It’S So Hurts

It’S So Hurts
Permainan Kecil Sebuah Takdir



Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke **🥰


**Jangan sinder **😘😘


🌹 **Happy Reading **🌹


Sesampainya di rumah, Dara langsung masuk begitu saja ke dalam kamar. “Daraaa,” panggil Zeinn, menarik tangan istrinya agar berhenti sejenak.


“Lepaskan tanganku!” pinta Dara dengan nada penuh penekanan.


Bukannya melepaskan, Zein malah mengunci pintu dan mengurung Dara di dalam kamar. “Kamu mau apa?” pekik Dara dengan keras.


“Kamu yang maunya apa? Kamu bertingkah seolah-olah kamu yang paling tersakiti di dunia ini Dara,” sahut Zein.


Tak kuat menahan sesak, Dara langsung jatuh ke dalam pelukan Zein, dengan tangisan histerisnya, “hhuaaaaaa,,hueee,,huee, kenapa kamu jahat sama aku, kenapa kamu tidak mengatakan semuanya sedari awal? Kenapa harus orang lain yang memberitahu aku Zein? Kenapa?” tanyanya pada Zein yang sama sekali tidak bisa menjawab apapun pertanyaan dari Dara.


“Jawaabbb aku Zein, kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak memberitahu bahwa dunia ini begitu sempit hingga kita yang tinggal di beda Negara bisa disatukan dalam sebuah ikatan cinta yang penuh dendam? Kenapa harus Papah kamu yang menjual ibu aku, dan kenapa harus orang tua aku yang melaporkan orang tua kamu, hiskkk,” serunya sama sekali tidak mengerti dengan permainan takdir.


Ini bukan masalah ikataan darah di antara mereka, namun ini masalah dendam yang pernah mereka lontarkan akan menghabisi orang-orang yang terlibat dengan masa lalu mereka.


Seakan menelan ludah sendiri, bukannya menjalankan sumpah, mereka malah saling mencintai bahkan lupa dengan tujuan awal mereka.


Zein masih terdiam, tanpa tau apa yang akan dia ingin katakaan, sampai akhirnya dia mendapatkan sebuah panggilan telpon dari anak buahnya yang menjaga kediamaan keluarga Dara.


“Ada apa?” tanya Zein, ketika panggilan telpon itu tersambung.


“Tuan, rumah ini baru saja di serang oleh anak buah dari Lord Arvan, mereka ingin menangkap Ayah, kakak ipar serta keponakan dari istri Anda, namun mereka berhasil kabur Tuan, dan seluruh rekan saya dan juga anak buah Lord Arvan saat ini sedang mengejar mereka, dengan berbeda tujuan, kami berharap rekan-rekan saya lebih dulu mendapatkan mereka dan menyembunyikan mereka Tuan,” lapor salah satu anak buahnya. Yang kini semakin membuat Zein bungkam, tanpa tau apa yang harus dia katakaan lagi.


Zein langsung menutup panggilan ponselnya setelah mendapatkan laporan itu, dan kini dia menatap ke arah istrinya yang tidak sengaja mendengar semua pembicaraan dipanggilan ponsel milik Zein.


“Apa? Kenapa ayahku bisa bersamamu? Kenapa ayahku yang dicari mereka sekarang? Aaaaaaaarrrggghhhhhh permanan takdir macam apa ini Tuhan, kenapa hanya keluargaku yang dihukum atas perbuataan yang kami tidak lakukann,” tangis Dara semakin pecah saat ini.


Rasa sesak, gelisah,takut kini menjadi satu, tanpa tau bagaimana caranya bisa kembali menenangkan jiwa ini.


Zein berdiri dari duduknya, dan ingin pergi untuk langsung terjun ke lokasi, “aku ikut bersamamu,” pinta Dara pada Zein.


“Enggak, ini berbahaya Dara, biar aku yang menyelamatkan mereka,” tolak Zein, tidak ingin sampai istrinya kenapa-kenapa.


Dara langsung merampas kunci mobil Zein, dan berlari turun, “kalau kamu mau pergi, kamu harus bawa aku, dia orang tua aku, jadi aku berhak melihat mereka,” ucapnya kekeh ingin ikut.


Dan karena keadaan yang sangat genting, Zein tidak mau berdebat dengan Dara lagi, sehingga dia memberikan izin pada Dara untuk ikut dengan syarat tidak boleh jauh darinya.


Selama di perjalanan, tidak lupa Zein menelpon Aiden untuk membantunya menghadapi masalah ini, dan beruntung Aiden masih berada dipihaknya.


“Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan mereka?” tanya Aiden yang baru saja sampai pada Zein yang terlihat baru datang.


Zein menggelengkan kepalanya, lalu mengeluarkan pistoolllnya, “ayo kita berpencar sekarang, aku yakin mereka tidak jauh dari sini,” ucap Aiden yang dijawab anggukan kepala oleh Zein.


Selama mereka berpencar, Dara menatap ke arah sisi lain, dan melihat bayangan keponakaanya di sana, “Nikki,” teriak Dara memanggil keponakaanya dan juga kakak iparnya yang sedang bersembunyi. Berharap Zein mendengarnya dan segera menyelamatkan kakak iparnya.


Namun sayang, Zein saat ini sedang fokus dengan beberap musuh yang tengah menyerangnya.


“Nikki, kak Lili,” teriak Dara, dan berlari mendatangi mereka.


Nikki dan Lilipun terlihat sama, melihat Dara yang berada untuk menyelamatkan mereka, akhirnya Lili dan Nikki pun keluar dari tempat mereka dan berlari menghampiri Dara.


“Aunttiieee,” teriak Nikki dan Lili.


Dorrrr,,doorrr dua peluru dilepaskan tepat di kepala Lili dan Nikki.


“Kakakakaaaaaa, Niiikkkkiiiiii,” teriak Dara sekeras mungkin, dan menghampiri keduanya yang telah meregang nyawa di tempat.


Zein yang mendengar teriakan Dara, kini langsung segera mencari keberadaan kekasihnya, dan dia begitu marah ketika melihat seseorang yang sedang mengarahkan pisttoolnya kea rah Dara. “Breeengseeekkk,” umpat Zein, dan seketika melayangkan 3 peluru sekaligus di kepala pria itu.


Dorrr,,dooorr,,doorrr, suara tembakan Zein, yang membuat kepala pria itu hancur tak tersisa.


“Ayo sayang,” ajak Zein pada Dara untuk segera pergi dari tempat itu, sebelum polisi mendatanginya.


Di sisi lain, Aiden tengah melakukan kejar-kejaraan pada ayah Dara dan juga anak buah Arvan yang lainnya.


“Janggaaannn tembakkk!” teriak Aiden, memberikan perintah pada anak buah Arvan untuk tidak menembak.


Ayah Dara terlihat terus berlari, dengan wajah yang sudah terlihat sangat pucat. Di umur yang sekarang, sangat sulit baginya untuk berlari dengan cepat, sehingga pada akhirnya dia tetap merasakan sesak di dadanya karena terlalu lelah.


“Aku peringatkan kamu jangan tembak! Atau aku yang akan membunuhmu,” ancam Aiden pada pria itu.


Namun sepertinya pria itu sama sekali tidak mau mendengarkaanya, sehingga dia terus mengejar Bryan, tanpa takut dengan keberadaan Aiden.


Ddddoooooorrrrrr, satu tembakan lagi-lagi dilepaskan tepat dikepala Bryan ayah Dara.


Zein dan Dara yang tadinya ingin pergi, seketika mendengar suara tembakan lagi, dan langsung berlari menghamipiri suara itu.


Doorrr,,doorrr lagi-lagi suara tembakan yang saling bersahutan kini tedengar, membuat langkah Zein dan Dara semakin cepat menghampirinya .


“Aaaaaaayyyyaaaaahhhhhh,” teriak Dara histeris ketika melihat ayahnya sudah terbujur kaku seperti itu.


“Ayaaahhh,” tangisnya, langsung memeluk kepala ayahnya yang sudah mengeluarkan darah.


“Ayaaahhh jangan tinggalin Dara ayaahhh, Dara mohonn,hisskkk,,hisskk, Ayaaaaaaaahhhhh,” teriak Dara, dan langsung pingsan begitu saja.


Aiden menganggukan kepalanya pada Zein, “cepat bawa Dara, aku tidak mau langkah kita terlambat dan terendus oleh polisi,” seru Aiden, yang kini membantu Zein untuk segera membawa Dara pergi.


Sesampainya di mobil, Aiden menyuruh anak buah Zein yang tersisa untuk mengendarai mobilnya pulang, sedangkan Aiden kini mengendarai mobil Zein, dengan sang pemiliki yang sedang duduk di kursi belakang merawat istrinya.


Zein menyandarkan kepalanya lemah di jok mobil, merasa letih dengan semua ini, “hubungan kalian sudah banyak memakan korban Zein, sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanya Aiden pada Zein yang sedang memejamkan matanya.


“Permainan kecil sebuah takdir memang tidak bisa ditebak, terkadang aku ingin sekali menulis takdir itu sendiri, tetapi, Tuhan mengubahnya.”


“Mungkin aku akan membawa Jingga dan Dara untuk pergi dari Negara ini, dan mencari Negara yang aman untuk kami tinggali,” jawab Zein dengan yakin.


“Apa kamu gila Zein? Semua akan sangat marah jika mau masih terus memilih Dara dan meninggalkan Tasya Zein,”


“Pertumpahaan darah ini tidak akan pernah berhenti jika kamu terus menerus memberatkan Dara Zein, dan bahkan nyawa kamu sendiri yang menjadi taruhaannya, dan jalan satu-satunya untuk kamu bisa selamat dari maut adalah meninggalkan Dara dan menikahi Tasya kembali,” ucap Aiden, yang memberikan solusi dari masalah ini.


Bukan dia sudah tidak ingin mendukung hubungan Dara dan Zein, tetapi saat ini keadaan memang tidak bisa terkendali, sehingga dia merasa bahwa kubu Zein saat ini sudah kalah total, sangat-sangat kalah.


**To Be Continue. *


hey teman - teman, Cerita Mimin kali ini kurang menarik ya?? kok sepi banget Likenya 😭


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti **🙏🏻🙏🏻 dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.


Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎


*Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘 *


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh **😭😭😭


Terima kasih🙏🏻🙏🏻