It’S So Hurts

It’S So Hurts
Tidak diJual Untuk Anak dibawah Umur



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Setelah mendengar omelan panjang dari Lyla selama di perjalanan tadi.


Kini Griffin dan Lyla terlihat sedang memasuki apotik yang cukup besar berada di salah satu mall.


"Lyla, padahal tadi itu banyak apotik di pinggir jalan, kamu ke sini buat apa? Kamu mau ke apotik atau mau shopping?" tanya Griffin, merasa resah dengan sikap Lyla yang rada-rada ini.


"Paan sih, ini itu, supaya gak panas, terkadang yang dipinggir jalan itu juga gak lengkap, makanya dari pada nanti kita bolak balik, mending langsung beli di sini aja, simple," jawab Lyla, dan langsung meninggalkan Griffin begitu saja, ketika melihat woston yang berada di dalam mall itu.


Dengan perasaan terpaksa, akhirnya Griffin hanya diam dan mengikuti saja kemana kaki Lyla melangkah.


Yang pasti hanya satu yang dia perlu tau, kalau dia harus menyediakan kartu black card tanpa batas untuk persiapan nyonya mener akan berbelanja.


Tetapi ketika Griffin melihat Lyla yang sedang kebingungan mencari barang, akhirnya dia memilih untuk merampas kertas itu dari tangan Lyla.


"Tespack, inikan alat pemerikasaan kehamilan," ucap Griffin sontak membuat Lyla menoleh ke arahnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Lyla, mulai nyolot pada Griffin.


Tanpa menjawab pertanyaan Lyla, Griffin memilih untuk mencari pegawai woston untuk menanyakan tentang di mana alat itu berada.


"Ehhmm maaf mbak, saya mau cari tespack di sebelah mana ya?" tanya Griffin dengan sopan.


Beberapa pegawai itu sempat terdiam ketika melihat tampang Griffin yang terlihat seperti anak-anak.


"Fin, ngapain sih kamu tanya-tanya, bikin malu aja deh," lirih Lyla dengan pelan, merasa tidak nyaman ketika ada beberapa orang yang menatapnya dengan sinis.


"Sebentar Lyla, kita butuh tespack itu sekarang, kamu tahu itu kan," sahut Griffin, membuat sekelilingnya semakin menaruh curiga kepada dua pasangan remaja ini.


"Iyah perlu, tapi gak gini juga nanyanya sampai terang-terangan," bisik Lyla, dengan kalimat penuh penekanan.


"Maaf dek, tespack tidak dijual untuk anak di bawah umur tanpa alasan yang jelas ya," sahut sang kasir, membuat Griffin dan Lyla menatap wanita itu dengan bingung.


"Lihatkan, masih anak-anak sudah hamil, kurang didikan tuh," bisik-bisik pengunjung lainnya yang merasa jijik melihat Lyla dan Griffin.


"Aku kalau punya anak begitu, sudah aku usir loh," ucap yang lainnya lagi.


Merasa tidak terima dengan bisikan-bisikan yang terdengar di telinganya, Lyla langsung bergegas untuk menghampiri ibu-ibu yang tengah menggosipinya, "heh tante, kalian kalau gak tahu itu, gak usah gosip deh, ini itu tespack buat tante saya bukan buat saya, enak aja sih mikir terlalu jauh tante, ntar anaknya sendiri yang hamil baru tau," sahut Lyla dengan ketus.


Dia benar-benar merasa minus dengan orang-orang di sekitarnya saat ini. "Jadi katakan! Apa testpack itu benar-benar tidak akan dijual pada kami?" tanya Griffin dengan wajah dinginnya.


Membuat sang kasir merasa bahwa dia sedang terintimidasi. "Baiklah-baiklah, kami akan menjual pada kalian," balas wanita itu dengan gugup.


Lalu memberikan kode pada temannya yang lain untuk mengambilkan testpack itu secepatnya.


"Ehmm, Anda ingin yang merek seperti apa Tuan?" tanya pegawai itu dengan sopan.


"Yang paling bagus, yang paling mahal, yang paling berkwalitas," seru Lyla, dengan wajah sombongnya.


Lalu dia beranjak meninggalkan ibu-ibu yang masih terdiam karena kalimatnya.


"Ambilkan saja! Tidak perlu banyak bertanya," tegas Griffin, merasa malas untuk menanggapi beberap wanita yang malah sibuk menatapnya.


Selepas mereka melewati beberapa drama yang tidak mengenakaan, akhirnya Griffin dan Lyla telah berhasil mendapatkan apa yang meraka mau.


"Sudahkan, yuk pulang yuk La, aku udah bosan nih," keluh Griffin, ketika Lyla tiba-tiba saja berhenti berjalan, dan melihat ke arah sekitaraanya, seperti mencari sesuatu, tetapi tidak menemukaanya.


"Fin, kita beli testpack buat apa?" tanya Lyla dengan lembut pada Griffin.


"Buat tante Darakan, bukannya tadi tante Dara yang muntah-muntah," sahut Griffin.


"Nah itu kamu tau, berarti sekarang apa?" tanya Lyla lagi.


"Lyla sudahlah, kamu tidak usah berpikir yang aneh-aneh, untuk sekarang lebih baik kita segera pulang dan memberikan alat ini untuk tante Dara," ajak Griffin dengan menarik tangan Lyla untuk segera pulang.


Lyla menganggukan kepalanya pelan, lalu memilih untuk mengikuti saja kemana Griffin membawanya pergi.


Namun lagi-lagi langkah mereka terhenti, ketika Lyla melihat sebuah toko yang sedari tadi dia cari.


"Finn, berhenti deh," ucapnya pelan, sambil menahan langkah Griffin yang berjalan terlalu cepat.


Dengan malas Griffin menoleh ke arah Lyla, yang terlihat menunjuk ke salah satu toko di depannya.


Toko Perlengkapan Bayi


"Kamu mau ngapain Lyla? Kita belum memiliki anak, untuk apa kamu membeli perlengkapan bayi," protes Griffin, sepertinya lupa, siapa yang sedang hamil saat ini.


Sontak saja Lyla langsung menatap Griffin dengan tajam, "lalu kamu pikir apa? Kamu pikir aku harus hamil anak kamu dulu, baru kita boleh membeli perlengkapan bayi?" cerca Lyla dengan cueknya, langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko, dan mau tidak mau, Griffin tetap harus mengikuti Lyla sampai ke dalam.


"Waaaahhh, ini lucu-lucu banget," ungkapnya kagum, menatap semua barang-barang yang berada di dalam sana.


"Lyla, lebih baik kita pulang dulu deh, untuk memastikan apakah tante Dara benar-benar hamil atau tidak," bujuknya lagi, masiu berusaha agar Lyla mau ikut pulang bersamannya.


Merasa kesal melihat sikap Griffin yang selalu seperti ini, Lyla hanya bisa menghela nafasnya kasar, "bisa stop gak sih kamu Fin, kalau aunty sama nenek sudah memeriksa keadaan tante Dara, dan menyuruh kita membeli alat ini, berati udah pasti banget tante Dara itu lagi hamil," kesalnya pada Griffin.


"Terserah kamu saja lah La, aku udah capek ngomong sama kamu," balas Griffin, yang saat ini lebih baik untuk mengalah.


Dengan perasaanya yang masih kesal, kini Lyla berjalan-jalan, menyusuri setiap perlengkapaan yang ada, sedangkan Griffin memilih untuk menyuruh beberapa pegawai mengikuti dan melayani Lyla, karena di saat dia sudah melihat keranjang yang dibawa oleh Lyla sudah penuh, maka tidak dipungkiri jika pasti akan ada keranjang-keranjang lainnya.


"Fin, sini deh, menurut kamu aku harus membeli warna apa? Biru atau pink? Karena kita belum tau anak tante Dara itu akan lahir apa nantinya," seru Lyla, bertanya warna yang pas untuk diberikan pada Dara.


Griffin terdiam sejenak, lalu berpikir secara matang, jawaban apa yang akan diberikan pada Lyla.


"Pink," jawab Griffin, yang terdengar seperti asal.


"Pink?" tanya Lyla memastikan jawaban Griffin.


"Iya pink, ada masalah memangnya?" tanya Griffin balik, merasa bahwa jawabannya sudah yang paling benar.


"Kenapa pink? Memangnya anak tante Dara itu perempuan, kalau yang ternyata lahir laki-laki gimana?" sahut Lyla dengan seluruh rentetan pertanyaanya.


Griffin terdiam sejenak, memang benar apa yang dikatakan oleh Lyla. Manusia tidak akan bisa menebak apa jenis dari bayi yang sedang dikandung oleh ibu hamil.


Tetapi perasaanya mengatakaan, bahwa akan ada anak perempuan yang terlahir di keluarga mereka.


"Beli warna netral saja, Biru atau Merah, tapi menurutku merah," jawab Griffin, yang kali ini disetujui oleh Lyla.


"Baiklah, kita beli warna merah, biru dan pink, biar adil," tegas Lyla, memberikan keputusaanya sendiri.


Griffin memijat keningnya pusing, wanita di depannya ini, jika dia sudah bisa memberikan keputusaanya sendiri, lalu untuk apa dia menanyakan lagi pada Griffin dan sempat mengajak pria itu berdebat.


Benar-benar wanita ini tidak bisa ditebak jalan pemikirannya.


To Be Continue


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*