasaanya,” seru Dara, yang melihat dokter itu menunggu keputusaan Zein.
“Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu,” pamit dokter tersebut.
Dara dan Zein menganggukan kepalanya pelan, mempersilahkan dokter itu untuk pergi.
**To Be Continue. *
hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻